Its My Dream

Its My Dream
24



Pagi harinya Rinjani sudah bangun dari tidurnya, dia melihat ke arah kasur Ranti yang terlihat sangat rapi. Rinjani tadi malam agak susah tidur karena terus mengingat sahabat satu kamarnya dan satu jurusan itu. Dia mau mengganggu Bayu, nggak mungkin juga karena Bayu sedang bersama rekan rekan kerjanya. Rinjani juga mengerti kalau Bayu juga butuh privasi. Akhirnya Rinjani memutuskan untuk membaca novel di aplikasi novel toon dengan judul Suamiku Bukan Milikku.


"Gue akan tengok loe dulu ke rumah sakit, setelah itu baru pergi ke Padang Panjang."


"Gue akan pastikan keadaan loe dulu untuk hari ini, apakah sudah ada kemajuan atau belum"


Rinjani benar benar memikirkan Ranti sahabatnya itu. Sahabat yang sedang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit, akibat turun yang berguling guling di tangga kampus. Ketidak hati harian Ranti membuat dia harus terbaring di rumah sakit.


Rinjani mengetikkan izin atas nama Ranti di pesan chat grub kelas mereka. Jadi kalau Ranti kuliah dan masih belum bisa menghadiri perkuliahannya, teman satu kelas bisa membantu mengizinkan Ranti kepada dosen yang sedang mengajar.


Rinjani kemudian mengambil handuk miliknya, dia melihat kamar mandi yang tidak berpenghuni, tetapi sudah ada ember milik temannya di sana.


"ow ternyata udah ada penunggunya. Siapa lagi kalau bukan kak Santi, yang hobby naruh ember, orangnya ntah dimana" ujar Rinjani sambil geleng geleng kepala.


Rinjani menaruh embernya di antrean berikutnya. Dia akan mandi setelah teman yang embernya ada di dalam selesai mandi. Rinjani kembali masuk ke dalam kamarnya. Dia membuat segelas teh hangat dan membuat roti bakar yang hanya tinggal tiga potong saja lagi.


Rinjani kembali mambaringkan badannya ke atas kasur. Dia meraih ponsel miliknya yang telah selesai di charger. Rinjani membuka aplikasi pesan chat.


'Hay sayang, sudah pagi. Bangun'


Tulis pesan chat yang dikirimkan oleh Rinjani kepada Bayu.


'Sedang briefing sayang '


Balas pesan chat dari Bayu kepada Rinjani.


Rinjani menatap lama ponsel miliknya. Dia kemudian melihat jam di dinding kamar.


"Baru jam tujuh dia udah briefing aja. Kayak pengusaha pengusaha proyek triliunan. Gini bangetlah punya kekasih angkatan, pas sibuknya sibuk banget. Pas ndaknya ya gitu deh" ujar Rinjani sambil menatap layar ponselnya yang menampilkan pesan chat dari Bayu.


Rinjani kemudian mencomot satu roti bakarnya yang telah diberi olesan selai coklat. Rinjani memakan roti bakar itu dengan lahap.


"Jani, kakak udah siap" kata Kak Yanti yang ternyata mandi sebelum Rinjani.


"Makasi kak" jawab Rinjani.


Rinjani kembali keluar dari dalam kamarnya, dia akan mandi, setelah itu baru pergi melihat Ranti.


"Jam bezuk pukul sembilan. Apa bisa masuk lebih dahulu ya. Mana aku lupa lagi minta nomor ponsel Pak bram" ujar Rinjani yang telah sampai di depan rumah sakit. Rinjani menatap pintu masuk pengunjung masih di gembok.


Rinjani kemudian menghubungi Ranti sahabatnya itu. Bram yang berada di dekat ponsel Ranti yang dicharge melihat nama Rinjani KS muncul di layar ponsel Ranti.


"Hallo Rinjani" ujar Pak Bram menyapa Rinjani.


"Hallo Pak Bram. Saya sedang di luar, apa saya boleh masuk melihat Ranti sebentar, sebelum saya pergi ke luar kota" ujar Rinjani menanyakan kepada Bram. Rinjani berharap Pak Bram membolehkan Rinjani untuk bertemu Ranti


"Oke. Tunggu saya di situ, kalau gantian dengan Saya bisa jadi di bolehkan"


"Makasi Pak" jawab Rinjani yang langsung memutuskan panggilan telponnya dengan Bram.


Rinjani tinggal menunggu Bram datang untuk bergantian dengan dirinya melihat Ranti. Rinjani duduk sambil memainkan ponsel miliknya. Tas ransel miliknya masih terus di sandang oleh Rinjani. Padahal tas itu lumayan berat. Tapi Rinjani sanksi menaruhnya di lantai rumah sakit.


"Jani" sapa Bram yang datang dari dalam ruangan rumah sakit.


"Eh Pak Bram" ujar Rinjani yang tergesa gesa berdiri saat melihat dosennya itu sudah datang.


"Kamu pakai ini aja ya untuk masuk ke dalam rumah sakit. Ransel kamu, biar saya saja yang jaga" ujar Bram sambil memberikan nama tag untuk keluarga pasien.


Rinjani melepaskan ranselnya. Dia memberikan kepada Pak Bram.


"Nitip bentar ya Pak. Tapi jangan di taruh di lantai Pak" ujar Rinjani kepada Pak Bram.


"Kok?" tanya Bram yang merasa aneh dengan pesan dari Rinjani.


"Kuman rumah sakit Pak. Takut saya" jawab Rinjani yang memang fhobia dengan rumah sakit.


"ada ada aja kamu Jani" kata Bram sambil geleng geleng kepala tidak menyangka dengan ucapan Rinjani.


Rinjani berjalan masuk ke dalam ruangan rawat rumah sakit. Sedangkan Bram duduk di ruang tunggu untuk membezuk pasien. Mereka tidak bisa berdua masuk karena jam besuk belum masuk.


"Aku bisa sarapan dulu. Ranti udah sama Rinjani." kata Bram sambil menyandang tas ransel milik Rinjani.


"Berat juga ne tas. Berapa hari Rinjani mau keluar kota. Segini berat bawa tas" ujar Bram yang merasakan betapa beratnya tas milik Rinjani.


Bram kemudian melangkahkan kakinya menuju kantin yang terletak di bestman rumah sakit. Hari ini terpaksa Bram tidak mengajar di kampus, dia harus menunggui Ranti yang sedang sakit.


Rinjani yang telah sampai di depan ruang rawat Ranti, membuka pintu itu dengan pelan. Rinjani tidak mau mengganggu istirahat Ranti. Ranti yang memang sudah bangun, melihat ke arah pintu ruangannya yang di buka dari luar.


"Jani" ujar Ranti sambil tersenyum melihat sahabat nya itu datang.


"Kamu nggak kampus? Tapi mau ke Padang Panjang." ujar Ranti yang memang ingat jadwal Rinjani hari ini adalah harus pergi ke kota Padang Panjang.


"Nanti jam sepuluh gue jalan. Loe keadaannya gimana, masih pusing?" tanya Rinjani sambil duduk di kursi yang ada di sebelah brangkar rumah sakit.


"Udah nggak pusing lagi. Sakitnya juga udah hilang" jawab Ranti yang memang sudah tidak merasakan sakit lagi di kepalanya.


"Oh ya, gimana rasanya tidur di temani sama dosen keren itu?" ujar Rinjani mulai menjahili Ranti.


"Kumat loe ya." ujar Ranti malu malu.


"Jangan banyak gaya bro. Gimana?" tanya Rinjani sambil menaik naikkan alisnya.


"It's My Dream" jawab Ranti sambil tersenyum bahagia.


"Ngeng" ujar Rinjani yang nggak tau harus jawab apa lagi.


"Apa dia udah ungkapin perasaannya?" kepo Rinjani kembali muncul kepermukaan.


"Perasaan dari hongkong. Malahan dia cuma ngomong gimana masih sakit? Mau makan nggak? Mau minum nggak. Cuma itu doang" ujar Ranti sambil tersenyum bahagia karena semalaman ditungguin sama pria tampan yang menjadi targetnya itu.


"Mayan dia nanyak itu, kalau dia ngomong aku batal ngungkapin perasaan karena kamu ceroboh. Gimana coba" ujar Rinjani menakut nakuti Ranti.


"Gilak lo. Oh ya dia mana?" tanya Ranti yang sejak bangun tadi tidak melihat keberadaan pria tampan itu.


Tok tok tok. Terdengar bunyi pintu ruangan yang di ketuk. Rinjani berjalan dan membuka pintu ruang rawat Ranti.


"Masuk dokter" ujar Rinjani sambil membukakan pintu ruangan dengan sangat lebar.


"Gimana Nona Ranti, apa masih sakit kepalanya?" tanya dokter yang sedang melakukan visit kepada Ranti.


"Sudah tidak dokter. Rasa sakit dan rasa pusingnya sudah hilang" ujar Ranti memberitahukan kepada dokter yang memeriksa dirinya.


"Saya permisi untuk memeriksanya terlebih dahulu ya Nona" ujar dokter meminta izin kepada Ranti untuk diizinkan memeriksa keadaannya.


"Silahkan dokter" ujar Ranti.


Dokter kemudian memeriksa keadaan Ranti. Dokter tidak mau nanti dia memperbolehkan Ranti pulang ternyata keadaan Ranti belum pulih benar. Dokter memeriksa dengan sangat teliti.


"Oke Nona Ranti. Selepas siang Nona saya izinkan untuk pulang. Nanti surat surat kepulangannya akan dibuatkan oleh suster dan akan diserahkan kemari. Nona jangan lupa untuk menebus obat ke apotik sebelum pulang ya." ujar dokter yang telah mengizinkan Ranti untuk pulang.


"Terimakasih dokter" ujar Ranti yang senang bisa pulang kembali ke kosannya.


Rinjani menghubungi Dian. Tetapi sama sekali tidak diangkat oleh Dian. Rinjani kemudian mengirimkan pesan chat yang memberitahukan kalau Ranti sudah diizinkan pulang nanti siang. Rinjani juga mengirimkan berita itu di grub kos kosan mereka, Rinjani tidak mau anak kos datang ke rumah sakit, ternyata Ranti sudah pulang.


"Oke Ran, gue jalan dulu ya. Loe pulang nanti hati hati ya" ujar Rinjani pamit untuk pergi ke kota Padang Panjang kepada Ranti.


"Sip. Loe hati hati ya. Sampe minggu kan?" tanya Ranti sambil mengerjap ngerjakan matanya kepada Rinjani.


"Rencana" jawab Rinjani.


Rinjani kemudian keluar dari ruangan Ranti. Dia kembali menuju tempat dia bertemu dengan Bram. Bram ternyata sudah menunggu di sana.


"Maaf lama Pak" ujar Rinjani yang merasa segan dengan dosennya itu.


"Tidak apa apa Jani. Kamu mau langsung berangkat?" tanya Bram sambil memberikan tas ranselnya kepada Rinjani.


"Iya Pak. Takut nanti kemaleman di jalan. Oh ya Pak, tadi kata dokter Ranti sudah bisa pulang selepas zhuhur" ujar Rinjani memberitahukan kepada Bram kalau Ranti sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah.


"Oh Oke kalau begitu. Nanti akan saya urus semuanya. Kamu hati hati di jalan ya."


"Sip Pak" jawab Rinjani.


"Titip Ranti lagi Pak. Maaf menyusahkan Bapak terus" lanjut Rinjani sebelum dia pergi meninggalkan Bram.


"Tidak masalah Jani" jawab Bram.


Rinjani kemudian melangkahkan kakinya untuk mencari taksi online di gerbang rumah sakit. Sedangkan Bram kembali ke kamar Ranti.


Rinjani yang sudah berada di dalam mobil menuju kota Padang Panjang mengeluarkan ponselnya. Dia akan menghubungi Bayu kekasihnya yang dari tadi tidak bisa dihubungi oleh Rinjani.


Rinjani menekan nomor ponsel Bayu. Rinjani menunggu sampai Bayu mengangkat panggilan dari dirinya. Bayu yang sedang menjadi pelatih melihat nomor yang memanggilnya.


"Hallo sayang, kamu udah dimana?" tanya Bayu yang cemas kalau Rinjani sudah sampai di silayiang atas.


"Ini baru di air terjun sayang, kamu bisa jemput aku kan ya?" ujar Rinjani memastikan apakah Bayu bisa menjemput dirinya atau tidak.


"Bisa sayang. Nanti pas kamu udah dekat bank nagari telpon aku lagi ya."


"Emang kamu udah selesai kerjanya sayang?" tanya Rinjani yang takut mengganggu pekerjaan Bayu.


"Materi dari aku udah siap sayang. Sekarang dari pelatih lainnya. Jadi, kamu tidak merepotkan aku" ujar Bayu yang sudah tahu apa yang dipikirkan oleh Rinjani.


"Haha haha haha, kamu tau saja sayang, apa yang ada dalam pikiran aku" ujar Rinjani tertawa bahagia karena Bayu selalu mengerti apa yang ada dalam pikirannya.


"Sayang sayang. Aku itu paling paham dengan kamu untuk saat ini. Jadi, jangan banyak gaya" jawab Bayu yang kadang heran dengan tingkah Rinjani yang nggak masuk diakal itu.


"Ya udah, kamu lanjut kerja dulu aja ya. Aku mau istirahat bentar. Ngantuk soalnya" kata Rinjani yang padahal dari Padang tadi hanya tidur saja.


"Mana boleh tidur sayang. Bentar lagi kamu sampe. Main game ajalah." ujar Bayu yang takut Rinjani kebablasan tidur dan akhirnya sampai di kota Bukittinggi.


"Kamu takut aku bablas tidur ya sayang?" kata Rinjani membaca apa yang dipikirkan oleh Bayu.


"iyalah. Nanti kamu babblas sampai Bukittinggi kan nggak lucu sayang" ujar Bayu yang nggak mau kejadian itu sampai terjadi.


"oke sip. Aku nggak akan tidur. Kamu lanjut kerja lagi aja sana" ujar Rinjani yang mengikuti perkataan Bayu untuk tidak kembali tidur.


Bayu yang takut nanti Rinjani menunggu sendirian di Bank Nagari langsung saja izin kepada Aris untuk pergi menjemput Rinjani.


Bayu kemudian mengemudikan mobilnya menuju tempat janjiannya dengan Rinjani. Bayu tidak ingin Rinjani yang menunggu dirinya lama. Bagi Bayu lebih baik dia yang menunggu Rinjani.


Tidak butuh waktu lama Rinjani akhirnya sampai di tempat janjiannya dengan Bayu. Rinjani melihat mobil Bayu sudah parkir di depan bank Nagari tempat janjiannya dengan Bayu.


Rinjani turun dari dalam travel. Dia menyebrang menuju tempat Bayu menunggu. Rinjani melihat ke sekeliling tidak ada wajah Bayu yang terlihat. Rinjani kemudian melihat ke dalam mobil melalui kaca jendela, ternyata Bayu sedang dalam keadaan tidur di sana.


Tok tok tok Rinjani mengetuk kaca jendela mobil Bayu. Bayu yang dalam keadaan tidur, mendengar sayup sayup kaca jendela yang diketuk dari luar. Bayu menatap lama ke arah jendela mobilnya. Dia melihat sesosok perempuan di sana.


"Sayang buka pintunya" ujar Rinjani dari luar.


Bayu yang mendengar kalau itu adalah suara Rinjani langsung membuka kunci pintu. Rinjani yang sudah capek menyandang tas yang begitu berat, langsung menaruh tasnya di kursi belakang. Setelah itu, Rinjani membuka pintu depan. Dia duduk di sebelah Bayu.


"Mau kemana Buk, barang segitu banyaknya. Pindahan atau jadi sales?" ujar Bayu saat melihat ransel Rinjani yang lumayan besar.


"Jalan jalan Pak, sambil cari duit" jawab Rinjani sambil membalas senyuman dari Bayu.


"Kita kemana dulu neh. Langsung chekin hotel atau ke tempat aku kerja dulu?" tanya Bayu kepada Rinjani, meminta Rinjani untuk menentukan kemana mereka akan pergi terlebih dahulu.


"Ke hotel chekin sambil naroh tas dulu. Capek tau harus nyandang tas seberat itu." jawab Rinjani yang sudah yakin dengan pilihannya.


Bayu mengarahkan mobilnya menuju hotel tempat Rinjani akan menginap selama tinggal di kota ini. Rinjani akan menginap dari hari selasa sampai dengan jumat.


Mereka berdua turun dari mobil, mereka kemudian melakukan chekin kamar hotel. Bayu membantu Rinjani mengangkat ranselnya yang luar biasa berat itu. Rinjani kemudian mengeluarkan pakaian untuk dia mengajar agar tidak ada bekas gulungannya.


Setelah Rinjani menyusun pakaiannya, mereka berdua kembali keluar dari dalam hotel. Mereka akan langsung menuju tempat Bayu bekerja.


Rinjani akan mengikuti aktifitas Bayu hari ini. Dia akan mulai mengajar besok sampai kamis. Jumat Rinjani akan kembali mengikuti aktifitas Bayu.