
Bayu melajukan mobil menuju kota Padang Panjang kembali. Tetapi sebelum menuju padang Panjang, mereka akan singgah terlebih dahulu untuk membeli bika dan singgang yang tadi di pesan oleh Aris saat Bayu akan mencari Rinjani.
"Kok mau maunya kamu beliin bika dan singgang untuk Aris sayang?" tanya Rinjani yang ntah kenapa berpikir seperti itu. Rinjani hanya asal mengeluarkan statemen kepada Bayu.
"Tadi tu, saat aku panik cari kamukan ya, Aris ngomong aku boleh libur ngelatih sehari ini. Tapi ada syaratnya" ujar Bayu menjawab perkataan dari Rinjani.
"Hah pake syarat? Emang pendaftaran pake syarat segala" ujar Rinjani menyela perkataan Bayu dengan nada setengah tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Bayu.
"Jadi syaratnya apa?" tanya Rinjani lagi penasaran dengan pengajuan syarat dari Aris kepada Bayu.
"Bika dan singgang" jawab Bayu sambil menatap ke arah jalan yang masih padat merayap itu.
"Harus pulak di talago tu?" tanya Rinjani yang mengingat Bayu minta untuk berhenti di situ
"Yupi. Katanya Bika dan singgang talago" jawab Bayu sambil mengangkat jempolnya da memberikan kepada Rinjani.
"Ais dasar kutu kupret tu orang. Udahlah mintak gratis pake nentuin pula tempatnya" ujar Rinjani memaki Aris yang menitip pake harus beli di warung yang mana.
"Sayang, biarin ajalah. Lagian kita pulangnya juga lewat situ kok ya. Nggak harus muter kemana mana dulu" ujar Bayu yang nggak mau Rinjani marah marah kepada Aris.
"Ya lah sayang. Senior kamu." ujar Rinjani.
'Awas loe ya Aris. Ketemu sama gue. Gue injak jempol kaki loe. Enak aja nyuruh nyuruh pacar gue. Dimana kami mau belikan oleh oleh untuk loe ya terserah kami sendiri aja. Ngapain pake ngatur ngatur segala." ujar Rinjani memaki maki Aris dalam pikiran dan ucapannya.
"Sayang udah dibilang jangan maki maki orang masih tetap. Walaupun dalam pikiran dan dalam diam, namanya tetap sama sayang. Sama sama maki maki orang" ujar Bayu menebak apa yang sedang dilakukan oleh Rinjani saat ini.
"Lah kok kamu tahu sayang, kalau aku maki maki Aris dalam otak aku?" tanya Rinjani tidak menyangka Bayu akan tahu kalau dia sedang memaki maki Aris dalm pikirannya.
"Masih juga tanya sayang" jawab Bayu sambil tetap fokus mengemudi mobilnya.
Tak berapa lama mereka sudah sampai di daerah orang yang menjual bika dan singgang. Aris membelokkan mobilnya masuk ke area bika talago yang sedang viral itu. Mereka berdua kemudian turun dari dalam mobil.
"Aku pesan dulu sayang" ujar Bayu yang kemudian memesan menu makanan dan juga minuman untuk mereka berdua.
Rinjani langsung mencari tempat duduk yang viewnya menghadap langsung ke talago dan terlihat gunung merapi yang berdiri gagah di kejauhan. Bayu kemudian duduk di sebelah Rinjani.
"Gimana sayang? Kerenkan pemandangannya?" tanya Bayu kepada Rinjani.
"Kita kan udah pernah ke sini sayang. Kalau nggak salah seminggu yang lalu bukan ya?" ujar Rinjani mengingat kapan mereka pergi ke kafe itu.
"Iya juga ya sayang. Tapi biarlah ini untuk yang kedua kalinya" ujar Bayu bersemangat. Bayu tidak ingin Rinjani menjadi lesu kembali.
Pelayan datang menghidangkan pesanan Bayu tadi. Rinjani menseruput kawa daun yang disajikan di gelas yang terbuat dari tempurung kelapa.
"Sayang, kita ke kafe yang edang viral di kayu tana itu yok" ujar Rinjani yang asal pergi pasti pikirannya ke makanan aja terus.
"Sebelah kiri dari sini itu?" tanya Bayu meyakinkan kafe yang ingin disinggahi oleh Rinjani.
"Oke sip. Pas kita jalan pulang aja kita ke sana. Nggak perlu nunggu kapan kapan atau lain kali" ujar Bayu yang akan langsung mewujudkan keinginan Rinjani.
"Oke siap. Kamu udah bilang bungkus untuk Aris?" tanya Rinjani yang nggak mau Bayu lupa memesan untuk Aris dan kedua kawan pelatihnya yang lain.
"Udah. Tadi langsung dikatakan kepada pelayan" jawab Bayu.
Mereka berdua melanjutkan menikmati hidangan yang disajikan oleh pelayan.
"Sayang, aku besok ngajar empat jam. Terus aku apa ke tempat kamu langsung atau gimana?" tanya Rinjani yang nggak tau besok harus ngapain.
Bayu terlihat berpikir sesaat. Besok jadwalnya. luar biasa padat karena sehari ini udah libur melatih. Dia mau jawab jujur takut Rinjani ngambek lagi. Nggak di jawab jujur Rinjani akan ngambek lagi. Bayu bener bener nggak tau harus mengatakan apa kali ini kepada Rinjani.
"Sayang, kayaknya besok aku sampe sore, karena hari inikan udah libur seharian. Kamu mau ke tempat aku boleh, tetapi nanti kalau aku sibuk nggak merhatiin kamu, kamu nggak akan ngambek kan?" tanya Bayu dengan hati hati kepada Rinjani.
"Atau aku sampe jam empat di kampus dulu tengok Aleza latihan musik. Nah jam empat baru aku ke hotel. Nanti jemput si hotel aja akunya saat kamu udah siap latihan sayang. Gimana?" tanya Rinjani menawarkan hal yang berbeda kepada Bayu.
"Setuju sayang. Gitu ajalah lebih bagus. Jadi, kamu nggak menung menung sendirian nungguin aku yang lagi latihan" ujar Bayu setuju dengan pendapat dari Rinjani.
"Sip. Jangan lupa ya jemput di hotel. Kamu kalau udah siap latihan chat aku aja. Nanti aku mandi dan siap siap, setelah itu baru ke hotel ya" lanjut Rinjani.
"A siap big boss sayangku. Ayuk jalan udah mau hujan ini. Kamu belum jemput bayangkan tempat Aleza." kata Bayu yang ingat Rinjani tidak membawa semua barang barangnya dari tempat Aleza.
"Sayang. Aku lupa pesan singgang untuk Aleza. Kamu lebihin ya sayang. Nggak mungkin aku datang ke sana gujuk gujuk ambil barang terus main pergi aja. Masak nggak bawa oleh oleh" ujar Rinjani yang tidak ingat untuk membelikan oleh oleh buat Aleza dan kawan kontrakannya yang lain.
"Beli di sini aja sayang. Mau berapa banyak?" tanya Bayu saat mereka sudah sampai di depan kasir.
"Empat paket ajalah. Mereka ramai di kontrakan itu. Nggak mungkin aku cuma ngasih Aleza aja" ujar Rinjani yang memang jadi manusia terlalu banyak rasa setannya.
"Uni tambah empat paket lagi singgangnya" ujar Bayu memerankan pesanan Rinjani.
Pelayan mengambilkan empat kotak singgang lagi untuk pesanan Rinjani. Setelah itu Bayu melakukan pembayaran semua yang di pesannya tadi.
Mereka berdua kembali masuk ke dalam mobil. Baru selama tiga puluh menit mengemudikan mobil untuk masuk kota Padang Panjang. Rinjani melihat kedai penjual bakso yang sangat ramai.
"Sayang, kita makan itu dulu yok. Aku lapar" uajr Rinjani kepada Bayu.
Bayu yang sangat hafal dengan Rinjani, hanya bisa membelokkan mobilnya dan parkir di tempat parkir warung bakso yang ramai itu.
Rinjani dan Bayu kemudian memesan dua mangkok bakso. Mereka menyantap bakso tersebut.
"Enakan yang tadi" ujar Rinjani kepada Bayu.
Bayu hanya bisa senyum saja. Dia sudah tidak tau harus berkomentar apa terhadap yang dikatakan Rinjani tadi. Bayu takut salah komentar. Jadi Bayu lebih memilih untuk diam saja.
"Diam lebih baik" ujar Bayu dalam hatinya