Its My Dream

Its My Dream
Siang H - 25



Bayu yang sudah puas beristirahat, membuka matanya. Bayu mencoba menyesuaikan penglihatannya terhadap jalan dengan daya ingatnya. Bayu melihat kalau mereka sekarang sedang dalam perjalanan menuju kota Padang kembali.


"Loh kok kita jalan ke Padang lagi sayang? Bukannya mau makan dan minum di kafe yang kamu katakan itu sayang?" ujar Bayu sambil menatap ke jalan yang sedang mereka lalui.


Bayu menyadari kalau sekarang mereka sudah tidak di kota Bukittinggi lagi, melainkan sudah hampir sampai di kota Padang Panjang.


"Kita harus pulang sekarang sayang" ujar Rinjani menjawab pertanyaan Bayu sambil tersneyum.


"Ada apa?"


Bayu keget mendengar jawaban yang diberikan oleh Rinjani yang sangat tidak di sangka oleh Bayu. Padahal mereka berdua sudah menyusun rencana untuk tetap stay di kota Bukittinggi sampai malam. Barulah malam mereka akan kembali ke kota Padang. Mereka akan menghabiskan waktu seharian di kota Bukittinggi sebelum Bayu berangkat menuju daerah konflik.


"Apa ada sesuatu yang terjadi yang tidak aku ketahui, karena ku tidur tadi?" ujar Bayu bertanya kepada Rinjani dengan pertanyaan yang terlalu banyak.


Rinjani mengangguk, dia sejak kejadian yang terakhir pakai acara kabur kaburan itu langsung berjanji dalam dirinya akan mengatakan apa yang dirasakan oleh Rinjani kepada Bayu tanpa menutup nutupi apapun lagi. Dia tidak ingin kesalahan yang sama kembali terulang kedalam hubungannya dengan Bayu.


"Ada apa?" ujar Bayu yang sudah sangat penasaran dengan jawaban berupa anggukan yang diberikan oleh Rinjani kepada pertanyaan yang diajukan oleh Bayu tadi.


"Tadi Papap nelpon ke ponsel kamu saat kamu tidur" jawab Rinjani sambil tetap fokus menatap jalanan yang ada di depannya. Dia tidak boleh lengah sedikitpun, karena saat dia lengah membawa mobil di jalan raya super besar ini, maka maut akan senantiasa mengintai mereka. Rinjani tidak mau terjadi hal buruk itu terhadap dirinya dan Bayu.


"Papap?" ujar Bayu mengulang kembali siapa yang mengubungi ponselnya.


"Iya Papap" jawab Rinjani mengatakan nama Papap sambil menganggukkan kepalanya meyakinkan Bayu kalau memang yang menghubungi nomor ponsel Bayu adalah Papap.


"Apa kata Papap?" ujar Bayu yang penasaran kenapa setelah menerima telpon dari Papap, Rinjani langsung memutuskan untuk pulang ke Padang. Padahal mereka ada rencana untuk menikmati minum kafe di kafe baru yang ada di daerag ngarai.


"Pulang sekarang Jani. Itu kata Papap" jawab Rinjani mengatakan kepada Bayu apa yang dikatakan oleh Papap kepada dirinya saat Rinjani menerima telpon Papap ke ponsel Bayu saat Bayu sedang beristirahat karena kelelahan harus menjemput Rinjani ke kota Padang Panjang padahal Bayu baru siap latihan tengah malam.


"Nggak ada yang lain?" ujar Bayu yang heran kenapa Papap hanya menyampaikan satu kalimat itu saja, saat Rinjani mengangkat panggilan dari Papap


Rinjani menggeleng. Bayu berpikir sesaat, tetapi dia sama seklai tidak bisa menebak apa yang terjadi. Bertanya kepada Josua dan Ryan bukan solusi yang baik.


"Sayang, pinggirkan mobilnya. Biar aku aja yang bawa" ujar Bayu meminta Rinjani untuk menepikan mobil yang dibawa oleh Rinjani.


Bayu tidak mungkin membiarkan Rinjani membawa mobil sampai kota Padang. Apalagi Bayu rencananya akan mengemudikan mobil dalam kecepatan yang agak lumayan tinggi supaya dia bisa cepat sampai di kota Padang. Bayu sangat khawatir dengan keadaan kedua orang tuanya. Papap tidak pernah menelpon dengan hanya mengucapkan satu kalimat yang berisi perintah untuk cepat dilaksanakan oleh Bayu.


Rinjani menepikan mobil yang dikemudikan oleh dirinya itu. Mereka berdua kemudian turun dari dalam mobil untuk bertukar posisi duduk. Sekarang giliran Bayu mengemudikan mobil menuju kota Padang. Rinjani sudah melihat ekspresi Bayu yang berubah saat mendengar apa yang dikatakan oleh Papap saat menghubungi ponselnya tadi. Rinjani berjanji dalam dirinya tidak akan mengganggu konsentrasi Bayu dalam mengemudikan mobil ke kota Padang.


Bayu mengemudikan mobil menuju kota Padang dalam kecepatan tinggi. Rinjani sebenarnya takut tetapi dia tidak mau berkomentar sedikitpun kepada Bayu. Rinjani hanya menenangkan dirinya dengan cara meremas kursi tempat duduknya saat Bayu melakukan manuver manuver yang membuat jantung Rinjani berdetak dengan kencang.


Bayu langsung menatap ke arah Rinjani yang sudah berwajah pucat pasi kehabisan darah karena apa yang baru saja terjadi. Bayu yang melihat kekasihnya dalam keadaan tidak baik baik saja itu langsung memeluk Rinjani. Dia benar benar menyesal telah menempatkan Rinjani dalam kondisi membahayakan nyawa kekasihnya itu.


Rinjani memeluk erat Bayu. Dia sangat cemas dengan kejadian yang baru saja hampir merenggut nyawanya itu. Rinjani menenangkan perasannya dengan terus memeluk kekasihnya itu. Setelah merasa dirinya sudah tenang dan Bayu juga yakin kalau Rinjani sudah kembali tenang, mereka sama sama melepaskan pelukannya.


Bayu kemudian mengambil sebotol air mineral yang ditaruh di pintu mobilnya.


"Sayang minum" ujar Bayu sambil mengarahkan botol air mineral yang sudah terbuka tutupnya itu.


Rinjani mengambil botol air minum yang diberikan oleh Bayu kepada dirinya. Rinjani meminum air tersebut. Dia benar benar dalam kondisi kacau karena hampir saja nyawanya mendadak hilang karena Bayu membawa mobil sangat dalam kecepatan tinggi.


"Sayang, maafkan aku ya" ujar Bayu sambil menggenggam tangan kanan Rinjani setelah Rinjani memberikan botol air mineral yang telah diminumnya kepada Bayu.


Rinjani mengangguk menjawab permintaan maaf dari Bayu. Bayu tersenyum kepada kekasihnya itu. Bayu mengecup punggung tangan Rinjani dengan sangat mesra.


"Tapi" ujar Rinjani menggantung ucapannya dengan sengaja.


Rinjani ingin Bayu menyambung perkataannya itu. Itupun kalau Bayu mengerti kemana arah pembicaraan Rinjani.


"Aku janji nggak akan mengebut dan melakukan manuver yang mengerikan lagi" ujar Bayu menyambung apa yang dikatakan oleh Rinjani tadi.


"Makasi" jawab Rinjani.


"Ayuk jalan lagi. Papap dan Mamah pasti udah menunggu kita di rumah" ujar Rinjani meminta Bayu untuk mengemudikan mobil yang sudah cukup lama berhenti itu karena kejadian yang hampir saja membuat Bayu dan Rinjani hanya tinggal nama saja.


"Siap komandan, laksanakan" jawab Bayu sambil memberikan hormat kepada Rinjani


"Tidak ngebut, tidak manuver dan tidak melakukan tindakan gila lagi" ujar Rinjani mengatakan syarat syarat yang harus dipenuhi oleh Bayu saat Bayu menyetir mobil menuju kota Padang.


"Siap tidak komandan. Saya akan berhati hati mengemudikan mobil komandan" jawab Bayu sambil memberikan senyuman terbaiknya kepada Rinjani.


Bayu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kota Padang. Dia sangat jauh menurunkan kecepatan mobilnya di bandingkan tadi saat mereka akan mengalami kecelakaan maut. Bayu tidak mungkin menempatkan Rinjani dalam posisi mengerikan seperti tadi lagi.


Rinjani tersenyum bahagia dengan kecepatan mobil yang dikendarai oleh Bayu, kecepatan sedang yang memang seharusnya mobil dilajukan dalam posisi dan kecepatan segitu, bukan seperti tadi. Bayu membawa mobil sangat mengerikan.


Bayu ikut ikutan tersenyum saat melihat Rinjani tersenyum dengan cara bayu mengemudikan mobil. Bayu sudah berhasil membuat Rinjani merasa nyaman kembali berkendara dengan dirinya. Rasa takut Rinjani sudah pergi jauh seiring dengan kecepatan mobil Bayu yang jauh berkurang.