Its My Dream

Its My Dream
31



"Jadi, semlaman kamu nggak tidur sama sekali sayang?" tanya Rinjani sambil menatap Bayu yang matanya benar benar memerah karena menahan kantuk.


"Ya. Mau gimana lagi. Kekasih aku merajuk, jadi aku harus mencarinya. Apalagi daerah sini bukan daerah dia" ujar Bayu membalas tatapan Rinjani.


Bayu me


"Maafkan aku sayang. Bukan maksud aku untuk main pergi saja kemaren. Cuma aku kesal aja karena kamu mendadak membatalkan janji sama aku" ujar Rinjani kembali mengulang minta maafnya kepada Bayu.


"Nggak ada yang harus dimaafkan sayang. Tapi aku minta besok jangan seperti ini lagi ya. Aku nggak akan membatalkan janji aku kepada kamu, kalau aku tidak diminta oleh komandan untuk kerja" ujar Bayu sambil meminta Rinjani untuk paham dengan kerjaannya.


"Aku pengen kamu paham dengan pekerjaan aku sayang. Aku nggak akan membatalkan janji aku kalau bukan karena kerja" lanjut Bayu menjelaskan kepada Rinjani. Bayu tidak ingin Rinjani terus melakukan hal seperti kemaren di saat saat mereka ada pembatalan janji.


"Iya sayang. Aku kemaren hanya emosi sesaat saja. Maafkan aku ya." kata Rinjani dengan tulus. Rinjani mengulang kembali permintaan maafnya kepada Bayu.


"Sayang, jangan minta maaf terus sayang. Stok memaafkan aku nggak banyak sayang. Menipis dia nanti" ujar Bayu menggoda Rinjani. Bayu mengedip ngedipkan matanya ke arah Rinjani.


"Haha haha, mana ada sayang stok maaf bisa menipis" ujar Rinjani tertawa karena mendengar kalimat yang dikatakan oleh Bayu tadi.


Saat mereka mengobrol itulah, pesanan makanan Bayu dan Rinjani di antar oleh pelayan. Bayu dan Rinjani menikmati makan siang yang bisa dikatakan rapel dengan makan sore.


"Sayang ternyata udah jam tiga sore aja." ujar Rinjani saat melihat jarum jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul tiga sore.


"Jadi ini makan siang plus makan sore sayang. Pantesan aku bener bener lapar. Ternyata udah sore" ujar Bayu yang hanya makan saat mereka di kampus tadi.


"Sama. Tadi di kampus hanya makan yang sayang pesan itu saja. Itupun berdua pula. Makanya laper banget" ujar Rinjani.


"Mari makan" ujar Rinjani dan Bayu serempak.


Mereka berdua kemudian mulai menikmati makan siang yang suda terhidang di depan mata mereka itu. Bayu dan Rinjani makan sambil diselingi dengan obrolan obrolan ringan. Mereka berdua saling berbagi cerita.


"Akhirnya kenyang juga" ujar Rinjani sambil memegang perutnya.


Bayu tersenyum melihat ke arah Rinjani yang selalu terbuka mengekspresikan apa yang dirasakan oleh dirinya saat ini.


"Kenapa senyam senyum aja sayang. Ada yang aneh?" tanya Rinjani kepada Bayu sambil memandang ke dirinya sendiri.


"Nggak ada yang aneh dari penampilan kamu sayang" jawab Bayu.


"Terus kenapa nengok aku seperti itu baget?" ujar Rinjani kepada Bayu.


"Sayang, kamu tahu apa yang paling aku suka dari diri kamu? Yang membuat aku selalu bertahan dengan kamu sampai saat ini?" tanya Bayu kepada Rinjani.


Rinjani menggeleng, dia sama sekali tidak tahu kenapa Bayu bisa senyam senyum dari tadi melihat ke arah Rinjani.


"Aku sukanya kamu selalu mengatakan apa yang kamu rasakan. Kamu selalu mengekspresikan semuanya dengan jelas. Jadi, aku tidak perlu menebak nebak apa yang sedang kamu rasakan" ujar Bayu menjawab gelengan kepala Rinjani.


"Sayang, kita berfhoto di sana yuk." ujar Rinjani menunjuk satu spot fhoto terbaru yang ada di kafe itu.


Bayu dan Rinjani berjalan ke spot fhoto yang ditunjuk oleh Rinjani. Mereka akan ber fhoto di sana.


"Sayang sayang, kamu terus aja ber fhoto. Apa nggak capek? Upload juga nggak" ujar Bayu berkata kepada Rinjani yang mengkomplent Rinjani sama sekali tidak pernah mengupload fhoto.


"Upload mah bukan kewajiban sayang. Aku bukan wanita wanita alay yang suka upload itu sayang" ujar Rinjani menjawab perkataan Bayu tadi.


"Aku yakin akan hal itu sayang, kamu memang beda. Makanya aku sangat suka dengan kamu. Kepribadian kamu sangat luar biasa" ujar Bayu yang memang suka dari Rinjani adalah kepribadiannya.


"Kita kemana lagi?" tanya Bayu.


"Kamu ngantuk kan sayang. Gimana kalau kita ngambil kamar aja. Biar kamu bisa beristirahat. Aku nggak mau bawa mobil pulang. Capek sayang, sangat nggak enak bawa mobil" ujar Rinjani menolak untuk membawa mobil pulang.


"Ya udah. Kita ambil kamar di puri aja kalau gitu. Apa nggak apa apa sama kamu kita dalam satu kamar yang sama?" ujar Bayu bertanya kesediaan Rinjani untuk satu kamar bersama dengan Bayu.


"Tapi sayang, kamu pakai baju kayak gini. Apa nggak sebaiknya kamu tukar dulu?" tanya Rinjani yang melihat Danu masih memakai pakaian kebesarannya.


"Iyalah sayang. Kita singgah dulu di toko baju. Aku beli baju dulu, setelah itu baru ke wisma. Tapi aku tukar bajunya di mobil. Kamu di luar dulu nanti ya" ujar Bayu.


"Ya lah di luar. Iya kali aku nengok sesuatu yang belum boleh aku tengok" ujar Rinjani menanggapi perkataan Bayu.


"Jalan lagi yuk" ujar Bayu mengajak Rinjani untuk pergi dari kafe.


"Tolongin" ujar Rinjani sambil memberikan tangannya kepada Bayu.


Bayu menyambut tangan Rinjani.


"Manja banget" ujar Bayu kepada Rinjani sambil tersenyum hangat.


"Sekali sekali manja ke pacar sendiri nggak ada salahnya sayang. Salahnya itu kalau manja manja dengan kekasih orang lain" kata Rinjani menjawab perkataan dari Bayu.


"Wah itu bukan salah lagi sayang. Digulung sama kekasihnya nanti." ujar Bayu sambil berjalan menggandeng tangan Rinjani untuk menuju mobil


Bayu membayar semua belanjaan mereka. Setelah itu merek melanjutkan perjalanan menuju mobil.


"Sayang ke wisma kamu bawa mobil ya. Aku beneran nggak kuat lagi untuk bawa mobil sayang. Beneran ngantuk sayang" ujar Bayu yang sudah merasakan ngantuk yang luar biasa dan tidak bisa ditahannya lagi.


"Iya iya aku bawa mobil pergi ke puri, tapi nanti sayang bawa mobil pulang ya" ujar Rinjani memberikan penawaran kepada Bayu.


"Oke sip. Tapi kamu beli cemilan dulu nanti. Aku tidur kamu mau ngapain selain nonton televisi. Mending kamu sambil makan" Bayu memberikan saran kepada Rinjani.


"Iyalah sayang, nggak mungkin aku menung menung aja nungguin sayang tidur. Aku ya sambil makanlah" ujar Rinjani.


Mereka kemudian masuk ke dalam mobil, Rinjani duduk di bagian kemudi, dia kemudian melajukan mobil menuju puri tempat Bayu akan tidur sebentar.


"Sayang, kita sampe" ujar Rinjani membangunkan Bayu yang ternyata sudah tidur saat mereka dalam perjalanan menuju puri.


Bayu sama sekali tidak bergerak, dia masih tetap tertidur dengan nyaman. Rinjani akhirnya menggoyang goyang tubuh Bayu supaya bangun dari tidurnya.


"Sayang bangun udah sampai" ujar Rinjani yang tidak tau ntah betul ntah salah tempat yang dituju nya itu.


Bayu yang merasa badannya di goyang goyang oleh seseorang membuka secara perlahan matanya. Dia menatap Rinjani dengan mata merahnya.


"Apa sayang?" tanya Bayu menatap Rinjani.


"Udah sampe di puri. Aku lupa berenti beli pakaian kamu" ujar Rinjani sambil tersenyum.


"Yah" ujar Bayu.


"Haha haha. Tapi boong. Ini sayang baju nya" ujar Rinjani memberikan paperback kepada Bayu.


"Aku membelakang aja ya. Kamu tukar baju nya santai aja di sini. Males keluar panas" ujar Rinjani.


Bayu kemudian menukar pakaiannya. Dia kemudian menatap Rinjani.


"Sayang, kita jalan jalan aja yuk. Males tidur sini. Aku udah puas tidurnya" ujar Bayu yang berpikir ulang untuk tidur siang di sana.


"Haha haha. Akhirnya sayang. Aku juga sebenarnya malas di sini. Kamu tidur lagi aja dulu di mobil. Biar aku bawa mobil, kita keliling keliling Bukittinggi" ujar Rinjani yang sudah kembali melihat ke depan mobil.


"Kamu bawa atau aku?" tanya Bayu meyakinkan apa yang didengarnya dari Rinjani.


"Aku aja dulu. Nanti pas pulang baru kamu" ujar Rinjani.


Mereka berdua kemudian berkeliling kota Bukittinggi dengan Rinjani sebagai sopir. Mereka mengelilingi kota tersebut. Bayu terlelap sebentar, dia masih merasa mengantuk. Rinjani membiarkan saja Bayu tertidur. Dia tidak mau memaksa Bayu untuk bangun. Dia tau kalau Bayu sedang lelah dan mengantuk berat.