Its My Dream

Its My Dream
63



Bayu dan kawan seletingnya saling mengobrol membahas tentang suasana di daerah konflik tersebut.


"Jadi, saat disitu loe ngapain aja?" tanya Bayu yang nggak tahu lagi apa yang mau ditanyakan oleh Bayu kepada kawannya.


"Shoping, jalan jalan, raun raun" ujar kawan satu leting menjawab pertanyaan gabut dari Bayu.


Bugh sebuah tinju mendarat di perut kawan satu leting Bayu itu. Jawaban yang diberikannya membuat Bayu menjadi sangat kesal.


"Auw gila lo. Sakit" ujar kawan leting Bayu sambil memegang perutnya yang di tinju oleh Bayu.


"Masih mayan gue tonjok perut loe. Kalau gue tendang gimana. Ngomong dan jawab asal saja." ujar Bayu menatap ke arah kawan leting nya yang ngomong asal jawab aja.


"Pertanyaan loe yang ngasal. Masak orang di perbatasan loe nanyak kita ngapain aja. Emang dalam bayangan loe kita ngapain kalau di perbatasan?" ujar kawan leting Bayu.


"Bener juga ya. Gue yang salah tanya tadi. Harusnya gue nggak nanyak itu sama loe" ujar Bayu yang baru sadar kalau pertanyaannya sudah salah tempat.


Mereka kemudian melanjutkan obrolan obrolan ringan tentang keadaan di tempat mereka akan ditempatkan.


Sedangkan Rinjani sekarang sedang kuliah dengan salah satu dosen yang terkenal killer tersebut. Rinjani sebenarnya malas untuk mengikuti kuliah dengan dosen itu. Tetapi Rinjani berusaha menahan hatinya, karena Rinjani tidak ingin mengulang kembali mata kuliah tersebut.


Waktu sembilan puluh menit terasa berjalan lama oleh Rinjani.


"Huft lama banget, waktu sembilan puluh menit, terasa lima jam full" ujar Rinjani yang ngomel sendiri merasakan waktu yang berjalan sangat lama sekali.


"Dosen kayak gini kok bisa masih ngajar. Pusing mendengar gaya dia ngajar" lanjut Rinjani masih tetap ngomel ngomel sendiri.


"Harusnya dia istirahat lagi tuh, bukan masih ngajar" ujar Rinjani masih mengomel sendirian.


Tepat pukul sembilan akhirnya perkuliahan pertama Rinjani selesai juga.


"Huft, akhirnya. Bener bener lah ne dosen" ujar Rinjani dengan suara sedikit agak keras dan terdengar oleh mahasiswi yang berada di dekat Rinjani.


"Tumben loe ngomel ngomel kuliah Jani? Ada apa?" tanya teman satu kuliah Rinjani.


"Gimana nggak akan ngomel gue. Udah tua masih juga ngajar. Mana ngajar nggak asik lagi" ujar Rinjani sambil menyusun buku bukunya ke dalam tas.


"Haha haha haha. Karena dosen satu satunya. Loe nggak nengok tu asisten dosennya, keren" ujar mahasiswi yang tadi sempat melihat asisten dosen itu masuk ke dalam kelas.


"Senior di atas kita satu tahun itunyah. Dengar bunyinya sedang ngambil kuliah magister" ujar Rinjani memberitahukan kepada temannya itu tentang siapa asisten dosen yang mereka bicarakan berdua.


"Kira gue seangkatan kita" jawab teman Rinjani.


"Haha haha haha mana ada. Gue keluar dulu ya" ujar Rinjani.


Rinjani sudah janjian dengan Ranti untuk makan siang berdua. Ranti sudah menunggu Rinjani di kafe kampus. Rinjani berjalan cepat menuju kafe tempat janjian mereka.


"Sorry gue telat" ujar Rinjani sambil menepuk pundak Ranti dengan lembut.


"Kenapa? Dosen loe telat keluar lagi?" tanya Ranti sambil menggeser duduknya.


"Nggak. Ada teman sekelas tadi ngomong kalau asisten dosen tadi keren ganteng" ujar Rinjani sambil duduk di sebelah Ranti.


Mereka berdua kemudian mengobrol ringan. Rinjani melihat sesosok pria masuk ke dalam kafe. Pria yang sangat dikenal oleh Rinjani.


"Kok ada dia?" ujar Rinjani menunjuk Pak Bram yang baru masuk ke dalam kafe.


"Nggak tau. Dia tadi tanya dimana gue jawab aja di kafe" ujar Ranti sambil tersenyum.


"Kayaknya gue harus jadi satpam lagi" ujar Rinjani sambil menatap ke arah Ranti dan Bram.


"Haha haha. Sekali sekali" ujar Ranti.


"Eh ada Rinjani, aku ganggu nggak ini?" ujar Bram saat melihat Rinjani ada bersama dengan Ranti.


"Nggak pak. Silahkan duduk" ujar Rinjani kepada Bram yang sudah berdiri di depan mereka berdua.


Bram duduk di depan Ranti. Makanan yang sudah di pesan oleh Ranti tadi akhirnya datang juga. Mereka bertiga kemudian menyantap makan siang tersebut.


"Jam tiga. Kamu sampe jam berapa?" Ranti balik bertanya kepada Bram.


"Jam tiga. Bisa temani ke toko buku nanti pulang kuliah?" tanya Bram kepada Ranti.


"Oke sip" jawab Ranti sambil memberikan jempolnya kepada Bram.


Rinjani menatap ke arah Ranti dan Bram.


"Hem kalian berdua sepertinya anggap aku ini adalah obat nyamuk. Bener bener lah ya" ujar Rinjani sambil menyedot teh es miliknya.


"Haha haha. Mana ada kamu obat nyamuk. Aaauuuutaaan iya" ujar Ranti sambil tersenyum melihat ke arah Rinjani.


"Ye." ujar Rinjani.


"Gue duluan ya. Ada kelas lagi. Gue juga belum melaksanakan kewajiban ini" ujar Rinjani bergegas bersiap siap untuk melakukan kewajibannya.


Ranti mengacungkan jempolnya kepada Rinjani. Rinjani menjulurkan lidahnya kepada Ranti.


"Pak dos, titip makhluk ajaib satu ini ya" ujar Rinjani kepada Bram.


"Oke sip. Kamu kuliah dengan siapa?" tanya Bram kepada Rinjani yang memilih alasan kuliah untuk kabur dari pasangan yang sedang sangat berbahagia itu.


"Sama Buk Elsa" jawab Rinjani sambil berdiri dari kursi tempat duduknya.


"Oh. Buk Elsa nggak ada. Sedang rapat dengan dekan" jawab Bram memberitahukan kepada Rinjani kalau dosen mata kuliahnya tidak bisa masuk karena ada rapat dengan dekan.


"Biarin ajalah pak dos mau rapat dengan siapa ibuknya. Aku udah nggak tahan melihat mata kalian berdua yang terlalu lebay untuk katakan cinta" ujar Rinjani yang tetap memilih untuk pergi dari hadapan sepasang kekasih yang dengan tatapan mata saja bisa membuat siapapun di sekitar mereka merasa sebagai obat nyamuk bahkan gulma.


"Ada ada aja" ujar Bram sambil geleng geleng kepala.


"Jani, loe beneran ada kuliah?" tanya Ranti yang nggak enak hati melihat Rinjani harus pergi dari dekat mereka.


"Beneran kuliah gue masih ada dua sks lagi. Walaupun kata Pak Bram, dosen gue sedang rapat. Tapi dia bisa menyuruh asistennya untuk masuk ke kelas gue. Asisten dan dosen sama sama mengerikan kalau ngasih nilai" ujar Rinjani sambil tertawa.


"Ngapain loe ketawa coba?" kata Ranti yang melihat Rinjani tertawa ngakak sendirian.


"Gimana nggak ketawa, Gue ngomongin dosen susah nilai, eee eee depan kita berdua udah ada sahabat dosen. Gue takut dikaduin" ujar Rinjani sambil menatap ke arah Bram yang duduk.


"Lah nggak ikut ikut" ujar Bram sambil geleng geleng kepala.


Bram juga sudah tau bagaimana reputasi dosen yang dikatakan oleh Rinjani tadi. Dosen yang memang sangat terkenal pelit memberikan nilai kepada mahasiswanya. Dosen yang terkenal dengan ucapan A nilai Tuhan, B nilai Saya, C dan BL nilai mahasiswa.


"Setipe tentu iya Pak" ujar Rinjani langsung memilih pergi dari hadapan Ranti dan Pak Bram.


Bram kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Rinjani tadi.


"Jadi, aku pelit ngasih nilai?" tanya Bram kepada Ranti.


"Ke Jani iya sayang. Kamu waktu itu ngasih Jani C." ujar Ranti menjawab pertanyaan dari Rinjani.


"Ops. Aku nggak tau namanya." ujar Bram yang kaget sendiri karena dia memberi Rinjani nilai C.


"Tu sedang di ulang Rinjani sekarang" ujar Ranti mengingatkan Bram kalau Rinjani ada mengulang mata kuliah dengan dia.


"Oke sip Besok langsung A. Masak iya asisten dosen nilainya C. Ngadi ngadi tu dosen" kata Bram ngasal jawab aja.


"Iya ngadi ngadi tu dosen. Dosennya kamu sayang" ujar Ranti menatap ke arah Bram.


"Haha haha haha" Bram tertawa mendengar jawaban dari Ranti.


Mereka berdua melanjutkan pembicaraan yang sempat terhenti tadi. Sedangkan Rinjani sudah duduk manis dalam kelasnya. Ternyata Asisten dosen sudah hampir masuk saat Rinjani baru sampai di depan pintu ruangan.


"untung nggak telat" ujar Rinjani