
"Masih jauh Bay?" tanya Papap yang sudah tidak betah lagi di dalam mobil.
" nggak kok Pap, satu belokan lagi" jawab Bayu
Kafe yang akan dikunjungi oleh Bayu memang tinggal satu belokan lagi. Kalau Papap tadi sempat menoleh ke kiri, maka Papap akan melihat dinding kafe tersebut. Tetapi tadi sayangnya Papap melihat lurus, jadi tidak melihat bangunan kafe sebelah kiri.
"Kalau tau ke sini, mending tadi kita pake motor ya Bay" ujar Papap yang memang sudah sangat kangen untuk naik motor.
Papap sudah lama sekali tidak naik motor, hitungannya semenjak pindah ke kota ini Papap sama sekali belum pernah naik motor.
"Bagaimana kalau pagi minggu aja Pap, kita bersepeda ke pantai air manis dari rumah, ajak Mamah sekalian." ujar Bayu yang memiliki ide untuk pergi menikmati pagi minggu dengan bersepeda ke pantai air manis.
"Setuju, ajak Rinjani sekalian" ujar Papap meminta Bayu untuk membawa juga kekasih hatinya itu.
"Sip"
Mobil di belokkan oleh Bayu masuk ke parkiran kafe yang akan dijadikan tempat nongkrong oleh Bayu dan Papap serta ajudan dan sopir Papap. Mobil yang dikemudikan oleh Ryan ikut berbelok dan masuk ke dalam area parkiran kafe itu. Dua mobil hitam dove mewah tersebut, parkir di parkiran fac. Beberapa pengunjung melihat ke arah dua mobil yang baru datang itu. Mereka sangat penasaran dengan siapa orang orang yang berada di dalam kafe itu.
Dari dalam mobil turun empat orang pria yang tinggi tinggi dan berotot, apalagi pakaian yang sedikit ketat membalut tubuh tubuh kekar tersebut. Papap walaupun sudah berusia lima puluh tetapi untuk tubuh tidak akan kalah saing dengan Bayu, Josua dan juga Ryan. Hal ini disebabkan karena Papap selalu menjaga pola makan dan juga olahraganya.
"Wow, apa aku sekarang sedang bermimpi?" ujar salah seorang gadis yang sedang duduk di sebuah kursi di bawah payung payung yang ada di halaman kafe tersebut.
"Loe kenapa?" tanya rekannya yang lain.
"Gue seperti melihat opa opa korea yang ada di dalam televisi. Mereka berempat seperti opa opa korea" lanjut gadis itu berkata sambil tetap melihat ke arah keempat pria pria tampan yang baru turun dari dalam mobil.
Keempat pria itu berjalan menuju dalam kafe. Papap dan Bayu berjalan paling depan, sedangkan Josua dan Ryan berjalan di belakang Papap dan Bayu.
"Kita duduk dimana Pap?" tanya Bayu kepada Papap.
"Di rofftop bagaimana Bay?"
"Sip"
Papap dan Bayu akhirnya memutuskan mereka akan duduk di rooftop saja saat ini. Begitu juga dengan Josua dan Ryan. Pada saat mereka mau naik ke atas rofftop beberapa tentara kesatuan yang sedang duduk di kafe itu langsung berdiri saat melihat siapa yang datang ke kafe. Mereka langsung memberikan hormat dengan sikap sempurna. Papap dan Bayu yang melihat membalas dengan menganggukkan kepalanya saja.
"Wow, apa mereka benar benar angkatan?" ujar seorang gadis yang memang sudah terkesima dengan penampilan Papap, Bayu dan dua orang ajudan tersebut.
"Pasti pangkat mereka tinggi. Tentara yang duduk di sana saja sampai memberikan hormat kepada mereka" ujar gadis yang lainnya.
Papap, Bayu, Josua dan Ryan mendadak seperti artis yang baru datang ke kafe. Semua mata para wanita di sana langsung memandang ke arah mereka. Tetapi empat tentara tampan itu sama sekali tidak perduli dengan tatapan dari mereka mereka yang ada di sana. Mereka tetap jalan dengan santainya menuju bagian rofftop kafe.
Tetapi yang semakin membuat Papap terkesima di rofftop itu adalah, pemandangan yang disajikan oleh alam, hal itulah yang membuat Papap semakin yakin kalau tempat ini tidak hanya menawarkan makanan dan minuman tetapi juga menawarkan keindahan pemandangan yang bisa dinikmati oleh setiap orang yang ada di sana.
"Keren lah Pap. Aku sama Rinjani akan ke sini terus kalau Rinjani sedang kehabisan ide melanjutkan novelnya. Maka dia akan ke sini untuk mencairkan isi otaknya terlebih dahulu" ujar Bayu menjawab pertanyaan dari Papap sekaligus mengingat apa yang telah dilakukan oleh dirinya dengan Rinjani di kafe itu.
"Kalau begitu kamu pasti tahu apa andalan di kafe ini kan ya?" ujar Papap yang pusing saat membaca daftar menu yang disajikan.
"Serahkan sama aku aja Pap" jawab Bayu yang memang sudah punya menu andalan sendiri kalau dia sedang berada di kafe ini.
Bayu kemudian menuliskan pesanan apa yang akan di nikmati oleh dirinya dan juga Papap.
"Jo, Ryan, kalian mau pesan apa, biar sekalian saja di tulis di sini" ujar Bayu bertanya kepada ajudan dan sopir Papap.
"Maff Letnan, kami tidak punya gambaran makanan dan minuman apa yang akan kami coba. Kami menyerahkan kepada Letnan saja"
Kali ini yang menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Bayu adalah Josua. Sedangkan Ryan hanya mengangguk saja. Antara Josua dan Ryan yang memang paling banyak bersuara adalah Josua, mungkin karena Josua adalah ajudan makanya dia sudah tidak sungkan lagi untuk berbicara dengan Papap dan juga Bayu.
"Kamu bagaimana Ryan? Jangan hanya main angguk angguk kan kepala saja. Sekali sekali berbicara tidak apa apa Ryan" kata Bayu yang berusaha mencairkan suasana supaya Ryan tidak tegang seperti senar gitar yang siap untuk putus.
"Benar Ryan, saya setuju dengan Bayu. Kamu jangan keseringan diam, nanti nggak laku Ryan. Kalau dalam kondisi seperti ini kita bukan atasan dan bawahan tetapi keluarga, berbeda kalau di kesatuan, barulah itu berlaku." ujar Papap yang masih sangat heran dengan sikap Ryan.
Ryan memang sopir baru Papap, sopir lama Papap yang selalu ikut kemana Papap bertugas selama ini, saat tahu Papap akan mutasi ke kota Padang, sopir itu meminta kepada Papap untuk dipindahkan ke kesatuan yang ada di kampungnya. Papap sebenarnya waktu itu tidak mau mengabulkan permintaan yang diajukan oleh sopirnya itu, tetapi karena satu alasan yang disampaikan oleh sopir tersebut membuat Papap tidak bisa menolak keinginan dari si sopir. Papap mengeluarkan surat pindah sopir tepat satu bulan sebelum kepindahan Papap ke daearah Padang, sehingga Papap memerlukan sopir baru dan memilih Ryan untuk menjadi sopir Papap.
"Udah sebulan lebih kita bersama Ryan, jadi saya harap kamu jangan setegang ini. Santai saja" ujar Papap meminta Ryan untuk bersikap santai.
"Josua, kamu harus mengajarkan kepada Ryan bagaimana cara sikap santai"
"Siap dilaksanakan komandan" jawab Josua sambil berdiri dengan sikap sempurna.
"Sama aja" kata Papap memberikan komentar atas apa yang dilakukan oleh Josua sebentar ini.
"haha haha haha, mau bagaimana lagi Papap, udah kebiasaan" ujar Bayu mengomentari apa yang baru saja dilakukan oleh Josua.
"kamu ada paham Ryan?" kali ini Papap langsung bertanya kepada Ryan apakah Ryan sanggup melakukan apa yang diminta oleh Papap kepada dirinya.
"Siap Komandan, laksanakan" ujar Ryan menjawab perintah yang diberikan oleh Papap kepada dirinya.
"udah udah jangan formal gini. kita ke sini mau santai santai bukan mau tegang tegang" ujar Bayu