
"Jani, siapa laki laki keren yang sama Bayu tadi. Kelihatannya loe akrab banget sama dia" ujar Aleza sambil memasang cream malam ke wajah cantiknya.
"Loe nanyak biasa atau nanyak luar biasa?" tanya balik Rinjani sambil menaik naikkan alisnya ke arah Aleza.
"Nanyak aja. Nggak ada nanyak aneh aneh" ujar Aleza berusaha menipu Rinjani.
"Ais pakai nipu segala." ujar Rinjani sambil melempar bantar ke arah Aleza.
"Haha haha. Loe kan paham, pura pura pula tanyak ke gue. Gue ya malulah mau mengakuinya" ujar Aleza sambil menatap ke arah Rinjani.
"Eeee bray ya. Akuin ajalah" ujar Rinjani.
Aleza naik ke atas kasur. Dia kemudian duduk tepat di sebelah Rinjani.
"Jadi, siapa dia?" tanya Aleza kepada Rinjani kembali.
"Yang mana?" tanya Rinjani mulai mengusili Aleza
"Jani, gue serius" ujar Aleza sambil memberikan tatapannya kepada Rinjani.
"Oke oke. Dia itu sahabat aku waktu tinggal di Sijunjung. Kami bersahabat berlima. Dia salah satunya." ujar Rinjani menceritakan siapa Aris teman Bayu tadi.
"Gue udah lama nggak ketemu dia. Ee ee ee kiranya, dia satu tempat latihan dengan Bayu. Gue baru sadarnya juga saat Bayu video call dengan gue sebelum gue ke sini. Kiranya beneran tu makhluk ajaib" ujar Rinjani menceritakan bagaimana dia bisa bertemu kembali dengan Aris.
"Terus sekarang dia dinas dimana?" tanya Aleza berharap kalau Aris tidak bekerja jauh dari kota Padang Panjang.
"Kata Bayu sih dia di Payakumbuh, kalau gue nggak salah ngomong. Loe mau tau sekarang juga?" tanya Rinjani sambil mengambil ponsel miliknya yang di chas.
"Nggak usah aja. Kapan kapan ajalah" ujar Aleza menolak Rinjani untuk menghubungi Bayu.
Mereka berdua terdiam sesaat. Ntah apa yang ada di dalam otak mereka masing masing. Rinjani melihat ke arah Aleza, Aleza membalas melihat ke arah Rinjani.
"Jadi, maksud pertanyaan loe tadi apa?" tanya Rinjani mengulang pertanyaannya lagi.
"Gue pengen kenal lebih dekat dengan Aris, kalau Aris masih jomblo. Tapi kalau dia udah punya kekasih ya ogah gue" jawab Aleza terang terangan kepada Rinjani.
"Berarti cocok itu" jawab Rinjani berkata kepada Aleza.
"Cocok apaan coba? Gagal paham gue" ujar Aleza.
"Maksud gue tadi, memang mau ngejodohin elo dengan dia." ujar Rinjani dengan santainya.
"Berarti dia nggak punya pacar kalau gitu?" ujar Aleza meyakinkan dirinya kalau Aris masih jomblo alias tanpa kekasih.
"Bisa jadi. Gue juga belum tau pasti" ujar Rinjani menjawab apa adanya kepada Aleza.
"Gilak loe, belum tau orang jomblo atau kagak loe udah main mau jodohin orang aja. Kiranya dia punya pacar gimana" ujar Aleza menatap ke arah Rinjani.
"Ye selagi janur kuning belum melengkung, kita masih berhak untuk memiliki dia" ujar Rinjani kepada Aleza.
"Gilak loe. Dibilang gue perebut pacar orang nanti. Ogah gue mah" jawab Aleza setengah kesal dengan jawaban dari Rinjani.
"Nggak akan dikatain kayak gitu, kan mereka belum nikah" ujar Rinjani membela dirinya.
"Jadi maunya gimana?" tanya Rinjani kepada Aleza.
"Kalau bisa ne ya. Aku nggak dikatakan sebagai perebut pacar orang. Kalau dapat dia benar benar jomblo. Gitu aja" ujar Aleza yang nggak ingin dikatakan sebagai perebut kekasih orang.
"Oke, besok akan gue cari tau pasti dia jomblo atau nggaknya. Daripada nanti dikatakan perebut pacar orang" kata Rinjani yang setuju untuk menanyakan apakah Aris jomblo atau punya kekasih.
"Sip" ujar Aleza.
"Kita tidur yuk gue besok ngajar pagi ini. Mana sekarang udah jam sebelas malam lagi" ujar Rinjani yang sudah merasakan matanya lumayan berat.
Rinjani dan Aleza kemudian memejamkan matanya. Tetapi, Rinjani masih merasakan gelisah yang tak berujung, dia masih kepikiran perkataan dari Aleza tadi. Aleza memang mau dengan Aris, tetapi Aleza ingin memastikan terlebih dahulu apakah Aris jomblo atau udah punya orang lain.
"Gue harus pastikan hal ini dulu. Gue nggak mau nanti Aleza sudah berharap terlalu jauh ternyata Aris udah punya kekasih lagi." kata Rinjani sambil menatap Aleza yang sudah tertidur.
"Aku besok harus ngomong sama Bayu" ujar Rinjani memutuskan dia akan melakukan diskusi dengan Bayu tentang semua ini.
"Kalau Aris udah punya pacar pun gampang aja. Tinggal minta dia mutusin pacarnya selesai masalah" ujar Rinjani sambil tersenyum penuh makna.
"Yup, itu jalan terbaik" ujar Rinjani dengan percaya dirinya.
"saatnya tidur. Gue harus ngomong sama Aris besok. Gue yakin Aleza adalah pilihan terbaik untuk Aris" lanjut Rinjani yang sangat percaya diri kalau Aleza sangat serasi dan pas bersanding dengan Aris.
Pagi harinya Rinjani dan Aleza melakukan rutinitas seperti biasa. Rinjani mengajar sedangkan Aleza hari ini ada perkuliahan selama dua sks.
Sedangkan Bayu dan Aris serta dua orang pelatih lainnya sudah mulai berjibaku dengan kegiatannya sejak subuh. Mereka berempat hari ini mengikuti kegiatan semenjak subuh, padahal biasanya mereka hanya ikut di jam delapan pagi saja. Tadi Bayu merasa badannya sudah agak gendutan makanya dia memilih untuk ikut lari pagi keliling asrama.
Siang harinya, Bayu telah selesai menjalani latihan sesi pagi. Sedangkan Rinjani juga telah selesai mengajar.
"Bang, makan siang di luar yuk. Sekalian ajak Rinjani" ujar Bayu mengajak Aris untuk ikut makan siang dengan dirinya di luar asrama.
"Sip.Tapi tolong katakan ke Jani untuk membawa Aleza sekalian ya." kata Aris yang setuju untuk makan di luar tetapi Rinjani harus membawa Aleza.
"Tumben? Udah ada sesuatu sesuatu kayaknya ini" ujar Bayu menggoda Aris.
"Mencoba peruntungan aja. Mana tau Aleza juga mau kan ya. Apa salahnya di coba" ujar Aris menjawab pertanyaan terselubung dari Bayu.
"Tunggu bentar, emang Abang jomblo?" tanya Bayu yang ragu dengan status Aris.
"Jomblo la kalau nggak jomblo mana mungkin gue ngomong kayak tadi" ujar Aris menjawab keraguan dari Bayu.
Bayu berusaha mengingat sesuatu. Dia ingat betul cerita hari itu antara Aris dengan Rinjani.
"Bukannya waktu itu abang ngomong ke Jani, kalau abang udah punya pacar, masak sekarang bisa langsung jomblo saat kenal dengan Aleza" ujar Bayu mengingatkan Aris tentang ucapannya kepada Rinjani waktu mereka bertemu pertama kali setelah sekian lama tidak bertemu.
"Haha haha, Bayu Bayu, emang Rinjani nggak ngomobg ke kamu, kalau fhoto yang hari itu gue tengok ini ke dia adalah fhoto kakak gue?" tanya Aris kepada Bayu.
"Nggak Bang" jawab Bayu.
"Dianggap nggak penting sama dia itu. Makanya dia nggak cerita sama kamu" lanjut Aris menjawab perkataan dari Bayu.
"Ayuk Bang jalan. Nanti aja di jalan aku telpon Jani supaya bawa Aleza ikut makan siang bareng kita" ujar Bayu mengajak Aris menuju mobil di parkiran.