
Rinjani menunggu telpon dari Bayu sambil makan kue yang dibelinya di supermarket saat dia dan Ranti pergi membeli kebutuhan bulanan mereka.
"Ini Pak Tara mandinya lama banget, kayak mandi perempuan." ujar Rinjani melihat jam dinding kamarnya. Dia telah menunggu tiga puluh menit telpon dari Bayu. Tapi sampai sekarang Bayu masih belum menghubunginya.
"Jadi nelpon nggak sih Bang. Kalau nggak gue tinggal pergi makan aja lagi" ujar Rinjani sambil menatap dan ngomong sendiri dengan ponsel miliknya.
Saat Rinjani udah putus harapan Bayu menghubunginya, tiba tiba ponsel Rinjani berdering, nama Big Boss tertulis di layar ponselnya.
"Akhirnya nelpon juga" ujar Rinjani.
Rinjani kemudian mengangkat panggilan dari Bayu.
"Hallo sayang, udah selesai mandinya? Itu mandi atau nguras danau Singkarak?" ujar Rinjani menyapa Bayu dengan nada sedikit kesal.
"Maaf sayang, tadi mau ke kamar mandi ketemu dulu dengan kawan satu kering, eee ngobrol bentar, makanya telat menghubungi kamu sayang. Jangan marah gitu, kamu jelek kalau marah" ujar Bayu mulai mengajak Rinjani bercanda ringan.
"Ye mana ada kayak gitu. Besok jam berapa kamu mulai latihan sayang?" tanya Rinjani kepada Bayu.
Rinjani berusaha mengalihkan perhatian dan pertanyaan dari Bayu. Dia tidak ingin Bayu membully nya dengan kata kata jelek kalau marah. Siapa pula ada orang yang cantik kalau sedang marah. Artis aja akan tetap jelek kalau sedang marah. Apalagi Rinjani hanya manusia dari kalangan biasa aja.
"Jam setengah delapan sudah apel pagi sayang" jawab Bayu mengatakan kepada Rinjani jam berapa dia besok mulai beraktifitas di kota Padang Panjang.
"Masih seperti hari biasanya sayang. Tapi kamu kesana pergi jadi pelatih bukan pergi latihan" ujar Rinjani yang protes karena jam kerja Bayu masih sama saat dia di kota Padang.
"Sayang, ya nggak ada bedanya lah. Sama sama kerja juga. Jam kerja aku kan tetap dari setengah delapan sampai selesai. Masak karena pindah ke sini pergi melatih sebentar, langsung jam kerja berubah. Ya ndak lah sayang" ujar Bayu menjelaskan kepada Rinjani, kalau jam kerja Bayu tidak berubah baik di Padang atau di Padang Panjang.
"Oooo. Aku kira ada istimewanya pelatih sayang" kata Rinjani yang memang tidak mengerti dengan pola kerja Bayu selama ini.
"Jadi apa enaknya melatih sayang?" tanya Rinjani kepada Bayu.
Rinjani sudah nggak tau apa lagi mau diobrolkan dengan Bayu. Sehingga dia bertanya seputar pekerjaan Bayu saja lagi. Mau memutuskan panggilan telpon dengan alasan mengantuk tidak mungkin karena masih kangen dengan Bayu. Tapi mau ngobrol, bahan juga sudah habis. Akhirnya keputusan Rinjani membahas tentang pekerjaan Bayu saja lagi, tema obrolan yang jarang mereka pilih saat mereka bertemu.
"Enaknya ya cuma kita nggak di suruh suruh aja sayang. Kalau capek bisa istirahat, itu aja bedanya sayang, kalau yang lainnya ya sama" ujar Bayu menjelaskan kepada Rinjani apa bedanya menjadi pelatih dengan kalau Bayu yang dilatih.
"Yah aku kira sayang, kalau kamu jadi pelatih bisa duduk duduk aja gitu. Mereka lari keliling lapangan kamu duduk, terus mereka manjat kamu duduk" ujar Rinjani menceritakan apa yang ada di dalam otaknya.
"Ya emang iya juga sayang, kadang mereka lari, aku duduk kalau capek. Tapi kebanyakan setiap aku jadi pelatih, aku jua ikut apa yang dilakukan mereka." ujar Bayu kepada Rinjani.
"Kok gitu sayang?" tanya Rinjani penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Bayu.
"Dimana mana orang mah kalau bisa istirahat dia akan milih istirahat sayang. Bukan malah milih ikut latihan. Kamu aneh sayang" ujar Rinjani kepada Bayu.
"Nggak aneh sayang. Aku cuma ingin menunjukkan kepada mereka, kalau aku bukan hanya bisa menyuruh nyuruh mereka aja, tetapi juga bisa melakukannya dengan baik. Itu aja sayang. Jadi, saat mereka mau menyerah, mereka lihat aku, jadi mereka kembali memiliki motifasi untuk kembali semangat" ujar Bayu kepada Rinjani.
Rinjani menyimak dan menganalisa semua omongan Bayu.
"Bener juga itu sayang, mereka akan semangat saat melihat orang yang melatih mereka juga ikut melakukan apa yang mereka lakukan" ujar Rinjani setuju dan mendukung apa yang dilakukan oleh Bayu.
"Sama juga sebenarnya dengan dosen sayang, dosen hanya menyuruh saja tanpa menilai dan memberikan reward maupun memberikan contoh, mahasiswa juga akan malas berbuat." ujar Rinjani mengaitkan dengan pekerjaannya.
"Aku dapat ilmu dan pengalaman baru dari kamu sayang. Ternyata apapun yang kita berikan kepada orang lain maka kita harus mencontohkannya terlebih dahulu. Jangan berharap orang mau meniru kalau kita tidak menirukan nya" ujar Rinjani menarik kesimpulan dari apa yang dibicarakan dirinya dengan Bayu.
"Yup benar sayang. Berikan apa yang telah kamu kerjakan kepada orang lain. Serta contohkan kepada mereka apa yang harus mereka kerjakan" ujar Bayu.
"Kamu besok ada kegiatan apa sayang?" tanya Bayu balik bertanya tentang apa yang akan dilakukan Rinjani besok seharian.
"Setahu aku kamu nggak ada kuliah dan nggak ada ngajar kan ya sayang?" lanjut Bayu yang sangat tahu dengan agenda Rinjani kalau hari selasa.
Hari selasa adalah hari dimana Rinjani sama sekali tidak ada kegiatan kampus. Rinjani sengaja mengosongkan jadwalnya di hari itu, karena pada hari itulah Bayu bisa mengantarkan dirinya kemana mana, mau beli buku oke, pasar juga ayuk.
"Besok pagi nyuci baju, udah kima hari aku nggak nyuci sayang. Habis nyuci menyetrika baju, kan rabu aku pergi sampe sabtu atau bisa jadi sampe minggu tergantung kekasih aku aja ngajak pulang kapan." ujar Rinjani menggoda Bayu untuk pergi liburan.
"Oke kita pulang minggu. Kita akan liburan ke Bukittinggi meneruskan penjajakan tempat wisata di sana" ujar Bayu yang paham kode kode yang diberikan oleh Rinjani.
"Hahahahaha. Akhirnya, terimakasih sayangku cintaku, tampan ku, tentara ku" ujar Rinjani memuji muji Bayu.
"Udah jangan kebanyakan muji, nanti nggak tau lagi mau manggil aku dengan sapaan apa. Terus siap nyetrika mau ngapain?" tanya Bayu lagi.
"Rencana mau nonton sayang. Nggak tau lagi mau ngapain." ujar Rinjani kepada Bayu.
"Sayang, besok kamu jam berapa berangkat?" tanya Bayu kepada Rinjani.
"Emang ada apa sayang? Ada yang harus aku bawain dari sini?" tanya Rinjani kepada Bayu.
"Eeeee, kamu mau nggak masakin aku sambal teri halus itu tambah kacang tanah terus tahu dipotong panjang panjang seperti korek api, kalau kamu nggak sibuk sih" ujar Bayu kepada Rinjani.
"Tumben sayang kenapa?" tanya Rinjani yang mulai rusuh dengan keadaan Bayu di sana.
"Di sini kurang cabe sayang, makanya aku minta bawain. Jadi, pas makan di sini aku bisa makan pakai sambal yang kamu bikin pas hari Kamis itu" ujar Bayu menjelaskan kenapa dia minta Rinjani untuk membuatkan sambal. Padahal selama ini sama sekali tidak pernah Bayu meminta Rinjani untuk membuatkan dirinya sambal ataupun yang lain.
"Oke sayang, besok siap jemur kain aku akan beli ke belakang pergi beli bahan bahannya ya" ujar Rinjani yang setuju untuk membuatkan Bayu masakan yang dimintanya tadi.
"Makasi sayang. Oh ya sayang, kamu udah makan?" tanya Bayu yang ingat Rinjani pasti belum makan malam karena baru bangun.
"Ini mau keluar bentar sama Ranti sayang, nggak ada makanan, makanya mau keluar bentar. Boleh sayang?" tanya Rinjani meminta izin kepada Bayu.
"Boleh, tepi nanti sampai di kos kasih tau lagi ya."
Bayu mengizinkan Rinjani untuk keluar dengan Ranti pergi mencari makan malam mereka ke luar.
"Sayang, aku ada rapat dengan pelatih yang lainnya. Kamu sama Ranti hati hati pergi ya aku rapat bentar, nanti aku SMS kalau udah selesai rapat" ujar Bayu memberitahukan kegiatannya yang sebentar lagi akan dilakukan.
"Oke sayang. Ini Ranti juga udah siap aku pergi dulu ya. Dadah sayang. Muach" ujar Rinjani yang benar benar berubah jadi mesra kepada Bayu.
"Muach. Kamu harus hati hati" ujar Bayu menekankan sekali lagi
"Iya sayang aman" ujar Rinjani.
Rinjani kemudian memutuskan sambungan telponnya dengan Bayu. Dia dan Ranti akan pergi keluar membeli makan malam mereka. Sedangkan Bayu langsung memakai pakaiannya, dia akan melakukan rapat dengan para pelatih yang lainnya, membahas bagaimana langkah dan cara cara untuk kegiatan besok.
Bayu yang tertidur langsung duduk saat mimpinya terasa seperti kenyataan itu. Bayu mengusap matanya yang memerah karena mimpi yang tidak biasanya terjadi seperti itu.
"Cuma mimpi ternyata" ujar Bayu dengan pelan