
"Kami jalan duluan Ran" ujar Bayu berpamitan dengan Ranti teman satu kamar Rinjani. Bayu melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul setengah enam. Bayu memiliki rencana untuk melihat sunset dari sebuah tempat yang memang sedang ingin dituju Rinjani di lain waktu.
Rinjani belum sempat mengatakan tempat itu kepada Bayu. Tetapi Bayu sudah tahu kalau Rinjani pengen ke sana.
"Oke sip. Hati hati di jalan" ujar Ranti menitipkan pesan kepada Bayu untuk selalu berhati hati saat berkendara. Ranti tidak mau terjadi sesuatu kepada kedua sahabatnya itu. Makanya Ranti selalu menitip doa saat Rinjani dan Bayu pergi.
Apalagi ini adalah minggu malam. Mobil dan motor akan sangat ramai di jalanan. Suasana akan berbeda dengan malam malam biasanya. Mobil dan motor akan memenuhi setiap sudut kota. Semua anak muda menikmati hari minggu mulai dari pagi sampai malam. Karena besok mereka sudah harus melakukan kegiatan yang sudah sangat rutin dilakukan oleh mereka semua.
"Loe nggak ada acara mau kemana mana Ran, sama Pak Bram?" tanya Rinjani kepada sahabatnya yang terlihat seperti tidak ada acara untuk berhari minggu seperti pasangan pasangan lainnya.
"Kayaknya ndak Jani. Masalahnya dosen itu sedang ada seminar. Jadi ya malam ini gue sendiri lagi" ujar Ranti yang selama berpacaran dengan Bram, Ranti tidak pernah merasakan apa yang namanya minggu malam.
"Haha haha haha haha, sabar aja. Dia sedang cari uang untuk menikah dengan kamu" ujar Rinjani menggoda sahabatnya yang terlihat enjoy aja walaupun dia tidak pernah di ajak berhari minggu oleh Bram.
"Ye lah. Lama lama kalau gue bosan, ya gue pergi sendiri aja. Pusing kali. Dia nggak akan bisa larang gue." ujar Ranti yang memang sejak dulunya terkenal suka berpergian sendiri saja. Kemana mana Ranti memang lebih suka sendirian. Ranti baru mulai mau pergi dengan Rinjani saat mereka sudah sekamar selama satu tahun. Sebelum itu Ranti akan selalu pergi sendirian saat berbelanja Tapi kalau hanya pergi cuci mata, barulah Ranti pergi dengan Rinjani
Rinjani pernah bertanya kepada Ranti, kenapa dia suka berpergian sendiri, jawaban dari Ranti sangat sederhana sekali. Kalau dengan orang lain langkahnya akan terhambat. Belum lagi saat membeli sesuatu, menurut Ranti itu sudah bagus, menurut teman yang pergi dengan dia itu tidak bagus. Ranti tidak mau itu terjadi kepada dirinya. Makanya dia lebih suka pergi sendirian.
"Kalau gitu gue jalan dulu ya. Hati hati di kos" ujar Rinjani sambil melambaikan tangannya kepada sahabat baiknya itu.
Bayu dan Rinjani kemudian masuk ke dalam mobil. Bayu kemudian mengemudikan mobil menuju sebuah kafe yang terlihat sangat easygoing sekali. Kafe yang memang cocok untuk anak muda nongkrong di sana. Apalagi kafe itu memakai konsep rooftop.
Karena perjalanan tidak terlalu lama. Bayu sudah membelokkan mobilnya masuk ke dalam parkiran kafe. Bayu menggandeng tangan Rinjani masuk ke dalam kafe.
"Loh kok kita bisa ke sini? Kamu sengaja mengerjai aku ya sayang" ujar Rinjani yang sangat bahagia karena Bayu membawa dirinya ke kafe itu. Kafe yang sudah lama ingin dimasuki oleh Rinjani. Tetapi waktunya sama sekali belum tepat, sehingga Rinjani tidak bisa membawa Bayu ke tempat itu.
"Karena aku tau tempat ini adalah tempat impian kamu selama ini" ujar Bayu sambil tersenyum kepada Rinjani, Bayu sangat bahagia karena berhasil membuat Rinjani tersenyum dan kaget dengan apa yang dilakukan oleh Bayu kepada Rinjani.
"Kita di rooftop aja yuk sayang." ujar Rinjani yang lebih memilih untuk menikmati malam mereka di rooftop kafe yang sangat terkenal memiliki pemandangan yang paling bagus, karena dari rooftop kafe itu kita bisa melihat ke arah laut malam hari.
"Oke sip." ujar Bayu yang setuju dengan pendapat Rinjani untuk makan di rooftop kafe tersebut.
Bayu menuju meja tempat melakukan reservasi. Bayu menanyakan meja bagian rooftop yang masih kosong. Seorang pelayan memberikan sebuah nomor meja yang masih kosong.
"Sayang, kita dapat rooftop." ujar Bayu sambil menunjukkan nomor yang sedang di pegang oleh dirinya.
"Berarti nggak rame dong sayang di atas." kata Rinjani yang mendengar kalau kafe di sana sangat rame. Kalau mau duduk di rooftop di sarankan untuk reservasi dulu. Jadi, kesempatan untuk mendapatkan tempat duduk di rooftop terbuka lebar.
"Kok kamu ngomong gitu sayang?" tanya Bayu kepada Rinjani sambil berjalan menuju bagian rooftop kafe tersebut.
"Mungkin sekarang sedang tidak ramai sayang. Jadi, kita bisa duduk di sana" jawab Bayu sambil melihat keadaan pengunjung kafe di bagian rooftop yang ternyata cukup ramai itu.
"Nggak ramai dari mananya sayang. Tengok tu tiap sudut ada orang" ujar Rinjani sambil melihat ke semua arah. Semua bangku sudah terisi penuh.
"Dimana kita duduk sayang?" tanya Rinjani kepada Bayu.
Rinjani bingung melihat semua bangku sudah terisi, tetapi Bayu masih memegang sebuah nomor meja yang masih kosong di bagian rooftop.
"Bro, bisa tolong antarkan ke meja nomor ini?" ujar Bayu kepada seorang pelayan yang kebetulan melintas di depan Bayu da Rinjani.
"Mari ikuti saya Abang, Kakak" ujar Pelayan yang akan mengantarkan Rinjani dan Bayu menuju tempat duduk mereka yang sesuai dengan nomor meja yang di pegang oleh Bayu.
Bayu dan Rinjani kemudian mengikuti pelayan menuju tempat duduk mereka yang ada di rooftop tersebut.
Rinjani menatap tidak percaya dengan tempat yang akan mereka duduki untuk berhari minggu malam di kafe itu. Itu adalah tempat paling favorit oleh semua pengunjung kafe. Dari tempat itu kita bisa melihat pemandangan kota di malam hari. Bonusnya laut malam dimana kapal para nelayan pencari ikan berada di tengah tengah lautan luas.
"Silahkan duduk Bang, kakak. Sebentar lagi menu pesanannya akan datang" ujar Pelayan mempersilahkan Rinjani dan Bayu untuk duduk di tempat yang sudah mereka siapkan.
Bayu dan Rinjani duduk di sana sambil menatap ke arah laut lepas. Rinjani menatap ke arah Bayu. Rinjani menuntut suatu penjelasan dari Bayu tentang apa yang terjadi sebenarnya.
"Apa?" tanya Bayu kepada Rinjani sambil balas menatap ke arah Rinjani.
"Kok bisa dapat tempat ini?" ujar Rinjani menanyakan apa yang membuat Rinjani menatap heran ke tempat mereka berdua berada sekarang ini.
"Bisalah. Bayu" ujar Bayu sambil menahan senyumannya karena sudah berkali kali menggoda Rinjani dengan ucapan dan tingkahnya.
"Sayang, kok bisa" ujar Rinjani bertanya sekali lagi kepada Bayu.
Rinjani sangat penasaran kenapa Bayu bisa sampai mendapatkan tempat dengan posisi strategis itu di kafe ini. Padahal mereka baru saja datang, tetapi Bayu bisa mendapatkan tempat yang menjadi tempat duduk terfavorit di rooftop tersebut.
"Ooo. oooo. Masalah tempat duduk ini. Pemilik kafe ini adalah sahabat aku sayang, makanya aku bisa mendapatkan tempat duduk di sini. Aku mesan dari semalam loh, jangan salah kamu" ujar Bayu menjawab pertanyaan dari Rinjani. Pertanyaan yang sebenarnya ditanyakan oleh Rinjani karena dia penasaran dengan Bayu yang bisa mendapatkan tempat favorit itu dengan gampang.
"Ooooo. Dari semalam mesan nggak perlu pake sahabat sayang. Kalau namanya sahabat, walaupun sudah ada yang mesan tempat duduk itu, tetapi karena kamu bersahabat dengan pemilik kafe, kamu tetap mendapatkan tempat duduk itu. Nah itu baru ada gunanya ngomong, sahabat aku yang punya sayang" ujar Rinjani membantah apa yang dikatakan oleh Bayu.
"Sayang sayang, itu yang namanya bisnis. Bisnis tetap bisnis, sahabat tetap sahabat. Lagian nih ya sayang, masak kamu tega mengusir orang yang telah memesan tempat itu terlebih dahulu. Mereka juga melakukan prosedur yang sama dengan kita supaya bisa menempati tempat duduk ini" ujar Bayu menjelaskan kepada Rinjani kalau gunanya sahabat bukan hanya untuk itu saja.
"Kita harus mendukung apa usaha sahabat kita sayang. Bukan malah membuat dia menjadi tertekan karena tidak bisa memenuhi apa yang kita minta. Kalau ada sahabat yang kayak gitu berarti dia bukan sahabat yang baik" lanjut Bayu menjelaskan kepada Rinjani bagaimana seharusnya tingkah seorang sahabat.