
Virgo dan Libra saling memeluk ketika selesai melakukan kegiatan panjang mereka. Libra malu menatap Virgo setelah adegan tak senonoh yang baru saja terjadi. Mungkin bagi Sebagian orang, ciuman sepasang kekasih adalah hal yang wajar, tapi bagi Libra dan Virgo yang memang tak pernah melakukannya sebelumnya, hal ini pastilah menjadi adegan yang begitu menggetarkan jiwa.
Ralat, ini adalah kali kedua mereka berciuman. Namun bagaimanapun, rasa gugup itu pasti akan selalu ada di hati keduanya.
Pelukan kenyamanan ini benar-benar tak ingin berakhir oleh keduanya. Libra masih menenggelamkan wajahnya di dada Virgo sedangkan Virgo tak ingin melepaskan pelukan yang mereka ciptakan sendiri. “Jangan nangis lagi. Bisa?” Virgo bersuara, “Jangan menangisi hal yang tak berguna, Yang.” Libra menjauhkan tubuhnya mengurai pelukan mereka. Menatap lelaki itu dengan serius sebelum dia mengatakan sesuatu.
“Hal nggak penting katamu?” mulut Libra terbuka untuk melanjutkan, lalu kembali tertutup karena kebingungan dengan banyak kata yang terangkum di dalam kepalanya.
“Ini penting, Yang. Aku pacar kamu, kita baru saja kembali bersama setelah melalui hal yang sulit, dan sekarang harus merasakan lagi sakit hati ketika kamu bersama cewek lain dan di depan aku.”
“Kami nggak melakukan apapun, Yang. Kami hanya mengobrol saja.”
“Aku percaya kamu,” Sejak dulu Libra memang mempercayai Virgo sejak dulu. Dia tahu jika lelaki itu tak akan menghianatinya, tapi dia adalah wanita. Ketika miliknya bersama orang lain, maka rasa cemburu itu tak akan tanggung-tanggung keluar dari dalam hatinya.
“Kamu tahu nggak, apa yang aku rasakan ketika melihat itu? Rasa sakitnya sama sekali tak bisa terbendung. Aku menangis memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.”
“Misalnya?” tanya Virgo,
“Karena restu yang kamu dapatkan dari ayah cewek itu, bisa saja kamu akan berpaling dari aku. Atau, gadis itu bisa membuat kamu jatuh cinta sama kamu. Atau hal-hal lain yang bahkan sekarang aja aku nggak ingat apa yang aku pikirkan waktu itu.”
“Berarti kamu nggak percaya sama aku.”
“Udah aku bilang kalau aku percaya sama kamu, tapi pikiran buruk akan selalu terjadi ketika melihat seperti itu.” Libra kembali menangis karena hal itu. Kini tangis itu tak ditahan dan mengeluarkan tangisnya dengan keras.
Virgo kembali menarik Libra dalam pelukannya dan mengelus kepala gadis itu dengan lembut.
“Yang terpenting saat ini adalah aku sekarang di sini sama kamu. Bukan sama Honey.” Bukannya tangisnya mereda, mendengar nama gadis lain yang seperti memberi panggilan sayang kepada gadis tersebut membuat Libra kembali menangis dengan kencang sambil meremas jaket belakang Virgo. Dan membuat Virgo menghela nafas dan mengeratkan pelukannya.
Tak mengatakan apapun, Virgo hanya diam dengan tangannya yang aktif mengelus punggung gadisnya memberi isyarat jika semua baik-baik.
“Unek-uneknya udah dikeluarkan semua kan?” Libra mengangguk di dalam pelukan Virgo, “Cuma gitu aja?” Libra bahkan bisa merasakan jika Virgo menarik nafas panjang, “Nggak seru lho, Yang. Aku kira mau sepanjang apa lah keluhan kamu. Tapi cuma sedikit doang.” Bukan Virgo namanya jika tak membuat orang lain jengkel dibuatnya.
Bahkan Libra mencubit perut lelaki itu dan langsung berdiri. Sayangnya waktu seolah berhenti ketika dia melihat seseorang yang sedang menatapnya dengan tajam. “Ayah!” katanya dengan nada kecil. Pucat pasi wajah Libra. Tatapan itu seolah akan melolosi tulang Libra. Virgo yang mendengarkan ucapan lirih Libra langsung berdiri dan mengikuti arah pandang gadis itu.
Dan benar saja, Ardi berada di depan sana sedang menatapnya dengan tajam. Belum ada yang tahu bagaimana bisa lelaki itu bisa sampai ke tempat itu. Ardi berjalan mendekat dan Libra seolah terpaku di sana. Jarak mereka memang tak terlalu jauh. Dan bisa dipastikan apa yang mereka lakukan sejak tadi sudah diketahui oleh Ardi.
Sebuah pukulan terdampar di wajah Virgo sampai darah keluar dari bibirnya. Libra shock melihat itu dan gadis itu juga mendapatkan hal yang sama. Ditamparnya anak gadisnya dan warna kemerahan langsung muncul tanpa lagi bisa dicegah.
Situasi sepertinya tak bisa terkendali. Ardi kemudian memberikan pukulan-pukulan lain setelahnya kepada Virgo sampai banyak darah yang keluar dari beberapa bagian wajahnya. Virgo tak melawan karena memang dia merasa dirinya memang salah.
Libra mencoba untuk melerai ayahnya dan Juga Virgo yang sedang berkelahi. Lebih tepatnya ayahnyalah yang melampiaskan kemarahannya kepada kekasihnya.
“Ayah udah.” Libra meraung ketika wajah Virgo begitu berantakan. Warna kebiruan itu muncul di sana.
“Jadi begini?” tangan Libra dicekalnya dan digenggam dengan erat sampai gadis itu mengeluh kesakitan, “Kamu diam-diam sudah kembali dendang lelaki ini dan melakukan hal yang menjijikkan di tempat seperti ini.” Mata Ardi melotot ketika menatap Libra di depannya.
“Kenapa kamu menjadi wanita bodoh hanya karena cinta, HA!” teriaknya kepada putrinya, “Kamu membiarkan saja dia mencium kamu tanpa perlawanan. Mau jadi apa kamu!” Virgo mencoba untuk bangkit setelah merasa bisa.
“Ini kesalahan saya, Om. Tolong jangan salahkan Libra.” Virgo bahkan harus menyandarkan tubuhnya di pohon karena tubuhnya sama sekali remuk rasanya.
“Kalau kamu ingin menjadi lelaki brengsek, maka lakukan sendiri. Jangan merusak anak orang.” Libra menangis melihat kondisi Virgo sedangkan dirinya saja pipinya sedikit bengkak karena tamparan yang diberikan oleh ayahnya.
“Saya tidak akan memaafkan kamu.” Begitu katanya sambil menarik lengan Libra dan meninggalkan Virgo sendirian di sana. Libra memang sempat berontak, tapi apa boleh buat, tenaganya tak sebesar itu sampai bisa melawan sang ayah.
Virgo hanya bisa menatap Libra yang juga menatapnya dengan air mata yang terus mengalir ke pipinya. Tubuhnya merosot karena merasakan sakit di tubuhnya begitu terasa. Dia tak tahu apa yang akan dia katakan kepada orang tuanya tentang hal ini. Dia bukan orang yang hobi tawuran dan kedua kedua orang tuanya tahu akan hal itu.
Jika tiba-tiba nanti dia muncul dengan wajah yang babak belur, maka dia pasti tak akan bisa mengelak lagi dan akan menceritakan semuanya.
Ibunya, dia tak mau membayangkan apa yang terjadi selanjutnya dengan perempuan itu jika Ardi lah dalang dari semua ini. Sayangnya, dia juga bersalah dalam hal ini. Ardi kali ini memang melakukan hal yang benar karena tak ada orang tua yang akan membiarkan anak mereka ‘dinodai’ oleh orang yang bahkan hanya memiliki status pacar dengan putri mereka.
Virgo dengan pelan beranjak dari sana dan akan segera pergi meninggalkan tempat itu. Bahkan ketika dia sampai di samping motornya dan siap menjalankan kendaraan beroda dua miliknya, harus lebih dulu menunduk karena ngilu di wajahnya benar-benar tak bisa ditahan. Maka dengan memaksakan dirinya sendiri, dengan kencang dia menjalankan motornya agar segera sampai di rumah. Karena lukanya harus segera diobati.
*.*
Ardi menarik Libra Ketika sampai di rumah. Dan melemparkan putrinya itu sampai terduduk di sofa. Jihan melihat itu terkaget namun mengurungkan mulutnya untuk bersuara. Lelaki itu berkacak pinggang dan menatap tajam Libra yang sedang menangis.
“Ada kaitannya dengan bekas tamparan sampai membiru seperti ini?”
“Benar.” Wajah Ardi memerah dengan tangan yang mengepal kuat, “Aku menamparnya karena dengan beraninya dia berciuman dengan Virgo.”
“Apa?” bukan sebuah pertanyaan karena perempuan itu tak mendengarnya, tapi Jihan memang kaget mendengar itu, “Bukannya kalian nggak Bersama? Kalian udah putus kan?”
“Mereka balikan secara diam-diam.” Katanya dengan rahang yang mengetat Ardi mengatakannya. “Sekarang kamu tahu kan siapa Virgo sebenarnya? Dia memilih menjalin hubungan denganmu sampai sepengetahuan orang tuamu. Dia memang benar-benar brengsek.” Di tumpahkan sumpah serapah dari dalam hatinya.
Orang tua manapun akan merasakan sakit yang teramat sakit Ketika melihat anak-anak mereka melakukan hal yang melanggar norma. Apalagi Ardi melihat dengan mata kepalanya sendiri apa yang dilakukan oleh putrinya. Dilihat dari sudut manapun, dia tak akan merasa menerima dengan hal itu.
“Kami memilih begini karena Ayah sama sekali tidak mau merestui kami.” Libra sepertinya tak mau diam saja tanpa perlawanan, “Aku tahu aku salah, aku pantas mendapatkan pukulan dari Ayah bahkan aku pantas dibunuh oleh Ayah.” Kalimat yang dikatakan oleh Libra itu tersendat-sendat karena tangisnya, namun dia tetap melanjutkan.
“Tapi aku berhak memilih lelaki untuk dicintai oleh hatiku. Kalua aku bisa, aku akan memilih lelaki yang lebih dari Virgo, laki-laki sesuai keinginan Ayah, tapi mana bagaimana lagi, aku nggak bisa, Yah. Hatiku tetap memilih Virgo.”
Ardi berdecih sinis mendengar pembelaan dari putrinya. “Kamu sudah dibutakan oleh cinta rupanya,” katanya. Kembali menatap istrinya, “Bawa dia masuk ke kamar. Kurung dia di sana dan jangan boleh keluar kamar.” Katanya, kemudian berlalu dari sana untuk masuk ke ruang kerjanya.
Meninggalkan ibu dan anak itu di sana dengan perasaan yang sama hancurnya dari hatinya.
“Li!” Jihan bersuara, “Kamu serius berpacaran lagi dengan Virgo?” tanyanya untuk memastikan. Menatap putrinya dengan lekat menunggu jawaban.
“Iya, Ma.” Jawab Libra berterus terang. Tetesan air matanya keluar lagi Ketika mengatakan itu, “Karena itu, aku melarang Mama untuk menemui Virgo lagi.” Terlihat Jihan meneguk ludahnya dengan wajah yang pucat pasi.
“Mama nggak tahu harus bereaksi seperti apa. Mama bingung.” Genggaman tangannya di tangan Libra terlepas dan kedua perempuan beda generasi itu menatap depan dengan pikiran mereka masing-masing.
Libra tahu diri, maka dia memilih untuk pergi ke kamarnya dan mengunci diri di sana. Meluruh di lantai dengan bersandar ranjang dan menelungkupkan wajahnya di lipatan tangannya di atas lututnya dengan kaki yang tertekuk.
Menangis kembali di sana. Jika ada yang bertanya bagaimana perasaannya sekarang, maka mungkin saja Libra akan menjawab ‘tak tahu’. Karena perasaan itu bercampur menjadi satu. Kesedihan itu mendominasi hatinya sampai sakit itu terasa jika lebih baik dia mati saja sekarang dibandingkan harus menanggung semua ini.
Gadis itu bahkan sampai ketiduran karena kelelahan menangis.
Lalu, bagaimana semua ini bisa terjadi? Bagaimana Ardi bisa mengetahui semua ini? Maka jawabannya adalah karena Ardi tak sengaja melihat putrinya di sebuah kafe sendirian. Dia tak tahu kalau gadis itu sedang menunggu seseorang. Ketika melihat Virgo yang datang, muncul banyak pertanyaan di kepalanya.
Dan Ketika Libra keluar dari kafe bersama Virgo, dengan cepat beliau mengikutinya. Dan kenyataan yang didapatkan Ketika melihat kedua anak muda itulah sebuah penghianatan. Ya, Ardi merasa dikhianati oleh putrinya sendiri. Maka hal itu sama sekali tak membuatnya bisa mengabaikan begitu saja apa yang dilakukan oleh mereka.
Bahkan membuat babak belur Virgo dirasa tak puas.
Keadaan menjadi kacau sekarang. Bahkan prediksi Virgo juga benar sama sekali. Ketika dia masuk ke dalam rumahnya, jeritan ibunya memenuhi ruangan. Perempuan itu menangis sejadi-jadinya melihat wajah putranya yang penuh lebam dan berdarah.
“Kenapa, Nak? Kamu bertengkar dengan siapa? Mama tahu kamu nggak mungkin ikut tawuran, kamu juga nggak mungkin berkelahi dengan temanmu, lalu dari mana kamu mendapatkan luka-luka ini?” perempuan itu membingkai wajah Virgo dengan kedua tangannya secara hati-hati karena takut menyakiti Virgo.
Dan Ketika jawaban itu belum keluar dari bibir Virgo, ayahnya datang dan bereaksi yang sama dengan istrinya.
“Dari mana kamu mendapatkan luka ini?” pertanyaan yang sama juga terlontar dari sang ayah.
“Mama bisa tolong obati dulu lukaku?” dengan suara keras, ibu Virgo berteriak memanggil asisten rumah tangganya untuk meminta obat. Virgo menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa dan memejamkan matanya. Sungguh, rasanya sangat sakit sekali. Bukan hanya wajahnya, tapi juga tubuhnya dan hatinya.
Dan sayangnya, kesakitakan itu tak sampai di sana, karena Virgo merasakan sekujur tubuhnya terasa panas. Ibunya yang sedang membersihkan lukanya pun juga bisa merasakan panas itu di telapak tangannya.
“Badan Virgo panas, Pa.” Adunya dengan air mata yang mengalir ke pipinya. Firman mengecek dan dengan menempelkan telapak tangannya di dahi putranya dan merasakan hal yang sama dengan istrinya.
“Dia mungkin demam karena luka-luka ini. Kita bawa ke rumah sakit.” Katanya dengan cepat memerintah sopirnya untuk menyiapkan mobil dan mengantar mereka untuk pergi berobat.
“Aku nggak papa, Pa. nggak perlu berlebihan seperti ini. Istirahat sebentar pasti akan sembuh.” Itu adalah cara Virgo menolak keputusan yang diambil oleh ayahnya untuk membawanya ke rumah sakit. Meskipun rasa badannya sama sekali tak bisa bersahabat, tapi dia tak membutuhkan dokter untuk masalah kecil ini.
“Kita harus ke rumah sakit.” Putus ayahnya dan kemudian lelaki itu berjongkok di bawah sofa, “Naik ke punggung papa.” Katanya kembali memerintah.
Nyatanya penolakan Virgo tak berarti apapun. Maka tanpa banyak kata, lelaki itu dengan pelan bangun dan naik ke punggung ayahnya. “Ini kaya waktu aku kecil dulu, Pa.” Suaranya parau , “Piggyback.” Katanya dengan kekehan garing yang dijawab gumaman oleh Firman.
Ibu Virgo hanya bisa mengekori dua lelaki kesayangannya itu dari belakang sambil masih menangis karena melihat putranya yang tak berdaya seperti itu. Masuk ke dalam mobil terlebih dahulu, barulah Virgo mengikutinya. Perempuan itu menarik putranya agar bisa berbaring dengan menggunakan pahanya sebagai bantal. Mengelus kepala Virgo dan sesenggukan karena tangis.
Setelah ini, mungkin akan ada ‘pertarungan’ dari dua keluarga yang sejak awal sudah saling berselisih.
*.*