
"Ya udah sekarang Mari kita kembali ke kampus, karena sebentar lagi akan masuk jam perkuliahan setelah jam istirahat. Kita bertiga belum ada yang salat seorangpun. Kalau aku telat tidak masalah, tetapi kalau kalian berdua telat akan menjadi masalah oleh dosen yang akan mengajar di kelas kalian nanti" lanjut Bram mengatakan kepada Rinjani dan Ranti untuk pergi ke kampus dan melaksanakan kewajiban mereka sebelum mereka kembali kuliah seperti biasa
"Oh ya Ranti kamu selesai kuliah jam berapa?" Tanya Bram kepada Ranti.
"Kalau tidak salah jam empat lewat lima belas. Emang ada apa?" Ranti menjawab pertanyaan dari Bram dengan pertanyaan selanjutnya.
"Kamu pulang dengan aku ya?" Kata Bram mengajak Ranti untuk pulang bersama dengan dirinya.
"Oke sip kita pulang bersama." ujar Ranti yang mengiyakan ajakan untuk pulang bersama dengan Bram.
"Lo tega ninggalin gue pulang sendirian" kata Rinjani yang tidak ingin pulang sendirian menuju kos mereka.
"Alah palingan lu nanti juga dijemput oleh Bayu, gue nggak yakin Bayu tidak menjemput lo pulang" jawab Ranti yang tidak ingin disalahkan oleh Rinjani karena dia meninggalkan Rinjani sendirian.
Mereka bertiga kemudian Kembali menuju kampus tetapi, sebelumnya Bram membayar semua makanan yang mereka makan siang ini. Setelah itu mereka bertiga melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim sebelum mereka melanjutkan kegiatan perkuliahan yang akan diselesaikan pukul setengah lima sore.
" Rinjani" terdengar suara panggilan dari arah belakang saat Rinjani Ranti dan Bram berjalan masuk ke dalam pekarangan kampus
mereka bertiga kemudian melihat ke arah belakang ternyata di sana sudah ada Bayu yang berdiri dengan pakaian lengkap loreng dinasnya
" nah bener kan kata gue belum aja pulang lo udah dijemput Bayu untuk pulang" kata Ranti sambil menatap ke arah Bayu sebentar kemudian melihat ke arah Rinjani lebih lama dari pada waktu melihat ke arah Bayu
" Sebenarnya gue males bertemu dengan dia saat sekarang ini" kata Rinjani dengan ada males saat melihat Bayu yang sudah berdiri di depan pintu gerbang masuk kampus
" katakan saja kepada dia kalau kamu masih ada jam kuliah suruh saja dia datang nanti setelah maghrib" ujar Ranti memberikan usulan dan sarannya kepada Rinjani.
Rinjani menatap ke arah Ranti tatapan mata Rinjani bermakna tolong katakan kepada Bayu Dia sedang tidak ingin bertemu.
Ranti geleng geleng kepala menatap ke arah Rinjani. dia tidak menyangka kalau Rinjani akan meminta tolong kepada dirinya untuk mengatakan sesuatu kepada Bayu yang sekarang sedang berdiri di hadapan mereka itu.
" Ayolah Ran gue mohon ke elu tolong lu katakan sama dia ya" kata Rinjani memohon kepada Ranti supaya Ranti mau mengatakan hal tersebut kepada Bayu.
" lo bener-bener merepotkan gue" kata Ranti sambil menatap ke arah Bayu dengan tatapan tidak percaya.
Rinjani kemudian menatap memohon ke arah Ranti. Ranti akhirnya pasrah dengan apa yang diminta oleh Rinjani kepada dirinya. Akhirnya nanti bersedia untuk menolong Rinjani.
"Ada apa lagi?" ujar Ranti saat melihat Rinjani yang datang dari luar dalam keadaan bersedih.
Rinjani memeluk Ranti dengan sangat kuat. Dia benar benar butuh pundak Ranti untuk bersandar saat ini.
Ranti yang tahu kalau sahabatnya sedang bersedih itu membiarkan saja Rinjani menggunakan pundaknya untuk tempat bersandar. Ranti sama sekali tidak berminat untuk mengganggu Rinjani. Ranti membiarkan saja apa yang terjadi. Rinjani menangis dalam pelukan Ranti. Ranti hanya bisa mengusap punggung Rinjani dan berusaha menenangkan tangis Rinjani yang mulai keluar itu.
Setelah dirasa hati dan pikirannya sudah kembali tenang. Rinjani melepaskan pelukannya dari Ranti. Ranti menatap ke arah Rinjani teman sekamar sekaligus sahabatnya itu.
"Ada apa?" ujar Ranti bertanya kepada Rinjani.
"Boleh gue cerita?" ujar Rinjani bertanya kepada Ranti.
Ranti mengangguk. "Untuk loe semuanya boleh" kata Ranti sambil tersenyum kepada sahabatnya itu.
RUMAH DINAS PAPAP
Mobil yang dikemudikan oleh Bayu sudah masuk ke dalam perkarangan rumah dinas Papap. Para tentara piket memberikan hormat kepada Bayu. Bayu membalas dengan anggukan saja.
Bayu memarkir mobilnya dalam keadaan sembarangan tidak sesuai dengan aturan yang seharusnya. Bayu memberhentikan mobilnya di sembarangan tempat. Hal yang membuat siapa saja yang melihat kondisi parkir mobil Bayu menjadi sangat yakin kalau orang yang mengemudikan mobil itu dalam keadaan tergesa gesa sehingga tidak sempat memarkir mobilnya dengan keadaan yang seharusnya.
Bayu dan Rinjani bergegas turun dari dalam mobil. Mereka berdua membuka pintu rumah dengan cara yang sangat tidak elegant. Para tentara yang ada di rumah dinas menatap mereka berdua dengan tatapan heran.
"Ada apa Bang?" ujar Josua yang kaget saat melihat Bayu dan Rinjani masuk bergegas ke rumah dinas itu.
Bayu dan Rinjani sama sekali tidak mengetuk pintu apalagi membaca salam. Sehingga membuat Josua yang sedang duduk sambil membersihkan senjatanya menatap ke arah Bayu dan Rinjani langsung dalam posisi siap.
"Mana Papap dan Mamah, Jo?" ujar Bayu bertanya kepada Josua yang sudah kembali menaruh senjatanya ke atas meja.
"Komandan dan Ibuk ada di kamar Bang" jawab Josua memberitahukan Bayu dan Rinjani dimana posisi komandan dan Ibuk.
"Terimakasih" ujar Bayu dengan singkat.
Bayu dan Rinjani berjalan cepat menuju kamar Papap dan Mamah, mereka berdua sangat cemas dengan kondisi Papap dan Mamah. Hal itu di sebabkan karena telpon yang diterima oleh Rinjani saat perjalanan mereka dari kota Bukittinggi.
Bayu yang tetap dengan tingkahnya seperti saat mereka masuk ke dalam rumah kembali melakukan hal yang sama saat mereka akan masuk ke dalam kamar Papap dan Mamah.
Bayu sama sekali tidak mengetuk pintu terlebih dahulu. Bayu main langsung masuk saja. Bayu sudah sangat tidak bisa sabar lagi untuk melihat keadaan kedua orang tuanya. Bayu takut sesuatu terjadi kepada Papap dan Mamah.
Papap dan Mamah yang sedang duduk di depan kaca jendela memandang ke taman depan yang sedang semarak dengan bunga bunga yang sedang bermekaran. Bayu dan Rinjani saling memandang satu dengan yang lainnya. Mereka sama sekali tidak mengerti dengan telpon yang secara mendadak dilakukan oleh Papap ke ponsel Bayu.
Papap dan Mamah yang mendengar bunyi pintu kamar yang langsung terbuka tanpa ada yang mengetuk sudah mengetahui siapa yang datang. Makanya mereka sama sekali tidak bereaksi akan hal itu.
"Pap, mah ada apa ini?" ujar Bayu bertanya kepada Papap dan Mamah saat melihat mereka berdua dalam kondisi yang baik baik saja.
"Duduk dulu Bayu, Rinjani" ujar Mamah meminta Bayu dan Rinjani untuk duduk di sofa yang ada di dalam kamar itu.