Its My Dream

Its My Dream
Papap dan Bayu



"Apa Mamah sedang siap siap Pap?" tanya Bayu saat tidak melihat Mamah di dekat Papap.


Bayu mengira kalau Mamah sedang bersiap siap di kamar, karena kebiasaan Papap dan Mamah sudah sangat hafal oleh Bayu.


"Oh tidak, Mamah tidak ikut untuk kali ini" jawab Papap sambil menggeleng menegaskan dengan gerakan kepalanya kepada Bayu kalau Mamah tidak akan ikut dalam acara mereka minum kopi di kafe pada malam ini.


"Kenapa Pap?" tanya Bayu yang penasaran dengan alasan Papap yang tidak membawa Mamah keluar kali ini. Peristiwa langka yang tidak pernah terbayangkan oleh Bayu akan dilakukan oleh papap.


"Kenapa tidak dibawa, maka jawabannya adalah karena malam ini adalah malam ayah dan anak" jawab Papap sambil tersenyum kepada Bayu.


"Papap sudah sejak alam ingin berjalan berdua dengan kamu saja. Tetapi kamu tahu sendirilah Mamah bagaimana jadi orang"


"Sama Pap, Bayu sebenarnya juga sudah sangat lama ingin keluar berdua saja dengan Papap tetapi ya itu, Ibuk negara besar selalu ada dan akan selalu menempel kepada Papap. Untung saja di kantor tidak" ujar Bayu.


"Aku nggak bisa ngebayangin gimana jadinya kalau Mamah juga selalu lengket dengan Papap di kantor"


"Sama Bay, Papap juga nggak bisa membayangkan" ujar Papap yang langsung saja mengatakan tidak bisa membayangkan kalau di kantor pun Mamah masih menempel terus kepada Papap.


Papap memang sengaja tidak membawa Mamah keluar malam ini. Sebenarnya bukan alasan malam ini adalah malam ayah dan anak, tetapi mana mungkin Papap membawa mamah yang sedang marah besar itu. Bisa bisa nanti mereka tidak jadi minum kopi di kafe, tetapi sibuk membujuk Mamah supaya moodnya kembali stabil seperti semula sebelum kejadian Papap yang membuat Bayu menjadi ngambek seperti tadi. Sebuah kesalahan yang dilakukan oleh Papap yang membuat Mamah menjadi sangat emosi.


"Oke, mari berangkat. menjalankan malam ayah dan anak" ujar Bayu yang langsung menutup pintu kamarnya.


"Apa Papap yakin kita hanya berdua saja?" ujar Bayu kembali bertanya kepada Papap untuk meyakinkan Papap kalau mereka akan pergi berdua saja.


"Yakin dan sangat yakin" jawab Papap dengan penuh keyakinan.


"Oke lah kalau begitu" ujar Bayu yang setuju untuk pergi berdua saja dengan Papap.


Bayu memang sudah lama menginginkan dirinya keluar hanya berdua dengan Papap saja. Ada beberapa hal yang memang akan dibicarakan oleh Bayu hanya kepada Papap saja. Tetapi memisahkan antara Papap dan Mamah bukanlah perkara mudah, Papap dan Mamah dalam keseharian seperti lem dan prangko yang selalu menempel tidak bisa dipisahkan.


Nah kali ini adalah sebuah keajaiban, ntah kenapa lem dan prangko itu bisa berpisah. Bayu penasaran dengan hal itu. Bayu nanti akan menanyakan penyebabnya kepada Papap saat mereka berdua sudah duduk di kafe, seperti apa yang dicita citakan oleh Papap.


Papap dan Bayu kemudian berjalan keluar dari dalam rumah dinas. Josua sudah membukakan pintu mobil untuk komandan dan anaknya itu. Sedangkan Ryan sudah duduk di kursi pengemudi.


"Biar saya saja yang mengemudi Ryan" ujar Bayu yang ingin membawa mobil sendiri.


Bayu ingin pergi semobil hanya dengan Papap saja, tidak ada ajudan maupun sopir menemani mereka di dalam mobil.


"Siap letnan" jawab Ryan yang pangkatnya memang jauh di bawah Bayu.


Ryan keluar dari dalam mobil. Tetapi sebelum Papap dan Bayu masuk ke dalam mobil, Papap melihat ke arah ajudan dan juga sopirnya itu.


"Siap komandan" jawab Josua.


Josua dan Ryan kemudian masuk ke dalam mobil yang berbeda. Mereka melajukan mobil tepat di belakang mobil yang dikemudikan oleh Bayu. Dua mobil hitam dove itu berjalan beriringan menuju sebuah kafe. Kafe yang terletak di piggir pantai, kafe yang juga milik artis terkenal di negara itu. Kafe yang baru saja diresmikan.


"Kamu yakin Bay kalau Kafe itu masih buka?" tanya Papap saat melihat Bayu masuk ke jalan jembatan siti nurbaya.


"Iya juga ya Pap, terus kita minum kopi dimana?" tanya Bayu sambil melihat ke arah Papap.


"Emang kamu nggak pernah ke kafe selama dinas di sini?" tanya Papap sambil melihat ke arah anak laki lakinya itu.


"Adalah masak ndak. Tadi aku kira Papap mau ke kafe yang baru itu" ujar Bayu sambil melihat ke arah Papap sekilas.


Jalanan ibu kota provinsi itu sedang ramai ramainya sekarang. Setiap malam jalan di sana akan selalu ramai. Anak muda banyak yang nongkrong di daerah tersebut. Apalagi kalau kita mengambil jalur pantai, maka bisa dipastikan akan lebih banyak menemukan kendaraan seliweran di jalanan.


"Kita ke kafe yang biasa aku dan Rinjani kunjungi saat malam minggu atau saat lagi badmood aja ya Pap" ujar Bayu menawarkan kepada Papap kafe yang akan dikunjunginya.


"Terserah kamu saja Bay. Papap nurut saja" jawab Papap yang menatap ke jalanan yang sangat ramai tersebut.


"Gila anak muda di sini keluar rumah semua kayaknya ya Bay. Nggak mandang hari" ujar Papap saat melihat muda mudi sedang nongkrong di tepi jalan sambil memainkan ponsel mereka.


"Mereka nggak ada saling ngobrol, hanya sibuk dengan ponsel masing masing. Kenapa mereka nggak main ponsel di rumah aja, kalau hanya main ponsel tujuannya" ujar Papap melanjutkan mengatakan apa yang dilihatnya di jalan itu.


"Mau gimana lagi Pap, kata mereka nggak nongkrong nggak gaul" ujar Bayu sambil berusaha menahan tawanya. Ntah jawaban dari mana yang berhasil di ambil oleh Bayu. Bayu pun tidak mengerti. Dia hanya asal comot bahasa saja.


"Asal jangan lakuin hal hal yang aneh aja. Kalau itu mereka lakukan maka bisa dipastikan masa depan mereka hancur" ujar Papap menatap kasihan kepada segerombolan anak muda yang tidak jelas apa yang sedang mereka lakukan di sana.


"Eeee papap, bisa jadi mereka anak tunggal dari pengusaha di daerah ini" ujar Bayu berusaha mengalihkan pembicaraan yang dilakukan oleh Papap.


"Semoga aja Bay, kalau nggak kasihan kedua orang tua mereka" jawab Papap yang mengetahui kalau Bayu sudah mulai bosan membahas topik itu.


Papap sangat mengerti dengan belokan perkataan yang diberikan oleh Bayu, sehingga Papap memutuskan untuk tidak lagi memperpanjang pembicaraan tentang tingkah polah anak anak muda mudi yang dilihat Papap di sepanjang perjalanan menuju kafe tempat mereka akan duduk duduk dan berbagi cerita.


"masih jauh Bay?" ujar Papap bertanya kepada Bayu tentang berapa lama lagi mereka akan sampai di kafe yang dikatakan oleh Bayu.


"Nggak Pap bentar lagi, satu belokan lagi kita sampai" ujar Bayu


Kafe yang mereka tuju memang hanya tinggal satu belokan lagi. Kafe yang sangat luar biasa untuk dijadikan spot fhoto. Tetapi selain itu, rasa makanan dan minuman di kafe itu sangatlah enak, sehingga walaupun harganya agak kurang merakyat yang penting rasanya luar biasa, sesuai dengan harga yang diberikan.