Its My Dream

Its My Dream
Siang H - 18



Rinjani yang telah selesai dengan semua kegiatan perkuliahannya dan juga sudah merapikan semua barang barangnya berjalan keluar dari dalam ruang kelas perkuliahan. Rinjani menutup pintu ruangannya itu.


"Seharusnya selesai jam tiga, tetapi karena ada keperluan terpaksa di gabung" ujar Rinjani sambil tersenyum karena sudah melaksanakan kegiatan perkuliahannya sebanyak enam sks hari ini walaupun terpaksa di gabung oleh Rinjani dalam satu kelas besar, karena Rinjani memiliki suatu kesibukan yang tidak bisa dielak oleh dirinya untuk tidak datang ke acara itu.


"Untung saja Pak Nung mengerti kalau tidak habis gue" ujar Rinjani yang sangat bersyukur memiliki seorang dosen yang mengerti dengan keadaannya dan mengizinkan Rinjani untuk menggabung tiga kelasnya dalam satu kelas besar.


Rinjani berjalan menuju tempat abang abang penjual nasi goreng yang tadi di pesan oleh Rinjani. Rinjani kali ini kembali memakai lift khususu dosen untuk bisa cepat sampai di parkiran. Rinjani harus cepat cepat ke tempat penjual nasi goreng, karena takut akan terlambat sampai di tempat Bayu dan ujungnya akan terlambat sampai di rumah Papap. Rinjani tidak ingin Mamah sibuk sendirian sedangkan dirinya masih sempat sempatnya berleha leha dalam melaksanakan aktivitasnya hari ini. Rinjani tidak ingin hal itu terjadi.


"Bang, apa udah selesai nasi goreng pesanan saya tadi?" tanya Rinjani sambil memilih untuk duduk di sebuah kursi yang masih kosong. Rinjani melihat abang abang penjual nasi goreng masih sibuk dengan wajan dan juga sutilnya dalam mengolah dan mengaduk nasi goreng satu kuali besar.


"Wah maaf buk dosen cantik, lupa." ujar abang penjual nasi goreng yang memang lupa dengan pesanan yang sudah di pesan oleh Rinjani dari tadi pagi. Abang nasi goreng berkata dengan wajah tanpa dosa dan penyesalan karena sudah melupakan pesanan nasi goreng Rinjani untuk kekasih hatinya yaitu Bayu.


"Yah Bang. Aku mesan supaya saat aku sampai di sini sudah bisa langsung aku bawa pulang, nggak pake acara nunggu nunggu lagi. Ternyata sekarang aku masih harus menunggu lagi" ujar Rinjani yang kesal mendengar jawaban yang diberikan oleh abang abang penjual nasi goreng.


"Abang gimana coba" ujar Rinjani yang kesal dengan apa yang sedang terjadi pada saat ini.


Rinjani yang memesan dari pagi supaya tidak harus menunggu lagi, terpaksa harus menunggu kembali untuk mendapatkan sebungkus nasi goreng untuk Bayu. Hal yang berusaha dihindari oleh Rinjani tetapi ternyata sama sekali tidak bisa dan membuat Rinjani memang harus menunggu lagi.


"Berapa bungkus lagi Bang?" ujar Rinjani dengan nada kesal dan ketus. Sudah hilang entah kemana rinjani yang sangat baik dan tidak jutek sama sekali. Tetapi sekarang malah kebalikannya.


"Satu penggorengan lagi Buk" jawab Abang abang penjual nasi goreng yang kaget saat mendengar nada bicara Rinjani yang tidak lagi ramah kepada dirinya, melainkan sudah sangat ketus sekali.


Salah seorang mahasiswa yang tadi kuliah dengan Rinjani, mendengar nada Rinjani yang berbicara sangat tahu kalau Rinjani marah dan kesal dengan apa yang dilakukan oleh penjual nasi goreng kepada Rinjani.


"Buk, kalau ibuk perlu cepat silahkan ambil pesanan saya dulu buk, tidak apa apa" ujar Mahasiswa itu.


"Apa bener boleh begitu?" ujar Rinjani yang sangat senang mendengar apa yang dikatakan oleh mahasiswa itu kepada dirinya.


"Bener buk, silahkan duluan saja" ujar mahasiswa meyakinkan Rinjani kalau dirinya memang mengizinkan Rinjani untuk mengambil pesanannya.


"Bang pesanan saya kasih ke buk dosen saja, pesanan saya setelah ini saja" ujar mahasiswa memberitahukan kepada abang abang penjual nasi goreng untuk memberikan pesanannya kepada Rinjani terlebih dahulu baru nanti pesanan dirinya sewaktu pesanan Rinjani dapat giliran.


"Sip" ujar abang abang penjual nasi goreng yang setuju untuk memberikan pesanan mahasiswa tadi kepada Rinjani terlebih dahulu.


"Terimakasih anak muda, kamu sudah menyelamatkan saya dari amukan buk dosen cantik itu yang ternyata juga bisa marah" ujar abang abang penjual nasi goreng dengan berbisik.


Abang abang penjual nasi goreng menyiapkan pesanan Rinjani. Abang abang penjual nasi goreng melebihkan acar timun yang disukai oleh Rinjani. Hal ini di sebabkan karena Bayu juga sangat suka acar timun yang di buat oleh abang abang penjual nasi goreng tersebut.


"Buk Dos, ini pesanannya" ujar abang abang penjual nasi goreng memberikan satu bungkus pesanan nasi goreng yang telah selesai di masak oleh dirinya.


Rinjani memberikan uang untuk membayar nasi goreng yang dibeli oleh Rinjani dan mahasiswa yang tadi memesan nasi goreng.


"Sekalian untuk pria baik hati dan tampan itu Bang" ujar Rinjani sengaja memuji kebaikan dari mahasiswa yang tadi sudah memberikan pesanan dirinya kepada Rinjani.


"Makasi Buk" jawab mahasiswa yang sudah dibayarkan nasi gorengnya oleh Rinjani.


"Sama sama, saya duluan ya" ujar Rinjani


Rinjani melangkahkan kakinya menuju mobil yang masih terparkir di lapangan parkir di bawah gedung perkuliahan lima lantai itu. Rinjani melihat tidak ada satu pun satpam yang sedang duduk di pos jaga mereka. Rinjani kemudian memilih untuk masuk ke dalam mobilnya.


Rinjani mengemudikan mobilnya yang sudah lama sekali tidak dikemudikan oleh Rinjani. Singat Rinjani dia mengemudikan mobil itu terakhir pada waktu dia berangkat ke Padang Panjang tanpa diantar oleh Bayu. Pada saat itu Rinjani membawa mobil dalam kecepatan sedang. Setelah kejadian itu baru ini Rinjani yang membawa mobilnya kembali, selama ini dia selalu di antar jemput oleh Bayu atau paling tidak menaiki taksi online maupun ojek online.


Rinjani mengemudikan mobil dalam kecepatan sedang, dia tidak ingin terlambat sampai di kantor Bayu untuk mengantarkan nasi goreng kesukaan Bayu itu. Nasi goreng yang penuh dengan drama kolosal untuk mendapatkannya.


Dalam mengemudikan mobilnya menuju kantor Bayu yang sebenarnya berada di depan kampus Rinjani, tetapi karena harus mengikuti aturan berlalu lintas membuat perjalanan itu menjadi sedikit lebih panjang karena Rinjani harus berbelok dulu lumayan jauhnya. Sehingga jarak yang sebenarnya dekat menjadi lumayan jauh karena Rinjani harus memutar terlebih dahulu.


"Huft, harusnya tadi nggak bawa mobil, jadi bisa langsung nyebrang aja" ujar Rinjani yang ngedumel sendiri menyesal telah membawa mobilnya menuju kantor Bayu.


"Tetapi kalau nggak bawa mobil pake apa mau pergi ke rumah Mamah nantinya. Ngadi ngadi aja aku ini" lanjut Rinjani yang menyesal dengan apa yang dikatakan oleh dirinya tadi.


Rinjani kemudian memilih untuk serius dan fokus mengemudikan mobilnya. Jalanan sangat ramai sekarang, lain dari pada biasanya, sehingga untuk berpindah jalur saja di jalan raya Rinjani membutuhkan waktu yang sangat lama.


"Huft kenapa jalanan juga sedang tidak bersahabat dengan gue" ujar Rinjani yang kesal dengan apa yang terjadi kepada dirinya sekarang ini.


Jalanan sama sekali tidak bersahabat dengan dirinya. Jalanan begitu ramai sehingga membuat Rinjani sama sekali tidak bisa mengemudikan mobilnya dalam kecepatan sedang. Apalagi sekarang untuk memutar saja dia harus bersabar dan menunggu mobil sampai benar benar memberikan peluang bagi dia untuk berpindah jalur.


"Heran gue, orang orang ini mau kemana coba. Kenapa mereka seperti ingin pergi semua, ingin melakukan aktifitas semuanya. Kesal banget" ujar Rinjani yang masih belum puas dengan apa yang dikatakan oleh dirinya tadi dan kembali mengulang apa yang ingin dikatakan oleh dirinya dengan cara marah marah dan memaki maki sendiri orang orang yang memakai mobil mereka sendiri untuk pergi kemana mereka mau.


"Loh gue kok marah marah nggak jelas gini coba. Mereka pergi dengan mobil mereka, kenapa gue yang marah marah. Goblok gue kayaknya tertular dari mereka" ujar Rinjani yang sudah sadar dengan apa yang telah dilakukan oleh dirinya. Dia sudah marah marah tidak jelas sehingga membuat dirinya pusing sendiri dengan apa yang telah dikatakan oleh dirinya sendiri sebentar ini.


Sebuah kesempatan datang kepada Rinjani untuk Rinjani bisa menyeberang ke jalanan arah sebelahnya. Rinjani sama sekali tidak menyia nyiakan kesempatan itu untuk berpindah jalur. Rinjani dengan sigap masuk dan berpindah ke jalan sebelah. Dia kemudian melajukan mobilnya menuju kantor Bayu.


"Akhirnya kesempatan itu datang juga" ujar Rinjani yang sudah berhasil berpindah ke lajur sebelah.


Rinjani kemudian melajukan mobilnya dalam kecepatan sedang menuju kantor kesatuan Bayu. Rinjani terpaksa menggunakan aplikasi penunjuk arah agar bisa sampai di kantor kesatuan Bayu dengan tepat tanpa harus pakai nyasar ke tempat tempat lainnya. Rinjani sebenarnya sudah pernah ke sana, tetapi dia sudah sangat lupa gang masuk masuknya karena begitu banyak di komplek kesatuan itu gedung gedung yang sama. Sehingga membuat Rinjani akan susah menemukan dimana sebenarnya kantor Bayu.