
Mobil yang dikemudikan oleh Josua melaju dengan kecepatan sedang menuju hotel yang letaknya berjarak kurang dari satu kilo dari rumah dinas papap. Tetapi karena harus memutar membuat jaraknya menjadi sedikit jauh dari pada seharusnya.
"Akhirnya sampai" ujar Mamah.
Mamah, Rinjani dan Ranti kemudian turun dari dalam mobil. Josua terlihat memberikan kode kepada Mamah. Mamah mengangguk tersenyum kepada Josua.
'Ada apa ini? Kenapa Mamah dan Josua terlihat main kode kodean. Apa ada sesuatu yang sedang mereka sembunyikan dari aku?' ujar Rinjani menebak nebak dalam hatinya atas kejadian apa yang sedang terjadi di depannya pada saat ini.
"Ayuk masuk sayang" ujar Mamah mengajak Rinjani untuk masuk ke dalam hotel.
Saat Rinjani masuk ke dalam hotel saat itulah sepasang anak kecil memakai pakaian persit dan pakaian dinas lapangan tentara memberikan Rinjani satu buket bunga favorit Rinjani dan satu boneka.
Rinjani menatap heran ke arah sepasang anak kecil itu.
"Hay ini untuk aku?" tanya Rinjani kepada kedua anak tersebut.
"Ya. Ini untuk tante cantik" ujar anak laki laki menjawab pertanyaan dari Rinjani.
"Wow aku bahagia. Terimakasih banyak" ujar Rinjani mengambil boneka dan buket bunga itu.
Mamah tersenyum, dia sudah bisa menebak siapa yang telah melakukan hal ini kepada Rinjani. Hal. Romantis yang sama sekali tidak terbayangkan oleh Mamah bisa dilakukan oleh putranya itu.
"Tante ayo kita masuk" ujar anak laki laki kecil itu membimbing tangan Rinjani untuk masuk ke dalam ruangan tempat diadakannya acara.
Ranti yang melihat ke arah Mamah mendapatkan kode dari Mamah kalau yang melakukan semuanya itu adalah Bayu. Ranti akhirnya tersenyum dan tahu kalau semua ini adalah ide dari Bayu.
Saat Rinjani membuka pintu ruangan tempat akan diadakannya acara, Rinjani dikagetkan oleh berjatuhan kelopak mawar putih yang membuat Rinjani menjadi sangat kaget dan merasa sangat bahagia karena mendapatkan penyambutan yang seperti itu.
"Mah," ujar Rinjani menatap ke arah Mamah Bayu.
Nada suara Rinjani sudah bergetar seperti menahan tangis. Rinjani benar benar tidak mengerti lagi apa yang harus dilakukannya saat ini.
"Nikmati saja sayang" jawab Mamah sambil tersenyum ke arah Rinjani.
Rinjani akhirnya hanya bisa mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Mamah kepada dirinya. Dia hanya bisa menikmati dan juga menjalani apa yang akan disajikan oleh orang orang saat ini kepada dirinya.
Tuan dan Nyonya Bramantya yang sudah duduk di kursinya menatap takjub ke arah Rinjani yang berjalan masuk itu. Tak terasa air mata Nyonya Bramantya menetes saat melihat Rinjani.
Mamah, Rinjani dan Ranti berjalan masuk melewati karpet merah. Semua tamu undangan berdiri menyambut Rinjani yang baru saja datang. Semua wajah menatap takjub ke arah Rinjani yang berpenampilan luar biasa cantik pada hari ini. Rinjani yang ditatap dengan sedemikian rupa oleh semua orang membuat Rinjani menjadi sangat gerogi untuk berjalan masuk. Dia terlihat menatap ke semua orang yang ada di sana dengan tatapan yang membuat dirinya menjadi sedikit gerogi dan juga takur untuk terus masuk ke dalam tempat acara.
Saat Rinjani sibuk dengan pikirannya, mata Ranti tidak berhenti mencari seseorang di tengah tengah keramaian itu. Ranti hendak mencari wajah kekasih hatinya, Siapa lagi kalau bukan Bram. Ranti menatap satu persatu wajah orang orang yang tidak memakai pakaian dinas tentara itu. Setelah mencari dan memilah milah setiap wajah yang nampak di sana, akhirnya mata Ranti berserobok dengan mata kekasihnya itu. Bram sedang duduk satu meja dengan Ryan dan juga Josua serta dua orang lagi.
"Hay apa yang loe lihat?" ujar Rinjani saat melihat Ranti menatap penuh makna ke arah sebuah meja.
"Itu" ujar Ranti sambil menunjuk ke arah Bram yang sedang duduk dengan empat orang tentara yang berpakaian biasa itu.
Rinjani menatap kearah yang ditunjuk oleh Ranti. Rinjani melihat dua orang yang memang sudah sangat di kenal oleh dirinya. Sedangkan saat menatap ke dua pria yang berbadan tegap dan memakai kaca mata itu, perasaan Rinjani sedikit berdesir seperti Rinjani mengenal dekat dua orang itu.
'Kenapa dada ini berdesir saat melihat dua orang pria itu ya? Siapa mereka?' ujar Rinjani yang merasakan hati dan perasaannya sedikit ada gangguan dan merasakan kalau orang yang berada di dekat mereka itu adalah orang orang yang benar benar membuat Rinjani merasa kenal dengan mereka berdua.
Rinjani menatap lama ke arah kedua pria tampan yang memakai kaca mata hitam itu. Rinjani menatap lama ke arah kedua pria tersebut, ke dua pria yang ditatap oleh Rinjani berusaha bersikap acuh saja, mereka sangat yakin Rinjani tidak akan mengenali mereka berdua karena mereka memakai kaca mata.
'Ternyata benar apa yang dikatakan Ibuk, kita memang harus memakai kaca mata' ujar kedua ajudan dengan kompak di dalam hati mereka tanpa sempat mereka mengatakan dengan suara keras.
Rinjani yang sama sekali tidak bisa menebak siapa kedua orang itu pada akhirnya kembali menatap lurus ke arah panggung. Tetapi hati dan pikirannya sedang tidak sinkron. Rinjani merasa kalau hati ini sedang di tarik tarik oleh medan maghnet yang lain, tetapi Rinjani tidak tahu apa itu yang membuat hati dan pikirannya menjadi tidak sinkron seperti sekarang ini.
Mamah dan Papap bisa melihat apa yang terjadi terhadap calon menantu mereka itu. Rinjani benar benar terlihat memiliki beban pikiran dan perasaan sendiri yang sama sekali tidak bisa digambarkan oleh Rinjani dengan sangat jelas.
"Kenapa Jani? Kamu sepertinya sedang memiliki pemikiran yang tidak ada jawabannya?" ujar Mamah bertanya kepada calon menantunya itu.
"Bener mah, seperti ada sesuatu yang membuat hati Jani menjadi tidak nyaman. Jani seperti akan bertemu dengan seseorang yang sangat penting bagi Jani. Tapi Jani nggak tau siapa itu" ujar Rinjani yang pada akhirnya mengatakan apa yang ada di dalamĀ pikirannya saat ini.
Mamah menatap ke arah Papap. "Belum saatnya" ujar Papap dengan cara berbisik kepada Mamah.
Mamah mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Papap kepada dirinya. Mamah tidak mungkin mengatakan hal ini kepada Rinjani. Mamah sebenarnya sangat kasihan dengan keadaan Rinjani seperti ini, tetapi apa mau dikatak, Rinjani memang belum saatnya tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Apa lagi sekarang acara sudah berubah drastis. Bayu mengambil alih acara yang sebelumnya disusun oleh Mamah, ternyata tadi siang ada perombakan acara dengan Bayu yang membuat acara itu. Tetapi pada dasarnya ada beberapa acara yang memang sudah dibuat oleh Mamah yang sama sekali tidak di ubah oleh Bayu.
"Sudah sayang, kamu jangan berpikiran macam macam ya. itu hanya perasaan kamu saja" ujar Mamah meminta Rinjani untuk tidak berpikiran macam macam.
"Iya Mah, aku akan berusaha untuk tidak berpikiran macam macam" jawab Rinjani yang memang sedang berusaha untuk menetralkan kembali pikirannya yang sedang kacau seperti sekarang ini.
"Mamah yakin kamu bisa" ujar Mamah memberikan semangatnya kepada Rinjani
"Makasi mah" ujar Rinjani sambil tersenyum kepada mamah