Its My Dream

Its My Dream
Pagi H - 22



Pagi harinya tepat setelah subuh, Rinjani menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim. Setelah itu, Rinjani mulai membuat sarapan untuk dirinya dan Ranti. Rinjani juga melebihkan untuk Bayu kekasihnya yang katanya akan datang jam sembilan pagi.


Tepat pukul tujuh sarapan yang dibuat oleh Rinjani telah selesai disiapkan. Dia kemudian kembali ke kamarnya. Rinjani manaruh ke dalam alat penghangat nasi untuk Bayu, sedangkan nasi goreng untuk dirinya dan Ranti diletakkan di atas piring, lengkap dengan telur mata sapi dan juga irisan tomat dan lobak.


"Ranti, Ooo Ooo oooo Ranti bangun" teriak Rinjani membangunkan Ranti yang masih bergelut dengan guling kesayangannya yang alhamdulillah sarungnya sampe sekarang belum pernah dicuci cuci oleh Ranti.


"Hem" ujar Ranti membuka sedikit matanya.


Rinjani kemudian memperlihatkan nasi goreng yang dibuat oleh dirinya. Ranti langsung membuka matanya dengan lebar saat melihat nasi goreng yang tersaji di depan matanya. Nasi goreng yang pastinya sangat lezat.


"Apakah itu nasi goreng yang loe buat sendiri?" tanya Ranti kepada Rinjani.


"Siapa lagi? Elo, mana bisa" ujar Rinjani sambil menarik Ranti supaya bangun dari tidurnya.


"Udah bangun, ayuk mandi, terus makan nasi goreng. Gue jam sembilan mau pergi" ujar Rinjani berkata kepada Ranti.


"Cuci muka aja ya" Ranti memberikan penawaran kepada Rinjani.


"Serah loe, penting gosok gigi. Loe mau mandi, mau cuci muka aja, terserah elo, yang penting gosok gigi" ujar Rinjani mengulang kembali apa yang harus dilakukan oleh Ranti.


"Ya ya ya ya" ujar Ranti yang sangat tau kalau Rinjani sama sekali tidak suka melihat orang jorok. Apalagi makan kalau belum gosok gigi.


Ranti pergi membersihkan wajahnya. Sedangkan Rinjani mengambil ponsel miliknya. Dia kemudian menghubungi Bayu kekasihnya.


"Euis ni anak belum bangun kayaknya" ujar Rinjani yang sudah dua kali menghubungi Bayu tapi sama sekali belum ada tanggapan dari seberang.


Rinjani kembali mengulang panggilannya ke nomor ponsel Bayu. Ranti yang masuk melihat ke arah ponsel Rinjani.


"Apa yang terjadi? Dia nggak angkat telpon loe lagi?" tanya Ranti kepada Rinjani.


Rinjani mengangguk.


"Pasti dia tidur dan lupa lagi" ujar Rinjani setengah kesal dan sudah bersedih hati.


Hal itu terlihat jelas dari nada suara Rinjani. Rinjani sebenarnya ingin menangis, tetapi dia tidak mau terlihat terlalu cengeng di depan Ranti.


"Sudah, kalau dia tidak bisa kita berdua yang pergi" ujar Ranti sambil menatap ke arah Rinjani yang air matanya suda mau tumpah.


"Jangan nangis gitu, mari senyum. Pergi dengan gue nggak akan membuat tempat tersebut menjadi berubah kok " lanjut Ranti memberikan semangat kepada Rinjani untuk kembali tersenyum.


"Ada ada aja loe" ujar Rinjani dengan tersenyum kepada Ranti.


Ranti berhasil membuat Rinjani melupakan sedikit sakit hatinya kepada Bayu yang sama sekali tidak mengangkat panggilan telpon dari dirinya.


"Udah sekarang makan. Jam sembilan kita berangkat, tapi pake motor ya?" ujar Ranti kepada Rinjani.


"Nggak masalah" jawab Rinjani.


Rinjani kemudian mulai menyuap sarapannya. Tiba tiba pintu kamar Rinjani di ketuk dari luar. Ranti yang paling dekat dengan pintu kamar membuka pintu tersebut.


"Apa Yen?" tanya Ranti kepada anak kos yang tadi mengetuk pintu kamar Rinjani.


"Hah? Di bawah?" ujar Rinjani kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Yeni


"Beneran kak di bawah. Ini aku dimintai tolong untuk memanggil kakak ke atas" ujar Yeni menjawab pertanyaan dari Rinjani yang kaget kalau Bayu sudah berada di bawah. Padahal tadi di telpon tidak diangkat oleh Bayu.


"Ya udah katakan bentar lagi aku ke bawah" kata Rinjani kepada Yeni untuk meminta menyampaikan pesan dari Rinjani.


"Oke kak" jawab Yeni langsung berlalu dari hadapan Rinjani dan Ranti.


Rinjani kemudian mengambil nasi goreng untuk Bayu yang disimpannya dalam mesin penanak nasi. Rinjani memindahkan nasi goreng itu ke dalam piring, setelah itu Rinjani menyeduh secangkir teh untuk Bayu. Rant melihat semua itu sambil tersenyum.


"makanya sabar jadi orang. Ini nggak main asal tuduh saja. Sekarang orangnya datang langsung ngebut pengen buat sesuatu untuk dia. Dasar loe bro" ujar Ranti sambil memukul pundak Rinjani.


"Gimana lagi. Kalau gagal lagi udah pancasila sama ini gagalnya. Makanya gue langsung sedih dan panik saat dia tidak mengangkat ponselnya" ujar Ranti yang telah selesai menyeduh dan menyiapkan sarapan untuk Bayu.


"Udah sana turun. Biar kamu dan dia bisa berangkat cepat nanti. Mana tau macet kan ya jalan ke sana. Jadi, cepat selesai sarapan, maka cepat pula kalian berdua bisa pergi ke sana" ujar Ranti memberikan nasehatnya kepada Rinjani.


"siap mami" jawab Rinjani sambil tersenyum ke arah Ranti yang memberikannya nasehat panjang lebar itu.


Rinjani kemudian menuju teras kos kosan itu. Dia akan menemui Bayu yang duduk di sana. Rinjani membawa sepiring nasi goreng dan teh hangat yang akan dijadikan menu sarapan oleh Bayu. Menu sarapan yang dibuat oleh Rinjani untuk sarapan mereka sebelum mereka pergi ke tempat main baru yang dikatakan oleh Rinjani.


"Tadi di telpon nggak angkat. Kok sekarang tiba tiba saja udah sampe di sini?" tanya Rinjani kepada Bayu yang sudah duduk manis di kursi yang ada di taman kos tersebut.


"Emang tadi nelpon?" tanya Bayu yang sama sekali tidak mendengar bunyi telpon dari Rinjani.


"Nelpon lah lima kali ntah berapa kali, tapi sama sekali tidak kamu angkat. Ntah apa yang terjadi nggak tau aku." lanjut Rinjani mengatakan berapa kali dia menghubungi Bayu tetapi sama sekali tidak ada tanggapan dari Bayu terhadap panggilannya itu.


"Maaf, mungkin aku tadi sedang mandi kamu nelpon, makanya nggak aku angkat" jawab Bayu yang memang langsung mandi saat baru bangun tidur.


"Jadi sekarang mana ponsel kamu?" tanya Rinjani penasaran dengan keberadaan ponsel Bayu.


"Bentar" ujar Bayu meraba saku saku pakaiannya.


"Kok nggak ada ya sayang? Coba telpon satu" ujar Bayu meminta Rinjani untuk menghubungi ponsel milik Bayu.


Rinjani kemudian menelpon ponsel Bayu. Ponsel Bayu masih tersambung, tetapi sama sekali tidak ada di dalam saku pakaian Bayu.


"tinggal kali di mobil. coba tengok" ujar Rinjani meminta Bayu untuk melihat ke mobil ponsel miliknya.


"Biarin ajalah. Lagian nggak ada juga yang mau nelpon. Kan ponsel aku berbunyi kalau kamu yang nelpon" jawab Bayu yang sama sekali tidak berminat melihat dimana letak ponselnya sekarang.


"Nanti kalau nggak ada di mobil pas kita pergi berarti tinggal di asrama. Itu aja lagi, pusing banget" kata Bayu sambil melihat ke arah Rinjani.


"Iya ya. Ngapain harus di lihat sekarang tu ponsel. Kita juga mau naik mobil nanti" Rinjani setuju dengan apa yang dikatakan oleh Bayu.


"udah sarapan dulu. Aku ganti pakaian dulu ke atas ya." ujar Rinjani yang sudah menaruh makanan dan minuman di meja makan.


"sip." jawab Bayu.


Bayu kemudian menikmati sarapan yang dibuat oleh Rinjani. Setelah melihat Bayu makan, barulah Rinjani masuk kembali ke dalam kos untuk menukar pakaiannya dengan pakaian bepergian.