Its My Dream

Its My Dream
21



"Baiklah perkuliahan hari ini saya cukupkan sampai di sini saja. Minggu depan Anda tidak masuk di jam perkuliahan saya. Kita bertemu lagi minggu depannya. Kalian semua silahkan bawa makalah tentang bahasa prakmatik yang ada di kampung asal kalian." ujar Dosen Bram yang tampan itu menutup perkuliahan hari ini. Perkuliahan yang menguras habis pikiran dan juga tenaga para mahasiswa.


"Apa masih ada yang mau bertanya tentang tugas yang akan dikumpul dua minggu lagi?" tanya Bram kepada semua mahasiswa yang sudah terlihat sangat letih itu.


Semua mahasiswa hanya diam saja. Tak satupun dari mereka bertanya tentang tugas yang akan dikumpulkan dua minggu lagi itu. Mereka sekarang hanya ingin cepat keluar dari ruangan perkuliahan.


Seluruh mahasiswa yang mengikuti perkuliahan terlihat sudah sangat capek dan letih. Semua itu tergambar jelas dari raut wajah semua mahasiswa. Mereka ternyata benar benar lelah saat harus mengikuti kuliah cabang ilmu bahasa itu seharian penuh.


"Walaupun dosennya ganteng, ramah, tidak pemarah tetap membuat kepala gue pengen pecah kalau harus kuliah pragmatik seharian penuh. Nggak sanggup sama otak gue menanggung semua beban itu." ujar salah satu mahasiswa saat dosen Bram sudah keluar dari ruangan perkuliahan.


"Sudah cukup sekali ini saja kuliah pragmatik di gabung dua minggu dijadikan satu minggu. kalau besok ada lagi, mending gue ngirim surat sakit. Nggak sanggup gue mikirnya, semakin keriting rambut gue" ujar mahasiswa lainny yang mengeluh tidak sanggup untuk kuliah cabang ilmu bahasa itu di double.


"Gue juga nggak sanggup lagi. Nggak bisa nafas gue" ujar mahasiswa lain menyambar perkataan teman temannya.


"Siapa yang sanggup coba kuliah seperti itu di double. Sedangkan nggak di rapel aja kepala gue udah cenat cenut. E e e e e e ini malah di rapel. Bikin makin sakit kepala aja tu perkuliahan" ujar salah satu mahasiswa laki laki yang dari tadi sudah grasak grusuk ndak jelas aja.


"Ada lah yang betah kuliah itu. Siapa lagi kalau bukan Rinjani. Rinjani mah nggak ada yang akan dipikirin nya. Dia hobbynya aja makan buku sama nulis buku. Udah tentu dia nggak akan pusing saat harus kuliah rapel kayak gini" ujar salah satu mahasiswi yang dari zaman mereka baru menginjakkan kaki di kampus sudah tidak senang dengan Rinjani.


"Kalau Rinjani nggak usah disebut, dia memang gila kuliah. Seharusnya dia bisa tamat cepat itu. Tapi kayaknya kalau dia tat Ranti akan keteteran, makanya Rinjani memilih untuk terus bareng Ranti" ujar mahasiswa yang lainnya.


Rinjani dan Ranti mendengar semua yang dikatakan oleh mahasiswa yang sedang bergosip tidak memakai otak itu. Rinjani mengepalkan tangannya. Dia siap untuk menambah rambut mahasiswi yang hanya modal cantik itu. Tapi nilainya terjamin oleh dosen laki laki.


"Gue hajar dia dulu Dan" ujar Rinjani yang tangannya sudah gatel mau menonjok tu makhluk astral.


"Nggak usah aja. Biarin ajalah. Suka suka mereka aja mau ngomong apa. Nggak usah di dengerin. Bikin capek aja ngasih penjelasan kepada mereka" ujar Ranti yang sudah hafal tabiat mahasiswa penggosip itu.


"Tapi bacot mereka nggak akan pernah bisa diam Ranti kalau kita juga diam aja mendengar apa yang mereka omongin. Elo mau kita diadu adu kayak gitu" ujar Rinjani yang kesal melihat Ranti berusaha sabar terus menghadapi keempat makhluk ajaib yang ada di depan mereka ini.


"Gue nggak merasa diadu dengan elo kok Jani. Jadi biarin ajalah suka suka mereka mau ngapain. Kalau kita melayani mereka, berarti level otak kita sama dengan mereka. Yang otaknya level S" ujar Ranti yang sengaja ngomong dengan suara keras.


"Bener juga loe Ranti. Otak level s memang nggak usah di lawan. Nggak akan terlawan sama sekali tu level otak s." ujar Rinjani sambil memotong sekelompok mahasiswi penggosip yang dari tadi nggak bosen bosennya menggosip.


Rinjani dan Ranti kemudian menuruni tangga dengan sedikit cepat. Mereka menuruni tangga sambil mengobrol tanpa melihat ada yang berdiri di depan mereka.


Bugh. Tabrakan itu tidak bisa dihindari lagi. Ranti berguling guling menuruni anak tangga. Sedangkan pria yang ditabrak nya tadi hanya beberapa anak tangga saja berguling guling ke bawah.


Rinjani yang melihat kejadian itu langsung berlari ke bawah untuk melihat keadaan Ranti. Rinjani melihat Ranti yang sudah duduk sambil mengusap usap kepalanya yang beberapa kali terbentur itu.


"Sakit Ranti?" tanya Rinjani menatap Ranti yang mengelus elus kepalanya yang sakit itu.


"Mayan." Jawab Ranti menjawab sambil meringis.


Bram yang juga merasakan sakit di kepalanya harus menahan rasa sakit itu. Dia berjalan cepat ke bawah untuk melihat keadaan Ranti yang tadi berguling guling ke bawah itu. Ada sekitar delapan anak tangga Ranti berguling guling. Sedangkan Bram hanya tiga anak tangga saja.


"Kamu tidak apa apa Ranti?" tanya Bram sambil berjongkok di hadapan Ranti yang masih sibuk mengusap usap kepalanya.


"Sakit di kepala saja Pak" Jawab Ranti mengatakan bagian mana yang sakit dari tubuhnya yang berguling guling di anak tangga tersebut.


"Bisa saya lihat?" tanya Dosen Bram sambil ingin melihat kepala Ranti yang dibilangnya sakit tersebut.


"Ini Pak bagian yang ini yang sangat sakit. Saya saja sampai meringis menahan sakitnya Pak" ujar Ranti sambil memperlihatkan kepalanya kepada Dosen Bram.


Rinjani yang melihat kelakuan Ranti, hanya bisa geleng geleng kepala dan memilih untuk menjarak dari mereka berdua.


"Kamu masih kuat untuk berdiri?" tanya Bram dengan sangat perhatiannya kepada Ranti.


"Bisa Pak" ujar Ranti berusaha untuk berdiri.


Tiba tiba. Buk. Ranti kembali jatuh karena kepalanya sangat pusing. Pandangan Ranti tiba tiba menjadi gelap. Dia jatuh pingsan di hadapan Bram.


Rinjani yang melihat sahabat baiknya itu pingsan langsung berlari kembali menuju Ranti. Untung saja dosen Bram masih berada dekat dengan Ranti, kalau tidak sudah bisa dipastikan kepala Ranti kembali membentur tangga.


"Kita bawa ke rumah sakit aja langsung Jani. Nggak mungkin di bawa ke kos kosan kalian" ujar Bram memberikan saran kepada Rinjani.


"Terserah mana yang menurut Bapak baik saja. Saya ikut saja Pak" ujar Rinjani menjawab saran yang diberikan oleh Bram kepada dirinya.


"Sekarang yang saya pikir Pak, gimana cara Bawa Ranti ke atas mobil." ujar Rinjani yang sangat tahu kalau Ranti sangat berat.


"Biar saya yang gendong. Kamu tolong bawakan tas saya dan juga tas Ranti. Kita akan ke rumah sakit memakai mobil saya" ujar Bram sambil mulai meraih badan Ranti dan menggendong Ranti meninggalkan gedung lima lantai itu.


Bram berjalan dengan cepat diiringi oleh Rinjani di belakang Bram. Mereka berdua bergerak dengan sangat cepat. Beberapa mahasiswa ada yang bertanya kepada Rinjani. Tetapi Rinjani sama sekali tidak menjawab.


"Kak, kak Ranti kenapa?" tanya Dian yang merupakan salah satu anak kos yang sama dengan Rinjani dan Ranti.


"Jatuh guling guling di tangga kampus. Loe udah selesai kuliah?" tanya Rinjani kepada Dian yang terkenal sangat rajin kuliah itu.


"Udah. Kenapa?" tanya Dian kepada Rinjani sambil menatap punggung dosen yang terkenal keren di kampus ungu itu sedang menggendong Ranti.


"Ikut gue nganterin Ranti ke rumah sakit" kata. Rinjani mengajak Dian untuk ikut dengan dirinya ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisi Ranti.


"Sip Kakak. Gue mau ikut. Tapi jangan suruh gendong Ranti ya, dia itu luar biasa berat" ujar Dian sambil mengangkat pundaknya tinggi tinggi.


"Loe masih ingat waktu kita ngangkat Ranti saat dia pingsan pulang kampus?" tanya Rinjani kepada Dian.


"Inget banget kak, gue semenjak itu trauma kalau lak Ranti pingsan. Bisa turun perut gue ngangkat dia" ujar Dian yang masih mengingat dengan jelas kisah kelamnya waktu menggendong Ranti yang pingsan saat pulang dari kampus.


"Nah, makanya dia pingsan tadi gue nggak sanggup angkat. Bisa tewas gue" ujar Rinjani sambil menatap Dian sekilas info.


Tak terasa mereka sudah sampai di mobil Bram. Rinjani menekan tombol yang ada di remot. Bram kemudian membukakan pintu belakang.


"Dian, kamu masuk dan jadikan paha kamu sebagai tempat kepala Ranti" ujar Bram memberikan perintah kepada Dian untuk menjadikan kakinya sebagai bantal bagi Ranti.


Dian duduk di belakang, sedangkan Rinjani duduk di sebelah sopir. Pak Bram mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit swasta yang terkenal di kota Padang.


"Pak Bram. Boleh Dian bertanya sesuatu kepada Pak Bram?" tanya Dian yang memang orangnya selalu menanyakan apa yang terganjal dalam hatinya, seperti saat ini.


"Apa Dian, tanya aja. Kalau saya tau jawabannya, pasti akan saya berikan. Kalau tidak tentu saya harus janji dulu untuk mencarikan jawabannya" ujar Bram sambil melirik ke arah wajah Ranti, mahasiswi yang sejak lama sudah menjadi target Dosen Bram.


"Dosen Bram apa tidak merasakan kalau Ranti memiliki berat yang lumayan berat, untuk seorang mahasiswi yang biasanya sangat mementingkan keindahan tubuhnya." jawab Bram sambil melihat ke arah Ranti sekali lagi.


Dian memerhatikan semua kejadian itu. Dian hanya akan menjadi penglihat dan pendengar setia dari kelakuan Bram yang mendadak berubah se drastis itu. Perubahan yang membawa dirinya besok berhasil menjadi seseorang yang bisa menghasilkan uang sendiri, bukan hasil dari malak kedua orang tuanya.


"Haha haha haha haha haha. Bapak kira ada apa apanya. Ranti memang sangat luar biasa beratnya. Saya saja sampai ngosngosan tadi. Mau minta bantuan orang lain, malas. Mana tau mereka tidak mau. menolong nanti, makanya Bapak berusaha untuk mengangkatnya sensdiri" ujar Bram menjawab pertanyaan dari Dian.


Rinjani mentap Dian, mereka melongo mendengar Bram yang banyak bicara itu. Mereka berdua walaupun berbeda jurusan sangat kenal dengan seorang dosen muda yang bernama Bram. Dosen yang terkenal diam dan tidak banyak ngomong itu. Kalau kata mahasiswa, Anda ingin melihat dosen Bram banyak bicara, maka lihatlah saat dia mengajar.


"Kenapa kalian berdua saling pandang pandangan?" tanya Bram yang melihat sangat jelas Rinjani dan Dian saling pandang pandangan.


"Sebelumnya maaf ini ya pak. Bukan maksud kami kenapa kenapa," ujar Rinjani memilih untuk menyampaikan kepada dosen Bram kenapa mereka tadi berpendang pandangan.


Bram mengangguk, dia setuju untuk tidak marah. Bram juga penasaran kenapa Rinjani dan Dian melakukan hal tadi.


"Kami berdua tadi seperti itu karena baru tadi kami mendengar Bapak menjawab pertanyaan seseorang dengan sangat panjang, selain saat Bapak mengajar di kampus." jawab Rinjani sambil melihat ke arah Bram. Rinjani takut apa yang dikatakannya ke Bram tadi membuat Bram menjadi tersinggung. Ternyata Bram tersenyum mendengar jawaban dari Rinjani, hal itu membuat Rinjani menjadi tenang.


"Malahan ya Pak. Bapak memiliki julukan dosen hemat kata" ujar Dian menambahkan jawaban dari Rinjani.


"Dosen tanpa kata? Haha haha haha." ujar Bram ketawa ngakak saat mendengar julukannya yang diberikan oleh mahasiswa.


"Kalian ada ada aja. Aku tidak suka aja, berbicara banyak banyak. Lagian aku juga nggak tau apa yang mau aku bicarakan" kata Bram menjawab apa yang dikatakan oleh Rinjani dan Dian tadi.


"Aku takut salah salah ngomong, nanti orang marah dan berkecil hati. Itu saja sebenarnya yang membuat aku seperti dingin dengan orang lain. Makanya lahir istilah dosen tanpa kata" ujar Bram menjawab asal usul kenapa Bram selama ini memilih untuk diam.


"Oh ya Dian. Apa Ranti sudah menunjukkan tanda tanda sadar?" tanya Bram kepada Dian yang ingat dengan keadaan Ranti.


"Masih belum Pak. Kak Ranti masih pingsan." jawab Dian saat melihat kondisi Ranti yang masih dalam keadaan pingsan.


Bram menambah kecepatan mobilnya. Dia harus cepat sampai ke rumah sakit memeriksakan keadaan Ranti yang tadi berguling guling di tangga.


Setelah berkendara selama tiga puluh menit dengan kecepatan sedang, mobil dibelokkan Bram masuk ke dalam perkarangan sebuah rumah sakit swasta ternama di kota Padang. Bram memberhentikan mobilnya di depan IGD.


Beberapa suster yang melihat ada sebuah mobil berhenti di lobby IGD langsung mendorong brankar rumah sakit ke dekat mobil yang berhenti itu.


Mereka membantu Bram menurunkan dan memindahkan Ranti ke atas brangkar rumah sakit. Para suster kemudian mendorong brangkar rumah sakit itu menuju ruang pemeriksaan IGD.


"Apa yang terjadi Tuan?" tanya salah satu dokter yang ditugaskan untuk dinas di IGD.


"Ranti tadi jatuh dan berguling guling di tangga. Sekitar delapan tangga ada." jawab Bram menjelaskan kejadian yang dialami oleh Ranti.


"Kemudian, saat kami bertanya dia mengatakan kepalanya sakit. Terus saat kami ajak untuk berdiri, dia pingsan" ujar Bram melanjutkan menjelaskan kejadian kepada dokter.


"Jadi dia pingsan karena menahan rasa sakit di kepalanya" ujar dokter menarik kesimpulan.


"iya dokter" jawab Bram dan Rinjani bersamaan.


"Baiklah kalau begitu akan kami periksa dulu, kalian semua bisa menunggu di sini" ujar dokter meminta Bram dan dua sahabat Ranti untuk menunggu di depan ruangan tempat dokter akan memeriksa Ranti.


Bram, Rinjani dan Dian, duduk di kursi tunggu yang ada di ruangan IGD itu. Mereka akan menunggu di sana sampai dokter memanggil mereka kembali.


Dokter melakukan pemeriksaan intensif terhadap Ranti. Mereka tidak mau melakukan semuanya dalam keadaan tergesa gesa. Mereka melakukan pekerjaan mereka dengan rasa tanggung jawab yang tinggi.


Setelah satu jam melakukan pemeriksaan terhadap Ranti. Satu orang dokter membuka pintu ruangan. Bram, Rinjani dan Dian yang mendengar pintu ruangan dibuka, langsung berdiri dan melihat ke arah pintu ruangan yang dibuka oleh seorang dokter.


"Bagaimana dengan Ranti, dokter?" tanya Bram yang terlihat sangat cemas itu.


"Kondisinya normal, hanya ada trauma sedikit di tulang kepalanya. Tapi, kami harus tetap melakukan observasi terhadap Nona Ranti." kata dokter menjelaskan keadaan Ranti sekarang.


Bram, Rinjani dan Dian merasa senang kondisi Ranti tidak dalam keadaan serius.


"Tapi, kami minta, Tuan melakukan pendaftaran untuk rawat inap. Kami, akan melakukan observasi terhadap Nona Ranti. Kalau, Nona Ranti merasakan pusing lagi, maka kami akan melakukan MRI untuk kepalanya. " ujar dokter mengatakan tindakan yang akan diberikan selanjutnya kepada Ranti kalau Ranti masih merasakan sakit di kepalanya.


Dokter kembali masuk ke dalam ruangan pemeriksaan, sedangkan Bram menuju tempat pendaftaran rawat inap pasien. Rinjani dan Dian menunggu kembali di depan ruangan IGD.


"Semoga Kak Ranti tidak kenapa kenapa ya kak" ujar Dian yang mulai agak cemas dengan kondisi Ranti.


"Kita doakan yang terbaik saja buat Ranti, Yan" ujar Rinjani mengajak Dian berdoa untuk Ranti.


Tidak berapa lama, Bram sudah kembali datang sehabis mendaftarkan ruang rawat inap untuk Ranti. Dia memberitahukan kepada Rinjani dan Dian nomor ruangan rawat Ranti.


Pintu ruangan pemeriksaan terbuka lebar. Terlihat beberapa orang suster mendorong brangkar yang di atasnya ada Ranti yang masih dalam keadaan tertidur.


"Mari ikuti dengan kami. Kami akan mengantarkan pasien ke ruangannya" ujar salah seorang dokter mengajak Bram dan yang lainnya untuk ikut ke ruangan rawat Ranti.


Mereka semua berjalan ke sana. Mereka akan mengantarkan Ranti ke ruangan rawat nya. Nanti Rinjani dan Dian akan membahas siapa yang akan menjaga Ranti di sana. Karena besok Rinjani harus berangkat ke kota Padang Panjang mengajar di salah satu kampus di sana..