Its My Dream

Its My Dream
23



"Jadi loe kenal dimana sama Rinjani, Bay? Asli gue penasaran. Loe, gue tau dari daerah Jawa. Sedangkan Rinjani berasal dari daerah yang sama dengan gue. Dimana ketemunya coba Bay"


Aris yang dari tadi penasaran, langsung menanyakan saja kepada Bayu, dimana Bayu bisa mengenal Rinjani sahabat masa kecilnya sampai masa SMA di Sijunjung itu.


Sahabat yang sama sama menanggung penderitaan saat mereka masih dalam masa masa sekolah. Sahabat yang tau bagaimana menderitanya Aris yang tiap hari ke sekolah hanya membawa uang dua ribu saja. Rinjani lah yang selalu mentraktir Aris makan di kantin sate ajo atau dimanapun Aris berada.


"Jadi gina Bang, waktu itu dia sama anak kos kosannya lari lari di tepi bandar kanal di sebelah Batalyon. Nah, gue saat itu juga sedang lari lari dengan anggota gue, biasalah joging joging sore. Semua teman temannya kan pada cari perhatian ne sama tentara tentara yang ada di situ. Nah, dia sendiri yang cuek nggak jelas gitu. Dia diam aja, kawan kawannya udah ngajak ngobrol tentara e e e e, nanti ujung ujungnya tukaran nomor ponsel. Lah Rinjani? jangan tanya Bang, dia ngejogrok duduk di tepi bandar sendirian."


"Nah, di situ gue jadi semakin penasaran dengan Rinjani. Kawan kawannya pada sibuk deketin tentara, e e e e e dia malah kayak nggak butuh gitu. Itu yang bikin aku penasaran"


Bayu mulai menceritakan kepada Aris kapan awal mulai dia mulai bertemu dengan Rinjani. Pada akhirnya bisa menjadi kekasih hati Bayu.


"Terus, gue deketin dia. E e e e e, tau nggak loe Bang, apa katanya ke gue?" ujar Bayu menatap ketiga rekan sesama pelatihnya itu. Bayu menatap mereka sambil berusaha menahan senyumannya.


"Apa?" ujar Aris dan kedua rekanya yang lain penasaran. Apalagi Bayu sampai menahan senyum seperti itu.


"Gue nggak tertarik dengan yang pake baju hijau, terus lari lari nggak jelas tiap sore sambil nyanyi nyanyi. Gue tertarik sama yang pake baju kuning kheki, duduk manis plus pake mobil plat kebakar" jawab Bayu yang sampai sekarang masih ingat satu kalimat dari Rinjani. Kalimat yang akan dikeluarkan oleh Bayu, apabila melihat seorang pria memakai baju kuning kheki.


"Haha haha haha. Ternyata tu anak masih sama dari yang kemaren kemaren." ujar Aris mengingat bagaimana Rinjani tidak mau berpacaran dengan tentara, Rinjani maunya sama pegawai negeri sipil.


"Abang kenal sama Rinjani sejak kapan Bang. Sepertinya kalian berdua sangat akrab sekali?" tanya Bayu yang penasaran semenjak kapan Aris kenal dengan Rinjani.


"Sejak bayi Bay. Kami itu berlima bersahabat, gue, Rinjani, Eka, Riki sama Deri. Nah satu satunya perempuan ya Rinjani itu. Tapi jangan salah loe, Rinjani lah yang paling keras, paling pemberontak dibandingkan kami yang laki laki"


Aris mulai menceritakan kepada Bayu gimana dia bersahabat dengan Rinjani dan ketiga sahabatnya yang lain.


"Makanya gue heran kok bisa loe pacaran dengan dia coba. Gue rasa ya Rinjani bukan tipe elo" ujar Aris yang tau bagaimana Rinjani.


"Emang dia dulu gimana ya Bang, kok sampai abang bilang dia bukan tipe gue" kata Bayu penasaran dengan alasan Aris mengatakan hal itu.


"Sekarang gue tanya elo. Apa Rinjani sekarang seperti wanita lainnya?" ujar Aris memastikan kalau sahabatnya itu telah berubah tiga ratus enam puluh darjat.


"Iya Bang. Dia kemana mana pake rok. Pokoknya feminim banget. Neh fotonya" ujar Bayu memperlihatkan fhoto Rinjani kepada Aris.


Aris tersenyum melihat fhoto Rinjani. Sahabat terbaiknya yang ternyata sudah berubah menjadi sesosok wanita feminim. Padahal sebelumnya, manjat pagar ayok, main dindong oke. Cabut apalagi, pokoknya Rinjani ketua gengnya.


"Nah, pas gue ngomong hanya sepersekian menit dengan Rinjani, pernah nggak loe nengok Rinjani seperti itu?" lanjut Aris memastikan kepada Bayu.


Bayu menggeleng. Dia memang tidak pernah melihat Rinjani seperti itu. Bayu mengenal Rinjani adalah wanita lemah lembut seperti Rinjani yang sekarang, tapi ternyata oh ternyata, kekasihnya itu benar benar keren.


"Nah makanya gue bilang, elo bersyukur banget menemukan Rinjani yang seperti itu. Kalau dulu, jangankan elo, pacar gue, eka, deri, riki harus seleksi dia dulu. Makanya kami berempat nggak pernah pacaran." ujar Aris menceritakan kepada Bayu. Rinjani akan selalu menseleksi pacar pacar ketiga sahabatnya itu.


"Kok bisa Bang?" tanya Bayu lagi.


"Ya bisalah Bay. Tiap gue atau tiga sahabat gue lainnya mau pergi pedekatean e e e tu anak udah duluan sampe di tempat kami mau pedekatean" lanjut Aris sambil mengingat kisah kisah waktu mereka bersahabat berlima.


"Emang tempat pedekatean di sinjunjung nggak banyak Bang? Kayak kafe kafe gitu." ujar Bayu bertanya dengan tampang polosnya.


"Boro boro kafe, tempat kencan aja cuma satu kantin sekolah, paling banter bakso mas tolip. Mana ada kafe di sinjunjung zaman kami SMA Bay. Nggak ada sama sekali." kata Aris menceritakan bagaimana keadaan daerahnya semasa dia bersekolah. Suatu daerah yang tidak ada tempat nongkrong bagi pemuda pemudi.


"Yup. Tu anak bener bener jadi orang. Bayangin aja sama loe, cita cita dia pertama mau jadi kowad. Sayangnya ada suatu kejadian yang membuat dia dan Deri tidak bisa mewujudkan cita cita mereka" ujar Aris mengenang masa lalu, kejadian teramat menyedihkan bagi mereka bersama.


"Kenapa Bang?" Bayu semakin penasaran.


"Saat itu dia hari menjelang ujian nasional. Kami taun pakai dia motor. Nah Rinjani ini baru pandai bawa motor dua hari. Dia bawa tu motor ngebut ngebut penurunan polres. Eee eee mereka berdua nyungsep masuk sawah. Hal ini mengakibatlan tangan Rinjani dan Deri patah" ujar Aris menceritakan kepada Bayu gimana Rinjani dulunya.


"Terus kapan abang lose contact dengan Rinjani"


"Waktu tamat sekolah. Gue kan ceritanya merantau. Ee ee ee ternyata ada tes akmil ya udah gue ikut, kiranya di Terima. Bokap sama nyokap gue pindah kota. Jadi, nggak bisa ngasih tau Rinjani." ujar Aris.


"Tiga sahabat yang lainnya gimana Bang?" ujar Bayu yang penasaran dengan ketiga sahabat Rinjani yang lainnya.


"Kalau Deri jadi perawat di RSUD Sijunjung. Sedangkan Riki, dia akmil juga, sekarang dinas di angkatan laut. Nah kalau Eka sesuai dengan cita citanya dia memiliki kafe di daerah pekanbaru sana" ujar Bayu menceritakan tentang kehidupan tiga sahabat mereka yang lain.


"Jadi yang meleset Rinjani doang Bang?"


"Yup. Apalagi dia jadi guru, itu lebih meleset lagi. Masalahnya waktu kuliah tu anak ngambil manajemen ekonomi universitas brawijaya. Lulus tu anak jadi mahasiswa undangan tapi di tolak karena ya gitu. Rinjani waktu sekolah otaknya otak doraemon." ujar Aris memberitahukan kepada Bayu gimana Rinjani yang dulu.


"Otak doraemon? Otak baling baling bambu gitu?" tanya Bayu.


"Yup"


"Udah ah, males bahas tu makhluk. Palingan besok dia mukulin gue kalau ketemu. Dia kan marah banget sama gue itu" ujar Aris yang nggak kebayang kalau dia bertemu dengan Rinjani.


"Tenang Bang. Besok dia ke sini" jawab Bayu yang sama sekali tidak memiliki rasa cemburu kepada Aris.


"Yah baru gue omongin, udah mau datang aja dia" ujar Aris sambil memijit mijit tangannya yang akan ditangani oleh Rinjani besok hari.


Mereka kemudian melanjutkan obrolan untuk kegiatan latihan besok pagi. Kegiatan yang akan dinaikkan tingkat rintangannya dibandingkan yang tadi.


"Jadi besok kita jelajah hutan Bang?" ujar rekan pelatih yang lain.


"Yup. Tapi yang sederhana dulu. Bayu kayaknya nggak bisa lama" ujar Aris yang tahu Bayu pasti akan menjemput Rinjani.


"Gimana kalau latih tembak saja dulu Bang. Mereka sepertinya masih kurang dalam menembak." ujar pelatih yang tadi memerhatikan bagaimana cara tentara baru itu dalam menembak musuh


Aris terlihat berpikir. Dia tadi juga menyaksikan bagaimana tentara baru itu masih ragu untuk menembak sasaran.


"Oke, besok kita fokuskan kepada menembak baik benda diam maupun benda bergerak. Jadi, yang mau jemput kekasihnya nggak terhalangi oleh pekerjaan" kata Aris yang paham bagaimana menjadi Bayu kalau tidak bisa menjemput kekasihnya.


Mereka kembali melanjutkan diskusi tersebut. Diskusi tentang kegiatan esok hari. Kegiatan mereka cukup padat merayap sampai hari jumat. Kegiatan yang tidak ada kesempatan untuk berleha leha. Tetapi apapun itu, Bayu dan ketiga rekan pelatih lainnya sudah terbiasa dengan hal itu.


Tepat pukul sebelas, mereka berempat kembali ke wisma tpat mereka menginap. Bayu melihat ponsel miliknya, sama sekali tidak ada notifikasi pesan dari Rinjani.


"Palingan udah tidur tu anak" ujar Bayu.


"Rinjani" ujar Bayu menyebut nama Rinjani.