Its My Dream

Its My Dream
32



"Sayang" ujar Rinjani membangunkan Bayu saat mereka sudah sampai di tepi jalan menuju panorama.


Rinjani sudah dua kali memutari daerah itu. Rinjani sudah tidak tahu lagi mau mengarahkan mobil ke daerah mana. Makanya dia memutuskan untuk membangunkan Bayu terlebih dahulu.


"Sayang" ujar Rinjani sekali lagi masih berusaha untuk membangunkan Bayu yang terlihat sangat nyenyak tidur di kursi.


Bayu sama sekali tidak memberikan reaksi apapun terhadap panggilan yang dilakukan oleh Rinjani. Bayu masih tertidur dengan lelap.


"Wah ini orng memang lah ya. Masih tetap tidur. Gimana cara bangunin nya lagi ya?" ujar Rinjani yang nggak habis pikir gimana cara membangunkan Bayu.


Rinjani terlihat berpikir. Dia tidak mungkin lama lama berhenti di sini. Bisa bisa nanti orang curiga kepada mobil mereka.


"Bayu bangun bangun. Nanti kita di grebek warga Bayu" ujar Rinjani menggoyang goyang badan Bayu dengan kesal.


Bayu yang sebenarnya sudah bangun menatap ke arah Rinjani. Rinjani membalas tatapan Bayu.


"Aku kira tadi udah lewat sayang" ujar Rinjani menahan senyumnya.


Rinjani kemudian menekan pedal gas mobil kembali. Dia mulai mengemudikan mobil untuk kembali menyusuri jalanan di kota Bukittinggi.


"Sayang, kamu do'ain aku meninggal sayang?" tanya Bayu menatap Rinjani.


"Mana ada. Aku bilang kan lewat sayang bukan meninggal. Kamunya aja yang salah denger" ujar Rinjani yang nggak mau disalahkan oleh Bayu.


"ye ye ye. Aku nggak percaya sayang" ujar Bayu sambil menatap ke arah jendela mobil.


"Sayang, aku laper. Kita makan bakso di simpang jalan mau ke matur itu yuk. Kamu mau kan makan bakso" ujar Bayu mengajak Rinjani untuk menikmati makan bakso yang kata orang enak itu.


"Mau lah. Tapi yakin kamu di situ enak?" tanya Rinjani yang sama sekali belum pernah menikmati bakso di sana.


"Kata orang enak. Ayuk lah kita ke sana. Coba apa salahnya kan ya" ujar Bayu sambil meneguk air mineral yang tadi di beli oleh Rinjani.


"Kamu bawa mobil ya. Males macet di Padang Lua tu" ujar Rinjani yang sudah bisa membayangkan bagaimana macetnya jalan yang akan dia tempuh nantinya.


"Oke. Aku yang bawa mobil. Kamu pinggirin dulu aja mobilnya" ujar Bayu meminta Rinjani untuk meminggirkan mobil terlebih dahulu.


Bayu dan Rinjani berganti posisi.


"Wah ini baru bener. Dimana mana memang laki laki yang bawa mobil." ujar Rinjani memandang Bayu dan merentangkan tangannya lebar lebar.


"Lebay. Baru sekali bawa mobil udah ceramah dia" ujar Bayu dan menowel hidung Rinjani.


"Eh sayang, capek juga tau bawa mobil. Aku biasanya bawa mobil itu dekat dekat. Nggak kayak gini" ujar Rinjani protes mendengar jawaban dari Bayu tadi.


"Mana ada jauh sayang. Ini dekat, dari sini masuk pasar bawah terus jam gadang selesai" ujar Bayu yang tetap mempertahankan pendapatnya.


"Sayang dekat sih dekat jaraknya. Ini muter muternya ntah udah berapa kali." jawab Rinjani dengan memanyunkan mulutnya.


"Kalau tu pakaian di tarok sayang, akan licin gara gara aku muter muter udah nggak kehitung berapa kalinya" ujar Rinjani selanjutnya.


"Haha haha haha. Pasti kamu capek dan males kan ya, karena bawa mobil iya, nggak ada kawan ngobrol lagi." kata Bayu yang sudah bisa membayangkan bagaimana kesalnya Rinjani tadi saat dia harus membawa mobil tetapi tidak ada teman ngobrol.


"Nggak ada kesel. Kamu nggak taukan kalau aku bawa mobil sambil makan burger dan jus jeruk peras" ujar Rinjani yang memang beberapa kali berhenti untuk menikmati makanan yang dibelinya di sepanjang jalan yang dilalui oleh Rinjani.


Bayu kemudian melihat keadaan kursi belakang dari kaca spion. Ternyata memang benar di atas kursi begitu banyak bekas bekas tempat menyimpan makanan dan minuman.


"Sayang, serius itu semua kamu yang makan?" tanya Bayu lagi memastikan apa yang dilihatnya di bangku belakang.


"Iyalah sayang siapa lagi. Kita kan hanya berdua di sini" ujar Rinjani menjawab keragu-raguan dari Bayu.


"Ya ngeri kamu sayang. Sebanyak itu makan sendirian, nggak ada manggil manggil aku. Tega banget" ujar Bayu sambil geleng geleng kepala melihat begitu banyak sampah bekas tempat makanan yang ada di kursi belakang.


"Sayang sayang. Runtuh dunia belum tentu kamu bisa bangun. Dengan serius aja aku bangunin kamu masih gagal. Apalagi sambil makan sayang. Gila aja kali" ujar Rinjani geleng geleng kepala mendengar perkataan Bayu tadi.


"Bangunin kamu sayang, sama susahnya bangunin kuda Nil yang siap makan kenyang sayang" kata Rinjani.


"Emang pernah bangunin kuda nil?" tanya Bayu sambil tersenyum kepada Rinjani.


Bayu menatap Rinjani. Rinjani memberikan senyumannya kepada Bayu.


"Dasar ya. Emang aku kuda Nil" ujar Bayu.


Mereka kemudian memasuki kawasan macet.


"Benerkan macet. Jadi malas untuk pergi" ujar Rinjani melihat kemacetan yang lumayan itu.


"Terpenting macet tapi jalan sayang. Dari pada macet nggak jalan"


Mereka berdua akhirnya menikmati perjalanan yang macet itu. Rinjani dan Bayu memutuskan untuk bersenandung karena sudah tidak tau apa lagi yang mau mereka ceritakan berdua.


Mereka akhirnya sampai di tempat bakso yang katanya enak itu. Bayu memesan dua mangkok bakso.


"Sayang pake mie?" tanya Bayu keoada Rinjani yang sudah duduk di kursi pojokan.


"Nggak sayang. Kosong aja" jawab Rinjani yang tidak berminat menambah apapun ke dalam baksonya.


Tidak beberapa lama pelayan datang menghidangkan dua mangkok bakso pesanan Bayu.


Rinjani mencoba kuah bening bakso itu.


"Enak sayang. Ini beneran enak sayang" ujar Rinjani kepada Bayu sambil mengangkat dua jempolnya kepada Bayu.


"Kan nggak percaya" jawab Bayu


"emang kamu udah pernah coba di sini?"


Rinjani menatap Bayu dengan tatapan curiga. Rinjani belum pernah mendengar cerita dari Bayu kalau dia sudah pernah makan di warung bakso ini.


"Udah sekali. Itupun waktu pulang kerja dari kodim sini kalau nggak salah." jawab Bayu.


"Kan nggak bagi bagi" kata Rinjani sambil cemberut.


"Gimana mau bagi. Kenal aja belum. Aneh" ujar Bayu yang nggak mau disalahkan oleh Rinjani.


Rinjani kemudian memberikan bumbu untuk baksonya. Rinjani hanya memberi cabe, kecap dan cuka. Sedangkan Bayu memberi bumbu lengkap untuk baksonya.


Mereka berdua kemudian menyantap bakso yang super enak itu. Rinjani baru kali ini mencoba bakso yang seenak ini.


Rinjani melihat kesana kemari. Bayu yang duduk di sampingnya melihat ke arah Rinjani.


"Apa?" tanya Bayu yang melihat mata Rinjani berlarian kesana kemari.


"pengen pake tahu. Tapi nggak ada nampak" ujar Rinjani yang ingin menambah tahu ke dalam mangkok baksonya.


"Bentar" ujar Bayu.


Bayu melihat pelayan warung bakso yang di depannya ada bakso satu bungkus.


"Mbak, tahu di jual atau nggak?" tanya Bayu kepada mbak penjual bakso.


"Di jual Tuan. Ini silahkan" ujar Mbak penjual bakso memberikan sebungkus tahu kepada Bayu.


Bayu membawa tahu itu ke meja. Rinjani langsung memasukkan dua potong tahu ke dalam mangkok baksonya. Rinjani kembali menikmati baksonya itu.


"Sayang, kita langsung pulang atau kemana lagi?" tanya Rinjani kepada Bayu saat mereka suda berada di dalam mobil kembali.


"Pulang sayang. Tapi kita singgah dulu di kawa daun telago itu. Aku mau beli bika di sana untuk kawan kawan pelatih yang lain" ujar Bayu menjelaskan kepada Rinjani tujuan mereka setelah ini.


"Oke sip" jawab Rinjani.


Bayu mengemudikan mobil menuju kota Padang Panjang. Mereka akan singgah sebentar membeli bika dan singgang untuk oleh oleh.