Blind Love

Blind Love
Seri 6



Libra duduk di depan kelasnya sambil membaca buku ketika seseorang bergabung dengannya. Hal itu tentu membuat Libra menolehkan kepalanya untuk melihat siapa orang tersebut. Mendapati seorang pria yang tengah menatapnya, Libra merasa tak perlu mengatakan apapun hanya sekedar basa-basi semata.


"Gimana perkembangannya?" Pria itu lebih dulu bertanya untuk membuka obrolan lebih dulu. "Gue denger dari bokap, katanya kakek akan tetap melanjutkan rencananya." Libra tahu pasti apa yang tema apa yang sedang dibicarakan oleh teman satu sekolahnya itu.


Menutup bukunya, Libra kemudian menyenderkan punggungnya ke dinding. Alih-alih menatap lelaki itu, matanya justru lebih memilih menatap ke depan dan melihat aktivitas siswa yang lain di sana.


"Gue tahu endingnya ini akan seperti apa." Jawaban Libra santai. "Gue nggak pernah mengatakan keluhan gue tentang hal ini kepada orang tua gue, tapi gue juga nggak langsung menyetujui." Jari-jarinya memainkan buku yang dipengangnya. "Gue akan jalani kehidupan gue yang sekarang dengan baik sebelum waktu itu datang."


"Seandainya gue yang di posisi Virgo, apa lo akan melakukan hal yang sama?" Pertanyaan yang dilayangkan Edzard kepada Libra membuat gadis itu menarik napasnya panjang. Edzard adalah cucu dari sepupu Pak Wondo, jadi dia masih memiliki ikatan darah dengan Virgo.


"Tapi orang itu bukan lo, Ed. Jadi gue nggak tahu harus menjawab apa."


"Lo tahu, rencana yang mereka buat, membuat gue bisa mendengarkan patahan hati gue." Kemudian Edzard pergi meninggalkan Libra yang hanya bisa mengikutinya dengan tatapan saja. Libra tahu bagaimana Edzard mencoba mendekatinya dari dulu, mencoba berteman baik, dan mencoba memberikan perhatian lebih kepadanya. Tapi semua itu hanya mendapatkan tanggapan biasa saja dari Libra.


Mereka berteman baik, hanya itu saja. Jika salah satunya memiliki perasaan yang lebih, maka itu bukan tanggung jawab yang lainnya untuk memberikan hal yang sama. Libra memang terkadang merasa tak enak hati dengan lelaki itu, tapi mau bagaimana lagi, dia bukan orang yang bisa berpura-pura suka tapi nyatanya tidak. Meskipun terkadang ada rasa bersalah yang masuk ke dalam hatinya, dan dia juga memikirkannya, tapi dia tak bisa melakukan apapun.


Hati tak bisa dipaksa. Hati pun tak bisa berbohong.


Bel tanda berakhirnya sekolah hari ini terdengar di penjuru sekolah. Mereka yang merasa sudah lelah duduk di bangku sekolah seharian ini langsung bergegas memasukkan alat-alat sekolahnya dan keluar dari kelas setelah para guru yang mengajar mereka keluar lebih dulu.


Tak terkecuali Libra. Gadis itu keluar kelas dan berjalan malas-malasan. "Gue lihat lo kaya orang nggak di kasih makan aja sih Li, lemes bener." Salah satu kawannya menggandeng tangannya dan ikut berjalan bersama. "Ada sesuatu yang nggak gue tahu?" Riska, adalah salah satu teman baiknya. Dan masih ada dua lagi temannya yang entah sedang sibuk apa di belakannya sana.


"Gue rasanya butuh refresing deh. Nonton yuk, gue traktir." Mendengar kata traktir, maka dua orang di belakangnya yang tadinya sedang asyik sendiri langsung bersuara.


"Mauuu." Katanya tanpa malu sama sekali. Dan mendapatkan putaran bola mata oleh Libra dan juga Riska. Tak urung mereka semua pergi ke mall siang ini untuk menemani Libra yang sedang banyak pikiran.


Film romance adalah tontonan pilihan mereka siang ini untuk melepaskan penat yang berada di dalam kepala. Ersya bagian mengantri tiket, Ule dan Riska bagian membeli popcorn dan minuman untuk mereka. Sedangkan Libra sedang asyik dengan melihat-lihat sendiri di luar bioskop sambil menunggu kawan-kawannya menyelesaikan apapun yang sedang mereka lakukan sekarang.


Duduk di kursi luar sambil memainkan ponselnya dan mengabaikan lalu-lalang orang-orang yang sesekali menatap kearahnya. Tapi ketika telinganya mendengar seseorang memanggil nama Virgo, seketika wajahnya mendongak dan melihat sekitar. Sebenarnya panggilan itu tak terlalu keras, tapi telinga Libra justru seolah peka dengan nama tersebut.


Melihat ke sekelilingnya, dan menemukan segerombolan lelaki yang entah sedang membicarakan apa, karena terlihat heboh sekali. Bahkan mereka tak mempedulikan tatapan orang-orang ke arah mereka. Dan ternayata benar, jika ada Virgo di sana.


Dari kejauhan Libra bisa melihat jika lelaki itu memang menonjol diantara yang lainnya. Meskipun dari teman-teman Virgo tak ada yang memiliki paras 'biasa saja', tapi bisa terlihat jika Virgo adalah yang paling 'terlihat' dari mereka.


Libra kembali menundukkan wajahnya ketika gerombolan Virgo berjalan ke arah bioskop. Libra bisa memastikan jika mereka juga akan menonton. Semoga saja mereka tidak menonton film yang sama. Sebetulnya, ketika dia melihat Virgo, itu mengingatkan dirinya dengan Edzard, dan membuatnya tak nyaman. Bagamanapun Edzard adalah temannya.


Doa Libra terkabul. Mereka tidak menonton film yang sama. Para pria itu tak akan mungkin menyukai kisah romantic, mereka pasti memilih film yang membuat adrenalin dalam tubuh mereka keluar.


Tapi, tak dipertemukan di teater yang sama, bukan berarti mereka tidak akan pernah bertemu. Karena setelah film selesai, dan mereka keluar dari bioskop, justru mereka bertemu di kafe. Libra yang lebih dulu masuk ke dalam kafe tersebut, di susul oleh Virgo dan kawan-kawannya. Tidak duduk di dalam satu meja, tapi mereka bersebelahan.


Takdir memang terkadang selucu itu.


"Itu kan cowok yang waktu itu, Li?" Ersya yang paling berapi-api mengatakan itu. "Astaga, kenapa kawan-kawannya juga ganteng-ganteng banget sih?" Entah ditujukan kepada siapa pertanyaan itu, karena wajah berbinarnya sama sekali tak santai.


*.*


Virgo bukannya tak tahu jika ada Libra di kursi sebelahnya. Dia juga bukannya tak tahu jika Libra juga baru saja menonton film di jam yang sama dengan dirinya. Sayangnya, ketika Libra memilih untuk berpura-pura tak melihatnya, dia juga melakukan hal yang sama. Aneh memang kalau sampai saat ini ketika mereka masih berada di tempat yang sama dan sama-sama tak saling sapa.


Tapi bagi Virgo, membiarkan Libra melakukan semua itu adalah pilihan yang baik.


"Lo tahu nggak kalau gue betulan pengen punya pacar?" Sam sambil mengaduk minumannya bertanya kepada teman-temannya untuk memastikan jika apa yang dia katakan waktu itu adalah niat yang di dasari dalam hati yang paling dalam.


"Carilah. Kita kan nggak ngelarang elo." Hembusan napas keluar dari bibir Sam. "Sebelah lo cakep tu." Jawaban dari Baro membuat Sam meleparkan pandangan ke arah meja sampingnya.


Anggukan kepalanya menyetujui. Dan dengan gobloknya pula, Sam langsung berdiri dan mengajak gadis itu berkenalan. "Hai!" katanya. Dan kelakuan Sam itu membuat kawan-kawannya menyumpahinya.


"Mati, anak ayam." Itu adalah komentar Rai sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Keepat temannya melihat kelanjutan dari adegan tersebut.


"Boleh kenalan nggak?" Gadis yang diajak kenalan itu mendongak dan menatap Sam dengan wajah kaget. Bahkan Libra saja merasa takjub dengan hal itu.


Uluran tangan Sam di terima oleh Riska. Gadis itu tersenyum kikuk. "Riska." Katanya pelan bahkan terdengar seperti cicitan. Dan bukan sampai di sana, karena Sam juga berjabat tangan dengan semua teman-teman Riska, tak terkecuali Libra.


"Mau gabung?" Dan keinginan teman-temannya untuk menendang dan menceburkan Sam ke Segitiga Bermuda benar-benar sangat kuat. "Kampret." Bahkan Edo saja langsung mengatakan kata keramat itu demi menuntaskan rasa sebalnya kepada Sam.


Riska tentu saja tak langsung menyetujui, karena pendapat teman-temannya sangatlah penting untuk dirinya. Maka gadis itu menatap satu per satu temannya untuk meminta pendapat, dan dua diantara mereka bertiga mengangguk. Jadi Libra yang sebenarnya tak ingin bergabung bersama gerombolan Sam harus mau tak mau ikut.


Dan jawaban Riska yang mengatakan 'Iya' kepada Sam, langsung membuat mereka mendekatkan kursi yang mereka duduki di meja Sam untuk bergabung. Ini benar-benar diluar dugaan Libra sebetulnya. Tujuan utama ke mall menjadi berantakan sekarang.


Sedangkan dari pihak para lelaki, entah benar-benar tulus mengatakan 'selamat bergabung' atau hanya berpura-pura, tapi mereka tetap menunjukkan jika mereka menerima dengan keputusan Sam.


"Eh." Itu adalah suara Ule. "Dia kan yang pernah ketemu kita waktu itu kan, Li? Kamu kenal dia kan?" Semuanya seketika menatap ke arah Ule, kemudian menatap Libra, dan beralih kepada Virgo.


"Pernah ketemu Virgo?" Baro yang lebih dulu sadar memastikan. "Kapan?"


"Entah kapan itu aku lupa." Pelototan itu sudah Libra berikan kepada Ule agar mulut gadis itu tak bocor dan mengatakan yang tidak-tidak. Bahkan untuk mengusir rasa canggungnya, dia menggaruk kepalanya yang sepertinya tak benar-benar gatal.


Dan di lihat dari sisi manapun, Virgo sama sekali tak terpengaruh dengan apa yang dikatakan oleh Ule di depan teman-temannya. Sebagai informasi, teman-teman Virgo sama sekali belum tahu tentang hubungannya dengan Libra. Dan Virgo memang tak akan mengatakan hal itu kepada mereka. Kalau memang suatu hari nanti mereka akan tahu hal tersebut, maka biarlah mereka tahu dengan sendiri. Begitulah cara kerja Virgo selama ini.


Kemudian mereka sudah saling mengobrol satu sama lain, bahkan Virgo pun tak ketinggalan. Pria itu juga terlihat seru dengan pembahasan apa saja yang mereka bahas. "Jadi Virgo ini kapten basket ya?" Mata Ersya berbinar menatap Virgo. "Tapi gue heran loh, kenapa setiap kapten basket itu pasti ganteng? Apa emang yang di pilih sebagai kapten itu emang yang ganteng ya?" Pertanyaan konyol itu mendapatkan kekehan dari para pria.


Dan Ersya mendapatkan cubitan dari Riska. Membuat gadis itu terpekik kecil, namun langsung mendapatkan pelototan dari si pencubit. "Engga lah, dimana-mana kalau kapten itu pastilah dia harus mahir di bidang itu. Dan Virgo mampu melakukan itu. Tapi sebentar lagi pasti akan digantikan sama orang lain."


"Kok gitu?" Edo yang menjelaskan, mendapatkan pelototan dari Ersya. Dan bukannya marah, Edo justru terkekeh.


"Kan kita udah kelas tiga. Kita harus fokus sama ujian." Meskipun mereka masih bisa bermain, tapi tugas menjadi seorang kapten harus diserahkan kepada yang sudah terpilih untuk menggantikan.


"Libra!" Bukannya Libra yang mendapatkan pandangan dari orang-orang, malah si pemanggil yang mendapatkannya. Dan Rai adalah orang tersebut.


"Dari tadi nggak banyak bicara, nggak nyaman gabung sama kita?" Pertanyaan itu menimbulkan senyum canggung dari Libra.


"Enggak kok." Katanya. "Cuma, cerita kalian seru, jadi lebih suka jadi pendengar." Lanjutnya mengatakan alibi. Tapi tentu saja itu mendapatkan anggukan mengerti dari semua orang yang berada di satu meja dengannya.


*.*


Pertemuan waktu itu tak menimbulkan dampak yang signifikan bagi Libra dan Virgo. Justru karena pertemuan itu, Sam menjadi dekat dengan Riska meskipun mereka belum menjalin cinta. Ya, mereka bahkan baru berteman selama seminggu ini, terlalu cepat rasanya kalau mereka sudah berpacaran.


Tapi Sam sering sekali menjemput Riska ketika pulang sekolah dan menimbulkan iri kepada kedua temannya, kecuali Libra. Gadis itu menanggapi biasa saja apa yang terjadi dengan Riska dan Sam. Dia mendukung saja jikalau mereka nantinya benar-benar berpacaran. Toh dilihat dari sudut manapun, Sam sepertinya adalah pria baik-baik, begitu yang dikatakan Libra waktu itu.


Siang ini pun sama, Sam datang ke sekolah Riska dan menjemput gadis itu. "Kalian mau kemana setelah ini?" Tanya Sam kepada Riska dan kawan-kawan. "Mau ikut nggak? Sekolah kami ada tanding basket sama SMA 78." Binar di mata Ule terlihat.


"Mau dong." Katanya tanpa merasa perlu berpikir. "Ikut ya, Li, please!" Kedua tangannya bahkan menangkup satu sama lain agar Libra mau ikut serta bersamanya. Ersya pun menyetujui ajakan Sam.


"Iya, ikut aja Li, mereka nggak gigit kok. Tenang aja." Putaran bola mata Libra membuat Sam terkekeh. "Serius gue. Seru loh nonton kaya gitu." Meskipun Libra tak langsung menjawab, tapi dia menganggukkan kepalanya. Ikut masuk ke dalam mobil Ersya dan mereka langsung ke sekolah Sam.


Jarak tempuh antara sekolah Sam dan sekolah Libra memang tak jauh, tapi kemacetan yang terjadi di jam-jam pulang sekolah seperti ini, tetap saja membutuhkan waktu lama. Sebetulnya Libra malas melakukan ini, tapi demi teman-temannya apa boleh buat. Lagi pula dia juga akan kebosanan di rumah, maka dengan mengikuti keingian mereka mungkin bukan pilihan yang salah.


Sampai di sekolah Sam, mereka semua masuk ke dalam gedung olahraga dan sudah banyak siswa yang duduk di tribun dan keriuahan itu langsung menggaung di telinga. Ule tersenyum. "Gue suka sekali dengan ini." Katanya. "Karena itu, kalau di sekolah kita ada pertandingan seperti ini, kalian nggak mau diajak pun gue nggak masalah nonton sendirian." Iya, jika ada pertandingan di sekolah sendiri, Riska, Ersya, dan Libra memang jarang menonton. Tapi Ule tak mempermasalahkan ketidak mauan dari teman-temannya karena dia bisa menontonnya sendiri. Toh tak ada hal yang perlu ditakutkan di sekolah sendiri kan?


"Gue beli minuman dulu buat kalian, kalian di sini aja biar gue nggak kesusahan cari kalian." Pamitnya, dan langsung pergi dari sana setelah mereka mengangguk menyetujui. Kehebohan itu langsung keluar dari mulut Ersya, Riska, dan Ule. Mereka benar-benar senang sekali sepertinya. Libra? Hanya menanggapi biasa saja. Tapi di dalam hatinya merasa suka dengan ini.


"Astaga!" Ule sepertinya setelah ini perlu di ruqiah saja agar tak selalu berlaku menyebalkan seperti ini. Suka sekali mengagetkan teman-temannya. Hampir dia di pukul oleh Ersya ketika dia menunjuk ke arah lapangan basket.


"Itu Virgo!" Hebohnya. "Gantengnya, Masyaallah." Wajahnya bahkan tak biasa mengatakan itu.


Libra tersenyum melihat Virgo dari tempatnya duduk. Namun senyumnya tak akan bisa di lihat oleh orang lain karena begitu tipis.


*.*