Its My Dream

Its My Dream
133 Baru



Ranti juga melakukan hal yang sama dengan Rinjani, Ranti juga langsung naik ke atas kasurnya untuk beristirahat, Karena besok dia harus merias wajah Rinjani dari pagi, setelah itu dia ada kuliah sebanyak 8 SKS. Kedua wanita cantik itu kemudian beristirahat. Mereka besok pagi akan melakukan berbagai kegiatan yang akan menguras fisik mereka. Rinjani akan menghadiri acara serah terima orang tua Bayu, sedangkan Ranti akan kuliah delapan sks, perkuliahan yang sangat panjang yang akan dilakukan oleh Ranti besok hari.


Pagi harinya, suara alarm ponsel Ranti membangunkan dirinya yang ternyata tidak tidur di atas kasur lagi, melainkan sudah berada di bagian bawah kasur dengan beralaskan karpet tipis yang dibeli Rinjani dari uang gaji pertama jadi asisten dosen. Ranti melihat Rinjani yang masih terlelap dalam tidur malamnya yang sangat nyenyak itu. Rinjani masih dalam posisi favoritnya saat ini. Posisi yang bisa dibayangkan Rinjani akan sangat susah dibangunkan seperti biasanya.


Ranti memilih untuk membangunkan Rinjani terlebih dahulu, karena Rinjani harus membersihkan badannya sebelum Ranti memakaikan makeup ke wajah cantik Rinjani.


" Ini akan sangat susah, melihat posisinya adalah posisi terfavorit selama ini" ujar Ranti yang sudah bisa membayangkan bagaimana susahnya dirinya untuk membangunkan Rinjani.


"Tapi kalau nggak di coba dan dibiarkan aja, bisa jadi ni anak bangun jam sepuluh bangkan tengah hari" lanjut Ranti yang akhirnya memutuskan untuk membangunkan Rinjani.


Ranti tidak mau sahabatnya itu tidak jadi pergi menghadiri acara serah terima jabatan kedua orang tua Bayu, dan membuat nama Rinjani menjadi jelek di mata kedua orang tua Bayu.


"Jani, ooo Rinjani binti Sayuti, bangun" ujar Ranti membangunkan Rinjani dari tidur panjangnya.


Ranti melihat Rinjani yang sama sekali belum menunjukkan tanda tanda mau bangun dari tidurnya itu. Dia masih terlihat berkutat dengan guling kesayangannya yang masih dengan setia di peluk oleh Rinjani.


"Ini anak bener bener lah ya, kemaren dia ngomong kalau harus di jemput Bayu jam setengah tujuh, sekarang aja udah setegah enam dia masih belum juga bangun" ujar Ranti yang nggak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Rinjani sahabat baiknya itu.


"Sekali lagi loe akan gue bangunin dengan cara baik baik, kalau masih belum juga bangun, maka akan dibangunkan dengan cara kekerasan." ujar Ranti yang akan mencoba sekali lagi membangunkan Rinjani dengan cara baik baik.


"Jani, ooo Rinjani binti basuki, bangun udah jam enam lewat lima belas" ujar Ranti tepat di telinga Rinjani.


Rinjani yang merasakan kalau telinganya sedikit budek karena teriakan Ranti, langsung duduk dari tidur panjangnya itu. Dia sontak bangun saat mendengar teriakan indah dari Ranti tepat di telinganya saat itu.


"Gila loe Ranti, bangunin gue tepat di telinga gue, bisa budek gue tau" ujar Rinjani mengajukan protesnya kepada Ranti, yang tadi membangunkan dirinya sukses dan sangat tepat di telinga Rinjani.


"Loe yang salah, udah gue bangunin baik baik nggak bangun bangun, ya udah sekalian aja gue bikin telinga loe budek." jawab Ranti sambil melemparkan handuk milik Rinjani kepada Rinjani.


Rinjani terlihat masih ingin protes kepada Ranti tentang apa yang dilakukan oleh Ranti saat membangunkan dirinya.


"No protes protes. Loe janji dengan Bayu jam berapa?" ujar Ranti mengingatkan Rinjani kalau dia janjian dengan Bayu di pagi hari bukan siang hari seperti jam jam mereka mau pergi raun.


"Jam setengah tujuh. Sekarang kan baru jam lima, buktinya alarm ponsel gue nggak bunyi" ujar Rinjani yang tidak sadar kalau jarum jam sudah mau menunjukkan pukul enam pagi.


"Gilak loe, ponsel loe mati, loe cas semalam, mana bisa alarm nya hidup. Loe tengok aja itu jam dinding kamar" ujar Ranti meminta Rinjani untuk melihat jam dinding di kamar mereka berdua yang sudah hampir menunjukkan angka enam.


"Loe kok nggak ngomong ke gue kalau udah mau jam enam, gue janji dengan Bayu jam setengah tujuh" ujar Rinjani yang langsung mengambil handuk dan mengambil ember sabunnya dan dengan cepat kilat berlari menuju kamar mandi.


Rinjani melihat ke dua kamar mandi di gank mereka penuh. Rinjani berlari menuju kamar mandi gang sebelah yang lebih banyak. Untung saja saat Rinjani sampai di sana satu kamar mandi kosong dan terlihat tidak ada antrian ember mandi milik penghuni gang terang itu.


"Gue mandi sini aja" ujar Rinjani langsung main masuk ke dalam kamar mandi itu tanpa repot repot berteriak untuk meminta izin memakai kamar mandi milik penghuni gang sebelah.


Rinjani membersihkan tubuhnya dengan secepat kilat. Dia benar benar berkejaran dengan waktu.


"Ini gara gara keenakan tidur, jadi ribetkan urusan" ujar Rinjani yang akhirnya telah selesai mandi dalam waktu lima menit saja tidak lebih tidak kurang. Mandi tercepat yang dilakukan Rinjani dalam tahun ini.


Rinjani kemudian kembali ke kamar. Dia melihat Ranti sudah stanbay dengan alat makeup miliknya yang akan dibubuhkan ke wajah cantik Rinjani.


"Loe pakai dulu gaun loe, setelah itu baru gue makeup wajah cantik loe itu" ujar Ranti meminta Rinjani untuk memakai gaunnya terlebih dahulu setelah itu baru Ranti akan memakaikan make up ke wajah cantik Rinjani.


Rinjani kemudian memakai gaun yang telah disiapkan dan dibelinya kemaren, gaun warna hijau toska yang akan sangat cocok dengan pakaian dinas Bayu. Gaun itu dengan sempurna terbentuk di tubuh ramping Rinjani. Rinjani memang memiliki tubuh yang seksi dan sangat sangat sempurna. Gaun yang dibeli oleh Rinjani jatuh dan menempel dengan sempurna di tubuh Rinjani. Gaun itu seperti memposisikan dirinya sesuai dengan posisi dan bentuk tubuh dari seorang Rinjani


"wow, gaun loe cantik, pas jatuhnya. Kalau pondasinya udah bagus, apapun mau dipakaikan akan tetap bagus ya Jani." ujar Ranti memuji kecantikan dari sahabatnya itu.


"Walaupun karung sekalian tetap cantik juga kan?" ujar Rinjani dengan nada menggoda Ranti


"Ya walaupun karung sekalipun, tetap cantik loe" ujar Ranti yang tau kalau Rinjani sedang menggoda dirinya dengan gaya Rinjani yang memang sudah dihafal oleh Ranti.


"udah udah, sekarang duduk di sini, gue akan mulai pekerjaan gue" ujar Ranti meminta Rinjani untuk duduk di kursi yang sudah disediakan oleh Ranti yang diletakkan Ranti di depan cermin yang akan dipakainya saat dia merias wajah Rinjani


Rinjani kemudian duduk di kursi yang disediakan oleh Ranti. Rinjani duduk di sana dengan tenang. Dia menyerahkan semuanya kepada Ranti. Rinjani mempercayakan semuanya kepada Ranti. Ini bukan kali pertama Ranti memoleskan make up ke wajah cantik Rinjani, sudah beberapakali Ranti melakukan hal itu untuk Rinjani.


Ranti dengan wajah serius memoleskan make up miliknya ke wajah cantik Rinjani. Ranti sama sekali tidak ingin membuat kesalahan dan membuat sahabat terbaiknya itu menjadi malu. Ranti mengerahkan semua kemampuannya. Dia benar benar berkonsentrasi penuh dengan pilihan warna dan gaya yang diberikan di wajah cantik Rinjani itu.


Setelah berkutat dengan wajah Rinjani selama lebih kurang lima belas menit, karena Ranti menerapkan gaya minimalis di wajah Rinjani. Akhirnya riasan itu selesai juga.


"Selesai" ujar Ranti dengan nada bangga saat melihat hasil kerjanya sendiri.


Hasil kerja yang pada akhirnya membuat wajah cantik sahabatnya itu semakin cantik.


"Buka mata loe, lihat hasilnya" ujar Ranti meminta Rinjani membuka mata indahnya.


Rinjani membuka matanya, dia kemudian menatap ke dalam cermin. Cermin itu menampilkan wajah seorang wanita yang sangat cantik sekali, dengan riasan minimalis, dan jilbab yang dibuat gaya kekinian. Ranti benar benar mendandani Rinjani dengan total, tanpe cela sedikitpun.


"Wow cantik banget. Itu gue Ran?" ujar Rinjani dengan nada tidak percaya saat melihat dengan mata kepalanya sendiri pantulan dirinya di dalam cermin itu.


"Ya elo la, siapa lagi" ujar Ranti sambil mengangkat dua jempolnya untuk Rinjani.


Rinjani memeluk Ranti dengan sangat hangat, dia benar benar mengucapkan terimakasih kepada sahabatnya itu. Rinjani sangat susah untuk mengucapkannya tetapi dengan pelukan yang diberikan oleh Rinjani kepada Ranti, Ranti sudah tau kalau itu adalah pelukan ucapan terimakasih yang tulus dari sahabatnya itu. Ranti membalas pelukan Rinjani dengan pelukan yang sama. Kedua sahabat itu sedikit larut dalam pelukan mereka.


"Udah nanti loe nangis rusak riasan gue, sekarang pake sendal elo. Kemudian tunggu kekasih berbaju hijau elo itu. Gue mau mandi dulu" ujar Ranti yang sudah mengambil handuknya.


"Op sabar buk, kita fhoto dulu" ujar Rinjani.


Rinjani mengambil ponsel miliknya, Dia kemudian berfose dengan sahabat baiknya itu.


"Hem mantap, elo paripurna gue pariparna" ujar Ranti sambil tersenyum ke arah Rinjani.


"Hahaha, tenang nggak akan gue up" ujar Rinjani sambil tersenyum kepada Ranti.


Ranti kemudian memasukkan semua peralatan perangnya tadi ke dalam tas, sedangkan Rinjani juga memasukkan bedak dan lipstiknya kedalam tas kecil yang akan dibawanya di acara serah terima kedua orang tua Bayu.


"Gue mandi dulu. Loe hati hati ya" ujar Ranti yang tau kalau dia selesai mandi, Rinjani tidak akan ada di kamar lagi.


"Sip" jawab Rinjani.


Ranti kemudian pergi ke kamar mandi. Dia akan kuliah jam delapan seperempat. Sedangkan Rinjani langsung memilih menunggu Bayu di teras kos kosan saja. Dia tidak mau Bayu lama menunggu dirinya nanti kalau dia masih berada di kamarnya di lantai dua, saat Bayu sudah berada di depan kos.