
"Papap apa Bayu sudah datang?" tanya Mamah kepada Papap yang terlihat sedang sibuk memasang dasinya. Papap biasanya akan selalu memunta bantuan Mamah saat memasang dasi, tetapi karena melihat mamah yang sibuk sehingga papap memutuskan untuk memasang sendiri dasinya. Tetapi hasilnya seperti yang sudah dikira dan ditebak, Papap tidak bisa memasang dasi itu dengan benar dan sebaik baiknya.
"Sepertinya masih dalam perjalanan Mamah. Tadi papap sudah hubungi Ivan untuk meminta Bayu segera pulang" jawab Papap yang pada akhirnya menyerah untuk memasang dasi dan memberikan dasi itu kepada istrinya untuk dipasangkan kepada Papap.
Mamah kemudian memasangkan dasi Papap dengan rapi. Mamah akan selalu memasangkan dasi Papap dengan cara mamah sendiri. Mamah sangat sangat suka melihat Papap yang pusing sendiri memasang dasinya itu.
"Sudah" ujar Mamah sambil menepuk pundak Papap. Mamah juga merapikan jas yang dipakai papap.
"Kamu keren sayang" ujar Mamah memuji Papap. Papap memang terlihat sangat tampan hari ini. Mamah sampai sampai pangling melihat Papap.
"Makasi sayang" jawab Papap setelah Mamah menyelesaikan pemasangan dasi Papap.
"Makasi untuk?" tanya Mamah ingin memastikan ucapan terimakasih Papap untuk hal apa
"Untuk pujian dari kamu. Untuk rasa cinta dari kamu untuk semua semuanya. Sungguh banyak ucapan terimakasih yang harus aku ucapkan ke kamu sayang" ujar Papap dengan nada tulus dan tatapan mata penuh cinta kepada Mamah.
"Sama sayang. aku juga mengucapkan banyak terimakasih kepada kamu" ujar Mamah juga sambil tersenyum kepada Papap.
Bayu yang baru datang berbarengan dengan Rinjani dan Ranti yang juga baru datang dari kampus. Mereka sama sama memarkir mobil di garase yang masih kosong. Ada dua mobil yang sudah dikeluarkan dari garase, kedua duanya adalah mobil pribadi Papap dan Mamah. Sedangkan mobil dinas papap dan mamah sudah terparkir dengan rapi di garase.
"Hay sayang" ujar Rinjani menyapa Bayu.
"Gimana skripsinya sayang?" ujar Bayu yang ingat kalau tujuan Rinjani ke kampus hari ini adalah bimbingan skripsi.
"Sudah sayang, ada sedikit lagi perbaikannya" ujar Rinjani sambil tersenyum karena hari ini dia berhasil bertemu dengan dosen pembimbingnya dan sudah melakukan bimbingan yang ketiga.
"Syukurlah sayang. Jadi selesai bimbingan makan kamu tinggal sidang proposal kan ya?" ujar Bayu sambil memegang tangan Rinjani.
"Beer sayang. Selesai di setujui proposal makan aku akan sidang proposal setelah itu baru penelitian" ujar Rinjani dengan semangatnya untuk mengerjakan skripsinya itu.
"Berarti aku nggak lihat wisuda kamu sayang?" ujar Bayu dengan nada sedih karena kalau hitung hitungan Bayu dia masih berada di daerah perbatasan pada saat Rinjani wisuda.
"Jadi aku wisuda tunda aja sayang gimana?" ujar Rinjani menawarkan kepada Bayu untuk dia wisuda tunda saja.
"Tidak sayang. Nggak masalah juga. Kalau aku nanti bisa dan sempat aku akan hadir di wisuda pasca sarjana kamu saja" kata Bayu yang tidak ingin Rinjani wisuda tunda hanya karena dirinya, dia harus bisa mengalahkan egonya kali ini. Dia tidak boleh terlalu menuturkan egonya dan berharap Rinjani melakukan wisuda tunda.
"Makasi sayang. Aku janji akan melanjutkan kuliahku nantinya" jawab Rinjani yang memang sudah memasang target tinggi untuk melanjutkan kuliahnya ke jenjang yang lebih tinggi lagi.
"Hay kalian bertiga ayo cepat malahan pake ngobrol lagi" ujar Mamah meneriaki ketiga anaknya itu yang masih sibuk mengobrol di depan pintu rumah.
"Ngobrolnya bisa nanti sekarang siap siap dulu sana" ujar Mamah meminta mereka bertiga untuk bersiap siap.
"Jani, Ranti sini sayang, kalian berdua akan mamah bantu untuk siap siap. Sedangkan kamu pria tampan, silahkan siap siap sendiri. Pakaian kamu sudah ada tergantung di kamar. Jadi kamu bisa pakai sendiri bukan?" ujar Mamah mengatakan kepada Bayu kalau pakaian khusus dirinya sudah ada di kamarnya dan bisa di pakai sendiri oleh Bayu.
Bayu kemudian menuju kamarnya, dia akan langsung bersiap siap sebelum Mamah kembali berteriak seperti tadi. Bayu tidak ingin nanti tenggorokan mamah menjadi sakit hanya karena Bayu meneriaki Bayu untuk cepat selesai.
"Sayang pakai baju ini ya. Kamu juga Ranti" ucap Mamah sambil memberikan pakaian yang harus di pakai oleh Ranti dan Rinjani.
"Mah ada acara apa ya mah kok harus pakai gaun ini?" ujar Rinjani saat dirinya sudah selesai memakai pakaiannya dengan rapi
"Acara penting sayang. Kamu harus ikut aturan Mamah kali ini. Mamah berharap tidak ada bantahan karena kita hampir terlambat sampai di tempat acara." ujar Mamah memberikan penekanan kepada Rinjani supaya Rinjani tidak banyak tanya dan bisa menurut kepada apa yang dikatakan oleh Mamah kepada dirinya.
Rinjani terlihat ingin bertanya kembali tetapi dilarang keras oleh Ranti. Ranti tidak mau tensi percakapan menjadi lebih tinggi lagi dari sekarang. Sehingga mau tidak mau dia harus memberhentikan percakapan tidak berguna ini. Rinjani akhirnya memilih untuk diam. Dia akan mengikuti apa yang dikehendaki Mamah. Lagian mamah tidak akan mungkin berbuat sesuatu yang buruk kepada dirinya.
"Kamu bisa berdandan sendirian sayang?" tanya Mamah kepada Rinjani dengan nada yang sudah kembali lembut tidak dengan nada sedikit memaksa seperti tadi.
"Bisa mah, kalah masalah dandan serahkan sama aku" ujar Rinjani yang sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi.
Riniani merias wajahnya dengan riasan natural dia sama sekali tidak memakai riasan yang berlebihan. Setelah selesai dengan wajahnya Rinjani beralih ke rambutnya. Mamah sudah menyiapkan beberapa perlengkapan perang untuk rambut. Rinjani memutuskan untuk membuat rambutnya bergelombang dan mengikat separo bagian atasnya.
Rinjani da Ranti melakukan dengan sangat hati hati dan sempurna untuk bagian rambutnya itu. Mereka berdua membuat riasan yang mirip antara satu dengan yang lainnya.
"Selesai" ujar Rinjani dan Ranti berbarengan.
Mereka berdua kemudian menatap diri mereka masing masing di depan cermin.
"Kamu cantik Jani" ujar Ranti memuji kecantikan sahabatnya itu.
"Kamu juga sangat cantik Ranti" ujar Rinjani membalas Ranti dengan pujiannya.
"Mari kita kejutan dunia" ujar Rinjani dengan gaya khasnya.
Mereka berdua kemudian keluar dari dalam kamar. Rinjani berharap bertemu dengan Bayu di luar kamar. Tetapi ternyata keinginannya itu tidak tercapai. Rinjani sama sekali tida bertemu dengan Bayu di luar. Bayu sama sekali tidak terlihat berada di sana.
"Bayu udah berangkat duluan sayang" jawab Mamah.
"Jadi tinggal kita bertiga Mah?" ujar Rinjani bertanya kepada Mamah.
"Ya. Ayuk kita jalan" ujar Mamah mengajak kedua gadis cantik itu untuk melanjutkan perjalanan mereka.
Mamah, Rinjani dan Ranti kemudian masuk ke dalam mobil pribadi milik Mamah. Sopir mereka kali ini adalah josua.
"Wah tumben Josua Mah kemana Ryan?" tanya Rinjani yang melihat kalau sopir mereka kali ini adalah josua.
"Ryan dengan Bang Bayu dan Papap, kak" jawab Josua.
"Oh." Komentar Rinjani dengan singkat padat dan jelas.
Mobil yang dikemudikan oleh Josua mulai melaju menuju hotel tempat acara akan dilakukan. Rinjani masih sangat penasaran dengan acara apa yang akan dihadiri oleh dirinya, dia sampai melihat berkali kali ke arah Mamah.
Tetapi mamah sama sekali tidak mengacuhkan Rinjani sehingga mau tidak mau suka tidak suka Rinjani akhirnya mengalah untuk juga tidak melanjutkan pertanyaan nya kepada Mamah.