
Pagi harinya Bayu yang sudah bangun dari tidur lelapnya berjalan menuju dapur untuk membuat sarapan hari ini Bayu membuat sepiring nasi goreng lengkap dengan telur mata sapi dan juga secangkir teh. Bayu memasak sarapannya itu dengan hati yang masih juga belum tenang, karena Rinjani sama sekali belum memberikan kabar kepada Bayu sampai sekarang.
"entah sampai kapan Rinjani akan seperti ini. Gue tidak mengerti apa yang harus dilakukan lagi kepada dia" ujar Bayu sambil menyuap sesendok sarapan ke dalam mulutnya.
"gue bener-bener nggak habis pikir. Padahal Rinjani yang memaksa gue untuk mengatakan permasalahan itu. Tetapi dia juga yang tiba-tiba marah seperti saat ini apa yang harus kulakukan Ya Tuhan." kata Bayu yang benar-benar tidak mengerti apa yang harus dilakukannya untuk menerangkan apa yang terjadi kepada Rinjani.
Bayu kamudian melanjutkan untuk menghabiskan sarapan yang tadi telah dibuat oleh dirinya. Setelah itu, Bayu merapikan pakaiannya dan berangkat menuju kesatuan. Bayu hari ini ada briefing dengan komandan satuannya untuk membahas tentang pelatihan yang akan dilakukan selama dua minggu ke depan.
Sedangkan Rinjani hari ini ada kuliah pagi, dia sudah bangun dan juga sudah menyelesaikan sarapannya hari ini. Rinjani akan pergi dengan Ranti menuju kampus hanya dengan berjalan kaki saja karena mereka berdua sedang ingin menikmati olahraga pagi yang sudah lama tidak mereka lakukan.
"lu serius mau jalan kaki ke kampus? Emang lu kuat?" ujar Ranti saat mereka sudah berada di halaman rumah kos kosan itu.
"Serius sekali-sekali kapan lagi coba kita bisa jalan kaki untuk ke kampus besok lu udah harus praktek lapangan. Sedangkan gue akan sibuk dengan skripsi. Makanya sekarang kita gunakan ajalah waktu yang ada untuk menikmati berjalan kaki menuju kampus mengenang masa-masa awal pertama kita kuliah di sini" ujar Rinjani yang sudah tidak tahu lagi apa yang harus dikatakannya karena hati dan pikirannya tidak sedang berada di badannya sendiri.
"Ya udah gue ikuti aja kemauan lo. Kalau gitu kita jalan kaki ke kampus, tapi kalau loe mendadak capek kita nggak ada cerita naik ojek di tengah jalan. Kita akan tetap lanjutkan berjalan kaki" kata Ranti yang setuju untuk berjalan kaki menuju kampus mereka yang hanya berjarak sekitar seratus meter lebih dari kos-kosan tersebut.
"Aman itu. Kita aja yang sok manja padahal 2
dua tahun pertama kita kuliah, kita jalan kaki juga nggak ada yang naik ojek. Eeee eeee sekarang sok nggak kuat pula jalan kaki" kata Rinjani membalas ucapan dari Ranti yang mengatakan kalau Rinjani capek tidak ada cerita mereka untuk naik ojek di tengah jalan.
"mana tahu kan ya Lu tiba-tiba capek terus ngomong aduh Ranti, capek gue kita naik ojek aja yuk" ujar Ranti sambil mencobakan bagaimana cara Rinjani berbicara.
"udah udah ayo jalan. Nanti telat loh" kata Rinjani yang melihat jam telah menunjukkan pukul 07.00 pagi hari. Kuliah pertama mereka adalah setengah delapan jadi perjalanan ke kampus bisa dengan jalan santai karena masih tersisa waktu sekitar setengah jam lagi.
"lu lupa Emang Jani kita jam pertama dengan siapa?" kata Ranti dengan gaya santainya.
Padahal biasanya Rantilah yang paling ingin cepat sampai di kampus, supaya tidak terlambat masuk kelas. Tapi kali ini kelihatannya berbeda Ranti sangat ingin santai-santai berjalan menuju kampus.
"nggak lupa gue. Emang kita kuliah sama siapa pagi ini?" kata Rinjani yang benar-benar lupa dengan siapa dia akan kuliah pagi hari ini.
"Jani Jani, Gue benar-benar heran dengan loh, apa sih yang lu pikirin sehingga dengan siapa lu kuliah aja pagi ini lu sampai tidak tahu. Padahal selama ini lo yang selalu tahu kalau kita hari ini kuliah dengan dosen yang mana, besok dengan dosen yang mana, kuliah selanjutnya dosen yang mana" kata Ranti yang akhirnya mengatakan kepada Rinjani, kalauRanti benar-benar tidak mengerti dengan keadaan Rinjani hari ini.
"Woi Bro tahan-tahan lu ngomong, sesak napas lo nanti, ngomong nggak ada titik, nggak pakai segala-segalanya. Jurusan bahasa Indonesia ngomong kayak air lewat. " ujar Rinjani sambil menoyor kepala Ranti dengan pelan.
Tak terasa perjalanan mereka menuju kampus sudah hampir selesai, tiba-tiba Rinjani menarik Ranti untuk menuju gerobak penjual burger sederhana yang ada di parkiran kampus. Ranti yang tidak siap akhirnya hampir terjatuh. Dijanjikan yang melihat hal itu langsung tertawa ngakak karena melihat Ranti yang hampir terjatuh.
"main tarik aja, ngomong kek, jatuh gue kan gara-gara lu" ujar Ranti yang kesal karena Rinjani main tarik saja saat dia mau berbelok ke tempat penjual burger.
"Sorry sorry. Gue pengennya juga pas bertepatan kita udah melewati tempat itu" ujar Rinjani membela dirinya dari kesalahan yang memang sudah dibuat oleh Rinjani sendiri.
"Dasar lu bikin gue kaget aja lo"ujar Ranti sambil memukul kepala Rinjani dengan buku yang dipegangnya.
"sorry sorry gue kira lo tadi tidak sedang dalam keadaan menghayal makanya gue main tarik aja, ternyata lu sedang ngayal. Ayo ngayal apaan sih lo" ujar Rinjani sambil menatap dan mengedip ngedipkan matanya kepada Ranti.
"mana ada gue menghayal. Lagian apa coba yang mau gue hayalin" ujar Ranti menjawab tuduhan yang diberikan oleh Rinjani kepada dirinya yang mengatakan kalau Ranti sedang menghayal.
"mana tahu kan ya lo memang lagi menghayal. Tuh mengkhayal kan dosen Bram yang akan masuk nanti jam setengah delapan ke kelas kita" kata Rinjani yang telah selesai memesan dua porsi burger untuk dirinya dan Ranti.
" hahaha hahaha hahaha, lu kira gue anak kecil yang masih juga menghayalkan pacarnya sendiri. Ya kali mana ada kayak gitu. Gue udah besar kali bro" kata Ranti menjawab ejekan yang diberikan oleh Rinjani sebentar ini.
"besar sih besar tapi kan baru pacaran satu kali. itu pun gara-gara gue yang maksa maksa supaya lo mau mendekati dosen Bram. Kalau nggak ya sampai sekarang loe masih jomblo"
"ih mana ada" kata Ranti yang menyangkal apa yang dikatakan oleh Rinjani terhadap dirinya.
"sangkal aja terus, kalau kamu itu nggak jomblo kelamaan. Haha haha haha, udah udah capek gue ribut terus. Ayo kita langsung aja ke kampus. Lu kan pengen duduk di depan tuh, sambil lihatin kekasih hati lo. gue mau pengen duduk di belakang. Pengen makan burger, laper gue nih" kata Rinjani yang langsung berjalan menuju arah kampus. Ranti mengikuti dari belakang.
Ranti hanya bisa geleng-geleng kepala saja karena Rinjani meninggalkan dirinya begitu saja di lapangan parkir tersebut.
Ranti langsung mengejar Rinjani dan kembali menimpuk kepala Rinjani dengan buku tebal yang di bawanya.
"gila lo gue nemenin lo main tinggalin aja" ujar Ranti sambil berjalan mendahului Rinjani untuk masuk ke dalam kelas.
Kedua gadis itu langsung terheran-heran melihat isi kelas yang sudah penuh oleh mahasiswi. Ranti yang ingin duduk di bagian depan tidak jadi bisa karena sudah penuh terisi oleh mahasiswi. Ranti akhirnya dapat duduk di kursi bagian belakang tepat di sebelah Rinjani. Ranti tidak bisa duduk di bagian depan karena semua kursi sudah dihuni oleh para mahasiswi yang ingin melihat dosen Bram dari dekat.