
"Sayang, ternyata jalan malam itu tidak semengerikan yang dikatakan orang orang ya. Semuanya aman aman aja" ujar Rinjani memulai percakapannya dengan Bayu.
"Ini tidak ngeri karena kita lewat kota sayang. Coba lewat tempat yang sepi. Lumayan juga ngerinya" ujar Bayu menanggapi apa yang dikatakan oleh Rinjani kepada dirinya.
"Lagian mobil juga banyak yang lewat, makanya kita aman. Faktor macet tadi juga berpengaruh besar sayang. Kita bisa banyak bertemu mobil dari dua sisi." ujar Bayu melanjutkan jawabannya untuk perkataan dari Rinjani tadi.
Mereka berdua kembali bernyanyi berdua. Mereka sama sama melantunkan lagu lagu dari penyanyi minang yang mereka sukai. Tak terasa ternyata mereka sudah memasuki kota Padang.
"Sayang, kita udah di batas kota ini. Hari jam berapa baru?" tanya Bayu kepada Rinjani yang sibuk dengan permainan game miliknya.
Rinjani sama sekali tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Bayu. Rinjani tetap sibuk bermain game.
"Sayang" ujar Bayu menepuk pundak Rinjani.
Rinjani yang kaget langsung menatap ke wajah Bayu.
"Apa sayang?" tanya Rinjani kepada Bayu.
"Udah jam berapa? Kita udah di batas kota" ujar Bayu kepada Rinjani yang ternyata sedang mabar.
"Kamu lagi mabar sayang?" tanya Bayu melihat permainan Rinjani yang sedang seru itu
"Iya sayang. Makanya aku nggak jawab pertanyaan kamu" ujar Rinjani yang masih tetap sibuk dengan ponselnya.
Akhirnya dari pada menunggu Rinjani selesai mabar, Bayu memilih untuk melihat jamnya sendiri.
"Masih jam lima sayang. Belum jam enam. Kalau kecepatan seperti ini sampe di kota jam enam lewat. Jadi kita kemana dulu sayang?" ujar Bayu meminta pendapat kepada Rinjani.
"Bentar dua menit" ujar Rinjani tanpa melihat kearah Bayu.
Bayu kemudian memberhentika mobil yang dikendarai nya ke pinggir jalan. Rinjani menatap ke arah Bayu.
"Kok berenti?" tanya Rinjani yang tidak paham kenapa Bayu memilih untuk memberhentikan mobil mereka ke tepi jalan.
"Katanya dua menit, ya udah mending berhenti dulu." jawab Bayu dengan entengnya.
Rinjani yang tahu Bayu sedang marah memberhentikan permainannya. Dia memasukkan ponselnya ke dalam tas ransel miliknya kembali.
"Maaf" ujar Rinjani dengan suara pelan dan terlihat sedikit menyesal karena sudah berani main di saat Bayu membawa mobil sendirian.
"Nggak apa apa main. Tapi kan aku sedang bawa mobil. Aku nggak tidur dari pagi kemaren. Kalau kita kenapa kenapa gimana? Aku takutnya nanti nggak kamu ajak ngobrol aku ngantuk tertidur sekian detik, mobil nabrak, kita mau jadi apa" ujar Bayu menasehati Rinjani untuk tidak bermain game saat mereka berdua sedang di dalam mobil seperti sekarang ini.
"Aku nggak marah kalau kamu main game nya sadar waktu. Selama ini ada aku marah sama kamu kalau kamu main game? Saat sedang duduk berdua aja kita kamu main game aku nggak marah." lanjut Bayu yang benar benar kesal dengan Rinjani saat ini
Bayu mengarahkan mobil menuju kota. Dia tetap mengemudikan mobil dalam kecepatan seperti tadi. Sepanjang perjalanan mereka berdua hanya diam saja. Berkali kali Bayu terpaksa mencubit tangannya sendiri supaya tidak mengantuk.
Tepat di sebuah pasar. Penduduk sudah terlihat ramai menuju pasar yang buka dari setelah subuh itu. Bayu kembali menepikan mobilnya. Dia berjalan menuju sebuah warung. Bayu membeli satu botol besar air mineral.
Saat sampai di belakang mobil. Bayu membasuh wajahnya dengan air mineral itu. Bayu benar benar dalam kondisi mengantuk sekarang ini. Dia sudah tidak bisa menahan lagi rasa kantuk nya. Tapi untuk meminta Rinjani membawa mobil itu adalah sesuatu yang tidak mungkin.
"Aku paksakan untuk membawa mobil nggak mungkin. Tapi nggak dibawa, berenti di sini lama lama akan mengundang kecurigaan orang" ujar Bayu yang berada dalam posisi tersulitnya.
Bayu kembali membasuh wajahnya. Dia benar benar berharap rasa kantuk di matanya bisa segera hilang. Minimal sampai mengantarkan Rinjani ke kos kosannya. Nanti untuk pulang ke asrama dia akan mengusahakannya supaya masih kuat.
Bayu mengerjap ngerjapkan matanya. Bayu mengusir rasa kantuk yang sudah bergelayutan di kedua kelopak mata Bayu. Rinjani yang melihat itu merasa kasihan dengan Bayu. Tetapi Rinjani juga tidak tahu bagaimana mau memulai berbicara kembali dengan Bayu. Rinjani sangat tahu kalau Bayu sedang marah besar kepada dirinya saat ini.
Bayu yang sudah merasakan rasa kantuk nya berkurang, memilih untuk kembali masuk ke dalam mobil. Bayu menghidupkan mobilnya kembali. Dia berusaha memfokuskan penglihatan nya ke jalan raya yang syukurnya masih dalam keadaan sepi. Tidak begitu banyak mobil yang lewat.
Bayu agak sedikit lebih menginjak pedal gas mobilnya sekarang ini. Hari sudah pukul enam pagi. Jadi, dia sudah bisa mengantarkan Rinjani ke kos kosannya dan Rinjani bisa beralasab kalau dia pulang setelah subuh tadi karena Bayu ada pekerjaan yang harus dikerjakannya di pagi hari.
Rinjani yang merasa kalau kecepatan mobil bertambah hanya bisa diam saja. Dia sama sekali tidak bertanya kepada Bayu. Rinjani murni menikmati saja perjalanan mereka kali ini. Menikmati perjalanan dalam diambya seorang Bayu. Rinjani yang tahu kalau dia salah juga memilih untuk diam. Rinjani seperti tidak mau menyelesaikan permasalahan yang ada di antara mereka berdua.
Tepat pukul setengah tujuh, Bayu sampai di depan kos kosan Rinjani. Bayu membukakan kunci pintu Rinjani.
Rinjani melihat ke arah Bayu.
"Terimakasih" ujar Rinjani kepada Bayu.
Bayu hanya mengangguk saja. Bayu sudah benar benar mengantuk sekarang. Bagi Bayu yang diinginkannya sekarang adalah kasur, tidak ada yang lain. Badannya capek karena melatih, pikirannya capek tambah lagi tidak tidur, membuat Bayu benar benar seperti akan tumbang saja.
Rinjani turun dari dalam mobil. Dia mengambil semua barang barangnya yang di taruh di kursi belakang. Rinjani kemudian menutup pintu mobil Bayu. Bayu kemudian melajukan mobilnya menuju asrama tanpa melihat Rinjani sudah masuk ke dalam kos kosannya atau belum.
Rinjani hanya bisa melihat dengan satu ke arah mobil Bayu. Bayu benar benar marah dengan dia. Tapi Rinjani sadar memang itu kesalahan dia. Bayu sebenarnya butuh kawan untuk mebgobrol. Rinjani malahan asik bermain game dan sempat sempat nya mengatakan kepada Bayu untuk menunggu dua menit. Hal itulah yang membuat Bayu menjadi sangat marah kepada Rinjani.
Rinjani kemudian masuk ke dalam kos kosannya. Dia mengetuk pintu kamarnya. Ranti yang baru akan tidur kembali setelah melakukan kewajibannya yang terlambat itu kembali bangun dan membukakan pintu kamar. Betapa kagetnya Ranti melihat siapa yang berdiri dengan keadaan memprihatinkan di depan kamarnya.
"Loe kenapa?" tanya Ranti kepada Rinjani.
"Ngantuk. Nanti aja ceritanya" ujar Rinjani menjawab pertanyaan dari Ranti
Rinjani masuk ke dalam kamar. Dia mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur miliknya. Setelah itu Rinjani berbaring dan langsung lebyap tak berbekas.
"kenapa ne anak?" ujar Ranti heran melihat kelakuan Rinjani.
Hal yang sama juga terjadi kepada Bayu. Bayi langsung tertidur juga saat sampai di rumah dinasnya. Lebih tragis lagi, Bayu tidur di ruang tamu tanpa sempat mengunci pintu rumah. Bayu langsung saja tumbang karena kelelahan.