Its My Dream

Its My Dream
42



"Nggak gue nggak cemburu sama loe, malahan gue suka ada loe di dekat Aris." ujar Aleza menjawab perkataan dan kecemasan dari Rinjani.


"Kok bisa loe malahan suka kalau gue dekat dengan Aris?" tanya Rinjani yang tidak tau maksud dari perkataan yang disampaikan oleh Aleza kepada dirinya sebentar ini.


"Iyalah gue seneng, jadi saat dia marah gue bisa tanya elo gimana cara membujuk dia. Nah, saat gue mau marah, gue juga bisa tanya elo marah yang bagus itu seperti apa yang harus gue lakukan kepada Aris" ujar Aleza sambil menahan senyumnya kepada Rinjani.


"Haha haha haha, mau loe kan ya. Supaya loe bisa gampang membujuk dan Aris gampang membujukelo gitu?" tanya Rinjani menyimpulkan apa yang dikatakan oleh Aleza tadi.


"Bener, emang gitu maksud gue, agar gue nggak mabuk mikirin orang ngambek atau marah. Elo kan tau sendiri gimana cueknya gue" ujar Aleza kepada Rinjani.


Saat mereka mengobrol itulah, terdengar suara klakson mobil dari arah luar.


"Sepertinya itu mereka Za, ayuk keluar" ujar Rinjani


Rinjani dan Aleza kemudian mengambil tas ransel yang di dalamnya sudah ada perlengkapan mereka masing masing. Hari ini mereka akan pergi liburan dengan Aris dan Bayu.


"Jadi nitip mobil Bang?" tanya Aleza kepada Aris.


"Bawa ajalah Za. Segan titip di sini, nanti tidak ada tempat parkir untuk motor kawan kontrakan kamu yang lain." ujar Aris kepada Aleza.


Aris kemudian mengambil tas ransel milik Aleza, Rinjani yang melihat hal kecil yang romantis di perlihatkan oleh Aris kepada Aleza membuat dirinya menatap lama kepada Bayu.


"Haha haha" ujar Bayu tertawa saat menerima tatapan dari Rinjani.


"Pengen juga dibawakan tasnya sayang?" ujar Bayu masih bertanya kepada Rinjani, padahal Rinjani sudah memberikan tatapan mautnya kepada Bayu.


"Masih juga tanya. Sayang, sayang, kamu romantisnya kalau aku lagi merajuk atau marah aja" ujar Rinjani sambil memberikan tasnya kepada Bayu.


"Makanya jadi perempuan jangan sensitif banget" ujar Aris sambil mengacak rambut Rinjani.


"Rambut gue gila, susah ini ngerapiinnya, loe cuma bisa ngacak ngacak doang" teriak Rinjani saat Aris mengacak acak rambut Rinjani.


"Udah tetap cantik kok." ujar Bayu berusaha membuat Rinjani tidak mengamuk karena ulah dari Aris.


Bayu membawa Rinjani masuk ke dalam mobil miliknya yang terparkir paling depan. Sedangkan Aris dan Aleza juga masuk ke dalam mobil Aris yang terparkir di belakang mobil Bayu. Mobil Aris adalah pajero sport warna hitam dove.


"Pantesan tadi ngomong nggak muat. Ini aja masuk di gank antar kamar juga nggak akan muat Bang" ujar Aleza yang ingat apa yang dikatakan oleh Aris, kalau mobilnya tidak akan memberikan peluang kepada motor anak anak lain kalau mobil Aris ditumpangkan di kontrakan Aleza.


"Hehe hehe, makanya setiap pergi dengan Bayu, aku malas pake mobil aku dek, bukan karena pelit minyak, tapi karena bodynya besar aja" jawab Aris mengatakan alasan kenapa dia sangat jarang membawa mobilnya saat pergi pergi dengan Bayu dan Rinjani.


"Kamu juga Bang, udah jelas Rinjani malas rambutnya di acak, kamu malah dengan sengaja ngacak rambut dia. Cari lawan terus aja sama Rinjani" ujar Aleza kepada Aris.


Aleza baru kembali teringat dengan apa yang dilakukan oleh Aris tadi kepada Rinjani yang sukses membuat Rinjani hampir saja mengamuk kalau tidak ada Bayu di sana. Bayu selama ini menenangkan Rinjani kalau terus diusuli oleh Aris, walau terkadang Rinjani yang memulai pertengkaran antara Rinjani dan Aris.


"Sekali sekali Dek, kamu nggak cemburu kan ya dengan sikap Abang ke Rinjani?" tanya Aris sambil menatap Aleza dan berharap Aleza untuk tidak cemburu kepada RInjani.


"Cemburu nggak Bang, cuma aku malas kalau Rinjani harus ngamuk terus. Kasian Bayu yang harus terus menenangkan dia. Apa Abang mau mereka putus karena ulah Abang?" tanya Aleza dengan nada serius sambil menatap ke wajah Aris yang sedang fokus membawa kemudi.


"Kok pertanyaannya sampe ke situ?" tanya Aris yang belum mengerti arti dari pertanyaan Aleza itu.


Aleza hanya bisa tersenyum, ternyata dalam diri Aris memang menjaga dan menganggap Rinjani adalah bagian dari keluarganya, adik perempuan kecil yang harus terus dijaga sampai kapanpun oleh mereka berempat.


"Iyalah Bang, Rinjani itu kan kekasih Bayu. Kalau Abang sering mengusili Rinjani dan Bayu bosan dengan sikap Rinjani, mereka bisa saja putus Bang." ujar Aleza menjelaskan kepadaAris.


"Memang Bayu tau kalau Abang sudah menganggap Rinjani sebagai saudara perempuan bahkan adik perempuan, tapi kalau Bayu sudah bosan mau gimana lagikan ya." ujar Aleza menasehati Aris.


"Aku senang Abang dekat dengan Rinjani, Aku tidak akan marah kok, tapi Bayu, kita nggak tau sampai mana batas kesabaran Bayu Bang." lanjut Aleza menasehati Aris.


"Jadi, lebih baik Abang kurangi aja sikap Abang yang suka mengusili Rinjani. Lebih baik Abang bersikap seperti kakak laki laki yang selalu menjaga adiknya dari jauh" ujar Aleza selanjutnya.


Aris mendengarkan semua nasehat dan gambaran yang diberikan oleh Aleza. Aris memilah dan menyaring semua yang dikatakan oleh Aleza. Aris kemudian sampai kepada sebuah kesimpulan.


"Bener dek, apa yang kamu katakan tadi. Sepertinya selama ini aku udah bersikap keterlaluan dan tidak menenggang perasaan Bayu yang kekasih Rinjani" ujar Aris mengatakan apa kesimpulannya kepada Rinjani.


"Mulai sekarang, aku akan mengubah perlakuan aku kepada Rinjani. Gimanapun dia bukan gadis kecil lagi. DIa udah dewasa. Aku juga nggak mau kalau gara gara sikap dan tingkah aku kepada Rinjani, mengakibatkan Rinjani putus dengan Bayu" lanjut Aris.


"Makasi ya, kamu udah mengingatkan dan menegur Aku. Kalau tidak bisa kebabblasan aku nanti" ujar Aris mengucapkan terimakasihnya kepada Aleza yang sudah mengingatkan dia yang sudah bersikap keterlaluan kepada Rinjani.


"Ternyata keputusan Rinjani untuk mengenalkan aku kepada kamu keputusan yang terbaik untuk hidup aku" ujar Aris kepada Aleza.


Aleza heran mendengar pernyataan yang dikeluarkan oleh Aris.


"Maksudnya?" tanya Aleza yang tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Aris tadi.


"Maksudnya, kami berempat dari dulu kan nggak bisa pacaran, karena Rinjani selalu menyeleksi setiap wanita yang dekat dengan kami. Kami tidak bisa asal pacaran saja. Semua harus hasil seleksi Rinjani." ujar Aris mengatakan apa maksud dari pernyataannya tadi.


Aris dan Aleza kemudian melanjutkan obrolan ringan tentang hubungan mereka dan juga tentang bagaimana persahabatan antara Aris dengan keempat sahabatnya yang sudah dianggap Aris sebagai saudara sendiri.


Sedangkan di mobil lain, Bayu melihat Rinjani yang sibuk dengan rambutnya sejak tadi. Bayu hanya geleng geleng kepala dan tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh Rinjani saat ini.


"Sayang, kamu tetap cantik kok" ujar Bayu kepada Rinjani yang masih sibuk menata kembali rambutnya.


"Mana ada cantik rambut acak gini." ujar Rinjani sambil manyun dan air matanya sudah berlinang.


Bayu yang melihat Rinjani hampir menangis karena rambutnya yang nggak mau diatur itu, menepikan mobilnya. Aris yang berada di belakang mobil Bayu, juga menepikan mobilnya. Aris dan Aleza kemudian turun dari dalam mobil. Mereka takut kalau Bayu dan RInjani kenapa kenapa.


Bayu kemudian mengambil sisir, dia mulai merapikan rambut Rinjani dengan lembut. Saat itulah terdengar bunyi ketukan di kaca mobil Bayu. Bayu kemudian menurunkan kaca mobilnya.


"Kenapa Bay?" tanya Aris dari kaca jendela sebelah Bayu.


"Ini Bang, siap ngerapiin rambut Rinjani" jawab Bayu sambil menatap ke arah Rinjani yang hampir menangis tadi karena rambutnya yang nggak mau diatur itu.


"Maafin gue ya. Besok besok nggak akan ngajak rambut lagi" ujar Aris meminta maaf kepada Rinjani karena ulah dia tadi makanya Rinjani jadi sedih dan menangis.


Rinjani mengangguk dia sedang malas berdebat dengan Aris.


"Yuk Bang lanjut jalan, perut gue udah meronta pengen diisi, kita belum makan siang" ujar Bayu sabil melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul tiga sore.


"Sip. Loe lanjut duluan, gue akan mengiringi dari belakang" ujar Aris yang langsung berjalan ke mobilnya.


Aleza yang melihat Aris sudah berjalan lagi ke mobil, dia mengikuti dan juga masuk ke dalam mobil.


"Kenapa Bang?" tanya Aleza yang tadi tidak mendengar apa yang dikatakan antara Aris dan Bayu.


"Rambut tadi juga baru" jawab Aris sambil menatap Aleza.


"Haha haha" Aleza tertawa ngakak.


Aris memandang ke arah Aleza, meminta penjelasan kenapa Aleza sampai tertawa ngakak seperti itu.


"Jelas rambut adalah hal terpenting dari seorang Rinjani, sayang" ujar Aleza yang akhirnya bisa memanggil sayang kepada Aris.


"Udah jangan menangis lagi. Kan udah aku rapikan rambutnya." ujar Bayu kepada Rinjani sambil menatap sayang ke arah kekasihnya itu.


Rinjani tersenyum bahagia karena Bayu sudah menolong Rinjani untuk merapikan rambutnya yang ntah kenapa tadi sangat susah untuk diatur.


"Kenapa tadi menangis karena rambut?" ujar Bayu kepada Rinjani.


"Takut kamu mutusin aku karena rambut nggak mau diatur" jawab Rinjani sambil menundukkan kepalanya dalam dalam.


"Haha haha haha sayang sayang, mana mungkin aku mutusin kamu gara gara rambut. Ada ada aja." jawab Bayu yang nggak habis pikir kenapa Rinjani bisa berpikiran sedangkal itu.


"Sampai saat ini, aku tidak menemukan celah yang bisa membuat aku memutuskan hubungan dengan kamu." lanjut Bayu.


"Malahan aku berdoa terus kepada Tuhan agar kita berdua langgeng terus sampai ke jenjang selanjutnya" jawab Bayu sambil menatap Rinjani dalam.


"Aamiin. Aku juga berharap seperti itu. Aku berharap kita akan terus dan selamanya seperti ini" ujar Rinjani kepada Bayu.


Dua mobil itu tetap melaju ke arah kota Bukittinggi setelah drama rambut Rinjani yang hampir menggemparkan dunia persilatan.


"Kita kemana dulu sayang?" tanya Rinjani kepada Bayu.


"Coba telpon Aleza, apa cari hotel dulu atau makan dulu" ujar Bayu meminta Rinjani untuk menghubungi Aleza.


Rinjani mengambil ponsel miliknya, dia kemudian menghubungi sahabatnya itu yang sekarang berubah menjadi kakak ipar.


"Za, kita cari hotel dulu atau makan dulu? Coba tanya ke Aris" ujar Rinjani langsung ke inti pertanyaan saat Aleza mengangkat panggilan dari dirinya.


"Jani, kata Aris, kita cari hotel dulu, setelah itu makan dan lanjut main" jawab Aleza yang menambahkan kata main di belakang makan.


Aris yang mendengar apa yang dikatakan oleh Aleza hanya tersenyum saja. Aleza bersifat hampir sama dengan Rinjani, tetapi Aleza dalam pemikiran lebih dewasa sedikit dari pada Rinjani. Hal ini membuat Aris akan mudah menghadapi Aleza ke depannya.


"Hotel dulu sayag" ujar Rinjani memberitahukan kepada Bayu kemana tujuan mereka saat ini.


"Oke sip sayang" jawab Bayu menngarahkan mobil menuju salah satu hotel ternama di kota Bukittinggi.


Kedua mobil yang  dikendarai oleh Bayu dan Aris menuju hotel tempat mereka akan menginap setelah itu baru mencari tempat makan.