Its My Dream

Its My Dream
37



Bayu dan Aris kemudian menuju kampus tempat Rinjani mengajar. Mereka berencana untuk makan siang bersama. Tadi Bayu sudah menghubungi Rinjani meminta Rinjani untuk mengajak Aleza ikut makan siang bersama. Bayu mengemudikan mobil dalam kecepatan sedang. Jalanan kota sedang sangat ramai. Sampai pada pertigaan jalan terjadi kemacetan yang sangat panjang. Hal ini membuat Bayu terpaksa memberhentikan laju mobilnya.


"Bakalan marah ne ibu negara" ujar Bayu yang sudah bisa membayangkan Rinjani akan sangat kesal karena dia datang terlambat menjemput dirinya.


"Emang kalau loe telat jemput dia marah?" tanya Aris yang tidak menyangka Rinjani bisa marah kalau Bayu telat menjemput dirinya.


"Marah Bang. Apalagi kalau alasan nggak masuk akal. Pernah hari itu alasan gue, nggak sengaja ketemu sama teman lama, terus ngobrol. Eee dia langsung marah. Tapi ya marahnya gitulah nggak terlalu gimana. Paling kabur merajuk. Udah gitu aja" ujar Bayu membayangkan Rinjani akan ngamuk seperti apa.


"kalau nanti nggak mungkin dia kabur, karena ada abang dan Aleza" ujar Bayu yang yakin kali ini Rinjani nggak bisa merajuk karena ada orang lain di antara mereka berdua.


Rinjani dan Aleza sudah menunggu kedatangan Bayu dan Aris di depan pintu gerbang kampus mereka. Dua wanita cantik itu sudah berdiri di bawah pintu gerbang masuk kampus. Rinjani menatap ke arah jalanan. Sedangkan Aleza sibuk dengan melihat sekelompok mahasiswa sedang bermain musik di taman kampus. Aleza tidak perduli Bayu mau datang cepat atau lambat. Bagi Aleza yang terpenting dia bisa melihat Aris.


"Is mereka ngaret amat, lama banget sampenya" ujar Rinjani sambil melihat jam tangannya.


"Emang kata dia tadi udah dimana?" tanya Aleza kepada Rinjani.


"Udah di jalan. Tapi gue nggak tanya di jalan mananya" ujar Rinjani menjawab pertanyaan Aleza.


"Ye salah sendiri. Bisa jadi mereka baru jalan dari tempat latihan menuju parkiran mobil" ujar Aleza memberikan jawaban yang bisa semakin membuat Rinjani kesal.


"Bisa jadi juga ya. Gobloknya gue" jawab Rinjani sambil memukul kepalanya pelan.


"Makanya, goblok jangan dipelihara. Ini di pelihara" kata Aleza.


"Katanya dosen tapi...... " ujar Aleza yang nggak meneruskan perkataannya kepada Rinjani.


"Untung nilai loe udah keluar ya. Kalau nggak gue jamin loe gue kasih BL" ujar Rinjani kepada Aleza.


Mereka berdua kemudian mengobrol ringan sambil duduk di gerbang masuk kampus itu. Tidak berapa lama, mobil Bayu berhenti di depan mereka. Aris yang berada di sebelah kiri membuka kaca jendela mobil.


"Mau kemana dek?" tanya Aris kepada kedua wanita itu yang sudah kering menunggu mereka berdua dari tadi. Untung saja kota itu di kenal sebagai kota hujan, kalau kota matahari, udah bisa jadi kerupuk Rinjani dan Aleza karena menunggu Aris dan Bayu.


"Mau bunuh loe berdua. Lama amat" ujar Rinjani langsung berdiri dari duduknya.


Kedua wanita itu tanpa diminta langsung masuk ke dalam mobil.


"Kok lama banget?" tanya Rinjani kepada Aris.


"Macet, ada kecelakaan tadi di bawah" jawab Aris.


"Ooo. Pantesan lama, aku kira tadi kamu lama karena nelpon tadi masih di lapangan latihan" ujar Rinjani yang kemakan omongan Aleza.


Aleza menepuk jidatnya. Dia tidak percaya Rinjani bisa mengatakan hal itu. Rinjani ternyata kemakan ucapan Aleza.


"Mana ada, emang pernah?" tanya Bayu sambil menatap Rinjani dari kaca spion mobil.


"Enggak" jawab Rinjani.


Rinjani kemudian kembali diam. Dia menatap ke arah Aris. Ingin rasanya Rinjani menanyakan hal itu kepada Aris. Tetapi sekarang ada Aleza. Rinjani menjadi pusing sendiri.


Bayu menatap Rinjani. Bayu kemudian mengetik sebuah pesan chat kepada Rinjani.


'Aman, Aris jomblo' bunyi pesan chat yang dikirim oleh Bayu kepada Rinjani.


'Yes' balas Rinjani kepada Bayu.


"Kita makan kemana sayang?" tanya Rinjani yang melihat Bayu mengarahkan mobilnya ke arah luar kota.


"Tempat makan yang kamu bilang itu sayang. Kita mau ke sana" jawab Bayu.


"Yes. Kamu memang kekasih terbaik sayang. Sangat terbaik" puji Rinjani.


"Kalau ada maunya ngomong orang terbaik, coba kalau nggak. Mana ada" jawab Aris meledek kelakuan Rinjani.


"Nggak sayang. Kamu baik terus kok ke siapapun" ujar Bayu sambil tersenyum kepada Rinjani dari kaca spion mobil.


"Ye pake pembela" ujar Aris.


Aleza hanya menatap kelakuan antara Aris dengan Rinjani. Dua sahabat yang setiap bertemu pasti ribut terus, nggak pernah damai.


"Loe sama Bang Aris, kapan damainya Jani" ujar Aleza


"Ye Bang Aris. Panggil Aris kali Za. Dia seusia kita, wajahnya aja yang boros" jawab Rinjani yang tertawa mendengar Aleza memanggil Rinjani dengan kata sapaan Abang.


"Iri aja loe. Harusnya loe juga manggil gue abang" ujar Aris kepada Rinjani.


" Ya, abang tua tiga hari" jawab Rinjani sambil mengejek Aris.


"Haha haha, ada ya sayang abang tua tiga hari?" tanya Bayu kepada Rinjani yang jawab ngasal aja


"Ada sayang, dia kan memang tua tiga hari dari aku. Mana lahirnya jelek lagi. Item sayang, botak" ujar Rinjani mengatakan bagaimana keadaan Aris saat lahir.


"Haha haha, serius sayang? " tanya Bayu dengan semangatnya.


Dalam hati Bayu, kapan lagi bisa tertawa puas. Jarang jarangnya Bayu bisa menertawakan Aris. Aris yang pada waktu itu juga tidak memposisikan nya sebagai senior Bayu menikmati saja apa yang dikatakan oleh Rinjani.


"Bener sayang, tapi saat SD saat dia udah tau kalau dia paling buluk, ee ee dia terus rajin merawat wajahnya. Untung aja tu wajah memang ada unsur unsur tampannya. Jadi, saat di poles, semua unsur ketampanannya keluar" lanjut Rinjani.


Plak, sebuah lemparan tisu mendarat di kepala Rinjani.


"Seneng kali bicarain gue. Jadi infil tu Aleza ke gue" kata Aris saat melihat Aleza yang terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Rinjani tadi.


"Sayang, nanti kita lanjutin lagi ya. Sekarang kita makan dulu. Laper" ujar Bayu yang ternyata sudah membelokkan mobilnya masuk parkiran kafe ini bumi.


"Sip." jawab Rinjani sambil mengangkat dua jempolnya untuk Bayu.


Mereka berempat kemudian masuk ke dalam kafe. Bayu berjalan berdua dengan Aris. Sedangkan Rinjani dengan Aleza.


"Dia jomblo" ujar Rinjani berbisik di telinga Aleza.


"Serius loe, dia jomblo?" tanya Aleza meyakinkan dirinya kalau Aris beneran jomblo.


"serius gue. Ngapain gue becanda coba. Emang wajah gue wajah sedang bercanda?" tanya Rinjani kepada Aleza.


"Alhamdulillah, gue bahagia" ujar Aleza dengan suara keras.


Plak. Sebuah tamparan mendarat di lengan Aleza.


"Suara loe bisa lebih digedein lagi nggak sih" ujar Rinjani sambil melihat ke arah Aleza dan membesarkan matanya.


"Gue bahagia banget" jawab Aleza


"Bahagia sih bahagia, tapi nggak gitu juga kali Bray. Masak iya saking bahagianya loe nggak bisa nahan mulut loe dikit aja" ujar Rinjani


"Hehehehehe. Maaf. Aris nggak dengarkan ya?" tanya Aleza kepada Rinjani.


"Loe kira dia budek" jawab Rinjani.


"Mana tau tadi budek" jawab Aleza.


Mereka berempat akhirnya sampai juga di kafe bagian rooftop. Mereka berempat memilih duduk di kursi paling pojok. Mereka akan makan di sana.


Mereka membaca menu yang akan mereka nikmati. Akhirnya setelah memilih mereka memutuskan apa yang mereka maumau makan untuk santap siang kali ini.