
Rinjani yang sudah bangun di pagi hari saat azand shubuh berkumandang langsung menuju kamar mandi. Rinjani akan menunaikan kewajibannya terlebih dahulu setelah itu baru dia akan membuat sarapan di luar. Rinjani berharap Mamah belum bangun jadi dia bisa membuat sarapan sendiri di dapur. Tetapi kalau ada mamah maka Rinjani akan membuat sarapan berdua dengan Mamah.
Ranti ternyata juga sudah bangun, dia juga sudah melaksanakan kewajibannya untuk memulai hari di pagi hari ini. Ranti terlihat sedang membereskan ranjang yang mereka pakai semalam untuk beristirahat. Ranti tidak mungkin meninggalkan ranjang itu dalam keadaan kusur seperti tadi, dia juga sudah menukar alas kasur dengan alas kasur yang baru. Ranti tadi memeriksa almari yang ada di kamar, kebetulan di sana ada alas kasur baru, Ranti kemudian memasangkan alas kasur baru itu.
"Mau ikut gue masak loe?" ujar Rinjani menawarkan kepada Ranti untuk membuat sarapan di dapur.
Rinjani sebenarnya tahu kalau Ranti tidaklah pandai dalam mengolah makanan, tetapi dari pada Ranti sendirian di kamar lebih baik Rinjani membawa dirinya keluar. Minimal nanti Ranti akan menolong pekerjaan rumah lainnya, seperti menyapu atau bahkan menjemur kain yang sudah siap dicuci oleh Mamah dengan mesin pencuci kain.
"Oke" ujar Ranti yang sudah selesai menyusun dan merapikan kembali tempat tidur yang semalam dipakai oleh dirinya dan Rinjani.
Kedua gadis cantik itu berjalan keluar dari dalam kamar mereka. Mereka berdua masih memakai pakaian tidur atau piyama yang mereka pakai semalam untuk tidur. Mereka melihat lampu rumah masih dalam keadaan mati. Suasana sunyi masih terasa di rumah besar itu.
"Sepertinya yang lain belum pada bangun Jani" ujar Ranti saat melihat lampu rumah masih belum hidup semua.
"Nggak lah, lihat tuh dapur udah menyala lampunya" ujar Rinjani menunjuk lampu dapur yang memang sudah menyala
Rinjani dan Ranti berjalan bergegas menuju dapur, ternyata di sana Mamah terlihat sudah mulai mengolah menu sarapan mereka untuk hari ini.
"Dikira kita berdua yang baru bangun, ternyata Mamah lebih pagi" ujar Ranti berkata pelan yang hanya bisa di dengar oleh dirinya dan Rinjani saja.
"Haha haha haha, kamu akan lihat sebentar lagi siapa yang akan datang dari luar" ujar Rinjani berkata kepada Ranti.
Ranti menatap ke arah Rinjani. "Lihat saja nanti" kata Rinjani yang malas memberitahukan kepada Ranti siapa yang sebentar lagi akan datang.
"Nggak asik loe" ujar Ranti dengan suara yang keras
"Siapa yang nggak asik ranti?" ujar Mamah yang ternyata mendengar apa yang dikatakan oleh Ranti kepada Rinjani,
"Jani ini Mah, pakai rahasia rahasia segala jadi orang. Mana aku tahu siapa lagi yang akan datang di subuh subuh begini" ujar Ranti mengatakan kepada Mamah apa maksud dari perkataannya mengatakan nggak asik loe tadi.
"Ooooo gitu, kamu lihat aja, sebentar lagi orangnya juga akan datang" ujar Mamah yang juga sama dengan Rinjani tidak mau mengatakan kepada Ranti siapa orang yang dimaksud oleh Rinjani tadi.
Rinjani kemudian masuk ke dalam dapur tepat di sebelah Mamah, sedangkan Ranti yang melihat di dapur sudah ada Mamah dan Rinjani lebih memilih mengambil sapu. Ranti akan menyapu lantai saja dari pada berhimpit himpit bertiga di dapur. Lagian dengan Rinjani dan Mamah di dapur maka apapaun jenis masakan sudah pasti akan selesai dan tersaji dengan sangat lezat, malahan kalau ada Ranti di sana malahan akan membuat rasa masakan yang akan mereka olah menjadi aneh bin ajaib seaneh hati Ranti saat ini yang menunggu siapa yang akan datang di subuh hari itu.
"Kamu mau ngapain Ranti?" ujar Mamah saat melihat Ranti sudah mengambil sapu yang ada di balik pintu.
"Mau nyapu Mah" jawab Ranti dengan santai sambil memainkan sapu yang sudah di pegangnya ke lantai rumah
"Nggak usah aja sayang, biar nanti Josua dan Ryan saja yang menyapu" ujar Mamah yang melarang Ranti untuk menyapu lantai rumah.
"Nggak apa apa Mah, lagian aku nggak bisa masak, aku cuma bisa menyapu, jadi aku nyapu aja ya Mah" ujar Ranti menatap memohon kepada Mamah agar dirinya diizinkan oleh Mamah untuk menyapu rumah. Ranti tidak mungkin hanya duduk saja seperti bos sedangkan yang lain sedang bekerja, walaupun Ranti tidak bisa apa apa minimal untuk menyapu lantai kamar dia masih bisa dan masih mampu melakukannya.
Mamah menatap kepada Rinjani. Rinjani mangangguk meminta mamah menyetujui apa yang dikatakan oleh Ranti kepada dirinya. Mamah kemudian menganguk juga membalas kalau Mamah juga akan menyetujui kalau Ranti akan menolong menyapu rumah.
"Oke baiklah nak kalau begitu, kamu silahkan sapu seluruh lantai yang ada di rumah ini" ujar Mamah yang pada akhirnya mengizinkan Ranti untuk menyapu semua lantai yang ada di rumah ini. Mamah tidak sampai hati melarang Ranti untuk membantu dirinya membersihkan rumah dan ikut bekerja di pagi hari saat melihat semua orang sibuk dengan pekerjaan mereka masing masing.
"makasi mamah yang baik hati." ujar Ranti yang kemudian mulai melakukan pekerjaannya. Ranti menyapu dengan sangat gembira dan bersemangat. Dia sangat senang dirinya dan kemampuannya yang kecil itu bisa membantu semua orang yang ada di rumah besar itu.
Pada saat itulah Josua dan Ryan yang sudah bangun dari tidurnya dan sudah membasuh wajah mereka berjalan keluar kamar untuk melaksanakan kewajiban mereka menyapu lantai dan juga menyiram tanaman di taman belakang dan samping rumah. sedangkan taman depan dan juga menyapu halaman adalah tanggung jawab piket jaga rumah dinas.
"Yah kenapa nona Ranti mengambil pekerjaan saya Nona? Nanti saya kerja apa lagi Nona" ujar Ryan yang melihat Ranti sedang menyapu rumah bagian belakang.
Menyapu dan mengepel rumah sekali seminggu adalah tanggung jawab Ryan, tetapi kali ini diambil alih oleh Ranti tanpa sepengetahuan dirinya, hal itu membuat Ryan menjadi sedikit marah.
"Lah siapa yang mengambil Bang Ryan. Abang tinggal ambil sapu kemudian sapu rumah bagian tengah sampai depan, Susah banget" ujar Ranti menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Ryan kepada dirinya.
Ryan kemudian mengambil sapu yang satunya lagi. Dia mulai menyapu rumah bagian tengah sampai dengan bagian depan. Mamah yang melihat semua orang bekerja dengan pekerjaan mereka masing masing tersenyum bahagia. Mamah baru saja selesai menghidupkan mesin cuci pakaian, sehingga nanti saat mamah telah selesai memasak mamah tinggal menjemur pakaian saja lagi, atau paling tidak nanti mamah akan meminta Bayu menjemur pakaian seperti biasanya.
"Wah jadi ini yang Mamah katakan kalau akan ada yang masuk saat selesai subuh?" ujar Ranti berkata saat melihat Bayu dan Papap yang baru pulang dari mesjid
"Bener" ujar Mamah yang sekarang sedang memegang teflon untuk membuat telur dadar kesukaan Papap.
"Pantesan Jani bangun subuh subuh, ternyata oh ternyata Bang Bayu bangunnya lebih subuh lagi dibandingkan Rinjani" ujar Ranti yang sama sekali tidak berusaha merem mulutnya untuk mengatakan apa yang ingin dikatakan oleh dirinya.
Rinjani hanya bisa menupuk jidatnya saja saat mendengar apa yang dikatakan oleh Ranti kepada Bayu dan Mamah serta semua orang yang mendengar apa yang dikatakan oleh Ranti sebentar ini. Bayu yang mendengar hanya menanggapi dengan senyuman saja, dia sama sekali tidak menanggapi apa yang dikatakan oleh Ranti kepada semua orang. Bayu lebih terfokus kepada Rinjani saat ini. Fokus Bayu benar benar hanya Rinjani saja tidak ada orang lain yang menjadi fokus Bayu, sehingga apapun yang dikatakan oleh Ranti menjadi sangat tidak menarik lagi bagi Bayu.
Mamah yang melihat Bayu terus berjalan sambil menatap ke arah Rinjani memilih untuk keluar dari dalam dapur. Rinjani yang kehilangan benteng terakhirya terpaksa harus bisa menghadapi Bayu sendirian saja saat ini. Rinjani sudah tidak ada lagi memiliki benteng pertahanan terakhirnya, dia harus menghadapi Bayu dengan segala perkataannya nantinya.
'Mamah kenapa pakai beranjak sih Mah, harusnya mamah tetap saja di dapur ini' ujar Rinjani saat melihat Mamah yang sudah main pergi saja dari area dapur ke area kamar mandi atau area cuci pakaian.
"Ada apa?" ujar Rinjani saat melihat Bayu yang sekarang sudah berada di depannya dan duduk di atas sebuah kursi yang berada tepat di depan dapur tersebut.
"Semalam marah nggak?" tanya Bayu langsung ke inti pertanyaannya.
"Nggak ada yang marah. Emang marah kenapa?" tanya Rinjani balik kepada Bayu
"Karena aku tidak pulang sesuai dengan jam yang aku katakan sama kamu" jawab Bayu mengingatkan Rinjani kenapa dan alasan apa yang bisa membuat Rinjani marah kepada dirinya,
"Oh gara gara itu, pertamanya sih memang marah dan sedikit kecewa sama kamu, kenapa tidak memberitahukan kepada aku kalau kamu telat pulangnya" ujar Rinjani mulai menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Bayu kepada dirinya.
Tanpa mereka berdua sadari, semua orang yang berada di sana perlahan lahan tapi pasti mulai menghilang hanya meninggalkan sepasang kekasih yang sedang dalam masa menyelesaikan permasalahan yang sebenarnya tidak ada permasalahan, tetapi karena Bayu memiliki rasa bersalah kepada Rinjani membuat dirinya harus menyelesaikan dan mengclearkan permasalahan yang bisa jadi ada di dalam hati Rinjani tetapi sengaja tidak dikeluarkan oleh Rinjani kepada dirinya.
"Padahal baru siangnya kamu mengatakan kepada aku kalau kita berdua harus selalu saling memberi kabar supaya tidak ada yang cemas antara satu dengan yang lainnya, tetapi ternyata kamu kemaren tidak memberikan kabar kenapa sampai pulang terlambar kepada aku." lanjur Rinjani bercerita.
Bayu hanya mendengarkan saja apa yang dikatakan oleh Rinjani kepada dirinya. Bayu sama sekali tidak ada niat untuk membantah sedikitpun apa yang dikatakan oleh Rinjani, sekarang memang salahnya Bayu, sehingga Bayu akan mendengar semuanya, semua yang dikatakan oleh Rinjani kepada dirinya.
"Tau kamu sayang, aku sampai salah loh mengerjakan semua pekerjaan aku saking aku nggak fokus dan hanya memikirkan keadaan kamu saja" ujar Rinjani menceritakan bagaimana efek dari tidak fokus dirinya kepada pekerjaannya.
"Maksudnya gimana?" ujar Bayu yang tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Rinjani kepada dirinya tadi.
Rinjani kemudian menceritakan semuanya kepada Bayu, semua yang terjadi kepada dirinya. Bagaimana susahnya Rinjani saat harus fokus bekerja sedangkan pikiran dan perasaannya sedang mencemaskan Bayu yang ntah berada dimana pada saat itu. Bayu mendengar semua cerita Rinjani, dia bisa merasakan menjadi Rinjani pada saat itu karena Bayu juga pernah merasakan hal yang sama dengan yang dirasakan oleh Rinjani kemaren siang sampai dengan sore.
"Nah aku mulai tenangnya saat Papap ngomong, kalau Papap meminta kamu menjemput teman lama Papap ke bandara" ujar Rinjani.
"Maafkan aku sayang, aku sebenarnya mau mengirim pesan chat sama kamu, tetapi sahabat lama papap sudah lama menunggu di bandara, akhirnya aku mengemudikan mobil dalam kecepatan tinggi. Nah, saat itu aku tidak mungkin mengirim pesan sama kamu." ujar Bayu mulai mengatakan alasannya kepada Rinjani.
"Lagian aku juga yakin kalau Papap pasti akan mengatakan kepada kamu kalau aku di suruh Papap ke bandara" lanjut Bayu berkata kepada Rinjani.
Akhirnya kesalah pahaman antara Rinjani dan Bayu telah selesai dengan sangat baik tanpa ada yang emosi. Mereka berdua kemudian baru sadar kalau mereka hanya tinggal berdua saja lagi. Semua orang yang ada di sekitar mereka sudah pergi dari tadi.
"Sayang, hanya tinggal kita berdua lagi sayang, yang lain sudah masuk ke kamar mereka untuk bersiap siap" ujar Rinjani saat melihat tidak ada satupun orang yang berada di sekitar mereka pada saat ini.
"Sepertinya mereka memang sengaja meninggalkan kita berdua sayang. Kalau begitu mari kita juga bersiap siap, kamu akan ke kampus hari ini kan?" tanya Bayu kepada Rinjani.
"Iya sayang, kebetulan kata Mamah, kalau acara hari ini semuanya pakai catering tidak ada yang masak lagian acaranya juga siang nanti, aku mau bimbingan sama dosen dulu" ujar Rinjani memberitahukan kepada Bayu apa kegiatannya hari ini.
"Oke sip, mari kita bersiap siap" kata Bayu mengajak Rinjani untuk bersiap siap.
"Oke semua sarapan sudah siap ini" ujar Rinjani yang setuju dengan usulan Bayu untuk membersihkan diri mereka dan bersiap siap untuk memulai hari mereka pada hari ini.
Bayu dan Rinjani kemudian masuk ke dalam kamar mereka masing masing, semua menu sarapan sudah terhidang di meja makan, begitu juga untuk piket jaga yang sudah diantarkan makanan untuk mereka oleh Ryan.