
"Rinjani, kita kemana lagi?" tanya Aleza yang sudah berjalan terlebih dahulu di bagian depan mereka.
"Makan dulu ya Za. Gue laper. Lagian udah jam tiga juga, kita harus kembali ke Padang Panjang" ujar Rinjani saat melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul tiga sore.
"Bener nggak ada yang mau loe beli lagi?" tanya Aleza meyakinkan Rinjani kalau tidak ada lagi yang mau dibeli di pasar itu.
"Udah, semua udah gue beli. Rasanya uang gue juga udah mulai menipis. Mari kita pergi makan siang, setelah itu pulang" ujar Rinjani mengajak Aleza untuk makan siang.
"Mau makan apa loe?" tanya Aleza kepada Rinjani.
"Nasi kapau yang kita makan kemaren sama mereka aja gimana. Itu rasa udah nikmat banget ujar Rinjani mengajak Aleza untuk ke tempat penjual nasi kapau yang mereka makan saat bersama dengan Bayu dan Aris saat baru sampai di Bukittinggi kemaren sore.
"Oke. Sini ikuti gue" ujar Aleza kembali menjadi penunjuk arah untuk menuju warung nasi kapau sesuai permintaan Rinjani.
Mereka berdua berjalan berdampingan menuju warung nasi kapau yang berada di seberang pasar aua kuniang tersebut.
"Makan apa Jani?" tanya Aleza saat mereka suda sampai di depan tumpukan semua jenis sambal yang menggugah selera itu.
"Mau makan ayam goreng lado merah" jawab Rinjani.
"Ayam goreng lado merah satu, ayam bumbu satu" ujar Aleza menyebutkan apa saja pesanan mereka.
"Tunggu sabanta yo ni" ujar pelayan kepada Aleza. (Tunggu sebentar Kak).
"Asiap Uda. Kerupuk kulit pakai kuah dua" lanjut Aleza memesan pesanannya yang lain.
Aleza kemudian menyusul Rinjani yang sudah duduk di kursi bagian ujung. Rinjani ternyata sudah memesan dua gelas es teh untuk teman makan nasi kapau.
"Za, kiranya nanti Aris datang ke kontrakan. Loe mau maafin dia nggak?" tanya Rinjani kepada Aleza.
Sebenarnya Rinjani sudah sejak tadi ingin menanyakan hal ini kepada Aleza. Tetapi, Rinjani menahan nahan hatinya terlebih dahulu. Rinjani tidak mau Aleza salah paham kepada dirinya, karena sudah menanyakan hal yang sangat sensitif tersebut.
"Gue nggak marah Jani, kalau dia mau mengubah sifatnya yang sok memerintah itu. Gue mau balik sama dia. Tapi, kalau dia memang hobbynya seperti itu, gue nggak janji Jani" ujar Aleza menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Rinjani tadi.
"Kita lihat aja Za. Mari makan, nggak usah pikirkan dia yang sok memerintah itu. Lebih baik kita makan setelah itu cus pulang" ujar Rinjani yang sudah tidak tahan lagi untuk menunda menikmati nasi kapau yang wanginya sudah merusak hidung Rinjani.
"Ini beneran wangi" ujar Rinjani sambil memasukkan sesuap nasi kapau lengkap dengan sayuran nya.
"Sabar Jani. Jangan ngebut ngebut, mobil ke padang Panjang banyak" ujar Aleza menegur Rinjani yang makan dengan tergesa gesa itu.
"Bukan masalah mobil, guenya yang memang udah laper, apalagi nasi seenak ini" ujar Rinjani yang kembali menyantap nasi kapau kesukaannya itu.
Tak terasa nasi yang di dalam piring mereka sudah habis.
"Loe nambah nggak?" tanya Rinjani kepada Aleza.
"Uda tambah dua" ujar Aleza kepada pelayan yang sedang mengambilkan pesanan orang lain.
"Bakuah atau indak Ni?" tanya pelayan (Pakai kuah atau tidak kakak)
"Pakai Uda" jawab Aleza.
Pelayan kemudian mengambilkan dua piring kecil nasi tambah untuk Rinjani dan Aleza. Dimana nasi tambah mereka itu selalu diberi di atasnya irisan tembus kecil dan juga dendeng kering kecil. Kelebihan makan nasi kapau adalah banyaknya tambahan sambal sambal kecil tersebut.
"Za bungkus dua. Tapi minta pisah Za, untuk makan malam kita nanti" ujar Rinjani yang malas keluar dari kontrakan Aleza untuk beli makan malam. Makanya Rinjani meminta Aleza untuk meminta dua bungkus nasi kapau yang dibungkus terpisah dengan sambalnya.
Aleza kemudian meminta dua bungkus nasi kapau, dengan nasi dan sambal serta yang lainnya di pisah. Aleza kali ini meminta rendang daging dan dendeng kering untuk mereka makan nanti di kontrakan.
"Ngerinya lagi Za, segini banyak?" ujar Rinjani saat melihat isi dari kantong kresek yang dibawa Aleza.
"Itu gulai yang dia bungkus kalau di pindahin ke mangkok bisa penuh mangkok" ujar Rinjani kepada Aleza.
"Lebih lah Jani. Makanya kebanyakan orang lebih memilih untuk bungkus karena beli satu bisa makan untuk berdua. Malahan kalau perempuan diet bisa untuk bertiga sama mereka" ujar Aleza memberitahukan kepada Rinjani bagaimana banyaknya porsi dari nasi kapau yang dibungkus tersebut.
"Bener juga ya lebih hemat iya juga" ujar Rinjani.
"Haha haha haha. Bener, lebih hemat" jawab Aleza.
Mereka berdua kemudian berjalan ke tempat mobil ke Padang Panjang ngetem.
"Kama diak?" sapa seorang agen kepada Rinjani dan Aleza. (Kemana Adek?)
"Padang Panjang, Uda" jawab Aleza.
"Naik diak, Oto santa lai pai" ujar agen meminta Rinjani dan Aleza untuk naik ke dalam mobil karena mobil sebentar lagi akan berangkat.
Rinjani dan Aleza kemudian masuk ke dalam mobil. Mereka mengobrol ringan di atas mobil sambil menunggu mobil melaju menuju kota Padang Panjang.
"Orangnya nipu, katanya sebentar lagi, udah lima belas menit belum juga jalan" ujar Rinjani kepada Aleza.
"Haha haha haha. Mana ada mobil yang ke Solok jalannya cepat Jani. Loe belum pernah nyoba ka dari Solok ke Bukittinggi naik mobil ini. Hem bisa karatan tu ekor loe, loe masih juga belum sampe Bukittinggi" ujar Aleza yang pernah merasakan sensasi itu.
"Loe pernah?" tanya Rinjani kepada Aleza.
"Pernah. Untung aja gue saat itu hanya sampe Padang Panjang, kalau sampe Bukittinggi, yakin gue akan turun di jalan aja. Nggak kuat gue" ujar Aleza kepada Rinjani.
Tepat setengah jam mereka di dalam mobil, sopir baru masuk ke dalam mobil dan duduk di kursinya.
"Akhirnya" ujar Rinjani saat melihat sopir yang sudah duduk di kursi pengemudi.
"Haha haha haha. Nungguin dia naik kayak nungguin apa ya Jani" ujar Aleza kepada Rinjani.
"Nungguin laki pulang selingkuh. Haha haha haha" ujar Rinjani sambil tertawa ngakak sendiri mendengar jawaban yang diberikannya kepada Aleza.
"Gila loe nungguin lakik pulang selingkuh. Bisa bisa di bunuh tu lakik sama binik nya" ujar Aleza menjawab perkataan dari Rinjani tadi.
Mobil bergerak dengan sangat pelan meninggalkan terminal tersebut. Rinjani memandang ke arah Aleza.
"Pelan banget, kapan sampenya ini" ujar Rinjani protes kepada Aleza.
"Nikmati aja Jani. Kan udah gue bilang juga ke elo. Palingan sampai Padang Lua, siap itu mobil jalan normal lagi" ujar Aleza memberitahukan kepada Rinjani bagaimana cara mobil melaju di jalanan Bukittinggi Padang itu.
"Haha haha. Gue tidur dulu males lama" uajr Rinjani.
Rinjani mengambil posisi tidur. Hal yang sama juga dilakukan oleh Aleza. Mereka berdua memutuskan untuk sama sama tidur. Mereka tidak akan menikmati perjalanan kali ini, karena akan memakan waktu yang lama. Apalagi nanti ada sekian kali berhenti yang dilakukan oleh sopir mobil tersebut untuk menaikkan penumpang nya dan menurunkan penumpang.
Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, Aleza dan Rinjani telah turun di sebuah halte. Mereka harus naik ojek kembali karena mobil tidak bisa masuk kota.
"Kita ngojek lagi" ujar Aleza kepada Rinjani.
"Oke. Masalah gampang itu mah ngojek" jawab Rinjani.
Mereka kemudian naik ojek menuju kontrakan Aleza. Hari sudah menunjukkan pukul enam sore. Dari kejauhan Rinjani bisa melihat mobil Bayu yang berhenti di pinggir jalan.
"Sayang, aku kangen" ujar Rinjani dalam hatinya.