Its My Dream

Its My Dream
Siang H - 27 Pov Ranti



Ranti yang telah selesai mengikuti perkuliahan pertamanya langsung berpindah lokal untuk mengikuti perkuliahan kedua yang akan dimulai sebentar lagi. Kali ini Ranti akan kuliah dengan Rinjani sebagai dosennya, sebenarnya Rinjani adalah asisten dosen untuk mata kuliah itu. Ranti kemudian berjalan menuju ruangan kelas tempat dia akan mengikuti perkuliahan seperti biasanya. Ranti sudah berdiri tepat di depan pintu ruangan perkuliahan yang masih tertutup itu.


"Kok masih tutup? Apa gue salah ruangan kali ya?" ujar Ranti sambil kembali melihat agendanya di ponsel.


"Nggak, masih sama. Tapi kok pintunya masih tertutup" lanjut Ranti yang sedikit cemas dengan keadaan itu.


Ranti kemudian membuka pintu ruangan. Dia berharap tidak terlambat masuk ke dalam kelas kali ini. Ranti memang sengaja mengambil perkuliahan ini dengan kode dosen yang memang Rinjani asisten dosennya. Sebelumnya Ranti telah mengambil mata kuliah itu, tetapi bernilai D sehingga dia harus mengulang dengan adik tingkatnya. Tapi saat pintu di buka sama sekali tidak ada mahasiswa di dalam ruangan kelas itu.


Ranti yang tidak tahu apa yang terjadi membuka grub kelas, ternyata Rinjani tidak masuk mengajar sekarang. Rinjani mengatakan kalau dia ada keperluan penting sehingga perkuliahan akan dilakukan secara daring nanti malam melalui tautan zooom yang dibagikan oleh Rinjani nanti satu jam lagi.


"Kemana tu anak ya? Perasaan tadi pagi baik baik aja? Ada keperluan pribadi apa?" ujar Ranti yang penasaran dengan keperluan yang dikatakan oleh Rinjani di grub chat kelasnya itu.


"Mending gue susul aja dia kembali ke kos, mana tahu tu anak sedang di kos duduk, atau istirahat" ujar Ranti yang memilih untuk langsung pulang ke kos kosannya.


Ranti hari ini memang tidak ada janji temu dengan Bram, karena Bram harus memberikan kuliah di kelas jauh kampus mereka yang letaknya di kota Bukittinggi. Ranti kembali menuruni gedung lima lantai itu melalui tangga karena lift sedang dalam perbaikan.


"Coba aja gue dari tadi baca chat grub, pasti gue nggak harus capek capek naik tangga lima lantai ini" ujar Ranti mengomel sambil turun dari gedung lima lantai itu.


"Loe nggak kuliah Ran?" ujar salah seorang teman satu BP dengan Ranti yang baru akan naik ke lantai atas gedung perkuliahan itu.


"Rinjani katanya nggak masuk, jadi nggak ada perkuliahan. Emang loe nggak baca grub?" ujar Ranti kepada teman satu lokalnya itu.


"Nggak, gue baru selesai kuliah pragmatik, loe bayangin aja gimana sesak napasnya gue sekarang" ujar kawan Ranti itu sambil langsung duduk di anak tangga saat mendengar dari Ranti kalau perkuliahan dengan Rinjani tidak dilaksanakan karena Rinjani berhalangan hadir.


Ranti yang melihat temannya duduk di anak tangga juga ikut ikutan duduk di sana.


"Tumben tu anak nggak masuk. Apa dia sakit?" ujar teman Ranti yang juga reman Rinjani


"Katanya ada keperluan pribadi. Ini gue mau pulang ke kos, mau tengok dia sedang ngapain di kos" kata Ranti menjelaskan kepada temannya itu apa yang akan dilakukan oleh Ranti saat dirinya pulag ke kas.


"Gue antar mau loe? Gue juga ada rencana mau ke daerah tempat kos kosan elo. Gue mau ke rumah teman gue di daerah sana" ujar teman Ranti menawarkan tumpangan kepada Ranti untukĀ  menuju kosnya


"Boleh" ujar Ranti dengan semangat. Dia tidak perlu mengeluarkan uang untuk ojek atau tidak perlu berjalan kaki karena ojek yang susah didapatkan.


Mereka berdua kemudian berjalan kembali, masih ada dua lantai lagi yang harus mereka jalani. Setelah sampai di parkiran, Ranti dan temannya langsung saja masuk ke dalam mobil milik temannya itu, teman Ranti mengantarkan Ranti menuju kos kosannya.


"Makasi, udah mau gue repotin" ujar Ranti kepada temannya saat mereka sudah sampai di depan kos.


"Nggak masalah. lagian gue nggak merasa loe repotin kok" ujar teman Ranti menjawab apa yang dikatakan oleh Ranti kepada dirinya.


"Titip salam gue ke Jani, Ran" ujar teman Ranti saat Ranti sudah akan membuka pintu gerbang masuk ke dalam kos kosannya.


"Oke sip" jawab Ranti.


Mobil yang dikemudikan oleh kawan Ranti meninggalkan kos kosan, Ranti kemudian masuk ke dalam kos kosannya. Dia langsung menuju kamarnya. Ranti membuka pintu kamar, ternyata terkunci. Ranti mengetuk pintu kamar berharap Rinjani tidur di dalam kamar dan mendengar pintu kamar yang diketuk oleh Ranti dari luar. Tetapi sudah berkali kali Ranti mengetuk pintu kamar tidak ada sahutan dari dalam.


"Kak Ranti, kak Jani pergi dari pagi. Dia menitipkan kunci kamar kakak ke aku" ujar adik kos itu memberikan kunci kamar yang memang tadi dititipkan oleh Rinjani kepada adik kos tersebut.


"Oh makasi ya" jawab Ranti sambil menerima kunci kamarnya.


"Dek" panggil Ranti kepada adik kos yang hendak masuk ke dalam kamarnya.


"Ya kak, ada apa?" ujar adik kos bertanya kepada Ranti.


"Apa kamu melihat Rinjani pergi meninggalkan kos tadi?" ujar Ranti yang curiga kalau Rinjani pergi meninggalkan kos kosannya.


"Lihat kak, emang ada apa ya kak?" ujar adik kos yang penasaran dengan maksud pertanyaan yang diajukan oleh Ranti kepada dirinya.


"Apa Rinjani tadi membawa tas besar?" ujar Ranti melanjutkan pertanyaannya.


"Iya kak, Kak Jani membawa tas besar di punggungnya dan membawa tas laptop di tangannya serta satu tas jenjeng yang aku nggak tau apa isinya" ujar adik kos itu memberitahukan keadaan Rinjani saat meninggalkan kos kosan pagi tadi.


"Emang ada apa ya kak?" uajr Adik kos kembali bertanya hal yang sama kepada Ranti.


"Nggak ada apa apa, terimakasih atas informasinya" ujar Ranti.


Ranti kembali ke kamarnya, adik kos yang tadi ditanya oleh Ranti, juga masuk ke dalam kamarnya. Dia tidak mengerti dengan maksud pertanyaan Ranti tadi.


"Fix Rinjani kabur lagi" ujar Ranti yang sudah dapat menyimpulkan apa yang sedang terjadi saat ini.


"Gue harus menghubungi Bayu dan meminta Bayu untuk mencari dimana keberadaan anak yang satu itu" ujar Ranti dengan nada kesal


"Rinjani nggak pernah bisa berubah, setiap ada masalah yang nggak bisa dia menyelesaikan pasti jalan terakhir yang diambilnya adalah kabur lagi" lanjut Ranti mengomel sendirian.


Ranti mengambil ponselnya yang terletak di atas meja belajar. Dia pertama sekali mencoba menghubungi Rinjani, tetapi hasilnya masih sama dengan yang tadi, nomor Rinjani masih di luar jangkauan. Ranti mencoba menghubungi Rinjani lewat layanan aplikasi lain tetapi sama saja statusnya cuma memanggil tidak berdering.


"Jani, loe emang menyebalkan kalau sudah ada masalah" teriak Ranti yang kesal dengan apa yang dilakukan oleh Rinjani.


"Jalan satu satunya Bayu" kata Ranti.


Ranti kemudian menghubungi nomor Bayu. Panggilan itu tersambung tetapi tidak diangkat oleh Bayu sang pemilik nomor. Ranti kembali mengulangi untuk menghubungi telpon Bayu, masih sama panggilan itu tersambung tetapi tidak ada yang mengangkat.


"Kok sama aja ya, tapi masih mending Bayu masih menyambung" ujar Ranti.


"Gue ulang lagi lah" ujar Ranti


Ranti kembali mengulang panggilan yang sama kepada Bayu sebanyak lima kali lagi, tetapi hasilnya tetap sama. Bayu tidak mengangkat panggilan yang dilakukan oleh Ranti. Ranti menaruh ponselnya di atas kasur. Dia kemudian duduk di kasur itu.


"Kalau ada Bram, udah pasti gue akan minta tolong Bram. Tapi Bram jauh di luar kota" ujar Ranti


"Bayu Bayu kenapa loe nggak angkat telpon gue sih Bay" ujar Ranti yang kesal dengan Bayu yang sama seklai tidak mengangkat telpon dari Ranti.


"Apa mereka sedang berdua kali ya?" ujar Ranti yang tiba tiba ntah kenapa pikirannya sampai ke sana


"Tetapi nggak mungkin juga. Tadi pagi saja Rinjani nggak mau bertemu dengan Bayu, Kenapa mereka harus pergi bersama sekarang." ujar Ranti yang kembali tidak yakin kalau Rinjani sekarang sedang bersama dengan Bayu