Its My Dream

Its My Dream
52



Perjalanan yang dilakukan oleh Bayu dan Rinjani saat menuju kota Padang dari Padang Panjang terhambat oleh kemacetan yang terjadi sangat panjang itu. Mereka terjebak macet di daerah yang hampir dekat dengan daerah Lubuak Aluang.


"Ada kejadian apa ya sayang, kok bisa macet timbal balik gini. Biasanya macetnya hanya dari satu arah saja. Ini udah kedua duanya loh sayang" ujar Rinjani melihat mobil di jalur sebelah kanan juga tidak jalan seperti jalur mereka.


"Bener juga ya sayang ada kejadian apa pula kok bisa kedua arahnya macet." ujar Bayu yang juga tidak mengerti kenapa bisa kedua jalurnya terjebak macet dan mengakibatkan mobil antri cukup panjang itu.


Mereka berdua hanya bisa melihat kemacetan yang semakin panjang.


"Coba aja macetnya di dekat ini bumi bisalah kita singgah di sana dulu. Ini masih lumayan dari sana" ujar Rinjani sambil melihat ke kaca sebelah kiri.


"Masih lapar?" tanya Bayu dan memegang tangan Rinjani.


"Lapar sih nggak sayang, cuma ya itu, kalau di sana kan bisa duduk duduk. Nggak kayak gini, menikmati kemacetan gini" ujar Rinjani sambil memainkan jari jari dari Bayu.


"Haha haha haha kita nikmati saja dulu ya sayang. Mau gimana lagi, atau kita putar arah lagi dan ngambil kamar aja di Bukittinggi?" ujar Bayu menawarkan sesuatu kepada Rinjani.


"Ogah sayang. Mending nyampe Padangnya pagi dari pada balik Bukittinggi" ujar Rinjani langsung dengan tegas menolak untuk balik ke Bukittinggi.


"Mana tau kan ya kamu mau. Jadi, kita nginap situ aja" goda Bayu dan menatap wajah Rinjani yang sudah cemberut karena kemacetan panjang yang tidak tahu apa sebabnya.


"Itu kerja ngadi ngadi namanya sayang. Ogah aku kerja kayak gitu." jawab Rinjani menatap ke mata Bayu yang tajam itu.


"Sayang, kamu cari taulah macetnya kenapa. Masak nggak jalan jalan mau sepanjang apa ini macet" ujar Rinjani dan meraih sebuah kantong kresek warna hitam yang di dalamnya ada roti yang telah di potong potong dan siap untuk di santap.


"Bentar" ujar Bayu.


Bayu mencari di ponselnya nomor teman yang bekerja di koramil daerah tempat dia kena macet. Tapi sayangnya tidak satupun Bayu memiliki nomor mereka.


"Nggak ada sayang" jawab Bayu dengan menggeleng kepada Rinjani.


"Nggak apa apa juga, ada pun nggak ada gunanya. Kita tetap nggak akan bisa menjadi yang paling depan antrinya" ujar Rinjani.


Rinjani kemudian memakan sebuah kue bolu gulung dan menikmati rasa coklat yang meleleh dan terasa sangat nikmat itu.


Bayu mengambil satu kue potong milik Rinjani. Dia mencoba jue tersebut.


"Enak sayang" ujar Bayu sambil langsung menghabiskan kue potong yang hanya dibagi dua oleh Bayu.


"Enak lah sayang, namanya juga kue potong beli. Jarang yang beli nggak enak" jawab Rinjani sambil menatap ke wajah Bayu.


"Ada yang beli nggak enak. Tu waktu kau beli pas kita mau pergi ke kayu tanam nganterin kamu kuliah, itu nggak enak banget" jawab Bayu yang ingat waktu itu Rinjani beli kue potong di sebuah toko dan rasanya hem bener bener membuat lidah Bayu bergoyang karena saking banyaknya pengawet dan pewarna sehingga menjadikan kue itu pait luar biasa.


Rinjani berusaha mengingat ingat kapan dia beli kue potong yang nggak enak seperti yang dikatakan oleh Bayu sebentar ini.


"Kapan sayang? Kok aku nggak ingat ya?" ujar Rinjani yang gagal mengingat kapan dia beli kue tapi tidak enak itu.


"Ada hari itu rencanakan kamu pergi sendirian karena aku ada rencana gantiin kawan piket. Ternyata nggak jadi, terus aku ngomong sama kamu beli kue potong ya aku lapar. Kamu beli tu ke ntah di mana yang rasanya di mana mana juga" ujar Bayu berusaha mengingatkan Rinjani tentang kue potong yang dibeli oleh Rinjani saat itu.


Rinjani kembali mengingat.


"Oh yang waktu itu. Aku juga nyesel beli sayang. Akhirnya kebuang aja tu kue semuanya." ujar Rinjani sambil melihat ke arah Bayu.


Mobil di depan mereka sudah mulai bergerak dengan sangat perlahan. Hal yang sama juga terjadi dengan mobil di lajur sebelah.


"Oke sayang" jawab Bayu yang langsung mengemudikan mobilnya dalam kecepatan pelan.


Mobil masih merangkak pelan sampai melewati titik yang mengakibatkan kemacetan lalu lintas selama berjam jam itu. Rinjani dan Bayu saja terjebak macet selama tiga jam dengan jarak dari titik macet lebih kurang empat kilometer.


"Udah jam berapa hari sayang?" tanya Bayu kepada Rinjani.


Bayu sangat yakin kalau sudah tengah malam, karena saat mereka makan di air mancur saja hari sudah pukul setengah delapan malam. Bayu memprediksi mereka sampe Padang paling lambat jam setengah sepuluh, masih jam batas ambang normal untuk masuk kos kosan Rinjani.


"Udah jam dua belas malam sayang. Gimana cara masuk kos tengah malam gini sayang?" ujar Rinjani saat melihat jam tangannya menunjukkan angka sebelas malam.


"Ya nggak mungkin sayang. Dari sini ke Padang aja masih akan ngabisin waktu dua jam lagi. Nggak mungkin kamu masuk kos jam dua pagi. Lagian e hotel juga nggak mungkin. Kita harus kemana ya sayang?" ujar Bayu dengan memelankan laju mobilnya.


"Kita pelan pelan aja. Mana tau nanti sampe Padang jam enam pagi kan ya" ujar Rinjani.


Mereka kemudian melihat penyebab kemacetan yang memakan waktu berjam jam itu.


"Sayang ternyata kebakaran. Mana dua sisi lagi. Makanya macet total kiri dan kanan jalan" ujar Rinjani saat melihat penyebab kemacetan total tadi.


"Kasihan mereka ya sayang. Semoga tidak ada korban jiwa" ujar Bayu menjawab perkataan dari Rinjani tadi.


"Aamiin sayang. Semoga mereka semua dalam keadaan sehat sehat saja. Harta bisa mereka cari, nyawa yang nggak bisa diganti" kata Rinjani sambil menatap ke arah rumah yang mengalami peristiwa kebakaran yang cukup banyak itu.


"Gimana ndak panjang macetnya sayang. Banyak rumah yang kena itu" ujar Rinjani kepada Bayu yang fokus melihat jalan.


"Kita yang macet ngomel ngomel, ternyata ada peristiwa yang lebih menyedihkan dari pada kita yang macet. Nyesel aku ngomel ngomel tadi sayang" ujar Rinjani berkata kepada Bayu.


"Mau gimana lagi sayang. Kita nggak tau sebabnya kan ya. Kalau kita nggak bakalan ngomel ngomel juga" jawab Bayu yang tetap fokus dengan jalan yang mereka lalui.


Mereka kemudian melanjutkan perjalanan menuju kota Padang. Jalanan sudah kembali normal. Tapi Bayu tetap tidak mau menginjak pedal gasnya.


Bayu menargetkan masuk kota Padang pukul enam pagi kalau bisa pukul tujuh pagi saja. Dia tidak mungkin mengantarkan Rinjani jam jam seperti saat ini. Makanya Bayu tidak menginjak pedal gas mobil yang kemudikan oleh Bayu.


"Sayang, kalau ngantuk tidur aja" ujar Bayu kepada Rinjani.


"Nggak sayang. Aku temani kamu saja" jawab Rinjani yang bertahan untuk tidak tidur.


"nanti aja sampe kos baru tidur seharian. Tapi kita makan dulu nanti ya, baru ke kos" ujar Rinjani sambil melihat ke arah Bayu.


"Siap sayang. Kita akan makan dulu, baru pulang. Kalau perlu kita makan lontek di depan puskud yang enak itu" ujar Bayu sambil memegang tangan Rinjani dengan tangan kirinya yang tidak digunakan untuk membawa mobil.


"Keren" ujar Rinjani.


Rinjani kemudian menghidupkan musik mobil, mereka berdua kemudian bernyanyi bersama. Rinjani dan Bayu menikmati kebersamaan mereka hari ini. Mereka berdua benar benar taun sampai tengah malam.


"Perdana jalan tengah malam kita sayang" ujar Rinjani yang mengingat selama ini mereka tidak pernah berkendara selarut malam ini.


"Bener sayang. Kita nikmati aja. Kapan lagi" jawab Bayu sambil tersenyum.


"Bener nikmati aja" kata Rinjani setuju dengan apa yang dikatakan oleh Bayu.