
Rinjani dengan sabar menunggu gilirannya untuk bisa menyebranh ke jalur yang satu lagi sehingga dia baru akan bisa berbelok masuk ke dalam kesatuan tempat kekasihnya Bayu bekerja.
"Huft kenapa mobil sangat ramai hari ini. Bikin susah menyebrang aja" ujar Rinjani ngedumel sendirian saat melihat bagaimana ramainya jalanan sehingga membuat dirinya terhambat untuk menyebrang ke jalan sebelah.
"Sabar Jani sabar, mereka juga bayar pajak kendaraan yang sama dengan loe bahkan lebih mahal" ujar Rinjani mencoba Merileks kan pikirannya dari pikiran pikiran kotor yang bisa membuat mood Rinjani menjadi tidak baik.
Rinjani tidak ingin membuat mood dan pikirannya menjadi rusak pada hari ini. Sehingga mau tidak mau suka tidak suka Rinjani harus bisa mengontrol pikirannya sendiri dengan cara harus selalu berpikiran positif.
Setelah menunggu beberapa saat di lajur yang tepat, akhirnya peluang Rinjani untuk bisa berpindah jalur jalan akhirnya datang juga. Dengan sigap dan cekatan Rinjani akhirnya bisa memindahkan mobilnya ke jalur yang satunya lagi. Jalur yang akan bisa berbelok ke kesatuan Bayu.
"Akhirnya berkat sabar" ujar Rinjani berbicara sendirian dan menyemangati dirinya sendiri dengan kondisi yang ada pada saat ini.
Rinjani melihat ke arah depannya. Mobil dlm kondisi yang luar biasa banyak sehingga membuat dirinya harus menahan nahan laju mobilnya.
"Ini bener bener luar biasa banget, jalanan sangat ramai sekali."
"Mereka semua mau kemana coba seperti ingin keluar dari rumah masing masing. Heran gue" ujar Rinjani berkata sendirian sambil melihat betapa banyaknya orng orang yang menggunakan kendaraan pribadi mereka untuk berangkat keluar dari dalam rumah mereka masing masing.
"Ais kenpa gue toxic ke diri gue sendiri ya. Nggak seharusnya gue kayak gini" ujar Rinjani dan menggeleng geleng kan kepalanya yang langsung menyadari kalau dia sudah salah karena toxic kepada dirinya sendiri, padahal tidak seharusnya dia seperti itu menjadi toxic kepada dirinya sendiri.
Rinjani mencoba menstabilkan pikiran dan fokus dirinya kembali dia tidak ingin ke toxic kan dirinya membuat dia menjadi rugi sendiri dn berakibat buruk kepada dirinya sendiri. Rinjani berusaha untuk normal terhadap dirinya sendiri.
"Gue harus menjaga isi kepala gue supaya tidak mengganggu perasaan gue ke depan" ujar Rinjani yang sudah mengetahui kelemahannya sendiri.
Rinjani akan menjadi manusia aneh kalau pikirannya dipenuhi praduga praduga yang tidak semestinya terjadi, sehingga untuk bisa menjadi orang yang normal Rinjani tidak boleh membuat pikirannya menjadi pemikiran yang negatif.
Akhirnya setelah mengemudi selama lebih kurang lima belas menit karena mobil yang padat merayap, Rinjani membelokkan mobilnya masuk ke dalam kesatuan itu.
"Waduh, gue lupa tempatnya yang mana" ujar Rinjani menepuk jidatnya sendiri karena lupa dibagian mana kesatuan Bayu.
Rinjani memang pernah ke sana tetapi hanya satu kali, sehingga membuat Rinjani lupa dimana posisi atau tempat kesatuan Bayu berada sehingga mau tidak mau Rinjani harus berpikir kembali.
"Oh ya pakai aplikasi ajalah biar tau dimana pastinya kesatuan tempat Bayu bekerja" ujar Rinjani yang akhirnya memilih untuk memakai aplikasi yang bisa mengetahui dimana keberadaan tempat kesatuan Bayu berada.
Rinjani mengikuti instruksi yang diberikan oleh aplikasi itu. Pada akhirnya Rinjani sampai juga di depan kesatuan Bayu. Rinjani memarkir mobilnya di parkiran khusus mobil. Setelah itu dia mengambil kantong yang berisi nasi goreng untuk Bayu dan juga mengambil dompetnya. Sedangkan tas ransel yang berisi laptop dn segala perlengkapannya dibiarkan saja oleh Rinjani di dalam mobil. Rinjani tidak ingin mengangkut banyak barang saat masuk ke dalam ruangan Bayu.
Rinjani berjalan dengan santai menuju ruang kerja Bayu. Dia berjalan lurus saja tidak menyempatkan dirinya untuk menatap kiri dan kanan melihat orang orang yang melintas. Rinjani fokus dengan jalannya saja bukan dengan keadaan sekitarnya.
"Maaf Nona, mau cari siapa?" ujar piket jaga kompi bertanya kepada Rinjani saat Rinjani mau berjalan masuk ke dalam kantor kesatuan.
"Maaf Pak, saya mau mencari Pak Bayu" ujar Rinjani menyebutkan siapa yang ingin dikunjunginya pada saat ini.
"Hah? Serius?" ujar tentara piket itu kaget saat mendengar siapa yang akan dikunjungi oleh Rinjani.
"Kenapa Bapak kaget ya?" ujar Rinjani yang heran kenapa piket jaga itu kaget saat Rinjani mengatakan kalau dia akan mencari Bayu dalam kunjungannya kali ini.
"Tidak apa apa Nona" ujar piket jaga yang merasa sudah lancang karena heran kenapa ada wanita muda mencari komandannya siang siang begini.
Saat itulah salah satu rekan Bayu yang bernama Ivan dan juga wakil Bayu di kompi itu keluar dari dalam kesatuan.
"Eh Januari, mau cari komandan?" ujar Ivan menyapa Rinjani yang terlihat sedang berdiri di meja piket.
"Iya Bang. Apa Bang Bayu ada?" ujar Rinjani dengan ramah dan tahu kalau Ivan adalah wakil Bayu di kesatuan itu.
"Ada, langsung masuk saja. Dia di ruangan saja dari tadi" ujar Ivan memberitahukan kepada Rinjani dimana keberadaan Bayu.
Bayu pura pura sedang memeriksa dokumen dokumen yang ada di atas mejanya. Padahal itu hanyalah surat surat yang masuk dan akan segera dieksekusi oleh anggota kompi yang berada di bawah komando seorang Bayu Anggara.
Tok tok tok tok. Bunyi pintu diketuk oleh seseorang dari arah luar. Bayu melihat dari layar televisinya kalau Rinjani sudah berada di luar.
Bayu berdiri dari kursinya. Dia berjalan membukakan pintu ruangan kerjanya itu untuk mempersilahkan Rinjani masuk ke dalam ruang kerjanya itu.
"Mari masuk sayang" ujar Bayu mempersilahkan Rinjani untuk masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Makasi sayangku" ujar Rinjani menjawab sapaan dari Bayu.
Bayu melihat Rinjani membawa sesuatu di tangannya. Sebuah kantong kresek warna hitam yang di dalamnya terdapat nasi goreng dan juga toping toping yang sangat banyak diberikan oleh abang abang tukang jual nasi goreng.
Rinjani mengangkat bungkusan itu ke dekat hidung Bayu.
"Aku mencium sesuatu yang lezat di dalam kantong kresek itu sayang" ujar Bayu saat sudah mencium wangi yang sangat harum dari dalam kantong kresek yang diangkat oleh Rinjani ke atas hidungnya.
"Serius?" ujar Rinjani mulai mengajak Bayu untuk bercanda seperti biasanya.
"Serius. Sini"
"Ambil aja kalau bisa"
Rinjani menantang Bayu untuk bisa mengambil nasi goreng yang ada di dalam kantong kresek itu.
"Kamu menantang Bayu Anggara sayang? Apa kamu lupa siapa aku sayang?" ujar Bayu sambil menatap ke arah Rinjani yang sekarang sedang senyam senyum di sudut ruang kerja Bayu Anggara yang sangat rapi dan maskulin tersebut.
"Oh ya, aku memang menantang Bayu Anggara sayang" ujar Rinjani sambil menatap ke arah Bayu Anggara dengan tatapan aku memang ingin menantang kamu sayang.
"Haha haha haha, kamu yakin sayang mau menantang aku?" ujar Bayu yang kaget mendengar kalau Rinjani beneran akan menantang dirinya.
"Haha haha haha, kamu nggak percaya. Ayuk sini ambil kalau bisa" ujar Rinjani menantang Bayu dengan keputusannya.
"Sayang kantor" ujar Bayu mengucapkan kata kantor dengan gerakan mulutnya.
Rinjani tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Bayu kepada dirinya. Rinjani memilih untuk berjalan menuju Bayu kembali.
"Ini sayang" ujar Rinjani memberikan kantong kresek yang berisi nasi goreng dan segala pernak perniknya.
Rinjani berjalan mengambil satu sendok dan juga satu botol air minum untuk diberikan kepada Bayu.
"Makasi sayang" ujar Bayu sambil tersenyum saat menerima satu botol air mineral dan satu sendok dari tangan Rinjani.
Bayu kemudian menikmati nasi goreng yang dibelikan oleh Rinjani. Rinjani menemani Bayu untuk menikmati nasi goreng yang telah dibungkuskan oleh Rinjani.
Bayu menikmati nasi goreng tersebut ditemani oleh Rinjani. Rinjani duduk sambil memainkan ponselnya. Bayu menikmati nasi goreng yang dibawa oleh Rinjani dengan sangat lahap.
"Akhirnya selesai bener bener nikmat" ujar Bayu yang telah selesai menikmati makan nasi gorengnya tersebut.
"Terimakasih sayang, kamu sudah menyelamatkan perut aku hari ini" ujar Bayu dengan lebaynya.
"Hem biasa aja" ujar Rinjani menjawab perkataan yang dikatakan oleh Rinjani kepada dirinya.