Its My Dream

Its My Dream
Malam H - 18 Kejutan Untuk Bayu



Bayu yang mengendarai mobilnya dalam kecepatan sedang berusaha memfokuskan dirinya dengan fokus ke jalan. Bayu sangat tahu kalau sekarang Rinjani pasti sedang mencemaskan dirinya. Hal ini disebabkan karena Bayu berjanji untuk pulang pada pukul tiga sore. Sedangkan sekarang sudah pukul empat sore Bayu masih belum juga sampai di rumah, hal ini dikarenakan Papap meminta Bayu untuk menjemput sahabat lama Papap yang datang berkunjung ke kota Padang tempat Papap dan Mamah sekarang berdinas.


"papap ngasih tahu nya udah lambat pula." ujar Bayu yang setengah kesal dengan perintah yang diberikan oleh Papap.


Tetapi Bayu tidak akan pernah menolak apa yang diperitahkan oleh kedua orang tuanya kepada dirinya. Sesibuk apapun Bayu kalau sudah kedua orang tuanya yang meminta dia melakukan sebuah pekerjaan maka Bayu pasti akan melakukan pekerjaan itu. Bayu tidak akan mengecewakan kedua orang tuanya dengan mengatakan tidak atau menolak apa yang diminta oleh kedua orang tua Bayu. Bayu tidak akan melakukan hal itu, bagi Bayu selagi dia masih sanggup dan mampu mengerjakan apa yang diminta oleh kedua orang tuanya, maka Bayu pasti akan melakukan semua pekerjaan itu dengan sebaik baiknya. Dia tidak mau membuat kedua orang tuanya menyesal atau bersedih karena Bayu menolak melakukan apa yang mereka minta.


Papap dan Mamah juga seperti itu, mereka akan meminta bantuan kepada Bayu kalau memang mereka merasa kalau Bayu memang bisa melakukan hal itu, serta mereka dalam kondisi sibuk sehingga tidak bisa melakukan apa yang harus mereka lakukan itu. Tetapi kalau mereka masih bisa dan mampu untuk melakukannya sendirian maka Papap dan Mamah tidak akan meminta bantuan kepada Bayu, mereka akan menyelesaikan sendiri apa yang harus mereka selesaikan pada saat itu.


Bayu tadinya ingin mengirim pesan kepada Rinjani, tetapi Papap mengatakan kalau sahabatnya itu sudah mendarat di bandara, sehingga mau tidak mau Bayu harus mengemudikan mobilnya dalam kecepatan penuh, sehingga membuat Bayu tidak mungkin menggunakan ponsel saat sedang berkendara, bisa bisa nyawanya hilang karena bermain ponsel sambil membawa mobil dalam kecepatan penuh, suatu hal yang tidak akan mungkin dilakukan oleh Bayu. Bayu berjanji akan memberitahukan dan juga akan memberikan pengertian kepada Rinjani kalau dirinya tadi tidak sempat mengirimkan pesan kepada Rinjani karena dia harus berkejaran dengan waktu menuju bandara yang lumayan jauh dari kesatuannya itu.


"Kekasih hati gue itu pasti akan paham dengan penjelasan gue nantinya" ujar Bayu yang sangat percaya kepada Rinjani. Rinjani tidak akan membiarkan Bayu celaka di jalanan hanya karena harus mengirimkan pesan kepada dirinya, sehingga Bayu sangat yakin kalau Rinjani nya itu tidak akan marah kepada dirinya karena tidak memberitahukan kepada dia kenapa Bayu tidak pulang sesuai dengan jadwal yang sudah dikatakan oleh Bayu kepada dirinya


"Dia akan semakin marah kalau gue mengirim pesan chat sambil membawa mobil dalam kecepatan wow" lanjut Bayu berusaha menghibur dirinya saat ini.


Bayu tadinya mau mengajak Josua untuk menemani dia pergi ke bandara, tetapi karena Josua juga dibutuhkan di rumah sehingga Bayu membatalkan niatnya itu. Bayu akhirnya memilih untuk berangkat sendirian saja menjempu teman lama Papap ke bandara.


"Kalau ngajak josua kan ada teman mengobrol, masak ini dari tadi gue ngomong sendirian aja kayak orang separo gobelok" ujar Bayu yang dari tadi memang hanya berbicara sendirian saja tanpa ada lawan bicara yang harus diajaknya berbincang bincang.


"Tapi kalau diajak, kasihan Ryan kerja sendirian" lanjut Bayu yang sadar kalau kerjaan di rumah pasti sedang banyak karena keluarga mereka akan mendoa untuk keselamatan Bayu nanti malam. Mendoa yang menurut Bayu waktu nya kecepetan tetapi bagi mamah dan papap tidak ada yang kecepetan asalkan niatnya sama


"Waduh kenapa aku sampai lupa siapa namanya tadi ya?" ujar Bayu yang lupa nama orang yang akan dijemputnya ke bandara itu


"Mampuslah gue" lanjut Bayu yang mulai sedikit panik karena tidak ingat nama orang yang akan di jemputnya itu ke bandara.


Saat Bayu mulai panik itulah dia melihat ada kertas di kursinya. Dia meraih kertas itu dan melihat sudah ada nama orang yang akan dijemputnya ke bandara.


"Ais gobloknya gue" ujar Bayu yang memang sudah menerima kertas dengan nama orang atau teman lama Papap yang akan dijemputnya ke bandara itu.


Bayu kembali melajukan mobilnya dalam kecepatan tinggi. Bayu memilih untuk berkendara di jalan baypass saja karena kalau dia masuk atau berjalan di jalan ibu kota maka dia akan banyak diberhentikan oleh lampu merah dan juga kemacetan yang harus dihadapinya, hal itu akan berkibat kepada teman Papap yang akan semakin lama menunggu Bayu di bandara. Bayu tidak ingin hal itu terjadi. Makanya Bayu lebih memilih untuk melaju di jalan baypass yang rata rata berjalan lebar dan mobil lumayan tidak banyak berada di sana, jadi Bayu bisa melajukan mobil sportnya dalam kecepatan tinggi.


"Papap kadang ntahlah tapi baalah, masak iya teman lamanya datang Papap bisa sampai lupa. Ada apa coba" ujar Bayu berargumen sendirian dengan apa yang terjadi.


Tak terasa perjalanan yang seharusnya memakan waktu satu setengah jam itu bisa dilalui oleh Bayu hanya dalam waktu satu jam saja. Bayu sudah berada di parkiran bandara. Bayu kemudian mengambil selembar kertas yang sudah bertuliskan nama dari teman Papap yang akan di jemputnya. Bayu membaca nama itu.


"Bramantya?" ujar Bayu berusaha mengingat nama Bramantya yang rasa rasanya pernah di dengar oleh Bayu


"Rasanya pernah dengar nama ini tetapi dimana ya?" ujar Bayu yang lupa dimana pernah mendengar nama Bramantya disebut sebut oleh seseorang kepada dirinya.


"Aku baru tahu kalau Papap punya teman namanya Bramantya" ujar Bayu berusaha mengingat ingat dimana dia pernah mendengar nama Bramantya disebut sebut.


"Ah nanti ajalah pikir nama Bramantya itu nggak penting juga sekarang harus tahu siapa Bramntya, lebih baik sekarang pergi ke terminal kedatangan lagi" ujar Bayu yang sudah berada di luar mobil.


Matahari sudah mulai condong ke arah barat. Sesuai dengan perintah yang diberikan oleh Papap tadi, Bayu harus mengantarkan teman lama Papap itu ke hotel Santika. Mereka berdua akan menginap di sana, besok Papap yang akan langsung menjemput teman lamanya itu ke hotel untuk di bawa ke rumah dinas mereka.


"Papap ini aneh, katanya teman lama, tetapi di tunda pula untuk ketemu" ujar Bayu yang tidak paham dengan jalan pikiran Papap.


Bayu kemudian menuju terminal ke datangan dalam negeri. Bayu melihat begitu banyak para penumpang yang sedang menunggu jemputan mereka. Bayu kemudian mengangkat tinggi tinggi kertas yang sudah bertuliskan nama Bramantya dari Bali.


Seorang pria yang seusia dengan Papap dan berbadan tegap serta seorang perempuan yang Bayu yakin kalau itu adalah istri dari pria itu berjalan menuju Bayu, mereka tidak hanya berdua saja, tetapi juga ada dua orang pria berbadan tegap mengiringi Tuan dan Nyonya Bramntya dari belakang.


"Mereka orang penting juga ternyata" ujar Bayu yang sangat yakin kalau orang yang sedang di jemputnya ini bukanlah orang sembarangan melihat di kawal oleh dua orang pemuda berbadan tegap dan memakai stelan serba hitam dan kaca mata hitam. Salah seorang dari mereka terlihat sedang mendorong troli yang di atasnya penuh dengan koper dan kardus kardus yang bertema Bali seperti kardus oleh oleh dari


"Kamu Bayu Anggara, anak dari Kadek Dewa Anggara?" ujar Tuan Bramantya bertanya kepada Bayu.


"Benar, Nama saya adalah Bayu Anggara. Tuan yang bernama Bramantya dari Bali?" ujar Bayu memastikan terlebih dahulu kalau dirinya menjemput orang yang benar bukan orang yang salah.


Bayu tidak ingin nanti Papap menjadi murka karena Bayu menjemput orang yang salah dan membiarkan sahabatnya atau teman lamanya itu luntang lantung di bandara.


"Tepat sekali, saya adalah Bramantya teman lama Papap kamu saat kami masih sama sama pendidikan akmil di magelang." ujar Bramantya memperkenalkan siapa dirinya kepada Bayu.


"Oh berarti om tentara juga?" ujar Bayu yang ternyata tebakannya benar.


"Ya begitulah" ujar Bramantya


"Oh lupa perkenalkan ini istri om" ujar Bramantya memperkenalkan istrinya kepada Bayu.


"Maaf nak Bayu, tante harus pakai kacamata karena sedang sakit mata, takutnya nanti memindah ke Nak Bayu" ujar istri dari Bramntya yang ternyata sedang sakit mata sehingga harus memakai kaca matanya hari ini.


"Tidak apa apa tante, tante boleh memakainya kok" ujar Bayu.


"Oh ya Om kalau begitu mari kita jalan." ujar Bayu mengajak Bramantya dan istrinya untuk langsung ke mobilnya.


'Untung saja gue bawa mobil mini bus, kalau sedan, kemana mau gue tarok tu ajudan satu lagi' ujar Bayu dalam pikirannya saat dia mensyukuri kalau hari ini dia membawa mobil minibus berangkat ke kesatuannya.


'Papap ini memang lah ya bikin gue mabuk saja terus' ujar Bayu yang kesal kenapa Papap memberitahukan harus menjemput sahabat lamanya saat dia harus pulang.