Its My Dream

Its My Dream
25



"Sayang kita kemana sekarang" tanya Rinjani kepada Bayu saat mereka dalam perjalanan ke mobil yang di parkir di parkiran hotel.


Hotel yang ditempati Rinjani bukanlah hotel hotel besar seperti yang terdapat di Bukittinggi. Sebuah hotel sederhana yang hanya bintang dua saja, tetapi untuk Rinjani bintang tidak jadi masalah asalkan ada air hangatnya. Bagi Rinjani air hangat lah menjadi prioritas utama untuk menginap di hotel.


"Ka tempat aku melatih gimana? Sekalian kamu aku kenalin dengan rekan rekan aku yang lainnya" kata Bayu sambil menggenggam tangan Rinjani dengan mesra.


Mereka berdua saling bergenggaman tangan menuju mobil. Bayu sama sekali tidak pernah melepaskan genggaman tangannya terhadap Rinjani. Bagi Bayu menjaga keselamatan Rinjani adalah prioritas utamanya.


"Gimana?" tanya Bayu sekali lagi, karena belum mendapatkan respon apa apa dari Rinjani.


"Oke setuju. Aku pengen tengok pula gimana bentuk latihannya." ujar Rinjani yang memang penasaran dengan bagaimana bentuk latihan dari tentara itu.


Mereka berdua kemudian masuk ke dalam mobil, Bayu mulai mengemudikan mobil menuju tempat Bayu melatih tentara baru tersebut. Kegiatan yang akan dilakukan Bayu sampai hari Jumat.


Perjalanan dari hotel tempat Rinjani menginap dengan tempat latihan Bayu hanya berjarak lima belas menit perjalanan dengan mobil. Jarak yang sangat dekat. Kalau tidak karena jalan yang harus memutar, maka mereka bisa lebih cepat sampai di sana.


Bayu memarkirkan mobilnya di parkiran mobil yang dikhususkan untuk para pelatih yang datang dari luar.


Bayu dan Rinjani keluar dari dalam mobil. Mereka berjalan menuju tempat tentara tentara baru yang sedang latihan menembak itu. Beberapa tentara memberikan hormat kepada Bayu. Bayu membalasnya. Ada juga tentara yang menganggukkan kepalanya saat Bayu berselisih jalan dengan mereka.


Setelah berjalan selama tiga puluh menit, Bayu dan Rinjani sampai juga akhirnya di tempat latihan menembak tersebut.


"Kamu duduk di sini aja ya. Aku ke sana dulu" ujar Bayu meminta Rinjani untuk duduk di bawah tenda.


Tenda yang dikhususkan untuk pelatih kegiatan ini. Rinjani kemudian duduk di sebuah kursi yang ada di sana. Rinjani melihat kursi tersebut dan tersenyum.


"Yah dulu menemani Ayah melatih duduk di kursi seperti ini. Sekarang menemani kekasih hati. Nasib gue nggak beranjak dari berbaju loreng" ujar Rinjani sambil duduk di kursi tersebut. Rinjani mengenang masa masa dia menemani Ayah pergi latihan menembak, dimana setelah semua tentara selesai menembak maka Rinjani akan mengumpulkan selongsong peluru untuk dijadikan mainan.


Rinjani melihat Bayu yang berjalan ke arena tembak. Dia terlihat mengobrol dengan seseorang. Rinjani bisa melihat orang itu dari belakang. Rinjani merasa kenal dengan pria tersebut. Bayu dan pria tersebut berjalan menuju Rinjani.


"Aris" ujar Rinjani saat melihat siapa yang berjalan dengan Bayu.


"Pantesan tadi gue ngerasa kenal sama seseorang yang sedang ngobrol dengan kekasih gue. Ternyata elo. Masih hidup loe?" kata Rinjani nyerocos seperti mobil yang kehilangan rem.


"Wow serius elo Rinjani?" tanya Aris sambil melihat dengan detail sahabat lamanya yang terkenal tomboy itu sewaktu mereka sekolah.


Aris tidak menyangka kalau Rinjani bisa berubah secepat ini dari gaya berpakaiannya. Aris mengira Rinjani akan selamanya menjadi seperti laki laki. Ternyata tidak, sahabatnya itu sekarang telah berubah total. Rinjani sekarang sudah berpenampilan layaknya seorang perempuan. Dia benar benar terlihat sangat cantik.


"Serius lah. Emang loe kira gue hantu gitu, yang sedang berdiri di depan elo dengan cantiknya" ujar Rinjani sambil memandang dengan emosi kepada Aris.


"Santay bro. Ngapain loe di sini? Nggak bosan bosannya elo nengok tentara latihan sejak kecil?" ujar Aris mengolok olok Rinjani.


"Sampai sampai udah sebesar ini masih nengok tentara latihan nembak." lanjut Aris kepada Rinjani.


"Gue ke sini nemanin kekasih hati gue kerja" ujar Rinjani sambil menarik Bayu untuk berdiri di sebelahnya.


"Yakin Bayu, mau sama dia? Kalau tau aslinya loe pasti lari terbirit birit Bayu" ujar Aris sambil mulai menjahili Rinjani.


Aris, Riki, Eka dan Deri dari dahulunya selalu menjahili Rinjani. Mereka berempat tidak bisa melihat Rinjani menikmati hidupnya. Selalu ada saja yang mereka buat supaya Rinjani marah dan menjadi emosi kepada mereka.


"Aris, stop awas loe cerita yang nggak nggak sama Bayu. Gue bunuuuh di tempat loe Bayu" ujar Rinjani yang dari dulunya mengeluarkan ancaman yang sama setiap harinya.


"Haha haha haha, ini udah yang keratusan berapa gue mati karena loe bunuh Rin. Cari yang lainlah lagi ancamannya." kata Aris sambil melihat ke arah Bayu.


"Rin rin rin, nama gue Rinjani. Bukan rini atau rina. Enak aja loe nyingkat nyingkat nama gue jadi rin. Jani kalau ndak Ranjani" ujar Rinjani yang mulai naik emosinya gara gara Aris yang memanggil namanya dengan rin rin.


"Haha haha haha, Bayu serius loe tahan sama dia?" ujar Aris kepada Bayu.


"Arissssssss. Beneran gue bunuh loe ya. Jangan bikin emosi gue jadi naik Aris" ujar Rinjani menahan amarahnya untuk tidak menabok Aris di depan tentara tentara baru itu.


"Sabar sayang. Bang Aris kelihatannya sengaja menjahili kamu." kata Bayu menenangkan Rinjani yang sudah mulai tersulut emosinya gara gara ucapan dari Aris.


"Bener sayang, dia karena nggak laku makanya dia kayak gitu sayang. Dasar Aris nggak laku laku" giliran Rinjani mengejek Aris.


"Laku ya, pengen nengok kekasih gue?" tanya Aris sambil memperlihatkan Walpepar ponselnya kepada Rinjani.


"Alah palingan itu ngambil di internet. Mana ada cewek secantik itu suka sama kamu yang usil bin jahil kayak gini" kata Rinjani yang sukses membalikkan keadaan melawan Aris.


"Yah tadi Bang Aris sekarang kamu sayang. Kapan selesainya" ujar Bayu sambil geleng geleng kepala melihat kelakuan dua orang yang katanya sudah dewasa itu. Tetapi ternyata ya masih belum.


"Dia yang mulai duluan sayang. Kalau dia nggak mulai, aku juga nggak akan balas" kata Rinjani yang tetap tidak mau disalahkan oleh Bayu.


Bayu kemudian duduk dengan pasrah di kursi tempat Rinjani duduk tadi. Dia memandang dua orang sahabat yang baru bertemu itu. Bayu tidak menyangka pertemuan mereka akan memancing keributan.


"Haha haha sayang sayang. Ini baru satu sahabat lama aku yang ketemu sama kamu sayang. Kalau yang tiga lagi hadir, akan lebih menggila lagi sayang" ujar Rinjani sambil tersenyum melihat ke arah Bayu.


"Jadi, memang begini terus kalau ketemu?" tanya Bayu tidak menyangka dengan apa yang di dengarnya barusan.


"Ya memang seperti ini. Mau seperti apa lagi. Aku dan keempat pria itu memang akan selalu seperti ini kalau bertemu" ujar Rinjani sambil menatap Aris.


"Benerkan Ris?" tanya Rinjani kepada Aris.


"Yup. Akan lebih gila lagi Bay. Untung loe ketemu gue duluan. Kalau ketemu Riki, wah lain lagi dia" ujar Aris melihat Bayu yang sudah terduduk pasrah di kursi.


"Gue baru tau Bang, Rinjani banyak sahabat laki laki. Gue nggak nyangka aja. Pantesan dia dengan tenangnya lewat di depan tentara ramai tanpa grogi" ujar Bayu yang baru menyadari semuanya.


"Apa dia nggak ngomong kalau dia juga terlahir sebagai anak kolong?" tanya Aris kepada Bayu.


"Nggak sama sekali Bang. Dia cuma ngomong kalau dia dari sijunjung. Dia nggak ngomong sama sekali kalau dia adalah anak dari seorang tentara juga" kata Bayu sambil menatap Rinjani.


"Huek huek huek. Muntah gue nengok loe berdua. Sana Bay, bawa dia makan siang dulu. Loe setengah hari ini abang bebasin dari ngelatih" ujar Aris sambil tersenyum melihat ke arah sepasang kekasih itu. Aris bahagia Rinjani mendapatkan kekasih yang baik dan penyayang seperti Bayu.


"Malam nanti loe berdua gue traktir makan malam. Bawa dia ke restoran kemaren Bay. Kita cerita cerita udah lama gue nggak ngobrol sama kekasih hati loe itu. Nanti gue kenalin dia sama kekasih hati gue yang bentar lagi jadi istri gue" ujar Aris yang meminta Bayu dan Rinjani untuk makan malam bareng sama dirinya.


"Idih calon istri. Ngimpi ketinggian banget Bray" ujar Rinjani yang kembali mau ribut dengan Aris.


"Sayang udah. Kamu ini, Bang Aris udah diam kamu lagi yang mulai" kata Bayu yang nggak habis pikir dengan sikap Rinjani dan Aris.


"Oke sip. Aku diem. Tapi bilang sama dia ya sayang, kalau ngimpi jangan ketinggian" ujar Rinjani yang masih tetap berusaha mengejek Aris.


"sayang" tegur Bayu sekali lagi kepada Rinjani.


"iya iya maaf" ujar Rinjani dengan gaya mengunci mulutnya rapat rapat.


"Aku ke sana lagi ya. Jangan lupa Bay, bawa dia jam setengah delapan ke restoran kemaren. Gue tunggu kalian berdua di sana" kata Aris mengingatkan janji temu mereka nanti malam.


"Oke Bang" jawab Bayu


Aris berlalu dari hadapan mereka berdua. Aris sangat bahagia melihat Rinjani yang sekarang sudah berubah total. Aris berencana untuk memberitahukan ketiga sahabatnya tentang perubahan dari seorang Rinjani.


"Sayang, kamu nggak ngucapin terimakasih ke senior kamu yang udah nge bebasin kerja kamu setengah hari ini?" kata Rinjani mengingatkan Bayu untuk mengatakan terimakasih kepada Aris.


"Lupa sayang" ujar Bayu.


"Makasi Bang. Abang memang terbaik" ujar Bayu sambil bersorak karena Aris yang sudah menjauh. Untung saja Rinjani mengingatkan dia, kalau tidak tentu Bayu tidak akan mengatakan terimakasih kepada Aris yang telah membebastugaskan Bayu setengah hari dari kegiatan melatih.


Aris mengangkat tangannya dan memberikan jempolnya kepada Bayu.


Bayu dan Rinjani meninggalkan tempat latihan. Mereka akan pergi makan siang. Sebenarnya Rinjani belum lapar, tapi dia tahu kalau Baylaparu pasti sedang lapar.


"Mau makan siang dimana?" tanya Bayu kepada Rinjani.


"Kafe di kayu tanam itu yok sayang. Kayaknya keren" ujar Rinjani yang baru saja melihat sosial medianya yang menampilkan kafe yang sedang viral itu.


"Makan mie rebus aja gimana?" tanya Bayu sambil melihat ke arah Rinjani.


"Mie rebus dimana? Mie rebus tempat maren itu?" tanya Rinjani yang pernah sekali di bawa Bayu makan ke warung penjual indomie yang enak itu.


"Yup. Kita makan di sana. Gimana?" ujar Bayu menawarkan kepada Rinjani untuk mau makan mie di tempat yang ditunjukkan oleh Bayu.


"Emang kamu udah makan? Pake mau makan mie rebus segala" tanya Rinjani memastikan apakah Bayu sudah makan siang atau belum.


"Udah tadi pas waktu istirahat siang." jawab Bayu


"Oke lah mau. Mari kita ke sana. Aku juga pengen makan mie. Malas makan nasi. Terlalu berat untuk perut aku" ujar Rinjani sambil memegang perutnya.


"Gaya, padahal biasanya ngomong, kalau belum makan nasi sama saja dengan tidak makan. Ee ee ee sekarang, malah sebaliknya, bisa ngomong kalau nasi berat untuk perutnya." kata Bayu samnil menatap penuh cinta kepada Rinjani.


Bayu menghidupkan mobilnya dan mengemudikan mobil itu menuju warung mie rebus yang enak dan terletak di daerah dingin tersebut.


"Sayang, kok bisa kamu manggil abang ke Aris. Padahal Aris itu seumuran dengan kita loh" ujar Rinjani.


"Lah sayang ya harus manggil abang lah. Dia kaka tingkat aku di akmil. Makanya aku manggil dia abang. Umur boleh sama sayang, tapi angkatan berbeda" kata Bayu menjelaskan kepada Rinjani kenapa dia sampai harus memanggil abang kepada Aris.


"Oo oo, aku kira kamu seleting dengan Aris sayang, ternyata beda" ujar Rinjani yang baru tahu akan hal itu.


"Sayang kok kamu nggak pernah cerita kalau kamu punya empat sahabat laki laki ke aku?"


"Karena aku rasa nggak penting sayang. Aku kira kamu nggak akan bertemu dengan salah satu dari mereka. Ee ee ee ternyata kamu malah ketemu dengan yang paling gesrek. Aku aja kalau ketemu dia pusing sayang" ujar Rinjani mengatakan alasan kenapa dia tidak pernah cerita tentang keempat sahabat laki laki dirinya.


"Jadi yang tiga lagi dimana?" tanya Bayu yang penasaran dengan cerita ketiga sahabat Rinjani.


"yang tiga lagi. Riki ya jadi tentara juga, bedanya di angkatan laut sekarang di Surabaya. Kedua Eka, nah dia buka kafe sesuai dengan cita citanya di pekanbaru. Terakhir ini yang paling jauh melesetnya, namanya Deri, dia sekarang jadi perawat ntah bagian apa itu di RSUD Sijunjung" ujar Rinjani memberitahukan kepada Bayu keadaan tiga sahabatnya yang lain.


"Deri yang sama kamu jatuh waktu bawa motor itu?" tanya Bayu sambil menatap Rinjani.


"Wah wah wah, ini pasti kerjaan si Aris. Benerkan sayang Aris yang ngasih tau" kata Rinjani sambil menatap Bayu lekat lekat.


Bayu mengangguk.


"Dasar tu kutu, nggak bisa apa mulutnya dijaga, main asal jeplak aja" ujar Rinjani yang kesal dengan mulut lemes Aris.


"Haha haha haha, sayang sayang, apapun itu, itu bagian dari kamu yang dulu. Asal jangan sekarang aja kamu bawa motor terus kecelakaan. Bisa mati berdiri aku" ujar Bayu yang mulai lagi kebiasaannya itu.


"yaya yaya yaya. Gaya mati berdiri, padahal langsung cari lagi" kata Rinjani sambil menjulurkan lidahnya kepada Bayu.


Tak terasa karena obrolan obrolan ringan mereka berdua, Bayu berbelok masuk ke parkiran warung penjual mie rebus. Mereka benar benar akan makan mie sore hari ini.


Bayu dan Rinjani masuk ke dalam warung, Bayu memesan dua mangkok mie dan dua gelas es teh. Mereka kemudian menyatap mie rebus yang telah di masak oleh koki.


"Kenyang" ujar Rinjani sambil mengusap perutnya yang kekenyangan karena selesai makan mie rebus.


"Kita ke wisma dulu ya sayang, aku mandi bentar, nanti setelah itu baru ke hotel kamu" kata Bayu yang sudah gerah memakai pakaian latihannua itu.


"oke sip. Aku nurut aja mana yang baiknya" jawab Rinjani.


Bayu kemudian mengarahkan mobil menuju wisma. Dia akan mandi dan tukar pakaian terlebih dahulu sebelum bertemu dengan Aris yang akan mentraktir mereka makan malam.