
Mobil yang dikendarai oleh Bayu berbelok masuk ke dalam komplek Tentara di kota Padang Panjang. Bayu mengarahkan mobilnya menuju wisma tempat dirinya menginap selama menjadi pelatih di kegiatan itu. Bayu akan membersihkan dirinya dan berganti pakaian sebelum mereka akan makan malam dengan Aris di luar.
"Sayang luas juga ya" ujar Rinjani yang merasakan kalau komplek tentara yang satu itu sangat luas.
"Beda banget dengan asrama tempat aku tinggal dulu. Cuma dua deret aja. Waktu tinggal di Sijunjung" lanjut Rinjani mengomentari betapa luasnya komplek tentara yang satu itu.
"Tentu luas, inikan langsung komplek pendidikan bagi tentara baru. Makanya luas. Kalau tempat kamu tinggal dulu kodum sayang." kata Bayu menjelaskan kepada Rinjani kenapa komplek tentara yang meraka masuki itu terasa sangat luas dibandingkan dengan tempat Rinjani tinggal dulunya.
"Kalau kamu tidur di sini. Pagi pagi kamu udah lihat mereka lari pagi, semua tentara akan lari pagi di sini. Hampir mirip sama di Batalyon aku sayang. Banyak regu nya. Aku aja kalau mereka udah lari, nggak bisa tidur lagi. Tapi semenjak pagi tadi sudah tidak lewat wisma lagi mereka. Ntah kemana pindanya, aku juga nggak tau" ujar Bayu menceritakan tentang para tentara tentara yang dalam masa pendidikan melakukan kegiatan joging pagi.
"Kok bisa, mereka nggak lewat depan wisma lagi?" tanya Rinjani saat mobil sudah diparkir kan oleh Bayu di parkiran khusus pengunjung yang menginap di wisma.
"Karena Bang Aris komplen. Keganggu tidurnya. Kata dia nih ya, bisa nggak kalau mereka nggak lewat wisma. Seharian capek ngelatih, pas pengen tidur ampe pagi, kiranya udah ada yang bangunin." ujar Bayu mengatakan kepada Rinjani kenapa bisa para tentara baru itu tidak lagi lari depan wisma.
"Haha haha ternyata dia dari dulu tidak berubah sayang. Tu anak memang pengennya menang sendiri" kata Rinjani yang memang sangat tahu bagaimana sifat seorang Aris.
"Kamu jangan ketawain dia nanti ya sayang. Kalau dua rekan pelatih ikut. Mereka semua satu leting dengan aku. Jadi, kami bertiga adalah adik leting Bang Aris" ujar Bayu meminta supaya Rinjani tidak mengetawakan ataupun mengejek Aris di depan dua pelatih lainnya nanti.
"Aman itu sayang. Ayuk turun. Aku boleh masuk kan ya ke wisma itu?" tanya Rinjani yang takut kalau di suruh Bayu menunggu di atas mobil saja.
"Boleh sayang, sampe kamar aku." ujar Bayu menjawab pertanyaan dari Rinjani.
Mereka berdua masuk ke dalam wisma. Ternyata di ruang tamu wisma sudah ada Aris dan dua orang pelatih lainnya.
"Hay Bang. Udah siap latihannya?" ujar Bayu menyapa Aris dan kedua pelatih lain yang duduk duduk di sofa ruang tamu.
Mereka terlihat belum membersihkan dirinya masing masing. Pakaian yang mereka pakai masih pakaian pelatih.
"Udah Bay." jawab Aris yang menahan rasa ingin mengejek Rinjani.
Aris menahan nahan agar Rinjani tidak mengamuk lagi. Aris takut, dengan Rinjani berubah seperti dulu, Bayu akan meninggalkan Rinjani.
"Sayang kamu, mau ikut aku ke kamar atau duduk di sini dengan Bang Aris dan rekan aku yang lain?" tanya Bayu kepada Rinjani.
"Ikut kamu ke kamar aja sayang" ujar Rinjani menjawab dengan pilihan yang sangat tepat.
Rinjani sengaja memilih hal itu karena dia sangat tau bagaimana posesif nya Bayu. Kalau dengan Aris, bisa jadi Bayu tidak akan cemburu, tetapi dengan dua rekan Bayu yang lain, Rinjani meragukan hal itu.
Rinjani menunggu Bayu yang sedang mandi sambil menonton televisi. Rinjani menyetel siaran televisi swasta yang bercerita tentang petualangan kuliner ke daerah Sijunjung.
"Haha haha haha. Ada da ferry. Masuk tivi pulak lah dia tuh" ujar Rinjani saat melihat seorang seniornya ikut dalam syuting acara televisi tersebut.
"Nelpon Ranti dulu lah. Dia udah sampe kos kosan atau belum" ujar Rinjani yang ingat sahabat baiknya itu akan keluar dari rumah sakit hari ini.
Rinjani menekan nomor Ranti. Rinjani menunggu sampai panggilannya diangkat oleh Ranti.
"Udah. Ini rencana mau ke luar untuk makan malam." jawab Rinjani sambil tersenyum melihat Bayu yang keluar sudah memakai pakaiannya.
"Loe dimana sekarang? udah di kamar kos atau masih di kamar rumah sakit?" tanya Rinjani yang ingin mengetahui dimana keberadaan Ranti saat ini.
"Udah di kamar kos. Ini berdua sama Dian. Dia dari tadi nggak sama sekali ninggalin gue sendirian di kamar" ujar Ranti memberitahukan kepada Rinjani siapa yang menunggunya dengan setia di kamar.
"Haha haha haha, kayaknya dia kena pesan sponsor. Makanya dia nungguin elo dengan semangat" ujar Rinjani yang sudah tahu kalau Dian pasti diminta dengan sangat oleh Bram untuk menemani Ranti di kamar kos
"Nggak kena lagi kayaknya. Tapi udah di sogok" uajr Ranti sambil melihat Dian yang sudah memanjang manjang kan mulutnya seperti orang sedang mengobrol.
"Obat loe udah tebus?" tanya Rinjani yang ingat kalau suster memberikan resep yang harus ditebus ke apotek.
"Udah. Nggak sanggup gue buangnya. Ada mata mata tersetia ada di sebelah gue" kata Ranti sambil menatap Dian yang sekarang sudah berganti kegiatan dengan memakan kacang telor yang ada dalam toples milik Rinjani.
"Jani, ada orang makan kacang telor elo" ujar Ranti mengadukan Dian kepada Rinjani.
Rinjani tersenyum mendengar kehebohan dua orang teman satu perjuangan Rinjani.
"Nggak apa apa dimakannya Ran. Besok kalau dia mintak temani ke mall, gue akan minta ganti ruginya" ujar Rinjani menanggapi perkataan dari Ranti tentang Dian mengambil kacang telur milik Rinjani.
"Dasar tukang ngadu loe ye kak. Gue tinggal tidur sendirian mau?" ujar Dian mengeluarkan ultimatum nya kepada Ranti
""Janganlah, nggak mau gue tidur sendirian. Loe kan janji sama Pak Bram dan Rinjani akan menungguin gue di sini. Jadi ya, loe nggak boleh kemana mana"ujar Ranti menakut nakuti Dian.
"Haha haha haha. Susah kalau ngomong sama anak bahasa Indonesia model elo ini kak, terlalu mendramatisir keadaan. Keadaannya tidak seberapa, e e e e e karena yang ngomong anak tamatan bahasa Indonesia, dibikinnyalah cerita yang terlalu. mendramatisir." ujar Dian mengejek Rinjani dan Ranti sekaligus.
"eee eee eee Dian. Udah mulai ya gangguin aku." ujar Rinjani.
"Oh ya udah dulu ya. Gue mau pergi makan malam dengan Bayu dan tiga orang tentara pelatih. " ujar Rinjani pamit untuk memutuskan panggilan mereka berdua.
"Kak yang dua pergi itu ada gagah gagah?" tanya Dian selanjutnya.
Dian penasaran dengan wajah kedua pelatih lainnya itu.
"udah loe, ndak usah aja nengok. Loe udah Sold out" ujar Rinjani mengejek Dian yang sudah punya kekasih hati sekaligus sebagai calon suami.
"Haha haha haha, bener kak" jawab Dian yang ingat dengan kekasihnya yang bernama Fahmi.
"Udah dulu ya. Gue mau pergi makan malam" uajr Rinjani yang malas mengatakan mau ke hotel ke Ranti dan Dian.
"biarin mereka mikir aneh. Udah itu" ujar Rinjani selanjutnya