Blind Love

Blind Love
Seri 29



"Saya sudah peringatkan kalian utuk tidak betemu lebih dulu, kenapa kalian ada di sini?" Virgo dan Libra terpergok ketika sedang berada di sebuah kedai bakso. Entah kenapa tiba-tiba pria paruh baya itu datang ke sana.


"Kami hanya makan aja, Yah, nggak lakuin apapun." Libra sudah jengah sebenarnya dengan semua hal yang dilakukan oleh ayahnya kali ini.


"Pulang!" Itu adalah perintah yang harus gadis itu lakukan tanpa boleh membantah. Tatapan lelaki itu sungguh tak biasa. "Ayah sudah kasih kalian dispensasi selama beberapa bulan lalu, dan tidak ada lagi tambahan dispensasi karena sebentar lagi kalian ujian."


Kalau tidak ingat dia harus bersikap sopan, entah apa yang akan dilakukan Virgo untuk membalas ayah kekasihnya itu. Libra menatap Virgo memohon agar lelaki itu mau membantunya. "Please, Yah. Kami tahu apa yang harus kami lakukan, kami bukannya terus pacaran dan melupakan kewajiban kami. Kenapa Ayah nggak percaya?" Sepertinya Libra memang cengeng sekali sekarang. Karena bahkan dia mudah sekali mengeluarkan air matanya.


"Pulang!" Titahnya. Orang-orang di sana bahkan sudah melihat ke arah mereka.


"Om, bisa kita bicara di luar saja? Nggak enak di lihat orang-orang."


"Nggak perlu. Kami akan pulang." Kemudian ditariknya tangan putrinya dengan kencang dan langsung masuk ke dalam mobil. Virgo ingin menggeram, tapi dia tak mau. Menghela napas, dia mengeluarkan dompet dan membayar makanan yang sudah di makan.


"Mas Virgo ini kan ganteng, kok masih ada aja ya nggak suka sama, Mas." Pedagang itu memang sudah mengenal Virgo karena memang bakso itu adalah langganannya.


"Orang kan nggak semua suka sama kita." Katanya dengan santai. "Terima kasih ya, Bu. Saya balik dulu." Diakhiri dengan senyum dan keluar dari kedai tersebut Virgo berjalan agak cepat. Dia ingin segera pergi dari tempat itu.


Virgo berfikir jika kejadian ini seperti di dalam sinetron saja. Dia pernah mendengar ketika bibi menonton sebuah sinetron yang kisah cintanya tak direstui oleh orang tua mereka. Mungkin si pembuat scenario itu juga terinspirasi dari kisah orang-orang yang di kenalnya.


"Kenapa?" Ketika mendapatkan masalah seperti ini, bukan rumahnya yang di tuju, melainkan rumah Aksa. Jika di rumah, dia tak akan bisa memiliki jalan keluar karena tidak mungkin ada yang memberikan solusi atas masalahnya. Sedangkan di rumah Aksa, dia bisa bertemu dengan Love dan mengatakan semuanya. Meskipun nanti mungkin akan mendatapatkan cicbiran lebih dulu, tapi itu tak masalah. Yang penting dia memiliki solusi atas ini.


"Ayah Libra nggak suka aku pacaran sama Libra," Awalnya. "Berdalih karena akan ujian, beliau mau aku dan Libra nggak ketemu dulu, sayangnya aku tahu endingnya akan seperti apa."


"Lagu lama." Komentar Love dengan santai, "Kamu tahu kalau kalian memerlukan tenaga besar kalau mau hubungan kalian baik-baik saja."


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?"


"Membiarkan dulu ayah Libra berbuat sesukanya." Love melirik Virgo yang ada di sampingnya. "Karena itu lebih baik. Kita lihat siapa yang akan menang dalam peperangan ini. Kamu atau ayah Libra."


Virgo hanya menatap Love tak bereaksi. "Kalau memang dia sanggup melihat anaknya sedih terus, biarkan saja keras kepalanya menghancurkan putrinya."


"Itu yang nggak aku suka, Kak. Kaku nggak mau Libra bersedih."


"Tapi kamu nggak akan bisa melakukan apapun selain membiarkan Libra dalam kurungan orang tuanya. Kalian masih pacaran, orang tuanya masih berhak dibangdingkan dengan kamu."


"Apa aku bisa memperjuangkan Libra?"


"Perjuangan seperti apa?" Love balik bertanya dengan serius, "Mendatangi rumahnya sesering mungkin, atau mendatangi ayahnya dan meminta agar kamu diijinkan memacari anak gadisnya? Atau cara seperti apa yang akan kamu tunjukkan kepada ayah Libra?"


Virgo jelas tak tahu jawaban apa yang akan diberikan kepada Love. Dia pun tak paham dengan situasi sepeti ini. Baginya ini adalah hal tabu dan dia masih sangat awam menghadapi masalah percintaan yang ternyata rumit.


"Kamu fokuslah dengan sekolahmu. Lakukan yang terbaik agar tak ada lagi orang yang meragukan kemampuan otakmu. Kalau pun bukan sama Libra, masih ada Gemini, Sagitarius, Taurus, dan zodiac-zodiak lain yang pasti akan menerima kamu. Kamu jangan bekecil hati."


Dari perkataan Libra, jelas membuat Virgo memutar bola matanya. Dia ingin mendapatkan solusi, nyatanya Love hanya menanggapi datar saja. Namun ada di dalam sudut hatinya yang membenarkan perkataan Love.


"Aku pulang aja." Virgo perlu mendinginkan kepalanya agar dia bisa melakukan hal untuk hubungannya dengan Libra.


Sampai di rumah, dia mencoba menghubungi Libra. Satu kali, dua kali, bahkan sampai belasan kali tak ada dari panggilan itu yang diangkatnya, membuat otaknya terasa panas.


Tak lama setelah itu ada chat masuk. 'Ponsel Libra ada pada saya, dia harus focus belajar, jangan ganggu dia' dan kesimpulan dari semua ini adalah jika posel Libra mamang di sita oleh ayahnya. Virgo menggelengkan kepalanya.


Dia bukan orang yang akan mengulur kesabarannya terlalu lama. Besok, setelah kepalanya dingin, dia akan melakukan sesuatu untuk dia bisa mengambil sebuah keputusan.


Sedangkan Libra yang di rumahnya benar-benar marah dengan apa yang dilakukan oleh ayahnya kepadanya. Pintu kamarnya di kunci, ketika makan di antarkan makanan itu, dan ponselnya pun tak di pegannya. Ini Berna-benar keterlaluan bagi Libra.


Dengan usaha keras, pintu kamarnya di tending dengan keras. "Ayah, Buk! Aku nggak mau di kurung begini. Memang apa yang akan kau lakukan? Aku nggak akan kemana-mana. Mana hpku?" Teriaknya dengan kencang.


"Aku bisa bunuh diri di sini kalau memang Ayah mau aku lebih menderita." Masih dengan berteriak, dia mengancam ayahnya.


"Ayah nggak akan bisa memisahkan aku sama Virgo. Ayah nggak berhak." Tangisnya meraung sambil mendendang-nendang pintu kamarnya. "Ayah kenapa tiba-tiba peduli dengan siapa aku pacaran? Bahkan ayah saja selama ini nggak pernah seperhatian ini sama aku. Ayah sibuk dengan bisnis dan bisnis, sekarang waktu aku punya seseorang yang bisa aku ajak berbagi ayah justru mendorong dia untuk menjauhi aku. APA MENURUT AYAH INI ADIL BUAT AKAU!" Teriaknya tak biasa. Libra bersimpuh di lantai dengan tangis keras yang bahkan jika ada orang yang mendengarnya akan merasa sangat kasihna.


Sampai kelelahan, dia tertidur di lantai kamarnya dengan jejak air mata yang menganak sungai di wajahnya.


*.*


Malam besoknya, Virgo datang berkunjung ke rumah Libra. Gadis itu sudah tak di kunci di kamarnya karena Edzard datang ke sana untuk belajar bersama.


Ketika melihat motor yang terparkir di carport rumah Libra, dia tahu jika motor itu adalah milih Edzard. Tapi itu tak membuat Virgo mundur, karena dia akan menuntaskan semua malamini.


Memencet bel pintu rumah Libra, Ardi sendiri yang membukakan pintu itu dan menatap datar ke arah Virgo.


"Libra sedang belajar, untuk apa kamu datang?" kedua tangannya bersidekap di depan dada seolah menantang Virgo.


"Untuk terakhir kali, bisa saya ketemu Libra, Om?" Dengan sopan Virgo bertanya. Dia tak akan pernah kehilangan kendali dirinya. Tak akan pernah.


"Terakhir kali?" Ardi memastikan jika pendengarannya baik-baik saja dan dia tak mendengarkan hal yang salah.


"Serius terakhir kali?"


Virgo mengangguk dan mengiyakan. "Iya, Om." Katanya dengan tegas. Entah apa yang dipikirkan oleh Ardi, tapi Virgo akan sabar menuggu sampai dia bertemu dengan Libra.


Libra benar-benar menemui Virgo dengan kebahagiaan tiada tara. Gadis itu tanpa sungkan memeluk Virgo bahkan masih ada ayahnya di sana. Pun dengan Edzard yang entah kenapa juga berdiri di sana menatap kedua orang yang sedang saling melepas rindu.


"Sudah," Ardi menarik tangan putrinya untuk melepaskan pelukan Virgo dan Libra dan tetap memegangi tangan itu agar Libra tak mendekati Virgo.


"Virgo bilang ini adalah terakhir kali dia akan menemui kamu," Tak ada lagi filter dari ucapan lelaki Ardi, "Karena itu ayah mengijinkan kalian bertemu."


Libra jelas tak terima dengan semua itu. "Aku nggak mau!" Katanya dengan wajah kakunya. "Setelah ujian nanti kita pasti akan bertemu lagi." Dengan keyakinan tingkat tinggi, Libra mengatakan itu.


"Ayah nggak akan mengijinkan." Libra menoleh ke arah ayahnya dengan cepat dengan mata memicing.


"Apa maksud Ayah? Ayah sendiri yang bilang kaki harus berpisah sementara karena kami harus mempersiapkan ujian negara, lalu kenapa jadi merembet kemana-mana? Apa sebenarnya tujuan Ayah melakukan ini?"


"Ayah ingin kamu putus dengan Virgo." Akhirnya setelah kata itu di pendam, keluar juga sekarang. Lelaki itu mengatakannya secara gamblang di depan mereka. "Ayah tidak suka kamu berpacaran dengan orang yang selalu membuat ulah." Virgo dapat merasakan patahan hatinya yang terdengar jelas di telinganya. Dia tahu ini pasti akan terjadi, tapi entah kenapa rasanya tetap menyakitkan.


"Kenapa Om terlalu menilai saya begitu buruk?"


"Kamu memang baik, tapi kamu tak sebaik yang saya inginkan." Kata-kata menusuk bagaikan pedang. Baru kali ini dia di cemooh oleh orang lain. Dan ayah kekasihnya pula yang melakukan.


"Jadi orang baik yang seperti apa yang Om inginkan untuk Libra?"


"Edzard!" Virgo tersenyum kecut mendengarkan hah itu. Sungguh luar biasa sekali. Dia harus bersaing Dengan keluarganya sendiri.


"Tapi aku mau Virgo, Yah, bukan Edzard!" Libra beteriak mengatakan keinginannya.


"Saya tulus mencintai Llibra, Om. Saya tahu hubungan kami masih menjadi hubungan masa remaja kami, tapi itu tak menutup kemungkinan kalau hubungan kami akan berakhir di sebuah hubungan yang serius." Virgo tak ingin dia tak melakukan perlawanan.


"Sudahlah," Ardi mengibaskan tangannya bosan, "Kalian putus saja, itu akan lebih baik." Katanya dengan enteng tanpa memedulikan perasaan putrinya.


Aneh memang. 'Nakak' ketika remaja itu adalah hal yang biasa. Toh Virgo juga tak melewati batas. Tapi entah kenapa, Ardi begitu tak menyukai lelaki itu. Bahkan jika ditelusuri lebih jauh, dia begitu hormat kepada kakek Virgo. Namun apa yang dilakukannya kali ini seolah tak pernah memikirkan tentang hubungan baik yang sudah terjalin antara dirinya dengan pak Wondo.


"Hubungan kami memang masih hubungan anak SMA yang tak tahu kelanjutannya akan seperti apa, Om. Tapi bisakah Om sedikit peduli dengan perasaan kami? Saya mencintai Libra, paling tidak biarlah kami menjalani hubungan kami terlebih dahulu."


Kekehan itu keluar dari bibir Ardi. "Untuk apa melanjutkan hubungan yang bahkan tidak tahu pangkalnya?" Alisnya menukik seolah meremehkan Virgo. "Kamu terlalu banyak nonton film, Nak."


"Om mengatakan itu seolah mengatakan 'untuk apa makan kalau nanti akan lapar lagi' Virgo menatap Ardi tak kalah meremehkan. Lelaki itu mengelengkan kepalanya sedangkan Ardi langsung merubah raut wajanya menjadi tak suka.


"Paling tidak, kami menjalani hubungan kami tidak main-main." Lanjut Virgo.


Tangan Libra masih di pegang dengan erat oleh ayahnya tanpa boleh lepas sedikitpun.


"Pulang!" Titahnya kepada Virgo. "Mulai hari ini hubungan kalian sudah tidak ada lagi. Kalian sudah putus dan tak ada lagi bantahan." Libra menangis dan berusaha untuk melepaskan tangannya dari sang ayah.


Apalagi ketika kekecewaan itu terlihat jelas di wajah lelaki itu, air mata Libra sama sekali tak bisa terbendung.


"Ayah, please. Aku nggak mau." Teriaknya dengan keras di dekat telinga ayahnya. Menendang meja kaca yang ada di depannya untuk melepaskan kekesalannya.


Sayangnya pemberontakan itu seolah membangunkan jiwa kasar ayahnya. Tangan lelaki itu melayang untuk menampar putrinya. Suasana yang sebelumnya terlihat riuh, kini hening seketika.


Bukan hanya Libra yang seketika terdiam, Virgo pun tak menyangka jika Ardi akan melakukan hal itu.


"Kenapa Om melakukan itu?" Mata Virgo memerah karena menahan kemarahan yang sama. Dia tak suka jika Libra mendapatkan kekasaran seperti itu.


Ardi pun terdiam setelah melakukan hal itu. Tangannya mengendur dan tangan Libra terlepas begitu saja dari belitan genggamannya.


Meskipun begitu, tak ada pergerakan dar Libra untuk pergi dari sana.


"Maafin aku, Li," Suara Virgo seperti gumaman namun masih mampu di dengar oleh Libra. Gadis itu mendongak dan menatap Virgo tepat di depan matanya. "Aku sayang kamu, kamu nggak perlu meragukan itu lagi. Tapi kalau sayang aku ke kamu akan menyakiti kamu, aku mundur." Petir itu seolah menyambar tepat di hati Libra.


"Nggak ada orang tua yang akan memilihkan jalan untuk anaknya adalah jalan yang salah. Pun dengan pilihan orang tua kamu sekarang." Kepalan tangan Virgo menguat siap menghantam apapun, namun bukan di sana tempatnya melampiaskan kemarahannya.


"Kamu adalah perempuan pertama yang aku cintainya, dan pacar pertama yang aku miliki," Senyum Virgo kecut, namun dia tetap melakukannya. "


Memejamkan matanya rapat selama beberapa detik, kemudian dia mengatakan keputusan yang memang harus dia ambil. Hubungannya sudah tak bisa lagi diteruskan. Bukannya dia tak mau berjuang, tapi semua terasa sulit. Karena itu dia memilih menyerah.


"Kamu jadilah perempuan yang hebat. Teruslah belajar dengan Edzard karena dia laki-laki pandai. Kamu harus mendapatkan nilai yang tinggi agar tujuan kamu melanjutkan di kampus pilihan kamu bisa mudah diterima." Virgo menghembuskan napas berat karena sesak itu benar-benar melekat di dalam hatinya.


"Hubungan kita memang sepertinya harus sampai di sini. Tolong jadilah perempuan yang membanggakan untuk orang tua kamu. Aku juga akan melakukan hal yang sama. Putusnya hubungan kita, nggak akan merubah perasaan cinta aku ke kamu. Aku minta maaf jika selama ini menjadi laki-laki yang tidak baik buat kamu." Air mata Libra jatuh tanpa ada sedu sedan di sana. Kehancuran hatinya meruntuhkan semua tenaga di dalam tubuhnya, karena itu hanya ada lelehan air mata saja yang keluar bahkan tanpa isakan.


*.*