
RUMAH DINAS PAPAP
"Jadi Pap, apa yang ditelpon oleh ajudan tadi?" tanya Mamah kepada Papap sambil menatap ke arah Papap
Papap dan Mamah berada di atas ranjang, mereka baru saja selesai melakukan olah raga malam yang membuat keringat mereka keluar. Hal ini dilakukan untuk membayar kemarahan yang sedang terjadi di antara mereka berdua tadi gara gara kelakuan anak semata wayangnya yaitu Bayu Anggara yang memang sangat hobby melakukan hal itu, tetapi ntah kenapa Papap dan mamah masih juga terpancing untuk bertengkar hanya karena ulah yang dilakukan oleh Bayu.
"Bayu akan berangkat dalam satu bulan ke depan Mah. Papap di minta mempersiapkan semua anggota yang akan berangkat ke daerah konflik itu" ujar Papap sambil memainkan rambut bergelombang istrinya itu.
"Papap serius? Bukannya masih enam bulan lagi?" ujar Mamah kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Papap kepada dirinya.
Mamah tidak menyangka kalau keberangkatan Bayu pada akhirnya harus dipercepat. Padahal menurut informasi yang diberikan oleh komandan lama pada saat serah terima itu, para anggota akan berangkat ke daerah konflik dalam waktu enam bulan, ternyata ntah ada angin apa, semuanya dipercepat hanya dalam waktu satu bulan saja.
"Apa tidak bisa diganti orangnya ya Pah? Ganti Bayu dengan siapa gitu, gelombang berikutnya baru Bayu yang kita kirim" ujar Mamah berusaha menego Papap untuk menukar Bayu dengan anggota yang lainnya.
"Mamah, maafkan Papap ya, kita ini kan sama sama prajurit, apa mamah mau saat nama mamah sudah terpanggil untuk membela negara ternyata harus di tukar hanya karena orang tua mamah merupakan komandan di kesatuan itu?"
Papap balik bertanya kepada mamah, Papap membalikkan pertanyaan yang sama kepada Mamah.
"Kalau mamah menjawab biasa aja, maka papap pasti akan menukar nama Bayu dengan nama anggota yang lain" ujar Papap memberikan jawaban kepada Mamah tentang pertanyaan yang diberikan oleh Papap sendiri kepada mamah.
Mamah terlihat berpikir keras, kalau naluri seorang ibu yang dipakai oleh Mamah, pasti mamah akan mengatakan iya tukar saja. Tetapi kalau mamah memakai naluri seorang prajurit dan menempatkan dirinya sebagai seorang prajurit maka mamah akan menjawab kirim saja Bayu ke daerah itu.
Papap dengan setia menunggu jawaban yang akan diberikan oleh Mamah kepada dirinya. Papap sama sekali tidak memaksa mamah untuk menjawab dengan waktu yang cepat. Papap memberikan Mamah waktu yang seluas luasnya untuk menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Papap sebentar ini.
"Papap, papap pasti tahu jawaban Mamah." ujar Mamah sambil langsung memeluk Papap dengan sangat erat.
Papap membalas memeluk istrinya itu. Papap sangat tahu bagaimana perasaan Mamah. Perasaan semua orang tua saat tahu kalau anak mereka akan di kirim ke daerah konflik. Perasaan setiap istri yang tahu kalau suaminya dalam waktu dekat akan dikirim ke daerah konflik. Perasaan seorang anak yang mengetahui ayahnya akan pergi ke daerah konflik selama satu tahun.
"Mamah, kita hanya bisa mendoakan Bayu setiap hari untuk Tuhan memberikan selalu keselamatan kepada anak kita."
"Mamah tidak boleh seperti ini. Kalau Mamah begini bagaimana dengan Rinjani? Apa yang akan dilakukan oleh Rinjani?" ujar Papap meminta Mamah untuk kembali tenang dan tidak memperlihatkan rasa khawatirnya di depan siapapun.
"Saat Rinjani melihat Mamah seperti ini tentu dalam pikirannya akan mengatakan, Mamah saja yang prajurit histeris saat tahu Bayu akan ke medan konflik."
"Nah Mamah akan membuat Rinjani semakin takut untuk melepas Bayu ke daerah itu. Apa Mamah mau membuat Rinjani ketakutan sedemikian rupa?" tanya Papap kepada Mamah.
Mamah menggeleng, Mamah sekarang baru tersadar bagaimana beratnya menjadi seorang ibu yang harus melepaskan anaknya ke medan konflik.
"mamah janji akan bersikap biasa saja saat bertemu dengan Bayu dan juga ada Rinjani di sana?" ujar Papap bertanya kepada Mamah tentang kesediaan mamah untuk melakukan hal itu.
"Oke Papap setuju, saat hanya kita bertiga saja lagi yang tinggal di rumah atau dimanapun, mamah boleh memanjakan anak mamah. Papap tidak akan melarang" ujar Papap mempersilahkan Mamah untuk melakukan hal apapun kepada Bayu. Papap tidak akan melarangnya, karena Papap juga akan melakukan hal yang sama kepada Bayu.
Papap memeluk kembali Mamah dengan sangat erat. Papap berusaha menentramkan kembali perasaan istrinya itu. Perasaan seorang ibu yang harus memberikan izin anaknya untuk ke daerah konflik. Dimana ibu itu selalu mendapatkan update berita bagaimana keadaan di daerah tersebut, sehingga hal itu semakin membuat sang ibu menjadi sangat takut dan cemas melepas anaknya untuk pergi ke daerah itu.
"Mah, bagaimana kalau kita bersih bersih lagi, nanti anak yang udah membuat kita harus kembali berolahraga itu datang dan sesuai kebiasaannya dia akan menggedor pintu kamar kita" ujar Papap mengingatkan Mamah bagaimana ekstremnya Bayu saat tidak mendapati kedua orang tuanya di luar kamar saat dirinya pulang dari luar.
"Bener Pap, bisa bisa semua ajudan dan piket akan langsung masuk ke dalam rumah saat mendengar Bayu mendobrak pintu" ujar Mamah yang ingat kejadian di rumah dinas mereka sebelumnya, dimana Bayu sempat menendang dan mendobrak pintu kamar kedua orang tuanya saat dirinya baru sampai dan tidak melihat kedua orang tuanya berada di luar kamar, semua ajudan dan piket terburu buru masuk ke dalam rumah dinas karena mendengar kegaduhan yang terjadi di dalam rumah dinas itu.
Papap dan Mamah kemudian membersihkan badan mereka secara bergantian, yang pertama sekali masuk ke kamar mandi adalah Mamah kemudian baru Papap. Setelah kedua orang tua Bayu itu selesai membersihkan diri mereka, mereka berdua keluar dari dalam kamar. Kali ini Mamah dan Papap setuju untuk duduk di teras rumah bagian belakang sambil menunggu kedatangan Bayu dari mengantar Rinjani ke kos.
"pap mau minum kopi atau teh?" ujar Mamah yang merasa sedikit haus
"Teh aja Mah" jawab Papap sambil melihat berita yang sedang viral yaitu berita pembunahan.
Mamah pergi membuatkan teh untuk Papap. Saat itulah pria tampan tersebut pulang dari luar. Dia melihat Mamah sedang berada di mini bar yang ada di teras tersebut.
"Buk, lemon tea satu buk" ujar Bayu menyebutkan minuman apa yang sedang ingin dinikmatinya sekarang ini.
"Oke sip" jawab Mamah sambil memberikan jempolnya kepada Bayu.
Bayu yang melihat tanggapan Mamah langsung mengokekan apa yang diinginkan oleh dirinya mendadak menjadi heran dengan sikap mamah tersebut.
Mamah menyiapkan tiga gelas minuman untuk mereka bertiga. Selain itu Mamah juga mengeluarkan puding regal yang tadi sempat dibuat oleh Mamah, tetapi Mamah lupa menghidangkannya saat mereka makan malam bersama dengan Rinjani.
"Pap, boleh aku bertanya sesuatu?" ujar Bayu sambil menatap ke arah Papap yang sedang menyeruput teh hijau yang dibuatkan oleh Mami sebentar ini.
"Boleh apa?" tanya Papap kepada Bayu.
Papap dan Mamah sudah bisa membayangkan dan menerka apa yang akan ditanyakan oleh Bayu kepada Papap. Tetapi tidak etis rasanya kalau Papap main langsung jawab apa yang hendak ditanyakan oleh Bayu kepada dirinya.
"Apa isi telfon ajudan tadi Pap?" tanya Bayu langsung saja ke inti pertanyaan yang ingin ditanyakannya kepada Papap.
"Bayu, sebaiknya besok kamu ketahui, saat kita rapat di kesatuan. Papap tidak mau menjawab hal itu" ujar Papap sambil mengalihkan pandangannya dari Bayu.
Bayu sudah paham apa yang akan disampaikan oleh Papap besok di rapat internal yang suratnya sudah di terima oleh Bayu. Biasanya Papap akan mengatakan hal apapun kepada Bayu tentang telpon dari siapapun, tetapi kali ini tidak, maka Bayu amat sangat yakin kalau hal yang ditelpon oleh ajudan tadi ada hubungannya dengan Bayu.