
Jadi kita mulai dari mana bagusnya Jo?" ujar Bayu bertanya kepada Josua untuk memulai dari mana pencarian Rinjani hari ini.
"Mulai dari kos kosan aja Bang. Kita harus tanya Ranti bagaimana mulanya kenapa bisa Rinjani untuk memutuskan pergi dari kos."
"Kemudian kita juga tanyakan kepada saksi yang melihat keadaan Rinjani saat pergi meninggalkan kos kosan itu"
Josua memberikan ide untuk memulai pencarian Rinjani dari kos kosan mereka dengan menanyakan kepada Ranti dan juga adik kos yang menjadi saksi perginya Rinjani dari kos kosan.
"Oke kita mulai dari sana dulu" kata Bayu yang setuju dengan apa yang dikatakan oleh Josua kepada dirinya.
Bayu mengemudikan mobil menuju kos kosan Rinjani. Bayu sebenarnya sudah dalam posisi tidak bisa berpikir jernih dan menyesal karena semalam membiarkan Rinjani untuk pergi sendirian dan tidak berusaha menyelesaikan masalah antara dirinya dengan Rinjani.
"Bang, kamu oke bawa mobil? Kalau nggak biar aku aja yang bawa Bang" kata Josua saat melihat Bayu yang tidak dalam keadaan oke membawa mobil yang dikendarai oleh dirinya.
"Aku oke. Ada apa?" tanya Bayu kepada Josua
"Nggak ada apa apa Bang. Cuma aku lihat abang benar benar sedang banyak beban pikiran" lanjut Josua mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya kepada Bayu.
"Ah tidak apa apa Jo. Aku oke" jawab Bayu.
Bayu kemudian mengemudikan mobilnya dengan fokus. Dia berusaha tidak memikirkan tentang hal lainnya. Dia fokus untuk melakukan pencarian terhadap Rinjani.
Bayu memarkir mobilnya di bawah batang cherry yang ada di dekat kos kosan Rinjani. Bayu sudah mengirimkan pesan kepada Ranti untuk membawa adek kosnya turun ke lantai dasar supaya dia bisa berdiskusi dan bertanya kepada Ranti dan adik kosnya itu tentang bagaimana keadaan Rinjani saat kabur dari kos kosan.
"Bang" ujar Ranti menyapa Bayu yang baru datang.
"Ranti" jawab Bayu.
"Silahkan duduk Bang. Ini adek kos yang tadi menjadi saksi perginya Rinjani dari kos. Namanya Tita" kata Ranti memperkenalkan adik kos yang menjadi saksi perginya Rinjani dari kos kosan.
"Bayu" kata Bayu memperkenalkan dirinya.
"Tita Bang" jawab Tita.
"Oh ya kenalkan ini namanya Josua" ujar Bayu memperkenalkan Josua kepada Ranti dan Tita.
"Jo, ini namanya Ranti dan ini Tita" lanjut Bayu memperkenalkan Ranti dan Tita kepada Josua.
Josua menganggukkan kepalanya kepada Ranti dan Tita.
"Jadi Nona Ranti boleh saya bertanya kepada Anda?" ujar Josua yang sudah langsung ingin bertanya kepada Ranti.
Josua bukan tipe orang yang membuang buang waktu. Dia akan langsung menggunakan waktu yang ada untuk melakukan aktifitasnya. Apalagi ini adalah berkaitan dengan pencarian seseorang yang sangat penting dalam keluarga komandannya itu.
"Oke sip. Apapun itu" ujar Ranti menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Josua kepada dirinya.
"Baik terimakasih atas kerjasamanya Nona" ujar Josua dengan sikap formalnya.
"Menurut Nona apakah dari semalam Nona Rinjani memang sudah terlihat ada masalah dan bisa dikatakan kalau Nona Rinjani memang akan kabur?" ujar Josua mulai bertanya kepada Ranti.
"Rinjani memang terlihat bermasalah sejak semalam. Sebelumnya aku mau minta maaf kepada Bang Bayu karena menurutu keinginan Rinjani yang minta jemput ke kafe tempat Bang Bayu dan Rinjani berada" ujar Ranti mengatakan permintaan maafnya kepada Bayu.
"Tapi satu hal sebelum kamu menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Josua. Kamu tau apa yang menyebabkan Rinjani menjadi uring uringan seperti ini?" kata Bayu bertanya kepada Ranti.
"Pagi sebelum pergi bertemu dengan Bang Bayu, Rinjani memang sempat cerita ke aku kalau dia sedang memikirkan suatu hal" ujar Ranti membuka percakapannya dengan Bayu.
"Apa itu? Bisa jadi percakapan itu adalah kunci untuk kita tahu apa yang sekarang sedang dipikirkan oleh Rinjani" kata Josua menyambar perkataan dari Ranti.
"Rinjani mengatakan kalau dia merasa Bang Bayu sebentar lagi akan pergi ke daerah konflik. Sebenarnya kemaren dia mau membahas tentang hal itu. Tetapi ntah kenapa membuat Rinjani tidak berani bertanya hal itu kepada Bang Bayu" kata Ranti menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Josua.
Bayu yang mendengar apa yang dikatakan oleh Ranti kepada dirinya, hanya bisa termenung saja. Dia tidak menyangka kalau itu adalah pokok permasalahan yang sebenarnya terjadi antara dirinya dengan Rinjani.
"Jani sama sekali nggak ada membahas hal itu. Setiap di tanya dia nangis, kalau nggak meluk. Itu aja terus" kata Bayu menjelaskan kepada Ranti apa yang dilakukan oleh Rinjani saat mereka berdua kemaren.
Penyesalan datang kepada Bayu karena Bayu sama sekali tidak arif dan bijaksana. Bayu sama sekali tidak bisa membaca keadaan dari seorang Rinjani.
"Berarti ini adalah salah gue karena nggak peka sama sekali dengan apa yang dirasakan oleh Rinjani" ujar Bayu sambil menatap lurus.
"Jangan salahin diri sendiri Bang. Rinjani juga salah, dia memiliki pemikiran tetapi tidak mau berbagi dengan Abang. Dia mau ngomong tetapi nggak jadi ngomong. Itu adalah kesalahan Rinjani" kata Ranti yang tidak ingin Bayu menyalahkan dirinya sendiri.
"Tita, kalau saya boleh tanya, saat Rinjani berangkat dari sini, apa dia menangis?" ujar Josua bertanya kepada Tita yang menjadi saksi atas kepergian Rinjani dari kos.
"Nangis nggak Bang. Tetapi Tita lihat hari itu Kak Rinjani memang sedang bersedih. Raut wajahnya terlihat sangat sendu" kata Tita menjelaskan kepada Josua bagaimana raut wajah Rinjani saat dirinya pergi dari kos kosan.
"Dia bawa banyak barang?" ujar Josua menanyakan kembali barang barang yang dibawa oleh Rinjani.
"Banyak Bang. Tas besar di sandang satu, tas laptop satu sama tas jinjing satu" lanjut Tita memberitahukan kepada Josua apa saja barang barang yang dibawa oleh Rinjani seperti yang dilihat oleh Tita tadi.
Josua mengangguk angguk mendengar apa yang dikatakan oleh Tita tentang keadaan Rinjani yang pergi dengan membawa barang barang yang cukup banyak.
Saat mereka semua saling mengobrol menceritakan tentang kepergian Rinjani, ponsel milik Ranti bergetar. Ranti melihat kalau ada seseorang yang menghubunginya.
"Dinda?" ujar Ranti kaget sambil melihat nama yang tertulis di layar ponselnya itu.
"Ada apa dia menghubungi gue ya?" lanjut Ranti yang memang sangat jarang menerima telpon dari Dinda.
"Siapa Ran?" ujar Bayu bertanya kepada Ranti siapa yang menghubungi Ranti.
"Dinda Bang" jawab Ranti sambil melihat ke arah Bayu.
"Dinda? Siapa?" ujar Bayu yang penasaran dengan teman Ranti yang bernama Dinda itu.
"Kawan sekampus Bang" jawab Ranti.
"kenapa nggak angkat?" lanjut Bayu bertanya kepada Ranti.
"Putus Bang" jawab Ranti.
"Telpon lagi aja" kata Bayu sambil memberikan perintah kepada Ranti.