Its My Dream

Its My Dream
Perjalanan Menuju Tempat Acara



"Gue mandi dulu. Loe hati hati ya. jangan berbuat sesuatu yang bisa membuat diri loe malu dengan semua tingkah konyol lo" ujar Ranti yang tau kalau dia selesai mandi, Rinjani tidak akan ada di kamar lagi.


"Sip" jawab Rinjani.


"Pokoknya intinya loe harus hati hati dalam melakukan apapun" pesan Ranti sekali lagi kepada Rinjani.


"Nanti saat makan, jangan mengambil makanan yang berkuah dan bercabe merah" lanjut Ranti mengatakan pesan selanjutnya kepada RInjani.


Rinjani yang mendengar dia tidak boleh makan dengan sambal cabe berwarna merah memandang ke arah Ranti dengan tatapan bertanya tanya.


"kenapa nggak boleh cabe merah? ada apa dengan cabe warna merah?" kata Rinjani yang akhirnya menyuarakan apa yang ada di dalam pikirannya kepada Ranti tentang larangan memakan cabe warna merah.


"Rinjani Ranjani, nanti mana tahuan ada potongan cabe yang nyangkut di gigi loe, kan nggak lucu cantik cantik tetapi bawa lampu jalan" ujar Ranti mengatakan kepada Rinjani kenapa dirinya melarang Rinjani untuk makan pake sambal yang cabenya warna merah.


"Oh oke, baiklah, gue juga nggak mau menjadi polisi di sana" jawab Rinjani yang pada akhirnya paham dengan apa yang dikatakan oleh Ranti untuk melarang dirinya makan dengan cabe merah.


"Gue mandi dulu. Ingat pesan gue," ujar Ranti sambil berjalan menuju kamar mandi.


"Gue akan ingat. Jangan buat malu dengan semua tingkah aneh gue" lanjut Rinjani yang memang sudah hafal dengan apa yang akan dikatakan oleh Ranti.


"Mantap. Dosen mah cepat nyambung dan nyimpen" jawab Ranti yang sekarang sudah berada di dekat kamar mandi


Ranti kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Dia akan kuliah jam delapan seperempat, makanya karena waktu tinggal tidak beberapa lama lagi, sehingga membuar Ranti harus melakukan semuanya dalam kecepatan yang sangat cepat. Dia tidak mau terlambat masuk ke kelas, karena perkuliahan hari ini adalah perkuliahan dengan dosen kekasihnya sendiri yaitu Bram. Ranti tidak mau merusak imagenya di depan Bram. selama ini Ranti di kenal sebagai mahasiswi disiplin oleh Bram, sehingga hal itu membuat Bram menjadi mencintainya. Makanya Ranti nggak mau Bram infil sama dirinya.


Sedangkan Rinjani yang melihat Ranti sudah berada di dalam kamar mandi, juga memilih untuk langsung saja untuk menunggu Bayu di teras kos kosan mereka. Dia tidak mau Bayu lama menunggu dirinya nanti kalau dia masih berada di kamarnya di lantai dua, saat Bayu sudah berada di depan kos.


Rinjani yang sudah duduk di kursi yang berada di teras kos kosannya itu, mengeluarkan ponsel pintarnya dari dalam tas kecil yang di bawa oleh Rinjani untuk menyimpan beberapa perlengkapan make up standar miliknya dan juga dompet kecil untuk menyimpan beberapa kartu Identitas yang memang selalu di bawa oleh Rinjani saat dia ke luar dari kos. Dompet yang selalu menemani kegiatan Rinjani kalau harus melakukan kegiatan di luar kegiatan kampus.


"Gue harus kirim tugas dulu" ujar Rinjani yang memang memiliki jadwal mengajar hari ini sebanyak delapan sks.


Jadwal yang cukup padat untuk asisten dosen seperti Rinjani. Tetapi apa mau dikata, Rinjani tidak mungkin memilih untuk tidak hadir dalam acara serah terima Papap Bayu.


"Gue harus pintar pintar membagi waktu sepertinya lagi. Mana waktu untuk ujian tengah semester makin dekat lagi. Huft mumet mumet" ujar Rinjani mengomel sendirian saat melihat scedul yang telah dibuat dengan sedemikian rupa harus kembali diulang dan disesuaikan karena satu dan lain hal. Perjuangan yang kembali harus diulang karena acara yang tidak bisa untuk tidak dilakukan atau dihadiri.


"Kalau gue nggak hadir, bisa bisa gue di pecat dari calon menantu idaman. Gue nggak mau hal itu terjadi. Gue akan tetap mempertahankan status sebagai menantu idaman" ujar Rinjani sambil menatap ke arah layar ponselnya untuk mengirim tugas melalui chat grub kelas masing masing.


Bayu yang baru datang dari arah yang tidak biasanya, melihat kalau kekasih hatinya itu sedang sibuk menatap layar ponsel pintarnya yang selalu digunakan oleh Rinjani untuk mengirimkan tugas atau memulai kegiatan perkuliahan. Bayu menatap kekasihnya itu dengan tatapan kekaguman dan penuh rasa cinta dan bahagia karena berhasil memiliki seorang Rinjani untuk menemani hari harinya.


"Ini hari apa ya?" ujar Bayu yang lupa hari apa sekarang karena dari semalam dia sibuk menyiapkan semua keperluan untuk acara papap dan mamah hari ini.


Bayu kemudian melihat jam tangan pintarnya. Ternyata di layar jam tangannya itu terpampang kalau hari ini adalah hari Senen. Bayu kemudian tersenyum ke arah kekasihnya itu. Dia tahu sekarang apa yang sedang dilakukan oleh Rinjani dengan ponsel pintarnya itu. Bayu semakin bangga dengan kekasih hatinya itu yang akan selalu melakukan kewajibannya di tengah tengah rutinitas dan juga kewajiban lain yang tidak bisa ditinggalkan oleh Rinjani. Sangat susah mencari orang yang seperti Rinjani pada zaman sekarang ini.


"Dia mengajar full ternyata sekarang. Tapi karena acara papap dan mamah, dia rela untuk tidak masuk dan memberikan tugas perkuliahan melalui ponselnya lagi" kata Bayu yang tersenyum bangga menatap ke arah kekasihnya.


"Dia akan melakukan pekerjaan yang berat sepertinya" lanjut Bayu sambil mencari tempat parkir mobilnya yang sedikit tersembunyi supaya tidak mengganggu Rinjani yang sedang sibuk mengirim tugas melalui ponsel pintarnya itu.


Bayu kemudian memarkir mobilnya di tempat yang tersembunyi sesuai dengan kriteria yang telah ditentukannya tadi. Rinjani yang saking seriusnya bekerja sama sekali tidak menyadari kalau Bayu sudah berada di kos untuk menjemput dirinya. Bayu sudah berdiri di depan pintu pagar kos dengan pakaian tentara kebesarannya. Pakaian yang selalu membuat Rinjani semakin cinta dengan Bayu.


"Saking seriusnya dia bekerja, dia sama sekali tidak melihat kehadiran gue" ujar Bayu geleng geleng kepala melihat bagaimana kalau kekasihnya itu sudah serius bekerja dan akan tidak menyadari apa yang terjadi di sekitarnya pada saat itu.


"Ehem ehem ehem"


Bayu pura pura batuk untuk menyapa kekasihnya yang terlihat sangat serius bekerja. Rinjani sama sekali tidak menoleh ke arah Bayu. Hal itulah yang membuat Bayu harus berpura pura batuk untuk membuat Rinjani menjadi konsentrasi kepada dirinya.


Rinjani yang mendengar suara favorit dirinya itu, langsung mengangkat kepalanya untuk meyakinkan dirinya, bahwasanya suara favoritnya itu memang benar sudah berada di dekat dirinya sekarang ini.


"Ha sayang. Maaf aku tidak menyadari kalau kamu sudah ada di dekat aku sayang" ujar Rinjani sambil berdiri dari kursi tempat dia duduk.


Rinjani kemudian merapikan gaun yang di pakainya. Dia berjalan menuju arah Bayu.