
"Selamat Pagi komandan keren" ujar salah satu rekan Bayu yang sekarang kebetulan menjadi wakil Bayu dalam memimpin kompi C, dimana Bayu menjadi komandan kompi tersebut.
"Pagi bro, gimana tidur loe di rumah baru?" ujar Bayu.
Rekan Bayu tersebut yang bernama Ivan baru pindah ke rumah dinasnya yang baru saja selesai di renovasi, rumah dinas Ivan bersebelahan dengan rumah dinas Bayu.
"Nyenyak lah bro. Di tambah lagi lingkungan yang asri. Oh ya Bro, gue kemaren ngambil buah jambu loe satu," ujar Ivan memberitahukan kepada Bayu bahwasanya dia mengambil buah jambu milik Bayu yang buahnya mengarah ke rumah Ivan.
"Sip, ambil aja, kalau loe mau ikan juga boleh. Di dalam ember ember yang ada di depan rumah gue itu isinya semua adalah lele. Ada juga gurame tetapi di kolam, loe bisa ambil sepuas loe" ujar Bayu memberikan izin kepada Ivan untuk mengambil apa yang dibutuhkan oleh Ivan di rumah dinasnya.
"Makasi" jawab Ivan.
Mereka berdua terus berjalan menuju ruangan tempat mereka bekerja.
"Van, masuk ke ruangan gue sebentar ya, ada yang mau gue diskusikan dengan elo" ujar Bayu dengan nada serius dan wajah serius.
Ivan yang sangat mengenal Bayu semasa pendidikan, bisa melihat dengan jelas kalau Bayu memang ada yang harus mereka bicarakan berdua. Sesuatu yang sangat penting yang harus mereka diskusikan.
Mereka berdua berjalan menuju ruangan kerja Bayu. Bayu membuka pintu ruangannya. Dia kemudian duduk di sofa tamu yang ada di ruangannya itu. Begitu pula dengan Ivan. Ivan duduk berhadapan dengan Bayu.
"Ada apa Bay? Sepertinya serius sekali?" ujar Ivan bertanya kepada Bayu tentang apa yang akan dibicarakan oleh mereka berdua.
"Begini Van, loe kan tau nama gue termasuk dalam salah satu nama perwira pertama yang diberangkatkan menuju daerah konflik yang ada di negara kita ini." ujar Bayu mulai membuka percakapan antara dirinya dengan Ivan.
"Ya gue tahu, terus ada apa Bay?" ujar Ivan yang penasaran dengan inti pembicaraan sebenarnya antara dirinya dengan Bayu.
"Gue akan berangkat bulan depan" jawab Bayu dengan nada singkat.
"Hah? Tapi enam bulan lagi. Bukannya besok baru satu bulan?" ujar Ivan bertanya kepada Bayu.
"Ya memang satu bulan." jawab Bayu sambil melihat seluruh ruangan kerjanya itu.
"Papap ngasih tahu?" tanya Ivan yang memang dari dulu semenjak mereka sekolah di Taruna sampai masuk Akmil, Ivan telah memanggil Papap dengan sebutan Papap.
"Yup. Papap dapat telpon dari ajudan, mengatakan kalau hari ini ada zoom dengan panglima membahas tentang masalah itu." jawab Bayu sambil sedikit tersenyum.
"Terus Papap mengatakan hal ini kepada loe kapan?" tanya Ivan yang penasaran sejak kapan Bayu mengetahui kalau dia akan dikirim ke daerah konflik bulan besok.
"Tadi malam. Kami malam tadi nongrong di kafe dengan Josua dan Ryan. Saat itulah Papap memberitahukan kepada gue kalau gue harus berangkat ke daerah konflik itu bulan besok"
Bayu yang selesai mengatakan hal itu kepada Ivan langsung saja berdiri dari duduknya dan berjalan menuju jendela ruangan. Bayu menatap lurus ke depan. Dia seperti bisa menembus semua dinding dan melihat Rinjani yang sedang serius kuliah.
"Apa Jani tahu?" tanya Ivan.
"Belum kalau untuk berangkat bulan depan. Tapi dia sudah tahu kalau akan berangkat dalam enam bulan lagi" jawab Bayu sambil melihat ke arah Ivan.
"Kapan rencana mau loe kasih tahu?"
"Jangan sampai loe ngasih tahu dia pas loe mau berangkat. Itu akan membuat dia terluka" ujar Ivan memberikan nasehat kepada Bayu.
"Rencananya nanti siang. Gue akan jemput dia ke kampus" ujar Bayu yang mengatakan kata kampus sangat pelan sekali.
"Gue lupa bawa mobil. Gue tadi nebeng sama Papap dan Mamah ke kesatuan" ujar Bayu yang teringat kalau dia sama sekali tidak membawa kendaraan ke kesatuan.
"Pakai mobil gue aja" jawab Ivan dengan santainya.
"Nanti loe pulang dengan apa ke asrama?" ujar Bayu balik bertanya kepada Ivan.
"Banyak anggota ini yang mau nganter" ujar Ivan menjawab pertanyaan tidak berguna yang diberikan oleh Bayu kepada dirinya.
"Oh baiklah, gue pinjam mobil loe jam setengah tiga"
"Neh kuncinya"
Ivan melemparkan kunci mobil miliknya kepada Bayu.
"Tanggapan Mamah bagaimana Bay?" ujar Ivan yang mengetahui bagaimana seorang Mamah memperlakukan seorang Bayu, putra tunggal mereka.
"Mamah meminta Papap untuk menukar gue dengan yang lain" jawab Bayu dengan gampangnya menceritakan kepada Ivan apa yang diminta oleh Mamah kepada Papap.
"Terus komen Papap apa?" kata Ivan yang langsung melongo tidak percaya dengan apa yang diminta oleh Mamah kepada Papap.
"Papap tetap bertahan dengan surat keputusan. Nah mereka sempat ribut sih, tetapi sekarang sudah baikan" kata Bayu menceritakan bagaimana reaksi Papap saat Mamah meminta sesuatu yang tidak mungkin kepada Papap.
"Serius loe, mereka berdua bisa ribut juga?" tanya Ivan yang setengah tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Bayu kepada dirinya.
"Loe sama aja sama Josua dan Ryan. Mereka berdua juga tidak mengira Papap dan Mamah bisa ribut. Noh kenyataannya mereka berdua bisa loh meributkan hal yang sepele" ujar Bayu menjelaskan kepada Ivan hal apa yang bisa diributkan oleh kedua orang tuanya itu.
"GUe juga baru tahu Bay. Gue kira mereka berdua aman aman aja terus. Haha haha haha haha. Ternyata mereka berdua bisa ribut juga" lanjut Ivan yang kaget saat mendengar kenyataan tentang kedua orang tua Bayu yang bisa juga ribut.
"Kata Papap ke kami bertiga semalam, keributan dalam rumah tangga itu adalah hal biasa saja. Tergantung suami dan istri, apakah saat bertengkar ada yang mengalah atau sama sama ego tidak mau mengalah. Kalau sama sama tidak mau mengalah ya sudah habis dah tu"
"Kata Papap lagi, kita sebagai laki laki harus mengalah, karena pekerjaan istri lebih banyak dari pada kita" lanjut Bayu mengatakan kepada Ivan apa yang dikatakan oleh Papap kepada mereka bertiga semalam.
"Mengalah? Serius loe Bay?" ujar Ivan yang kaget mendengar kata mengalah digunakan oleh Bayu.
"Bukan mengalah dengan konotasi negatif. Tetapi mengalah untuk kenyamanan rumah tangga apa salahnya."
"Emang loe mau, pulang dari kerja capek capek. IStri ngamuk ngamuk. Nah ya udah dari pada itu terjadi mending mengalah aja" ujar Bayu menjelaskan maksud dari kata mengalah yang dipakai oleh dirinya sebentar ini.
"Oh gitu"
"Bisa juga gue terapkan saat gue menikah nanti" kata Ivan yang pada akhirnya paham dengan maksud kata mengalah yang dipakai oleh Bayu sebentar ini.
"Gue ke ruangan dulu Bay" ujar Ivan.
"Sip"
Mereka berdua kemudian bekerja kembali. Sedangkan Papap sedang melakukan rapat dengan pimpinan pimpinan kesatuan tentara pada saat ini untuk membahas keberangkatan pasukan ke daerah yang sedang bergejolak tersebut.