Its My Dream

Its My Dream
Siang H - 28



Tak terasa Rinjani sudah sampai di sebuah komplek yang semua bangunannya berwarna hijau. Sebuah komplek yang terlihat orang berlalu lalang memakai pakaian warna hijau dan loreng. Ini adalah kali pertama Rinjani menginjakkan kakinya di kantor Bayu. Biasanya Rinjani hanya sampai asrama saja, tetapi kali ini karena ada sesuatu yang sangat penting membuat Rinjani harus mencari Bayu ke tempat kerjanya langsung, yaitu  markas kompi C.


"Nah sayang, apa kamu akan Mamah temani pula ke ruangan Bayu?" tanya Mamah sambil melihat ke arah Rinjani yang masih belum turun dari dalam mobil. Mamah melihat keraguan dari wajah rinjani untuk turun sendirian.


"Kalau Mamah bersedia" ujar Rinjani yang menatap Mamah dengan tatapan, ayolah Mah temani Jani turun.


"Oke sayang. Mari kita turun." ujar Mamah yang mengabulkan kehendak Rinjani untuk Mamah menemani Rinjani turun ke ruangan Bayu.


"Nona Rinjani takut di godain sama tentara itu Buk" ujar Ryan yang mulai bisa sedikit bercanda dengan Rinjani.


"Bukan begitu, tapi takut masuk ke sana Mah" ujar Rinjani yang sebenarnya takut dilihatin oleh Tentara.


"Haha haha haha. Sama aja itu Nona" ujar Ryan yang tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Rinjani


"Sudah sudah" kata Mamah menengahi saling jawab antara Rinjani dengan Ryan.


"Kamu tunggu di sini Ryan" ujar Mamah memberikan instruksi kepada Ryan


"Siap Ibuk" ujar Ryan


Mamah dan Rinjani turun dari dalam mobil. Beberapa orang tentara yang kenal dengan Mamah langsung memberikan hormat kepada Mamah karena pangkat Mamah lebih tinggi dari pada mereka semua yang berada di kompi C. Mereka setelah memberikan hormat kepada mamah, menatap ke arah Rinjani. Mereka melihat Rinjani seperti melihat air terjun di tengah tengah gurun pasir. Mamah yang tahu hanya bisa diam saja. Mamah tidak mau menegur mereka semua. Mereka semua sudah tahu kalau Rinjani adalah calon istri dari komandan kompi mereka.


Mamah dan Rinjani sampai di depan ruangan kerja Bayu. Mamah langsung mengetuk pintu ruangan. Bayu yang ada di dalam ruangan langsung berdiri dari posisi duduknya saat mendengar pintu ruangannya di ketuk dari luar. Papap, Bayu dan Mamah sama sekali tidak pernah mengatakan kata "masuk" saat mendengar bunyi pintu yang di ketuk dari luar. Papap, Mamah dan Bayu akan selalu membukakan pintu itu langsung. Bagi mereka bertiga menghormati siapa yang datang adalah keharusan walaupun pangkatnya lebih rendah dari pada mereka bertiga.


"Mamah, Jani?" ujar Bayu yang kaget saat melihat dua wanita yang paling penting dan berpengaruh dalam hidupnya berdiri di depan ruangannya saat ini.


"Ada apa?" ujar Bayu yang masih dalam mode kaget.


"Kami nggak boleh masuk Bay?" tanya Mamah kepada Bayu.


"Eh maaf Mah" ujar Bayu yang masih juga dalam mode kaget sehingga tidak mempersilahkan Mamah untuk masuk ke dalam ruang kerjanya.


"Silahkan masuk Mah, sayang" ujar Bayu sambil beranjak dari posisi berdirinya untuk mempersilahkan Mamah dan Rinjani masuk ke dalam ruangan Bayu.


"Sayang, kamu aja yang masuk ya, Mamah harus kembali ke ruangan Mamah. Mamah masih ada pekerjaan yang harus Mamah lakukan" ujar Mamah memberitahukan kepada Rinjani kalau Mamah masih ada kegiatan dan harus menyelesaikan kegiatan tersebut.


"Baik Mah. Terimakasih udah mau Rinjani repotkan untuk hari ini" ujar Rinjani mengatakan terimakasih kepada Mamah karena sudah mau direpotkan oleh Rinjani pada hari ini.


"Tidak apa apa sayang. Mamah sangat senang bisa menolog kmau" jawab Mamah sambil mengusap punggung Rinjani. Mamah sekarang yakin ada sesuatu yang lumayan berat yang harus dibicarakan oleh Bayu dengan Rinjani.


Mamah kemudian keluar dari ruangan Bayu. Mamah pergi ke tempat mobil yang diparkir oleh Ryan tepat di sebelah gedung markas utama kompi C. Ryan yang duduk di dalam mobil langsung ke luar dari dalam mobil, saat Mamah mengetuk pintu mobil tersebut.


"Maaf Ibuk, saya sedikit ketiduran" ujar Ryan


"Tidak apa apa Yan, biasa itu" jawab Mamah


"Yan antar kunci mobil kepada Bayu sana. Ibuk tunggu di sini" ujar Mamah memerintahkan Ryan untuk mengantarkan kunci mobil kepada Bayu


Ryan menatap ke arah Mamah.


"terus Ibuk pulang kembali ke ruangan pakai apa?" tanya Ryan yang akhirnya memilih untuk bertanya kepada Mamah.


"Apa? Ibuk serius?" ujar Ryan yang tidak yakin dengan apa yang dikatakan oleh Mamah


"Yakin, sudah sana antarkan saja. Mereka berdua lebih membutuhkan mobil dari pada Ibuk" ujar Mamah yang tetap ngotot supaya Ryan mengantarkan kunci mobil kepada Bayu


"Ya udah kalau memang itu mau Ibuk. Aku akan antar dulu kunci mobil ini kepada Komandan Bayu" ujar Ryan


Ryan kemudian pergi mengantarkan kunci mobil Bayu. Ryan terpaksa harus berbohong kepada Bayu dengan mengatakan kalau mereka akan di jemput oleh Josua untuk kembali ke ruangan tempat Mamah bekerja. Bayu yang yakin dengan jawaban yang diberikan oleh Ryan tidak mengkroscek kepada Josua. Ryan kemudian kembali ke tempat Mamah. Mereka berdua kemudian berjalan menuju kantor Mamah yang jaraknya lumayan dari markas kompi C. Mamah dan Ryan mencari jalan yang sejuk supaya mereka tidak kelelahan dan kepanasan.


"Ada apa sayang? Tumben kamu ke sini?" ujar Bayu saat duduk tepat di sebelah Rinjani.


Bayu menatap ke arah Rinjani, sedangkan Rinjani sudah sangat susah untuk menahan air matanya. Air mata yang ntah kenapa sekarang hendak turun dengan deras.


"Kita bicara di tempat lain saja yuk, biar kamu tenang" ujar Bayu yang tahu kalau Rinjani sekarang butuh waktu berdua dengan dirinya saja.


Rinjani mengangguk, dia memang tidak akan bebas mengatakan apapun kalau berada di ruang kerja Bayu ini.


"Aku ngomong dengan Ivan dulu ya" ujar Bayu


Rinjani mengangguk menjawab permintaan yang dikatakan oleh Bayu kepada dirinya. Bayu hanya bisa tersenyum saja, kekasihnya memang dalam mode yang nggak bisa diganggu sekarang ini.


'Apa yang ada dalam pikiran kamu sayang?' ujar Bayu dalam hatinya.


Bayu berjalan menuju ruangan Ivan. Bayu meminta izin kepada Ivan untuk keluar membawa Rinjani ke suatu tempat. Ivan yang paham dengan keadaan mengganggukkan kepalanya memberikan izin kepada Bayu untuk pergi. Padahal sebenarnya Bayu tidak membutuhkan izin siapapun di kompi itu, tetapi karena Bayu tahu tanggung jawab, makanya Bayu meminta izin kepada Ivan.


Bayu yang telah mendapatkan izin dari Ivan, kembali ke ruangannya. Dia melihat Rinjani masih dalam posisi yang sama. Bayu berjalan ke meja kerjanya untuk mengambil ponsel dan juga kunci mobil.


"Ayuk sayang kita jalan" ujar Bayu memberikan tangannya kepada Rinjani untuk di genggam.


Rinjani menggenggam tangan Bayu. Mereka berdua bergandengan tangan pergi berjalan meninggalkan ruangan kerja Bayu, untuk menuju suatu tempat yang sangat menarik supaya Rinjani bisa mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.


Bayu dan Rinjani kemudian masuk ke dalam mobil.


"Kita jalan sekarang ya?" ujar Bayu meminta izin kepada Rinjani


Rinjani yang mendengar Bayu berbicara seperti itu, langsung saja memeluk Bayu dengan sangat kuat. Rinjani benar benar memeluk Bayu dengan begitu kuatnya. Bayu semakin yakin kalau kekasihnya itu sedang dalam keadaan galau tingkat dewa.


Bayu menunggu sampai Rinjani bisa tenang terlebih dahulu. Kalau sekarang Bayu langsung mengemudikan mobilnya, bisa dipastikan Rinjani akan langsung marah. Makanya Bayu menunggu saat yang tepat.


Rinjani yang sudah bisa kembali menata hatinya, melepaskan pelukannya dari Bayu.


"Sayang aku udah oke" ujar Rinjani


"Serius?" tanya Bayu yang perlu diyakinkan oleh Rinjani sekali lagi


"Ya aku oke" jawab Rinjani


"Sip"


Bayu kemudian mengemudikan mobilnya menuju sebuah cafe yang terletak di jalan menuju pantai air manis. Tetapi melalui jalan lama bukan jalan baru. Sebuah cafe yang sangat sangat keren dan eksotis. Bayu akan membawa Rinjani kesana. Mereka berdua akan berbincang bincang dan mengobrol di sana. Sepanjang perjalanan Rinjani selalu menggenggam tangan Bayu. Rinjani hanya melepaskan saat Bayu harus memakai kedua tangannya untuk menyetir mobil, kalau tidak maka tangan Bayu akan selalu digenggam oleh Rinjani.