Blind Love

Blind Love
Seri 12



Makanan yang di beli sudah ludes masuk ke dalam perut mereka. Topangan dagu yang dilakukan oleh Libra seolah dia sedang melakukan hal yang tak berguna sama sekali. Namun berbanding terbalik dengan ekspresi wajah yang terlihat. Gadis satu itu terkadang mengkerutkan dahinya dan sesekali menggigit bibirnya.


Jika ada yang bertanya apa yang sedang mereka lakukan, maka jawabannya adalah menonton film. Setelah obrolan tak berkwalitas yang mereka bahas malam ini, maka Virgo berinisiatif untuk mengajak menonton sebuah film triler. Jangan tanyakan dimana mereka menonton, karena mereka masih di tempat yang sama dan bermodalkan sebuah ponsel dan headset lah mereaka menikmati film tersebut.


Sejak film dimulai, mereka hanya sama-sama menikmati tontonan mereka tanpa banyak bicara. Sepertinya jika Libra benar-benar menjalin hubungan bersama Virgo, dia harus terbiasa dengan hal-hal sederhana seperti ini. Karena lelaki itu sama sekali tak peduli tempat seperti apa untuk bisa membahagiakan pasangannya.


“Waw.” Itu adalah reaksi yang diberikan oleh Libra ketika film yang di tontonnya berakhir. “Merinding aku lama-lama.” Begitu lanjutnya sambil melihat lengannya dan mengusapnya pelan seolah bulu tangannya yang berdiri bisa tidur kembali.


“Aku suka menonton film seperti ini kalau memang ada temannya. Kalau enggak, aku nggak berani.” Dilepaskannya headset yang masih menempel di lubang telinganya dan memainkannya. Ini adalah kali pertama kedua orang itu duduk sedekat itu, dan bersebelahan pula.


“Aku mau nonton kaya gini lagi, temenin.” Virgo tahu ini adalah sisi lain dari seorang Libra yang kekanakan.


“Boleh. Sekarang kita pulang. Udah malam, nggak baik anak cewek masih di luar jam segini.” Sok menasehati, padahal dia sendiri yang mengajak Libra keluar.


Maka dari itu Libra protes. “Kan kamu yang ajakin.” Katanya sambil kembali cemberut. Berdiri lebih dulu, dan berjalan ke tempat motor milik Virgo. Virgo bahkan harus menggelengkan kepalanya melihat hal itu. Cepat sekali berubah mood Libra.


Sebelum menjalankan motornya, Virgo lebih dulu melihat jam di pergelangan tangannya. Jarum pendek menunjukkan pukul dua belas dan jarum pendek berada di angka tiga, 12:15, artinya ini sudah larut malam dan dia harus segera mengantarkan Libra sebagai pertanggung jawabannya sudah ‘menculik’ anak gadis orang.


Hanya membutuhkan waktu lima menit saja untuk sampai ke kediaman gadis itu. Dan itu tak lama. Ketika mereka sudah sampai di depan rumah Libra, gadis itu dengan malas-malasan turun dari boncengan Virgo, sepertinya matanya sudah mengantuk.


“Makasih.” Libra mengucek matanya. “Aku masuk dulu.”


“Besok mau berangkat bareng?” Kaki Libra yang hampir berbalik, langsung kembali tegap untuk menatap Virgo.


“Aku serius.” Tak ingin ucapannya kembali mendapatkan pertanyaan dari Libra, maka Virgo lebih dulu mengatakan kesungguhannya.


“Besok aku jemput kalau mau.” Jelas karena Virgo belum mendapatkan jawaban atas tawarannya, maka dia setia di sana untuk menunggu. “Lima detik.”


“Ha?”


“Lima detik untuk berpikir, dimulai dari sekarang.” Kemudian Virgo menekuk jari-jarinya untuk menghitung waktu yang diberikan untuk Libra. Karena kelabakan dengan ulah pria di depannya, maka dengan reflek Libra menggenggam tangan Virgo.


“Jangan gitu lah.” Katanya entah sadar atau tidak jika kedua tangan remaja itu masih saling menggenggam. “Mikir itu juga butuh proses agar hasilnya bagus.” Dengusan langsung terdengar dari bibir Virgo.


“Hanya perlu jawab ‘Ya atau Tidak’ aja nggak akan susah. Nggak perlu waktu lama.” Karena kenyamanan, mungkin begitulah yang dirasakan keduanya, karena jalinan tangan mereka tak kunjung lepas.


“Aku chat kamu besok pagi.” Jawab Libra dengan kalem.


Sayangnya Virgo tak menyetujui. “Kalau sekarang nggak ada keputusan, artinya besok pun tidak. Aku nggak akan ambil resiko.”


“Kalau gitu sebelum aku tidur nanti aku kasih keputusan.”


“Ya atau enggak. Sekarang!” Virgo tak ingin membuang waktu dengan rasa penasaran yang dirasakannya. “Aku akan segera pulang. Mataku ngantuk.” Begitu katanya mendesak Libra untuk segera menjawab.


Entah ingin jual mahal atau apa, tapi Libra tak kunjung memberikan jawabannya. Kerena Virgo merasa jika Libra mungkin memang akan menolak, maka dia menyalakan motornya. “Kalau gitu aku pulang dulu. Kamu masuklah dulu. Aku nggak mungkin ninggalin kamu di depan seperti ini sendirian.” Memberikan kode agar gadis itu segera masuk ke dalam rumah.


“Penawarannya?” Melupakan rasa malunya, Libra memberanikan diri untuk memastikan jika apa yang diakatakan oleh Virgo masih berlaku atau tidak.


Namun Virgo hanya mengedikkan bahunya. “Masuklah.” Dan dari sanalah Libra tahu jika Virgo bukan orang yang akan menunggu keputusan orang lain dengan sabar.


Namun Libra juga tak bisa berbuat apapun kecuali menuruti apa yang diperintahkan oleh Virgo kepadanya. Melangkah pelan, dia berjalan ke arah pagar rumahnya dan membuka pagar itu dengan pelan. Sedangkan Virgo sudah bersiap untuk pergi dari sana. Memastikan jika Libra sudah masuk ke dalam rumahnya, deru suara mesin motor Virgo terdengar dan semakin lama semakin menjauh dan kemudian tak terdengar lagi. Libra masih berada di balik pagar itu dengan perasaan yang sama sekali tak nyaman. Entahlah, dia merasa ada penyesalan yang masuk ke dalam dadanya.


*.*


“Gue nggak paham, Ris. Tapi rasanya nggak enak banget.” Itu adalah kalimat curahan hati Libra ketika dia sudah bertemu dengan ketiga temannya dan menceritakan kejadian semalam.


“Lo mulai naksir sama dia.” Ule menanggapi dengan santai. “Karena salah satu tanda seseorang itu tertarik dengan lawan jenis adalah seperti yang elo rasakan sekarang.” Libra menopang dagunya lagi dan berusaha memahami apapun yang dikatakan oleh temannya.


“Bisa jadi seperti itu.” Suaranya bahkan tak yakin ketika mengatakan tanggapannya.


“Dan kalian sudah saling tertarik satu sama lain. Tunggu apa lagi?” Ersya dengan entengnya mengungkapkan hasil analisanya. “Siapa ya yang dulu merasa kalau apa yang dilakukan sama orang tuanya tentang perjodohan ini adalah ketidak adilan bagi dirinya?” Ada nada sindiran yang keluar dari bibir Ersya. Dan sorakan dari temannya yang lain juga terdengar.


Mau tak mau itu membuat Libra malu dan menelungkupkan wajahnya di atas meja. Ketiga temannya itu terkekeh melihat tingkah Libra yang meggelikan.


“Lo nggak perlu khawatir tentang itu, Li.” Riska yang bersuara. “Toh bukan lo aja yang tertarik sama Virgo, Virgo juga. Jadi lo nggak akan bertepuk sebelah tangan. Santai aja.”


“Tapi belum tentu kalau dia juga suka gue kan? Bisa jadi apa yang dia lakuin itu hanyalah akal-akalannya aja.” Ketidak percayaan Libra sepertinya sedang menunjukkan keberadaannya.


“Jadi sekarang elo ketakutan kalau seandainya Virgo nggak serius sama lo?” Ule lagi-lagi bersuara. Libra menatap ketiga temannya bergantian sambil mencerna apa yang sebenarnya terjadi sekarang.


“Gue nggak tahu jawabannya.” Begitulah akhirnya Libra menjawab. “Gue beneran bingung sekarang.” Dan itu adalah akhir dari pembicaraan tentang kebimbangan yang dialaminya.


Dan setelahnya, Virgo tak menemui Libra lagi. Dan tentu saja itu menimbulkan kebimbangan yang luar biasa bagi Libra. ‘Ini adalah emansipasi wanita, tak masalah kalau kamu menghubungi Virgo lebih dulu’ ucapan itu dikatakan untuk dirinya sendiri dalam keheningan malam di dalam kamarnya.


Maka dengan tekat bulat, dia mencari nomor ponsel Virgo yang ada di dalam kontak ponselnya. Menempelkan layar ponsel ke telinganya, mendengarkan dengan seksama suara nada sambung menandakan jika nomor Virgo aktif dan dapat dihubungi.


“Halo!” Terdengar suara serak dari sebrang sana yang seperti bukan suara Virgo.


“Iya. Kenapa Li?” Terdengar lagi suara bersin di sebrang sana.


“Kamu sakit ya?” Tangan kiri Libra meremas selimut yang dipegangnya. Menunggu jawaban Virgo yang sejak tadi tak kunjung keluar karena bersin-bersin.


“Nggak sakit sih, cuma flu aja. Kenapa, Li?"


“Kamu di mana sekarang?” Bukannya menjawab pertanyaan Virgo, gadis itu malah balik bertanya.


“Di rumah. Kenapa?”


“Aku ke sana ya. Kamu mau makan apa biar aku bawakan sekalian.” Itu adalah tanda jika gadis itu memang peduli atau memang memiliki maksud lain tak ada yang tahu.


“Kamu tahu rumahku?” Putaran bola mata diberikan kepada Libra meskipun Virgo tak akan tahu hal itu.


“Aku pernah ke rumah kamu kalau kamu lupa.” Libra berdiri, mengambil tas dan kunci mobilnya, kemudian keluar kamar untuk segera datang ke rumah Virgo. Tanpa berganti pakaian, karena memang dia sudah menggunakan pakaian yang sopan.


Menutup sambungan telponnya, dia berpamitan kepada Mbak agar perempuan paruh baya itu tak kebingungan jika dirinya tak ada di rumah. Karena malam waktu itu, ketika dia keluar bersama Virgo, wanita paruh baya itu mencarinya dan menungguinya di depan rumah. Bukankah itu mengharukan sekali?


Kamu mau makan apa? Voice note itu dikirimkan kepada Virgo setelah Libra menjalankan mobilnya. Sambil menunggu, dia menyalakan musik agar tak merasa jenuh.


Virgo – kamu serius mau ke rumah? Suara Virgo terdengar bindeng dan bisa dipastikan jika flu itu benar-benar mengganggu.


Iya. Cepat lah, bentar lagi nyampek. Suara music masih menggaung di dalam mobil Libra dan paling tidak dia tak merasa bosan. Sesekali mata Libra melirik ke luar jendela ketika lampu merah menyala. Melihat orang-orang yang masih bekerja di jalanan demi keluarganya, mendekati mobil-mobil yang berhenti untuk menawarkan dagangannya. Entah sudah selelah apa mereka setelah seharian berlalu lalang di lampu merah. Bahkan mungkin saja uang yang dihasilkan pun tak seberapa.


Hatinya selalu terenyuh ketika melihat orang-orang itu. Meskipun dia juga merasa kurang beruntung karena selalu ditinggalkan oleh kedua orang tuanya untuk bekerja, tapi dia masih lebih beruntung dari mereka yang dilihatnya sekarang.


Sebuah nada ponselnya sebagai tanda masuk sebuah chat terdengar. Membukanya, kemudian terdengar suara Virgo. Aku nggak tahu mau makan apa, tapi rasanya aku pengen yang seger. Begitu jawaban yang diberikan kepada Libra.


Kini Libra berpikir makanan apa yang dimaksud oleh Virgo. Setelah lampu lalu lintas itu terlihat menyala hijau, dia kembali menjalankan mobilnya dan melihat di pinggir jalan sekiranya enak dimakan oleh orang yang sedang flu.


Tak tahu harus membeli apa, akhirnya dia membeli apapun yang terlintas di dalam otaknya. Yang pasti yang berkuah. Setelah menyelesaikan ‘pesanan’ Virgo, dia langsung pergi menuju ke rumah Virgo tanpa menunda lagi.


*.*


Memencet bel rumah Virgo menunggu ada seseorang membukakan pintu rumah tersebut. Dua tangannya sudah menenteng makanan yang dipesan oleh Virgo namun harus kembali memencet bel rumah itu karena belum ada yang membukakan pintu juga.


“Libra?” Tak ada yang menyangka jika gadis itu akan bertemu dengan salah satu teman Virgo di sana. Kalau ada Edo, bisa dipastikan ada teman-teman lelaki itu yang lain di dalam.


“Masuk yok.” Edo dengan perhatian mengambil makanan yang dibawa oleh Libra dan membiarkan Libra masuk ke dalam rumah terlebih dahulu.


“Ada tamu agung, Guys.” Teriak Edo kurang asam. Suara gedebukan kemudian terdengar dan muncullah teman-teman Virgo yang lain.


“Libra?” Bahkan mengatakan itu saja berbarengan.


“Hai!” Libra jelas kikuk melihat para lelaki itu menatapnya berbarengan. “Virgo, ada?” Tak yakin mengatakan itu, tapi dia harus melakukannya. Malu sebetulnya, seperti dia adalah terdakwa sebuah kesalahan yang tak termaafkan.


“Ada dong.” Rai yang dengan senyum menggodanya menatap Libra dengan wajah yang puas seperti mengatakan ‘Oh, ternyata kalian diam-diam begini ya’ namun secara tak langsung. “Masuk, Li. Kayaknya emang dia nungguin elo sih.” Senyum Libra terlihat kaku sekali namun tak urung dia melangkah masuk lebih dalam.


Dan matanya langsung menemukan Virgo yang juga sedang menatapnya. Melihat itu langkah Libra lebar-lebar. “Kamu seriusan sakit ya, Vir?” Mengecek suhu tubuh lelaki itu dengan menempelkan telapak tangan di dahi Virgo dan telapak tangannya terasa hangat.


“Wohooo.” Suara teman-teman Virgo seketika menggelegar karena melihat aksi ‘heroik’ yang ditunjukkan oleh Libra. “Gitu toh ternyata.” Sam menimpali dengan menggoda.


“Gue siapin dulu makanan yang di bawakan Libra buat elo ya, Vir. Biar semakin cepat sembuh.” Bukannya dia sendiri yang membawa makanan itu ke dapur, malah memanggil Bibi dengan suara keras.


“Bibi!” panggilnya. Bibi yang mendengar langsung mendekat. “Tolong siapin ini buat Virgo ya, Bik, dari pacarnya.” Kepalanya mengedik ke arah Libra untuk menunjukkan siapa orang yang disebut olehnya kepada Bibi. Senyumnya pun terlihat.


“Oke, Mas.” Begitu katanya sambil mengacungkan jempolnya. Dan kembali ke dapur untuk menjalankan yang diperintahkan oleh Edo.


Edo, Sam, Rai, Baro, duduk di sofa dan memandang dua orang di depannya yakni Virgo dan Libra dengan seksama. Tak ada yang tahu apa yang sedang mereka pikirkan sekarang.


Libra dan Virgo memang duduk bersebelahan di sofa yang berbeda dengan teman-temannya, dan tak ada adegan yang luar biasa dari kedua orang itu, tapi sepertinya mereka memang tak puas jika tak mengintograsi apa yang sebenarnya terjadi.


“So, apa yang sebenernya lo sembunyiin dari kami?” Baro memulai. “Tiba-tiba Libra datang ke sini ketika lo sakit, membawakan makanan, terus ngecek suhu tubuh lo, kok kalau gue lihat itu manis-manis kecut gimana gitu.” Analisa seorang Baro yang luar biasa.


“Jadi rahasia lo adalah ini jawabannya?” Sam melanjutkan. “Tipe gue, biarlah jadi rahasia gue.” Menirukan kalimat Virgo waktu itu dengan wajah sok nya, membuat yang lainnya tertawa.


“Kampret emang si Virgo, diem-diem nerkam.” Ucap Edo.


“Harusnya nama lo bukan Virgo, tapi Leo.” Itu adalah nada cibiran yang diberikan Rai untuk Virgo. Mendengarkan apa yang teman-temannya ungkapkan dirasa lebih baik dibandingkan menyangkal dan endingnya hanyalah desakan yang merembet kemana-mana.


Libra? Dia masih diam tanpa tahu apa yang harus di katakan.


*.*