
"Akhirnya pagi juga" ujar Bayu saat melihat ponsel miliknya yang berbunyi nyaring.
Bayu mematikan alarm yang memang selalu memiliki tugas untuk membangunkan Bayu di pagi hari. Tanpa alarm sudah bisa dipastikan Bayu akan selalu telat memulai kegiatannya. Bayu dari dahulu semenjak remaja memang bergantung kepada alarm. Apapun yang akan dilakukan oleh Bayu pasti selalu diberi alarm. Kebiasaan yang masih dibawa sampai sekarang oleh Bayu. Kebiasaan yang sebenarnya tidak jelek, tetapi perlahan lahan sudah berusaha dikurangi oleh Bayu dalam ketergantungannya dengan alarm ponsel. Tetapi untuk bangun pagi, Bayu masih memerlukan alarm ponsel sebagai pengingat.
"Selamat pagi kota Bukittinggi" lanjut Bayu.
Bayu merentangkan badannya lebar lebar. Dia melihat jam di layar ponselnya yang menunjukkan pukul enam pagi hari.
"Sepertinya gue harus ke bawah mengambil sarapan dan membawanya ke atas. Gue harus melakukan semuanya dengan cepat. Gue nggak mau kedahuluan Rinjani untuk mengambil sarapan ke bawah" ujar Bayu yang harus gerak cepat sebelum Rinjani melanjutkan aksinya.
"Tu anak pasti sudah menyusun rencana lagi untuk segera pergi dari hotel" lanjut Bayu yang sangat mengenal bagaimana karakter dari kekasihnya itu.
Rinjani bukanlah seorang wanita yang mudah menyerah dalam hal apapun. Dia pasti akan melakukan semuanya untuk bisa mendapatkan apa yang diinginkan oleh Rinjani. Rinjani memang seseorang yang ambisius, tetapi dia tidak akan pernah mengorbankan orang lain supaya tujuannya tercapai.
Bayu mengambil handuk yang sudah disediakan oleh pihak hotel. Dia akan membasuh wajahnya saja untuk pagi ini. Bayu rencananya akan membersihkan badannya nanti saja setelah melakukan sesuatu yang akan membuat Rinjani menjadi semakin jatuh cinta kepada dirinya. Tetapi sebelum membasuh wajahnya, Bayu melakukan sedikit peregangan terlebih dahulu. Dia membutuhkan otak yang fres untuk mengeksekusi rencana yang sudah disusun dengan matang.
"Oke ready. Mari kita eksekusi langkah pertama sebelum masuk ke langkah inti" kata Bayu dengan semangat sambil merapikan rambutnya di depan kaca super besar di kamar mahal yang disewa oleh Bayu untuk malam ini.
"Semangat Bayu demi dia, kamu harus bisa melakukan semuanya" ucap Bayu memberikan semangat kepada dirinya sendiri.
Kali ini Bayu sengaja tidak meminta bantuan dari Josua. Bayu ingin berusaha sendiri tanpa merepotkan ajudan dari orang tuanya yang pastinya tidak akan menolak permintaan yang diajukan oleh Bayu kepada dirinya. Tapi di satu sisi Bayu segan karena sekarang dia sudah bertemu dengan Rinjani. Makanya sekarang menjadi urusan Bayu untuk bisa melakukan yang terbaik dalam hubungannya dengan Rinjani.
Urusan cinta memang membuat seseorang menjadi setengah gila karena harus bisa menalukkan hati yang sedang rusuh dan sedang dalam kondisi marah seperti keadaan yang sedang terjadi dalam hubungan antara Bayu dan Rinjani.
Bayu yang sudah rapi dan memakai pakaian yang hanya sempat diambil dari dalam tas yang memang selalu ada di dalam mobil Bayu. Sehelai baju kaus loreng dan celana loreng yang bersih. Bayu kemudian meninggalkan kamarnya, dia akan langsung menuju restoran untuk mengambil sarapan. Bayu melihat ke arah kamar Vian yang ternyata di depan pintunya tergantung sebuah peringatan untuk tidak mengganggu penghuni kamar. Bagi siapapun, maka tidak diizinkan untuk mengetuk pintu mengganggu tamu yang berada di dalam kamar.
"Gaya anak itu bener benerlah, pakai ngegantung kata kata nggak boleh diganggu lagi" ujar Bayu sambil geleng geleng kepala melihat apa yang dilakukan oleh Rinjani.
Bayu menekan tombol lift. Bayu menunggu lift yang akan terbuka di depan dirinya. Bayu menunggu sambil memainkan ponsel miliknya. Dia sama sekali belum memberikan kabar apapun ke Papap dan Mamah. Bayu memang sengaja melakukan itu supaya dia bisa fokus dalam melakukan pencarian terhadap Rinjani. Untung saja Papap dan Mamah mengerti keadaan dan juga kebiasaan dari putra mereka itu.
Sebuah lift terbuka pintunya dengan lebar. Bayu melihat ada sepasang kekasih yang sedang bergenggaman tangan di dalam lift. Bayu sebenarnya ingin membiarkan saja lift tersebut tertutup kembali, tetapi dia teringat kalau harus melakukan semuanya dalam gerakan cepat. Bayu tidak mungkin membiarkan lift itu berlalu dengan begitu saja. Bayu harus bisa memanfaatkan lift yang sudah datang tersebut. Bayu tidak boleh membiarkan lift itu tertutup kembali.
'Ah biarin aja lah mengganggu mereka. Terpenting tujuan gue kali ini harus dan wajib gue lakukan' kata Bayu dalam hatinya. Bayu benar benar tidak membiarkan lift itu pergi meninggalkan dirinya.
Sepasang kekasih yang tadi sudah sangat bahagia Bayu terlihat enggan untuk masuk ke dalam lift, harus menelan kekecewaan. Bayu ternyata masuk ke dalam lift menemani sepasang kekasih itu.
"Maaf saya menumpang sampai restoran" ujar Bayu memberitahukan tujuannya kemana
Bayu sedikit melirik ke arah wanita yang tetap menggenggam tangan laki laki tersebut.
Bayu menatap ke arah beberapa tanda merah yang berada di leher wanita tersebut.
'Waduah mereka siap indehoy. Apalah daya gue yang nggak bisa indehoy ini' ujar Bayu dalam hatinya setelah memastikan bercak bercak merah yang ada di leher wanita itu.
'Apa mereka tadi nggak ngaca ya, mau maunya tu cewek pake baju belahan rendah nggak pake krah lagi' lanjut Bayu dalam hatinya dan setengah berpikir untuk berteriak.
'Dasar wanita dan pria nggak ada urat malunya sama sekali' lanjut Bayu
Bayu sudah tidak sabaran lagi untuk sampai di restoran. Mood Bayu tiba tiba menjadi rusak saat dirinya melihat pemandangan yang menjijikkan tersebut.
"Maaf Bang, dari tadi saya lihat abang sedikit melihat ke wajah kekasih saya. Ada apa ya Bang?" ujar kekasih dari wanita yang penuh bercak di leher itu.
"Ooooo. Kalian berdua ngaca nggak tadi sebelum keluar kamar?" ujar Bayu yang nggak ingin si pria salah sangka dan menggunakan pra duga tidak bersalah kepada dirinya.
"Maaf tidak sama sekali. Emang apa urusannya dengan situ" ujar si pria yang tiba tiba menjadi nyolot kepada Bayu.
"Apa loe bilang, apa urusan dengan situ?" ujar Bayu yang tersinggung dengan apa yang dikatakan oleh pria tersebut.
"Loe bisa lihat ke leher kekasih loe itu?" ujar Bayu yang semakin kesal dengan tingkah pongah dari laki laki tersebut.
"Loe tengok di lehernya, apa yang ada di sana?" ujar Bayu yang pada akhirnya memilih membuka malu sepasang kekasih itu.
Pria yang mendengar apa yang dikatakan oleh Bayu langsung saja menatap ke arah leher kekasihnya. Betapa terkejutnya pria tersebut saat melihat leher kekasihnya yang sudah seperti corak macan tutul tetapi versi merah.
"Sayang kenapa kamu memakai pakaian terbuka seperti ini" ujar sang pria dengan nada tinggi.
Bayu menjadi pendengar dalam kemarahan yang dilakukan oleh si pria kepada kekasihnya itu. Pertengkaran yang seharusnya tidak terjadi karena mereka berdua sama sama tidak saling melihat apakah ada jejak yang ditinggalkan karena permainan kemaren, atau permainan mereka bersih tidak meninggalkan jejak.
Ting. Pintu lift terbuka dengan lebar. Bayu berjalan keluar dari dalam lift. Setelah melihat Bayu berada di luar lift, sang pria kemudian menscan kunci kamar mereka kembali. Mereka akan kembali ke kamar untuk mengganti pakaian yang wanita.
Sedangkan Bayu langsung menuju counter makanan yang ada di restoran hotel. Tadi Bayu sudah meminta izin untuk mengambil dua makanan. Pihak hotel sudah mengizinkan dan memperbolehkan Bayu untuk membawa sarapannya ke dalam kamar