
Papap, Mamah, Bayu dan Rinjani kemudian menikmati menu makan malam yang dibuat oleh Rinjani dan dibantu Mamah. Papap menyuap sesendok nasi ke dalam mulutnya. Papap mengunyah menu makan malam yang telah disuapnya itu dengan sangat menikmati setiap kunyahan yang dilakukan oleh Papap.
Rinjani mentap heran kepada Papap. Apalagi saat melihat reaksi yang diberikan oleh Papap saat Papap mengunyah menu makan malam yang disiapkan oleh Rinjani.
Rinjani kemudian menendang kaki Bayu yang duduk tepat di sebelahnya. Bayu yang merasa kakinya di tendang oleh Rinjani, langsung menatap ke arah kekasihnya itu.
“Ada apa sayang?” tanya Bayu kepada Rinjani kekasihnya itu.
“Papap kenapa ekspresinya kayak gitu?” ujar Rinjani bertanya kepada Bayu tentang ekspresi Papap yang sangat
aneh tersebut.
Bayu menatap ke arah Papap. Bayu juga heran kenapa Papap memakai ekspresi itu di wajah yang masih tampan
walaupun sudah berusia tidak muda lagi.
“Pap, kenapa pakai ekspresi seperti itu Pap?” tanya Bayu kepada Papap
“Papap sukses bikin rinjani merinding saat melihat ekspresi Papap seperti itu” lanjut Bayu mengatakan kepada Papap kalau ekspresi Papap yang aneh itu telah membuat Rinjani menjadi sangat cemas dengan rasa masakan yang telah dibuatnya.
"Kenapa merinding?" tanya Papap sambil menahan memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Tanya Rinjani sendiri aja Pap" ujar Bayu yang malas menjelaskan apa yang dirasakan oleh Rinjani saat Papap memakai ekspresi seperti itu.
Papap menatap ke arah Rinjani.
"Ada apa Jani? Kenapa merinding melihat Papap?" ujar Papap bertanya kepada Rinjani
"Ekspresi Papap yang buat Jani merinding Papap. Papap seperti tidak dalam keadaan oke saja menikmati makanan yang Jani buat" ujar Rinjani menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Papap kepada dirinya
“Haha haha haha, maafkan Papap Jani.”
“Ekspresi ini bukan mengatakan kalau Papap tidak menyukai masakan kamu, tetapi sangat menyukai masakan kamu” ujar Papap sambil tersenyum
“Jadi kamu mengira kalau Papap tidak menyukai masakan kamu ini?” tanya Papap kepada Rinjani.
“Ya, aku kira Papap tidak menyukai rasa makanan yang aku buat.” Jawab Rinjani sambil tersenyum kepada Papap.
“Haha haha haha, mana ada, masakan kamu enak. Malahan bisa Papap katakan kalau masakan kamu sama kadar enaknya dengan makanan yang dimasak oleh Mamah” ujar Papap memberikan penekanan kepada Rinjani bagaimana rasa masakan yang dibuat oleh Rinjani benar benar sangat enak.
“Bahkan kalau boleh Papap jujur, rasa masakan kamu ini akan membuat Papap menjadi kecanduan untuk terus menikmatinya" kata Papap selanjutnya menjelaskan kepada Rinjani bagaimana Papap sangat menyukai makanan yang dibuat oleh Rinjani
"Papap serius?" ujar Rinjani yang seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh calon mertuanya itu.
"Serius Jani masakan kamu benar benar lezat." kali ini Mamah yang menjawab keraguan yang diucapkan oleh Rinjani atas jawaban yang diberikan oleh Papap kepada dirinya.
"Ini benar benar lezat. Kamu tidak boleh memandang remeh diri kamu sendiri. Hasil masakan kamu patut diberikan beribu ribu jempol" lanjut Mamah kembali mayakinkan Rinjani kalau masakan yang dibuat oleh Rinjani benar benar lezat dan tidak ada bandingannya.
"Sayang, apa Mamah berkata serius?" ujar Rinjani sambil menatap ke arah Bayu.
"Bener sayang. Ini bener bener lezat" ujar Bayu menjawab pertanyaan dari Rinjani.
Josua dan Ryan yang ada di dekat keluarga komandan mereka sedang menikmati makan malam itu, hanya bisa tersenyum saat mendengar apa yang dikatakan oleh Rinjani.
"Maaf komandan. Kami harus menyela pembicaraan komandan sekeluarga." ujar Josua yang memberanikan diri untuk menyela pembicaraan Papap dan anggota keluarganya.
"Silahkan Jo, apa yang mau kamu katakan?" ujar Papap mempersilahkan Josua untuk mengatakan apa yang ada di dalam pikiran Josua pada saat ini.
"Jujur pada saat kami mencicipi masakan yang diberikan oleh Ibuk tadi, kami sempat menebak nebak siapa yang memasak. Tapi sebelumnya kami meminta maaf kepada Nona rinjani, kalau kami sama sekali tidak bisa membayangkan kalau itu adalah masakan nona" kata Josua mengakui kekurangannya saat tidak yakin kalau yang memasak menu makan malam keluarga kali ini adalah Rinjani.
"Kita bicara sambil kami makan ya Jo, Ryan" ujar Papap yang kembali memasukkan sesendok nasi ke dalam mulutnya.
"Maafkan kami komandan" jawab Josua.
Josua dan Ryan sebenarnya segan telah mengganggu acara makan malam keluarga komandannya itu. Tetapi komandan menerima mereka untuk berbincang sambil makan. Sehingga rasa segan tadi berubah menjadi rasa bersalah karena sudah mengganggu.
"Tidak apa apa Jo. Kita jarang jarangnya bisa berbicara seperti ini" kata Papap menjawab permintaan maaf Josua sesaat setelah Papap menghabiskan makanan yang ada di dalam mulutnya.
"Terus kalian semua yang di luar tadi menganggap siapa yang memasak?" tanya Mamah yang penasaran dengan kesimpulan yang diambil oleh Josua, Ryan dan empat orang piket jaga pada hari itu.
"Karena hanya saya dan Ryan yang selalu mencoba masakan yang dibuat oleh Ibuk, apalagi saya yang sudah bertahun tahun mencoba, tadi pikirannya adalah ibuk beli menu makna malam kali ini di luar. Walaupun sebenarnya itu adalah sesuatu yang tidak mungkin, karena selama ini Ibuk tidak pernah memesan masakan dari luar untuk menu makan malam keluarga" ujar Josua mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya saat mencoba masakan yang dibuat oleh Rinjani.
"Kalau kamu bagaimana Ryan?" tanya Mamah kali ini beralih ke sopir Papap.
"Kalau saya, berpikir masakan Nona Rinjani, Buk. Karena dari tadi nggak ada mobil catering atas ojek online yang nganter makanan ke rumah. Di rumah hanya ada Nona rinjani satu lagi yang perempuan, jadi analisa saya saat itu, masakan yang kami makan tadi adalah buatan Nona Rinjani" kata Ryan menyampaikan apa yang ada di dalam pikirannya pada saat mereka menikmati menu makan malam yang berbeda dari pada biasanya.
"Analisa kamu bagus sekali Ryan" ujar Papap yang langsung menyukai bagaimana cara Ryan bisa membaca situasi dengan semua kemungkinan dan juga bukti bukti yang ada.
'Siap terimakasih komandan" jawab Ryan.
"Cie yang kena puji" ujar Bayu yang berusaha mencairkan suasana Ryan yang masih terlihat cukup tegang berbicara saat mereka dalam kondisi seperti sekarang ini.
Mamah dan Rinjani kemudian membersihkan meja makan, semua piring kotor yang siap digunakan untuk makan malam sudah di bawa ke tempat cuci piring. Rinjani sudah memasukkan semua piring kotor ke dalam mesin pencuci piring.
Sedangkan Mamah menata kelebihan sambal menu makan malam ke dalam almari sambal yang ada di dekat mini bar. Hal itu sengaja dilakukan oleh Mamah supaya piket jaga atau Josua dan Ryan merasa lapar pada malam hari bisa bebas mengambil makanan yang ada di mini bar.
"Mah, ada puding kan ya Mah. Mamah tolong hidangkan ya Mah" ujar Rinjani saat memindahkan piring yang telah bersih ke tempat penyimpanannya.
"Oke sayang" kata Mamah
Mamah kemudian memotong puding regal yang dibuat oleh Rinjani tadi sore. Mamah juga membawa beberapa piring kecil untuk tempat menaruh puding.
"Bay ini puding kesukaan kamu" ujar Mamah menaruh puding di meja.
Josua dan Ryan yang melihat ada puding, tertarik untuk menikmati puding tersebut. Tetapi mereka segan karena Papap dan Bayu sama sekali belum menyentuh puding itu.
"Kalian berdua mau?" tanya Mamah kepada Josua dan Ryan
Mereka berdua kemudian mengangguk. Mamah mengambilkan mereka satu potong puding untuk masing masing. Rinjani yang sudah kembali dari membereskan piring piring berjalan menuju tempat keluarga Bayu berada. Mereka kemudian mengobrol di sana sampai jarum jam menunjukkan pukul setengah sembilan.
"Pap, Mah, Jani pulang dulu ya. Besok Jani ke sini lagi" ujar Rinjani saat melihat jam dinding yang ada di teras menunjukkan pukul setengah sembilan malam.
"Oke nak hati hati di jalan. Kamu di antar Bayu kan ya?" ujar Mamah
"Iyalah Mah, masak naik ojek" kata Bayu menjawab pertanyaan dari Mamah.
Bayu dan Rinjani kemudian keluar dari rumah Papap. Mereka berdua naik ke atas mobil milik Bayu yang parkir di tempat biasa.
"Lets go pulang" ujar Rinjani berkata dengan semangat karena bisa berdua dengan Bayu kembali
Rinjani menatap ke arah Bayu. Ingin rasanya Rinjani bertanya tentang sesuatu hal yang sekarang sedang mengganjal di dalam pikiran Rinjani. Tetapi Rinjani merasa kalau ini bukanlah moment yang tepat. Rinjani akan mencari moment yang pas untuk menanyakan hal itu kepada Bayu.