
"Van, gue jalan dulu ya. Pinjam mobil loe bentar. Nanti gue anter ke asrama" ujar Bayu berbicara kepada Ivan sambil memasukkan kepalanya saja ke dalam ruangan Ivan.
"Oke sip. Besok pagi saja tidak apa apa bro. Ngapain loe anter malem malem ke asrama, nanti loe baliknya pakai apa pula" ujar Ivan menyarankan supaya Bayu tidak mengantarkan mobilnya malam malam tetapi besok pagi saja saat dirinya berangkat ke kesatuan.
"Oke sip. Gue pake dulu ya" ujar Bayu.
Tepat pukul setengah tiga sore, Bayu pergi meninggalkan kesatuan. Dia akan pergi menjemput Rinjani kekasih hatinya yang paling disayanginya itu. Wanita yang telah berhasil membuat hari harinya menjadi berwarna.
"Kemana Bay?" ujar Mamah yang baru keluar dari ruangannya melihat Bayu menuju parkiran mobil.
"Mau jemput Jani, Mah. Mamah mau ikut?" ujar Bayu bertanya kepada Mamah.
"Boleh lah kalau gitu" ujar Mamah yang setuju dengan ajakan Bayu untuk pergi ikut menjemput Rinjani ke kampusnya.
Mamah dan Bayu kemudian berjalan ke parkiran mobil.
"Pake mobil siapa Bay?" tanya Mamah yang melihat Bayu tidak menuju mobil Papap yang di parkir diparkiran khusus.
"Pake mobil Ivan, Mah" jawab Bayu dengan santai mengatakan mobil siapa yang akan dipakai oleh dirinya untuk menjemput Rinjani.
"Kok bisa bisanya minjam mobil Ivan kamunya. Mobil kamu kemana?" ujar Mamah saat mereka berdua sudah berada di dalam mobil.
"Lah tapi aku tadi pagi pergi nebeng sama Mamah dan Papap. Gimana caranya aku bawa mobil coba" ujar Bayu heran mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Mamah kepada dirinya.
"Iya juga ya. Besok kalau kamu pergi dengan kami lagi, suruh Josua atau Ryan untuk bawa mobil kamu. Jadi, pas kamu harus jemput Rinjani nggak perlu minjam mobil Ivan lagi" kata Mamah memberikan nasehat dan pesannya kepada Bayu.
"Siap komandan" jawab Bayu sambil tersenyum kepada Mamah.
"Komandan komandan, emangnya di kesatuan" kata Mamah yang kesal dipanggil dengan kata komandan oleh Bayu saat mereka tidak di depan orang ramai.
"Kan masih pakai baju dinas" lanjut Bayu meyakinkan Mamah kalau dia tidak salah telah memanggil mamah dengan sapaan komandan.
"Nggak ada cerita, Kesepakatan sudah jelas, kamu tetap memanggil komandan kalau kita di depan orang ramai. Tetapi kalau tidak ada orang lain, maka panggilan tetap Papap dan Mamah." ujar Mamah yang kesal dipanggil komandan oleh Bayu.
"Oke oke, jangan marah marah Mah" ujar Bayu kepada Mamah yang jelas jelas terlihat kesal tersebut.
Bayu melajukan mobilnya menuju kampus Rinjani yang letaknya tidak seberapa jauh dari kesatuannya. Mamah menikmati perjalanan kali ini. Mamah melihat ke arah luar.
"Rame banget ya Bay" ujar Mamah berkata kepada Bayu.
"Sangat Mah. Namanya juga ibu kota provinsi Mah."
"Oh ya, apa Rinjani udah selesai kuliah, atau kita harus menunggu dia selesai dulu?" ujar Mamah yang sebenarnya sangat malas kalau di suruh menunggu di atas mobil.
"Sepertinya udah selesai Mah" jawab Bayu dengan nada kurang pasti.
"Kamu chat dulu lah Jani, Bay" ujar Mamah sambil melihat ke arah anaknya yang akan pergi ke daerah konflik dalam dua puluh sebilan hari kurang lagi.
"Asip Nyonya besar" ujar Bayu kembali menggoda Mamah.
"Hem" hanya itu komentar yang diberikan oleh Mamah kepada Bayu atas apa yang dikatakan Bayu sebentar ini kepada dirinya.
Bayu mengambil ponsel miliknya yang di taruh di dasbord mobil.
'Sayang, apa kamu udah selesai kuliahnya?'
'Aku udah on the way ke sana'
Bunyi pesan chat yang dikirim oleh Bayu kepada Rinjani.
'Ini udah nunggu sayang. Kamu jemput aku di taman biasa aja ya'
Bunyi balasan pesan chat yang dikirimkan oleh Rinjani kepada Bayu.
'Sip sayang. Aku dengan Mamah.'
Bayu memberitahukan kepada Rinjani dengan siapa dia datang menjemput Rinjani.
'Oke, aku akan duduk di bagian belakang.'
Balas Rinjani.
"Ini Bayu datang menjemput gue, tetapi Mamah juga ikut bersama dengan Bayu" ujar Rinjani memberitahukan kepada sahabatnya itu kalau Mamah Bayu juga datang menjemput dirinya.
"Haha haha haha. Jadi ceritanya semenjak acara serah terima itu kamu sudah sangat dekat dengan kedua orang tua Bayu?" kata Ranti penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Rinjani sebentar ini kepada dirinya.
"Ya bisa dikatakan begitulah" ujar Rinjani menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Ranti kepada dirinya.
Kedua sahabat itu kembali melanjutkan obrolan mereka. Saat itulah seorang pria yang tinggi dan berpenampilan rapi berdiri di depan Ranti.
"Sayang maaf lama" ujar Bram menyapa Ranti yang memang sudah menunggu Bram.
"Mana ada lama sayang. Baru aja lima belas menit" jawab Ranti sambil tersenyum kepada Bram, dosen sekaligus kekasihnya itu.
"Yang lama itu Bayu, sampe sekarang belum sampe sampe" ujar Rinjani yang heran kenapa Bayu belum juga sampe, padahal tadi Bayu mengatakan kalau dia sebentar lagi akan sampai.
Baru saja Rinjani mau komplen, seorang pria sudah menepuk pundaknya dari belakang.
"Aku udah sampai dari saat kamu ngomong ke Ranti kalau kamu memang sudah akrab dengan Mamah" ujar Bayu langsung membantah apa yang dikatakan oleh Rinjani kalau dirinya sangat telat dibandingkan Bram.
"Oh aku kira kamu belum datang sayang. Aku dari tadi melihat tidak ada mobil kamu yang masuk ke parkiran" ujar Rinjani yang memang dari tadi melihat ke arah gerbang untuk menyaksikan mobil Bayu benaran masuk ke dalam kampus.
"Aku nggak pake mobil aku atau mobil papap. Tapi minjem mobil teman sayang" jawab Bayu.
"Minjem? Tumben?" ujar Rinjani yang kaget mendengar Bayu meminjam mobil temannya untuk menjemput dirinya ke kampus.
"Cerita nya panjang sayang. Nanti ajalah ya diceritain" jawab Bayu yang enggan untuk menjelaskan kepada Rinjani sekarang kenapa dia bisa memakai mobil pinjeman.
"Oke sip. Ranti, Pak Bram, kami pamit dulu ya" ujar Rinjani berkata kepada Ranti dan juga Pak Bram.
"Oke Jani. Kami juga mau jalan" ujar Ranti yang paham kenapa Rinjani pengen cepat cepat pergi dari kampus, karena ada mamah di atas mobil.
"Titip sahabat saya ya Pak dosen" ujar Rinjani menitipkan Ranti kepada dosen Bram.
"Titip juga sahabat saya ya Pak Tentara" ujar Ranti membalas perlakuan yang dilakukan oleh Rinjani sebentar ini.
"Oke kami akan bertanggung jawab" kali ini Bayu dan Bram kompak menjawab perintah yang diberikan oleh Rinjani dan Ranti kepada mereka berdua.
Bayu dan Rinjani kemudian berjalan menuju mobil. Bayu membukakan pintu bagian belakang mobil. Tetapi sama sekali tidak bisa. Mamah kemudian menurunkan kaca mobil bagian belakang.
"Kamu dengan Rinjani aja di depan sayang. Mamah di belakang aja" ujar Mamah yang ternyata sudah duduk di kursi penumpang.
"Tapi Mah?" ujar Rinjani yang segan kalau Mamah harus duduk di bagian penumpang karena ada dirinya di dalam mobil.
"Tidak apa apa sayang. Santai aja" jawab Mamah.
Bayu dan Rinjani kemudian duduk di bagian depan. Bayu kemudian menjalankan mobilnya menuju rumah dinas Papap. Nanti setelah mengantarkan Mamah dan Rinjani ke rumah, maka Bayu akan kembali ke kesatuan untuk mengembalikan mobil Ivan.
"Mah aku ke kesatuan dulu ya. Titip Jani" ujar Bayu saat Mamah dan Rinjani sudah turun di depan rumah dinas.
"Banyak gaya. Sana pergi. Tapi chat dulu Papap supaya menunggu kamu di kesatuan." ujar Mamah mengingatkan Bayu untuk mengirimkan pesan chat kepada Papap.
"Sudah Mamah" jawab bayu.
Bayu kemudian mengemudikan mobilnya menuju kesatuan kembali. Mamah dan Rinjani kemudian masuk ke dalam rumah dan akan memasak menu makan malam untuk mereka.
"Duduk di sini dulu Jani, Mamah tukar pakaian dulu ya" ujar Mamah.
"Oke Mah" jawab Rinjani
Rinjani kemudian duduk di kursi teras rumah bagian belakang sambil menunggu Mamah yang berganti pakaian.
"Ayuk kita masak" kata Mamah memanggil Rinjani untuk menuju dapur.
Mamah dan Rinjani kemudian memasak menu makan malam. Mamah memperhatikan Rinjani yang sangat lues di dapur.
'Sepertinya Rinjani sudah terbiasa bekerja di dapur' ujar Mamah saat melihat Rinjani yang sama seklai tidak canggung memakai peralatan dapur.
'Memang tidak salah Bayu memilih dia menjadi calon istri' lanjut Mamah berkata dalam hatinya sambil melihat ke arah Rinjani yang sekarang sedang menggoreng udang goreng tepung yang akan dibuat Rinjani dengan menyiramkan saos padang di atas udang goreng tepungnya itu.