Its My Dream

Its My Dream
Sore H - 18



"Dari mananya nggak usah di bahas sayang yang penting aku sudah mendapatkan ide baru untuk melakukan sesuatu yang pastinya akan bisa aku lakukan" ujar Rinjani yang ntah dari mana mendapatkan ide seperti itu. Sebenarnya ide itu baru datang saat Rinjani sedang duduk sambil memainkan ponselnya saat menunggu Bayu yang selesai makan nasi gorengnya tadi


"Aduh sayang, kamu memang ngadi ngadi bae. Mana ada hal seperti itu bisa terjadi" ujar Bayu yang nggak habis pikir dengan apa yang ada di dalam pikiran Rinjani pada saat ini.


"Emang aku pernah melarang larang kamu sayang untuk melakukan apa yang kamu inginkan selama ini?" ujar Bayu dengan nada lemah karena Rinjani yang salah menganalisa


"Nggak pernah sih" jawab Rinjani sambil memberikan senyumannya kepada Bayu karena tidak ingin Bayu menjadi marah kepada dirinya dan berburuk sangka kepada Rinjani.


"Nah itu yang paling penting. Aku nggak akan pernah melarang kamu untuk melakukan semua apa yang mau kamu lakukan tetapi syaratnya apa selama ini?" kata Bayu dengan nada tegas yang membuat Rinjani menatap ke arah Bayu.


Maksud Rinjani mengajak Bayu bercanda dengan apa yang dikatakan oleh Bayu membawa bumerang tersendiri kepada Rinjani saat ini, dia menjadi memiliki masalah dengan Bayu hanya karena omongannya tadi saja.


"Tidak membahayakan diri aku sendiri sayang" jawab Rinjani dengan tegas dan membalas tatapan mata Bayu.


Bayu tersenyum mendengar jawaban yang diberikan oleh Rinjani kepada dirinya. Rinjani masih mengingat perjanjian antara dirinya dengan Bayu kalau Rinjani ingin melakukan sesuatu. Selama ini Bayu memang tidak pernah melarang Rinjani melakukan apapun, tetapi Rinjani harus bisa meyakinkan Bayu bahwasanya apapun yang dilakukan oleh Rinjani, Rinjani akan selalu menjaga dirinya dengan baik, tidak akan melakukan kesalahan atau kecerobohan yang berakibat kepada dirinya sendiri.


"Ya udah sayang, sekarang kamu pahamkan, kenapa harus meminta izin terlebih dahulu sebelum kamu melakukan sesuatu?" ujar Bayu bertanya dengan lemah lembut penuh dengan kasih sayang kepada Rinjani.


Rinjani mengangguk, Rinjani sekarang sadar atas kesalahannya. Rinjani sekarang semakin yakin kalau Bayu sangat sangat menjaga dirinya, Bayu selama ini bukan melarang dia melakukan sesuatu tetapi hanya ingin menjaga dirinya, Bayu hanya ingin memastikan kalau dia aman.


"Aku hanya ingin kamu aman sayang, hanya itu saja. Aku ingin kamu memberitahukan kepada aku kemana kamu pergi hanya karena aku ingin tahu kamu kemana, hanya itu saja sayang. Aku tidak bermaksud apa apa sayang. Aku tidak bermaksud untuk melarang atau membatasi kegiatan kamu. Tidak sama sekali." ujar Bayu


"Hal ini murni hanya untuk supaya aku tahu keberadaan kamu dimana, hanya itu saja" lanjut Bayu menjelaskan panjang dan lebar apa yang sebenarnya terjadi dan mendasari kenapa Rinjani harus memberitahukan kepada Bayu kemana dia akan pergi.


"Aku kan kemana mana juga ngomong sama kamu sayang. Nggak pernah nggak ngomong. Hal itu juga sama, supaya kamu tahu aku sedang berada dimana. Karena aku tidak ingin kamu merasa tidak nyaman karena kamu tidak mengetahui aku sedang berada dimana" lanjut Bayu menjelaskan lebih lanjut kepada Rinjani apa alasannya selalu mengatakan kepada Rinjani dia berada dimana dan akan melakukan kegiatan apa


Rinjani tiba tiba memeluk Bayu dengan sangat erat. "Sayang maafkan aku, aku telah berbuat salah tadi" kata Rinjani dengan suara terisak karena menahan tangisnya supaya tidak keluar.


Bayu membalas pelukan kekasihnya itu. Seusia Rinjani masih ada rasa pemberontakan dalam hatinya, sehingga mau tidak mau suka tidak suka, maka Bayu harus bisa memberi nasehat kepada Rinjani dengan caranya sendiri, karena bagaimanapun Rinjani terkadang masih kurang dewasa dalam mengambil sikap.


"Sayang, kamu maafin aku kan?" ujar Rinjani kembali bertanya kepada Bayu.


"Maafin sayang, aku akan selalu memaafkan kamu. Tapi kamu harus berubah ya sayang, supaya hubungan kita berdua bisa semakin baik ke depannya. Jadi, kita berdua memiliki kualitas hubungan yang sangat bagus" ujar Bayu yang tidak bosan bosannya memberikan nasehatnya kepada kekasihnya itu.


Rinjani mengangguk dalam pelukan Bayu. Dia berjanji akan menjadi seorang kekasih yang tidak akan membuat kekasihnya mencemaskannya selalu hanya karena perbuatan cerobohnya yang akan bisa membuat dirinya dalam posisi bahaya. Rinjani hanya ingin membuat Bayu tenang dan tidak selalu memikirkan keadaan Rinjani. Terlebih lagi dalam posisi Bayu yang seperti sekarang ini. Bayu harus dalam fokusnya, Bayu tidak boleh terganggu dengan pikiran apapun.


"Aku janji sayang, setiap aku akan melakukan sesuatu hal aku akan meminta izin kepada kamu sayang. Aku akan pastikan hal itu terjadi" ujar Rinjani sambil melepaskan pelukannya dari Bayu.


'Sudah saatnya aku ke rumah dinas mamah, bisa bisa nanti aku sampe sana semua makanan sudah selesai di masak oleh Mamah dan ibuk ibuk yang lain' ujar Rinjani berbicara dalam pikirannya sendiri.


Bayu yang merasakan kalau Rinjani sudah melepaskan pelukannya, pada akhirnya juga melepaskan pelukannya terhadap Rinjani.


"Sayang sudah saatnya kamu ke rumah Mamah bukan ya?" ujar Bayu bertanya kepada Rinjani.


Bayu mengusap wajah kekasihnya itu dengan sangat lembut. Dia tidak ingin ada raut raut kesedihan menggelayut di wajah cantik dan manis kekasihnya itu. Wajah yang kalau di lihat tidak akan membuat Bayu atau siapapun menjadi bosan.


"Iya sayang, memang sudah saatnya aku ke rumah Mamah." ujar Rinjani yang setuju dengan apa yang dikatakan oleh Bayu kepada dirinya untuk langsung berangkat ke rumah Mamah.


"Aku antar ke mobil ya?" ujar Bayu yang sangat berharap Rinjani mengizinkan dirinya untuk mengantarkan Rinjani ke parkiran mobil


"Tentu dan harus sayang. Aku nggak mau ke sana sendirian" jawab Rinjani sambil tersenyum kepada Bayu


Bayu kemudian berdiri dari posisi duduknya, dia menjulurkan tangannya kepada Rinjani. Rinjani meraih tangan Bayu dan menggenggam tangan itu. Rinjani yang duduk di bantu Bayu untuk berdiri dari posisi duduknya. Mereka berdua kemudian berjalan keluar dari dalam ruangan Bayu sambil bergandengan tangan.


Beberapa tentara yang lewat menundukkan kepalanya menyapa Bayu dan Rinjani. Bayu membalas dengan menganggukkan kepala juga, begitu juga dengan Rinjani.


"Pulang Jani?" tanya Ivan yang memang sudah mengenal Rinjani dengan sangat baik.


"Yup, kamu nanti ke rumah Papap kan Van?" tanya Rinjani kepada anak sahabat Papap itu yang sekarang sudah dianggap oleh Papap sebagai anaknya juga. Tetapi karena Ivan sudah menikah sehingga dia tidak tinggal bersama dengan keluarga Bayu di rumah dinas Papap.


"Tentu Jani, aku akan ke sana dengan Maya nantinya" ujar Ivan yang mengatakan dia akan datang dengan Maya.


"Aku akan mengantarkan Maya ke sana nanti jam satu, karena Maya keluar kelas jam satu" ujar Ivan menjelaskan lebih spesisfik lagi kepada Rinjani dan Bayu jam berapa dia akan mengantarkan Maya ke rumah dinas Papap.


"Oh baiklah, Aku akan menunggu Maya di rumah Papap" ujar Rinjani.


"Loe nganter Rinjani, Bay?" tanya Ivan kepada Bayu yang terlihat dari tadi menyimak pembicaraan antara Rinjani dengan Ivan.


"Nggak Bro. RInjani bawa mobil sendiri" ujar Bayu menjawab pertanyaan dari Ivan.


"Oh hati hati Jani, jalanan sedang ramai ini" ujar Ivan memberikan pesannya kepada Rinjani


"Oke" jawab Rinjani.


Ivan kemudian undur diri dulu dari mereka berdua, dia akan mengerjakan satu tugas yang harus diselesaikan oleh dirinya sebelum dia berangkat menjemput Maya dan mengantarkan Maya ke rumah Papap.


Bayu yang masih terus menggenggam tangan Rinjani, mengantarkan Rinjani menuju parkiran. Rinjani memarkir mobilnya di tempat parikiran yang teduh, sehingga saat dia masuk ke dalam mobil nanti, Rinjani tidak akan merasakan panas yang berlebihan di dalam mobil.


"Sayang, kamu hati hati ya. Aku akan pulang pukul tiga" ujar Bayu berpesan kepada Rinjani.


"Oke sip sayangku cintaku. Nanti sebelum pulang beli bakso ya. Aku lagi kepengen bakso" ujar Rinjani yang ntah sejak kapan pengen makan bakso.


"Sip"


Bayu setuju dengan apa yang diminta oleh Rinjani kepada dirinya. Dia akan membelikan bakso yang dikehendaki oleh Rinjani nanti saat dia dalam perjalanan menuju rumah Papap.


Cup. Sebuah kecupan mendarat di puncak kepala Rinjani. Rinjani tersenyum melihat ke arah Bayu.


"Sudah masuk sana, nanti telat sampe rumah Mamah. Jangan ngebut ya" ujar Bayu melarang Rinjani untuk menginjak pedal gasnya dalam dalam.


"Sip sayang nggak bakalan ngebut aku nya" jawab Rinjani yang setuju dengan permintaan yang diajukan oleh Bayu kepada dirinya.


Rinjani mulai menghidupkan mobilnya Sedangkan Bayu masih berdiri di tempat yang sama. Bayu tidak ingin pergi dari situ sebelum menyaksikan kekasihnya itu pergi melajukan mobilnya meninggalkan kesatuan. Rinjani membuka kaca jendela mobilnya.


"Dadah sayang, cepat pulang jangan lupa bakso aku ya, seperti biasa" ujar Rinjani berpamitan kepada Bayu dengan tetap mengatakan pesanannya sekali lagi kepada Bayu.


"Siap sayang" ujar Bayu


Rinjani mulai mengemudikan mobilnya menuju rumah Papap. Bayu maish saja berdiri di tempat yang sama, dia masih terus memperhatikan mobil Rinjani. Akhirnya mobil Rinjani hilang di telan keramaian jalanan ibu kota. Bayu kemudian kembali menuju ruang kerjanya. Dia masih memiliki beberapa tugas yang harus diselesaikan oleh Bayu sebelum Bayu pulang ke rumah Papap.