
"Ah sangat menyebalkan sekali. Kenapa tidak ada kursi kosong lagi di depan kelas" ujar Ranti yang kesal saat melihat tidak adanya kursi kosong di bagian depan kelas saat mereka sampai di dalam kelas.
"Yah dia kesal karena nggak bisa duduk di bagian depan" ujar Rinjani yang mulai menjahili Ranti kembali.
Rinjani dapat melihat dengan sangat jelas Ranti yang kesal karena tidak bisa duduk di bagian depan kelas.
"Jani aku mohon jangan mulai lagi." kata Ranti yang kesal karena Rinjani mulai lagi untuk menjahili dirinya.
"ini semua kan gara-gara kamu. kamu yang mengajak aku membeli burger dulu. kalau nggak beli burger tadi kan kita bisa duduk di depan" kata Ranti yang memberikan dan melemparkan kesalahan itu kepada Rinjani.
"Hahaha jangan kesal begitu Sobat. Ya udah kita duduk di belakang aja. Kamu akan tetap bisa melihat Bram dari kursi belakang itu" uajar Rinjani membujuk Ranti supaya tidak kesal lagi, karena tidak bisa duduk di depan selama perkuliahan berlangsung.
"Ye kan gue mau lihat wajah Bram yang udah 2 hari tidak Gue lihat. Gue kangen sama dia" kata Ranti dengan nada yang sok manja.
"Yaelah tur, lu memanglah ya. Kayak orang baru pacaran pertama kali. Nanti gue bilang lu jomblo, lu ngamuk-ngamuk lagi." ujar Rinjani sambil duduk di kursi yang masih kosong di sudut bagian belakang kelas tersebut.
"Gue heran, kenapa sewaktu dosen Bram yang memberikan kuliah kelas ini terasa sangat ramai dan terlalu padat. Sedangkan dosen lain bisa-biasanya ada yang libur 3 sampai 5 orang" lanjut Rinjani yang mulai memanas-manasi Ranti.
"Atau jangan-jangan karena dosennya ganteng kali ya. Sehingga semua mahasiswi betah untuk melihat wajah tampan dosen tersebut." ujar Rinjani yang niat jeleknya sudah kembali timbul untuk memanas-manasi Ranti yang memang sudah keaal karena tidak bisa duduk di bagian depan kelas Saat kuliah dengan Bram.
Bugh, tiba-tiba Rinjani dipukul kepalanya oleh Ranti dengan buku tebal yang tadi di bawanya untuk kuliah mata pelajaran Bram.
"Wow gila lu, udah dua kali kepala gua lu timpuk pakai buku tebal itu. Bisa-bisa gue bego lagi nanti" ujar Rinjani yang komplain karena kepalanya sudah dua kali ditumpuk dengan buku tebal oleh Ranti.
"Siapa yang salah? Siapa yang bikin gue emosi coba? Pagi-pagi udah berkali-kali menjahili gue. Makanya gue timpuk aja pakai buku besar ini supaya otak lu menjadi tidak mau mengganggu gue lagi" kata Ranti menjawab perkataan dari Rinjani dengan nada yang sedikit agak kesal.
"Udah udah maafin gue. Tuh dosen ganteng udah masuk kelas." kata Rinjani yang sadar telah keterlaluan menggoda Ranti selama pagi hari ini.
Mereka berdua kemudian mengikuti perkuliahan yang diberikan oleh dosen Bram dengan sangat serius. Rinjani beberapa kali terlihat tidak konsentrasi saat mendengar penjelasan dari dosen Bram. Sedangkan Ranti yang memang menyukai pelajaran tersebut terlihat sangat menikmati materi yang diberikan oleh dosen Bram.
Sedangkan di tempat lain. Bayu terlihat juga tidak fokus dalam mengikuti rapat tertutup, dengan semua Komandan satuan untuk membahas latihan intensif mereka, yang akan dilaksanakan selama dua Minggu, yang berguna untuk persiapan Bayu dan semua anggotanya sebelum berangkat ke daerah perbatasan yang sedang mengalami konflik.
Wajah Bayu yang terlihat menyimpan beban tersebut sangat nampak dan tidak bisa dibohongi oleh Bayu kepada semua orang yang ada di dalam ruangan rapat tersebut.
"Maaf Bayu ada apa? Kamu sepertinya terlihat sedang tidak berkonsentrasi" ujar salah satu rekan satu leting Bayu dan juga akan ikut ke daerah perbatasan yang sedang mengalami konflik senjata tersebut.
"Pikiran gue sedang tidak ada di sini. Pikiran gue sedang berada di kampus depan" ujar bayu mengatakan kepada temannya itu apa yang sekarang sedang dipikirkan oleh Bayu.
"Rinjani masih belum memberikan informasi kepada dirimu?" ujar teman Bayu yang bisa menebak apa yang terjadi kepada Bayu saat sekarang ini.
"Yup gue ragu apakah hubungan gue dengan dirinya akan terus berjalan atau akan seperti dirimu dengan kekasih kamu yang memutuskan kamu hanya karena kamu akan pergi ke daerah perbatasan tersebut" kata Bayu mengungkapkan kekhawatirannya tentang hubungannya dengan Rinjani saat ini.
"Bay Bay, kalau dia benar-benar sayang sama lo, dia pasti akan mendukung karir lo yang harus pergi ke daerah tersebut. Hal berbeda terjadi kepada hubungan gue. Dia memang sama sekali tidak mendukung karir gue. Makanya saat ada momen yang pas, Dia memutuskan hubungannya dengan gue" kata sahabat Bayu memberikan sebuah pandangannya kepada Bayu bagaimana sebenarnya perasaan dari kekasihnya yang ternyata lebih memutuskan dirinya daripada mendukung karir dari sahabat Bayu tersebut.
"Semoga Rinjani memang benar-benar mencintai gue dan bisa mendukung karir gue ya" ujar bayu kepada sahabatnya yang bernama Angga.
Mereka berdua akan pergi ke daerah perbatasan itu sebagai pimpinan dari kesatuan yang akan berangkat ke sana. Mereka memimpin masing masing grub yang akan diterjunkan sebagai pasukan pengaman daerah perbatasan selama dua tahun.
Setelah mendapatkan wejangan dari Angga. Bayu terlihat mulai berkonsentrasi untuk mengikuti briefing yang sedang dilakukan oleh Komandan satuan dengan beberapa kepala seksi yang akan berangkat menuju daerah konflik tersebut.
Hal yang sama juga terjadi kepada Rinjani setelahsetelah empat puluh lima menit pertama Rinjani tidak bisa berkonsentrasi. Sekarang Rinjani sudah bisa kembali berkonsentrasi untuk mengikuti pelajaran dengan dosen Bram.
Sedangkan Ranti memang sudah berkonsentrasi sejak pembelajaran pertama kali dimulai. Hal itu bukan karena Bram yang merupakan kekasih Ranti. Tetapi memang murni karena Ranti sangat menyukai mata pelajaran yang diajarkan oleh Bram. Apalagi cara mengajar Bram yang terlihat sangat modern dan mudah dimengerti oleh setiap mahasiswa yang mengambil kuliah dengan Bram. Makanya jangan heran kode kelas Bram akan selalu penuh setiap semester nya.
tempat pukul setengah dua belas siang pembelajaran dari dosen Bram telah berakhir. Rinjani dan Ranti kemudian keluar kelas untuk beristirahat. Mereka berdua rencananya akan makan di kantin kampus yang berada di seberang jalan.
"Ranti bisa berbicara sebentar?" kata dosen Bram memanggil Ranti yang hendak keluar dari dalam kelas bersama dengan Rinjani.
Ranti dan Rinjani kemudian berhenti. Mereka berdua melihat ke arah belakang saat mendengar panggilan dari dosen Bram tersebut.