Its My Dream

Its My Dream
H - 19 Raun Part 1



"Enak juga ternyata sayang makan di sini. Aku suka" ujar Rinjani kepada Bayu. Rinjani melihat ke arah kafe yang lainnya.


"Kamu kalau pesan bakso sayang, jarang yang nggak akan suka. Suka semua. Apalagi kalau durian, maka kamu luar biasa suka" lanjut Bayu berkata kepada Rinjani.


"Haha haha, jangan gitu sayang, jadi malu aku" jawab Rinjani sambil tersenyum malu malu.


"Sayang, kita ke sana yuk. Kayaknya pemandangan di sana asik juga" ujar Rinjani mengajak Bayu untuk pergi ke bagian ujung kafe.


Bayu berdiri dari duduknya.


"Gue ikut Jani" ujar Aleza yang juga sudah berdiri.


"Nggak. Gue lagi pengen pergi sama Bayu. Ngapain loe juga ikut. Sama Aria aja" ujar Rinjani memberikan kode kepada Aria yang terlalu dingin ke wanita lain selain Rinjani.


"Bener yang dibilang Jani, Aleza. Kamu dengan aku aja" jawab Aris dengan nada kaku.


"Dasar kulkas" ujar Rinjani kembali membuka medan peperangan dengan Aris.


Bayu hanya bisa geleng geleng kepala melihat tingkah kekasihnya itu kalau sudah bertemu dengan sahabat lamanya.


Mereka berdua kemudian berjalan bergandengan tangan menuju meja homestay yang paling ujung. Mereka akan duduk di sana sambil melihat jurang jurang yang rimbun ditutupi pohon pohon yang berdaun lebat.


"Mau di fhoto?" tawar Bayu kepada Rinjani yang selalu minta berfhoto kalau mereka di satu tempat makan baru.


"Nggak sayang, aku sedang nggak pengen berfhoto. Aku cuma ingin duduk di sini dan memberikan kesempatan kepada mereka berdua untuk ungkapin kata kata cinta atau minimal kenalan lebih jauh" ujar Rinjani sambil menatap kehijauan yang jarang di temukan mereka di kota Padang.


"Besok akun penutupan latihan kan pagi. Kamu nggak ada ngajar lagikan ya, gimana kalau kita pergi mainnya setelah aku penutupan?" tanya Aris kepada Rinjani untuk kegiatan mereka besok.


"Oke nggak masalah. Kita nginap di sana kan ya?" tanya Rinjani kembali.


"Iya" jawab Bayu sambil menatap jauh ke depan.


Rinjani terdiam, dia terlihat sedang berusaha memikirkan sesuatu, tetapi Rinjani terlihat ragu untuk menyampaikannya kepada Bayu. Bayu bisa melihat kalau Rinjani sedang berpikir.


"Ada apa?" tanya Bayu kepada kekasihnya itu.


"Ada yang mau aku omongin, tapi takutnya nanti kamu marah sayang" ujar Rinjani menatap Bayu dengan tatapan sangat dalam.


"Kenapa harus marah sayang. Ada apa?" tanya balik Bayu yang sangat jarang marah kepada Rinjani.


"Boleh bawa Aleza? Nanti kamu bawa Aris" ujar Rinjani yang pada akhirnya mengatakan apa yang ada di dalam otak cantiknya itu.


"Kalau Aleza oke, Aris yang aku ragukan sayang. Aku belum berbicara dengan Aris. Nanti ya aku ngomong sama dia" jawab Bayu yang belum bisa memberikan keputusan saat ini kepada Rinjani tentang apakah Aris bisa ikut atau tidak dengan mereka.


"Oke sayang. Tapi kalau bisa dia ikut kan keren itu" ujar Rinjani sambil tersenyum penuh arti.


"Sayang sayang, kamu mulai lagi sayang. Kalau menurut aku ya, kita berdua sudah mengenalkan mereka, biar mereka aja lagi sayang yang ngurus langkah selanjutnya" ujar Bayu kepada Rinjani.


"Sayang sayang, kamu nggak lihat itu Aris kulkas banget. Freezer banget dia sayang. Kalau kamu dulu juga dinginkan ya, pas kamu menjadikan aku target kamu langsung mati matian ngejar aku. Kalau Aris boro boro sayang, dari tadi dia hanya diam aja sama Aleza"


Rinjani menatap ke arah Bayu. Dia menaik naikkan alisnya dan memutar bola mata indahnya yang berwarna coklat itu.


"Setuju sayang, senior aku yang satu itu manusia kutub" jawab Bayu sambil melihat ke arah Aris dan Aleza yang duduk sambil diam diaman.


"Bahas yang lain yuk. Capek bahas mereka terus. Nggak guna sayang" ujar Rinjani.


"Nggak ada kemajuan, bener kata kamu, kita biarkan saja mereka, semoga mereka menemukan jalan terbaik untuk melanjutkan hubungan mereka ke tahap pacaran" jawab Rinjani sambil menatap ke arah Bayu dan melihat ke tempat Aleza dan Aris duduk.


Mereka berdua kemudian kembali terdiam sesaat. Mereka sama sama melihat ke arah rimbunnya pepohonan di dalam jurang tersebut.


"Gimana dengan kuliah kemaren? Masih ada mahasiswa yang coba godain kamu lagi?" tanya Bayu yang ingat waktu itu Rinjani cerita kalau ada mahasiswa yang mencoba menggoda dirinya.


"Udah nggak ada lagi sayang. Malahan sekarang mereka semangat kuliah. Biasa huft mana ada" ujar Rinjani.


"Tapi sayang, ini mungkin ya, mungkin karena aku ngajar mata kuliah umum kali, jadi bagi mereka kurang menarik." lanjut Rinjani.


"Kalau mata kuliah kejuruan, eee mereka sangat semangat sayang, sampai sampai mereka nggak akan sadar kalau jam perkuliahan mereka sudah habis" lanjut Rinjani sambil menatap jauh ke depan.


"Sayang pengunjungnya ramai banget ya." ujar Rinjani sambil melihat ke sekeliling kafe


Pengunjung kafe tersebut luar biasa ramainya.


"Gimana nggak ramai sayang, sudahlah letaknya di tepi jalan, strategis pula. Pilihan makanan yang mereka jual juga sesuai dengan cuaca yang dingin" ujar Bayu menambahkan pendapat dari Rinjani.


"Sayang gimana kalau kita bikin pula kafe seperti ini. Kita cari tanah di kota Bukittinggi nanti kita buat konsepnya yang gaul dan bikin betah anak muda gitu" ujar Rinjani yang memang selalu memikirkan gimana uang bisa masuk ke dalam rekening mereka.


"Setuju sayang. Kita coba cari tanah atau bangunan yang rasanya cocok dengan konsep yang akan kita buat" ujar Bayu yang setuju dengan rencana Rinjani untuk membangun kafe di kota jam gadang itu.


"Kita bicarakan konsepnya besok. Kita akan minta tolong teman aku untuk merancang desainnya, saat kita sudah mendapatkan bangunannya atau tanah" ujar Bayu.


"Sayang, kita hitung dulu lah berapa kita punya dana. Jadi, kita bisa memperkirakan seperti apa kafe bisa kita buat." ujar Rinjani yang nggak mau menghayal terlalu tinggi, tetapi dana tidak cukup.


"Sip. Jadi pembagian sahamnya lima puluh lima puluh?" tanya Bayu.


"Tentulah iya sayang, terpenting kita hitung semua baru nanti kita bagi berapa kita harus bayar masing masingnya" ujar Rinjani.


"Sayang, gimana kalau kita balik ke tempat Aris dan Aleza lagi. Kita udah terlalu lama meninggalkan mereka. Sekaligus kita tanya apa mereka mau ikut besok atau tidak dengan kita" ujar Bayu mengajak Rinjani untuk balik ke tempat duduk dimana Aleza dan Aris duduk di sana.


Bayu menggandeng tangan Rinjani, semua orang menatap pasangan yang sedang bahagia itu. Mereka berjalan dengan santainya.


"Sayang, mereka semua menatap ke arah kita sayang. Betapa bangganya aku, jalan dengan tentara seperti kamu sayang" ujar Rinjani dengan bangganya kepada Bayu.


"Bangga kamu sayang jalan dengan aku, walaupun aku nggak pake baju angkatan?" tanya Bayu sambil berjalan menuju tempat duduk Aleza dan Aris.


"Apapun baju kamu, asalkan kamu bisa membahagiakan aku, aku sangat bahagia sayang" kata Rinjani.


"Akhirnya" ujar Bayu.


Mereka berdua kemudian sampai di tempat duduk Aleza dan Aris, mereka kembali duduk di sana.