
"Kak Jani kenapa dari tadi mondar mandir kayak seterikaan aja kak, sampe pusing aku nengok kakak kayak gini" ujar Dian yang dari tadi matanya melihat Rinjani yang berjalan mondar mandir seperti seterikaan yang sedang digunakan itu.
"Dian, kakak pusing, siapa yang akan jagain Ranti di rumah sakit, kakak besok harus pergi ke Padang Panjang. Kakak ada ngajar si sana. Minta tolong kawan lainnya nggak mungkin juga" kata Rinjani memberitahukan kepada Dian kenapa dirinya mondar mandir kayak seterikaan aja dari tadi.
Dian juga terlihat berpikir. Dia besok ada kuliah dari pagi sampai sore. Anak anak kos lain juga sama, mereka pasti memiliki kesibukan sendiri.
"Kalau telpon keluarga kak Ranti aja gimana kak?"
"Nggak bisa Dian. Mereka semua jarang mau mengurus Ranti yang sedang sakit. Malahan waktu itu pernah, Ranti sakit demam berdarah dan harusnya di rawat di rumah sakit, e e e e e sama keluarganya di bawa pulang. Untung aja tu anak nggak koit" ujar Rinjani memberitahukan kejadian yang terjadi waktu mereka baru semester satu kuliah.
"Wah ngeri juga. Apalagi kali ini Kak. Nggak usah ajalah telpon, kasian kak Ranti nanti"
Mereka berdua kembali berpikir serius. Rinjani tidak mungkin membatalkan pertemuannya di kampus itu. Minggu kemaren dia juga tidak masuk karena sakit halangan. Minggu ini tentu dia harus masuk.
Sedangkan Dian, dia besok ada perkuliahan dengan dosen yang jatah liburnya sudah dipakai semua oleh Dian. Tentu Dian juga wajib masuk kuliah.
Bram yang melihat kedua mahasiswanya itu sedang berpikir keras, mendekati tempat duduk Rinjani dan Dian.
"Apa yang kalian pikirkan?" tanya Bram kepo dengan melihat wajah serius kedua mahasiswi itu.
"Kami memikirkan dengan siapa Ranti akan tinggal di rumah sakit Pak"
"Loh, kenapa kalian memikirkan itu?" tanya Bram yang kaget mendengar penyebab Rinjani dan Dian menjadi terdiam.
"Gimana nggak kami pikirkan Pak. Saya besok ada kegiatan mengajar di Padang Panjang, sedangkan Dian wajib kuliah. Anak kos lain pasti sama. Makanya kami berdua berpikir keras dengan siapa Ranti akan di rumah sakit" ujar Rinjani menjelaskan apa yang dipikirkannya kepada Bram.
"Oooi. Itu yang kalian berdua pusingkan. Ranti , saya yang jaga. Jangan risaukan itu" ujar Bram kepada Rinjani dan Dian.
"Tapi bukannya Bapak besok ngajar?" tanya Rinjani yang juga nggak mau menyusahkan dosennya itu.
"Nggak. Saya tidak ada jadwal. Lagian saya bisa ngajar lewat zoom meeting. Jadi, kalian berdua nggak usah risaukan siapa yang akan menemani Ranti di rumah sakit. Saya yang akan jaga dia"
"Makasi banget Pak. Kami nggak tau lagi mau minta tolong sama siapa" ujar Rinjani bersyukur karena dosen Bram mau menjaga Ranti di rumah sakit.
"Kalau begitu, kan sudah aman. Kalian berdua boleh balik ke rumah lagi. Saya akan di sini menjaga Ranti" ujar dosen Bram meminta Rinjani dan Dian untuk pulang ke kos kosan mereka.
"Kami titip Ranti ya Pak" ujar Rinjani.
Mereka berdua kemudian pergi meninggalkan rumah sakit. Mereka akan kembali ke kos. Rinjani harus menyiapkan pakaiannya untuk pergi selama enam hari.
"Semoga kak Ranti cepat sembuh kak" ujar Dian saat mereka sudah berada dalam taksi online menuju kos.
"Aamiin, Yan, besok loe pulang kuliah ke rumah sakit ya, kalau Ranti belum pulang." ujar Rinjani meminta Dian untuk ke rumah sakit melihat keadaan Ranti.
"Oke Kak. Besok gue ke rumah sakit lagi, melihat keadaan kak Ranti" ujar Dian yang setuju untuk datang ke rumah sakit melihat keadaan Ranti setelah selesai kuliahnya.
Taksi online berhenti di depan kos kosan wanita yang sangat terkenal di daerah itu. Rinjani dan Dian keluar dari dalam taksi online.
"Dari mana Jani?" tanya salah seorang anak kos yang sedang pacaran di halaman kos.
"Ranti masuk rumah sakit kak. Sekarang sedang di rawat di sana" ujar Rinjani menjawab pertanyaan dari kakak seniornya.
"Kenapa Ranti?" tanya yang lain yang sedang duduk duduk di bawah pohon jambu air.
"Dia tadi berguling di tangga kampus kak. Nah setelah itu dia merasakan pusing di kepalanya. Tiba tiba Ranti jatuh pingsan. Kata dokter yang memeriksa dia harus di rawat untuk memastikan keadaan kepalanya" ujar Rinjani menceritakan kepada beberapa penghuni kos yang ada di halaman kos kosan.
"Semoga Ranti cepat sembuh. Semuanya besok habis kuliah jam dua kita ke rumah sakit menjenguk Ranti, Dian akan menjadi penunjuk tempat Ranti di rawat" ujar Kak Yanti yang ditunjuk sebagai ketua kos tersebut.
"Oke kak. Siap" ujar mereka kompak.
"Sekarang Ranti dengan siapa di sana Jani?" tanya kak Yanti.
"Itulah Kak. Besok kan aku harus mengajar si kampus luar. Dian juga ada kuliah pagi. Akhirnya Ranti di jaga oleh Dosen Bram" ujar Rinjani.
"Dosen Bram? Siapa dia Jani?" tanya Kak Yanti.
"Dosen di kampus kak. Dia dosen yang di tabrak Ranti sehingga mereka berdua berguling guling ke lantai" ujar Rinjani memberitahukan siapa dosen Bram.
"Single kan ya?" tanya Yanti memastikan kalau Bram masih single bukan suami orang.
"Masih kak. Malahan belum punya pacar. Menurut pengakuan Bram ke aku, kalau dia suka sama Ranti" ujar Rinjani mengatakan status Bram yang masih single dan ternyata suka sama Ranti.
"Oh Oke sip. Kita bisa tenang sekarang" ujar Yanti yang yakin kalau dosen Bram tidak akan mungkin berbuat yang aneh aneh kepada Ranti.
Rinjani dan Dian melanjutkan langkah kaki mereka menuju kamar masing masing. Mereka akan membersihkan diri yang baru pulang dari rumah sakit.
Tiba tiba saat Rinjani mengambil perlengkapan mandinya, ponsel miliknya bergetar. Panggilan masuk dari Bayu. Rinjani mengangkat panggilan itu.
"Hay sayang, ada apa?"
"Nggak ada apa apa sayang. Heran aja, kamu nggak ada ngasih kabar ke aku semenjak selesai istirahat siang"
Bayu menatap wajah kekasihnya.
"Loh kok masih nyandang handuk, kamu belum mandi? Udah jam berapa ini sayang" ujr Bayu dengan nada tinggi saat melihat Rinjani masih menyandang handuknya. Apalagi Bayu melihat Rinjani masih memakai pakaian pagi tadi.
"Belum sayang. Aku baru balik rumah sakit" jawab Rinjani sambil menatap wajah kekasihnya itu.
"Siapa yang sakit? Kamu? Kenapa?" Bayu mengeluarkan rentetan pertanyaan untuk Rinjani. Bayu takut sesuatu terjadi kepada Rinjani. Bayu tidak menginginkan hal itu terjadi.
"Nanti ceritanya ya. Yang jelas aku sehat sehat saja. Nggak ada sakit apa pun. Nanti lanjut telpon ya. Aku mandi bentar. Malam kali nanti lagi."
"Oke. Nanti siap mandi langsung video call ya. Kangen ne" ujar Bayu sambil memonyong monyong kan mulutnya.
"Ye. Udah ah nanti aja lanjutin. Aku mandi bentar"
Rinjani menutup panggilannya dengan Bayu. Setelah itu Rinjani masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya terlebih dahulu. Nanti dia akan menghubungi Bayu kembali.
Rinjani mandi dengan bergegas, dia tidak mau Bayu lama menunggu. Bisa bisa Bayu tumbuh tanduk saat Rinjani menghubunginya kembali. Rinjani mengambil makan malam yang sempat di belinya tadi di depan rumah sakit. Sebungkus ayam geprek yang rasanya ntahlah hanya tukang masaknya yang tau.
Rinjani kemudian mengambil ponsel miliknya. Dia menghubungi Bayu kekasihnya yang sedang duduk duduk ngopi ngopi dengan para pelatih lainnya.
Bayu berjalan agak menjauh dari pendengaran semua rekan rekannya itu.
"Hay sayang, udah selesai mandinya?" tanya Bayu saat dia mengangkat panggilan video dari Rinjani.
"Udah sayang. Ini rencana mau makan malam. Kamu udah makan malam?" tanya Rinjani kepada Bayu.
"Udah sayang, tadi di asrama. Kamu makan pake sambal apa? Jangan bilang ayam geprek lagi"
"Haha haha haha. Bener sayang, mau makan apa lagi coba. Jelas kalau dari luar yang aku beli memang ayam geprek kalau nggak pical ayam" ujar Rinjani menjawab apa yang dikatakan oleh Bayu.
"Kamu memang nggak lepas dari itu sayang. Tapi untunglah dari pada makanan siap saji atau yang instans instan itu kamu makan tiap hari" ujar Bayu yang sangat suka menggoda Rinjani itu.
Rinjani menyuap makanannya tepat di depan wajah Bayu. Bayu tertawa renyah melihat kelakuan kekasih hatinya itu.
"Kamu bener bener lah sayang. Ada ada aja yang akan kamu lakuin" ujar Bayu menatap ke wajah kekasihnya itu.
"Kamu ngapain sendirian di situ sayang. Dilarikan hantu kamu nanti" ujar Rinjani yang melihat Bayu sendirian duduk saat hari sudah malam itu.
"Mana ada sendiri rame ini sayang"
Bayu mengarahkan kameranya ke arah rekan rekan sesama pelatih yang sedang duduk di meja belakang Bayu. Rinjani melihat ke wajah rekan rekan Bayu. Salah satu dari rekan Bayu itu sangat familiar wajahnya oleh Rinjani.
"Sayang, itu bukannya Aris ya sayang?" ujar Rinjani kepada Bayu.
"Kamu kenal Aris sayang?"
Bayu menatap heran ke arah Rinjani.
"Kenal sayang. Dia sahabat masa kecil aku yang memang udah jadi tentara juga. Tapi ngapain dia di sana ya. Perasaan dia nggak dinas di sana" ujar Rinjani lagi sambil menatap Bayu.
Rinjani tetap sibuk dengan makanan yang ada di depannya itu.
"Biar pasti itu sahabat lama kamu atau tidak sayang, aku ke sana ya. Biar kamu bisa lihat wajahnya." ujar Bayu sambil berjalan menuju tempat rekan rekan pelatihnya yang lain.
Bayu berjalan menuju rekan rekannya yang ada di meja sebelahnya.
"Sayang, ini yang namanya Aris." ujar Bayu kepada Rinjani.
"Siapa Bay?" tanya Aris kepada Bayu.
"Kata pacar Saya dia sahabat lama Abang" ujar Bayu kepada Aris.
"Gue punya sahabat lama perempuan cuma satu orang Bay. Namanya"
"Aris"
Teriak Rinjani saat dia melihat wajah sahabat lamanya itu di layar ponselnya. Bayu dan Aris yang mendengar teriakan Rinjani sontak menatap ke layar ponsel Bayu.
"Woi Jani. Kemana aja loe. Gue sama yang lain cariin elo. Gila loe ya, kabur dari Sijunjung nggak ngomong ngomong. Loe kira kami berlima nggak nyariin elo apa" ujar Aris berteriak kepada Rinjani.
Semua rekan rekan Bayu yang lain menatap ke arah Bayu. Bayu mengangkat pundaknya nggak tau apa yang terjadi.
"Woi kutu kupret peak. Nggak bisa loe ngomong pelan pelan. Nggak malu loe sama pakaian yang loe pake" balas Rinjani kepada Bayu yang dari tadi tereak tereak kayak orang di hutan.
Aris menatap ke empat rekan rekannya yang menatap heran ke arah Aris.
"Sorry ndan" ujar Aris yang pangkatnya lebih tinggi satu garis dari pada keempat rekan rekannya itu.
"Mampus loe somplak. Makanya jangan pake teriak teriak kayak di hutan gitu." ujar Rinjani menertawakan Aris.
"Sayang, emang Bang Aris seperti ini ya, dulunya?" tanya Bayu.
"Dilarang ngomongin orang depan orang nya sayang"
Bayu tersenyum mendengar apa yang dikatakan Rinjani. Dia tahu Rinjani nggak mau ngomong dengan orang lain kalau dia sedang ngomong dengan Bayu.
"Besok jam berapa kamu berangkat sayang?" tanya Bayu yang sudah kembali menjauh dari rekan rekan nya itu.
"Jam sepuluh dari sini sayang. Kalau siang banget nanti nggak bisa ketemu kamu lagi."
"Besok jemput aku dimana sayang? Apa aku langsung aja ke tempat kamu latihan?" tanya Rinjani yang nggak tau dia harus kemana besok menemui Bayu.
"Aku jemput aja sayang. Kamu turun di bank nagari pasar aja. Nanti aku jemput ke sana ya" kata Bayu membuat kesempatan dimana dia akan menjemput Rinjani.
"Sip. Nanti kalau aku udah sampe silayiang bawah, aku telpon kamu ya" ujar Rinjani lagi.
"Oke sip. Kamu udah pak pak barang sayang?"
"Belum, ini mau di pak ke koper kecil. Kita udahan dulu ya telponnya. Kamu lanjutin ngobrol aja dengan yang lain dulu. Aku mau pak barang" ujar Rinjani yang paham dengan kode yang diberikan oleh Bayu kepada dirinya.
"Sip sayang. Besok kalau udah mau jalan kasih tau aku ya."
"Oke sayang ku. Titip salam untuk manusia kupluk yang tadi ya" ujar Rinjani.
"Oke. Muach"
"Muach"
Rinjani memutuskan panggilannya dengan Bayu. Rinjani kemudian memasukkan barang barangnya ke dalam sebuah tas ransel kecil yang selalu menemani Rinjani kemana dia pergi pergi. Rinjani sangat pandai mengepak barang. Orang nggak akan tau kalau pakaian yang ada dalam tas Rinjani bisa muat untuk enam hari.
Setelah selesai memasukkan barang barangnya ke dalam tas ransel miliknya. Rinjani menyiapkan semua bahan perkuliahan termasuk flashdisk miliknya yang sudah ada bahan tayang untuk mengajar.
Rinjani memastikan kembali semua barang barang yang akan dibawanya. Setelah yakin tidak ada yang tertinggal Rinjani naik ke atas kasurnya. Dia akan beristirahat malam. Besok dia akan memasak sarapannya sebelum dia pergi ke kota Padang Panjang.
"Yah tidur sendirian. Ranti sedang ngapainnya? gimana keadaannya ya?"
"Semoga aja dia baik baik saja dan tidak perlu mendapat tindakan yang aneh aneh. Kasihan dia." ujar Rinjani yang tiba tiba ingat dengan sahabat satu kamarnya itu
Rinjani terlelap dalam tidurnya, dia memeluk boneka boba yang baru dibelikan oleh Bayu. Hari ini adalah hari yang melelahkan bagi seorang Rinjani. Mulai dari perkuliahan yang full, Ranti yang kecelakaan, membawa Ranti ke rumah sakit, sampai menyiapkan semua barang dan bahan bahan untuk perkuliahan di kota Padang Panjang.