Its My Dream

Its My Dream
Percakapan Dalam Perjalanan Pulang



Papap tertawa bahagia saat mendengar apa yang dikatakan oleh ajudannya itu. Papap tidak menyangka kalau keromantisan antara dirinya dengan istrinya menjadi pusat perhatian oleh setiap anggota di kesatuan. Bagi Papap menggandeng tangan Mamah dalam setiap kegiatan adalah suatu hal yang harus dilakukan oleh Papap. Bagi Papap, kalau papap tidak menggenggam tangan Mamah, maka Papap rasanya kurang dalam melakukan sesuatu, makanya bagaimanapun caranya Papap akan selalu menggenggam tangan Mamah.


Sebenarnya alasan lain Papap setiap berjalan dengan Mamah selalu bergandengan tangan adalah, supaya Papap bisa yakin bahwasanya Mamah dalam kondisi baik baik saja. Intinya Papap selalu menginginkan Mamah dalam kondisi yang baik baik saja saat Papap ada atau tidak ada bersama dengan Mamah.


"Dimana mana yang namanya rumah tangga pasti ada ributnya. Tetapi bagaimanapun juga ributnya tidak akan lebar kemana mana kalau salah satu mengalah" ujar Papap berkata kepada semua yang ada di sana.


"Salah satu tips nya adalah, kita sebagai laki laki tidak boleh egois" ujar Papap mulai berbagi tips dalam berumah tangga kepada ketiga tentara bujangan itu.


"Tau nggak kalian, sebenarnya yang membuat suami istri ribut itu yang paling banyak berasal dari kita laki laki ini" ujar Papap memulai kembali pembahasan antara dirinya dengan ketiga pemuda bujangan tersebut.


"Mana ada Pap. Aku sering kok ngalah ke Rinjani kalau kami sedang ribut" ujar Bayu memprotes perkataan Papap yang menurut dirinya sama sekali tidak beralasan.


"Ya waktu kita jadi kekasih alias pacar mah memang iya sering ngalah. Coba nanti saat udah hidup bersama, maka selamat ego kita berdua akan saling ingin menang"


Papap memberikan jawaban menohok kepada Bayu.


"Satu aja ambil contoh. Saat kita capek pulang kerja, istri juga kerja, nah sama sama capek kan, nyampe rumah, rumah berantakan. Siapa yang akan emosi dulu coba?" tanya Papap kepada Bayu, Josua dan Ryan.


"Istri Pap" jawab Bayu.


"Bener, istri yang ngamuk duluan, dan istri akan membahas panjang lebar sampe nyerempet ke kita"


"Nah sebelum nyerempet itu, kita harus bijaksana. Kita ambil sapu, ya udah sapu aja. Bersih atau ndak urusan belakang."


"Intinya, kita harus bikin dia percaya dan yakin sama kita, kalau kita ini mau bantu pekerjaan istri. Pasti dah tu radio rusak nggak akan semakin rusak"


Papap memberikan contoh contoh sederhana bagaimana cara membuat istri tidak mengamuk saat suami dan istri sama sama dalam posisi capek bekerja.


Mereka berempat kemudian melanjutkan obrolan seputar berbagai hal. Tetapi menghindari percakapan tentang pekerjaan. Hal ini semakin membuat Ryan merasa dekat dengan semua anggota keluarga barunya itu. Buktinya bisa dilihat saat Ryan sudah bisa memberikan masukan dan menjawab obrolan antar mereka.


"Sudah jam setengah dua belas. Mari pulang. Besok kerja pagi" ujar Papap mengajak mereka semua untuk pulang.


Keempat tentara keren itu kemudian berdiri dari posisi duduknya. Mereka kemudian berjalan menuju parkiran.


"Pap biar aku aja yang bayar" ujar Bayu saat melihat Papap mengeluarkan dompetnya dari dalam saku celana.


"Oke. Selamt duit Papap. Malam minggu besok Papap lagi yang bayar" ujar Papap yang sudah langsung menentukan kapan mereka akan nongkrong bersama sama lagi.


"Sepertinya komandan kecanduan untuk nongkrong" ujar Ryan yang mulai usil mengejek ke arah komandannya itu.


"Sekali sekali tak apalah ya. Sebulan ini palingan 6 kali lah menjelang Bayu berangkat." ujar Papap


Bayu membayar semua tagihan makanan dan minuman yang mereka pesan tadi. Sedangkan Papap, Josua dan Ryan menunggu di dekat mobil.


"Gimana alasan mereka ke orang tua mereka itu ya" lanjut Papap bertanya kepada Josua dan Ryan.


"Palingan kerja kelompok komandan. Kalau nggak ngomong nginap rumah teman karena orang tua mereka sedang tidak ada di rumah" ujar Ryan menjawab pertanyaan keterangan dari Papap.


Bayu yang melihat Papap dan ajudan sedang asik berbagi cerita menatap kearah mereka.


"Pap terlihat asik sekali bercerita? Ada apa Pap?" tanya Bayu yang penasaran dengan obrolan ketiga tentara itu.


"Obrolan ringan. Obrolan seputar permasalahan anak perempuan yang masih di luar jam segini" ujar Papap sambil menunjuk ke arah anak perempuan yang masih duduk dengan santainya di depan kafe tersebut.


Bayu melihat ke arah yang ditunjuk oleh Papap. Bayu sekarang mengerti apa yang dikatakan oleh Papap kepada dirinya.


"Gimana lagi Pap, kontrol yang sudah ilang" ujar Bayu berkata sambil menatap ke arah Papap, Jusoa dan Ryan.


"Udah yuk masuk. Biarkan saja mereka. Besok pas ada pertemuan, papap akan minta untuk pihak terkait melakukan razia di malam malam selain malam minggu. Kasihan sama orang tua mereka" ujar Papap sambil sekali lagi melihat ke arah anak perempuan yang masih nongkrong di kafe padahal hari sudah larut malam.


Mereka berempat kemudian masuk ke dalam mobil masing masing. Ryan mengemudikan mobil di depan, berhubung hari telah malam maka Ryan memilih untuk berada di depan mobil Papap.


"Ryan bener bener lah" ujar Bayu saat mobil Ryan mendahului mobil yang dikemudikannya.


"Biarin aja Bay. SOP nya memang dia yang harus di depan kita" ujar Papap menegur Bayu untuk tidak marah kepada Ryan.


"Dia sebenarnya anaknya asik Pap. Tetapi mungkin karena baru masuk keluarga kita dia jadi tegang" kata Bayu mengomentari bagaimana sikap dan sifat Ryan.


"Tapi tadi udah jauh dari kata lumayan Bay. Dia udah berani ngomong. Biasanya Mamah kamu capek ngajak dia ngomong di mobil jawabnya tau kamu apa?" ujar Papap sambil berusaha menahan senyumnya.


"Apa Pap? Jangan Papap jawab dia angguk angguk saja atau siap bu" ujar Bayu menebak jawaban yang akan diberikan oleh Papap.


"Bener, tiap mamah bertanya, Ryan apa kamu sudah sarapan. Jawabannya siap sudah bu. Nanti mamah tanya yang lain, jawabannya tetap sama, siap sudah bu" ujar Papap berkata dan menjawab seperti jawaban yang diberikan oleh Ryan kepada Mamah.


"Haha haha haha. Ryan Ryan bener bener lah tu anak. Pasti Mamah langsung sewot kan ya Pap?" kata Bayu menebak bagaimana ekspresi Mamah saat Ryan menjawab pertanyaan Mamah hanya dengan kata siap sudah bu


"Bener. Tapi sekarang sekarang ini Mamah udah langsung menjawab lagi. Ryan kalau masih seperti itu jawaban kamu, maka aku akan pindahkan kamu ke bagian yang lain" ujar Papap


"Keren, mamah udah bisa ngomong kayak gitu. Aku udah bisa membayangkan gimana wajah Mamah itu Pap." ujar Bayu sambil menyetir mobil mengikuti mobil Ryan yang sudah melaju dengan lumayan kencang.


"Ya mau bagaimana lagi, untung Mamah ngomong gitu, jadinya Ryan lumayan bisa ngomong" ujar Papap


Bayu dan Papap melanjutkan perjalanan pulang menuju rumah dinas. Kendaraan masih ramai lalu lalang di jalanan, apalagi masih ada kelompok pemuda pemudi yang masih duduk duduk di tepi jalan. Pemandangan yang sangat miris di lihat. Generasi muda yang tidak tau apa yang harus mereka kerjakan.