
"Ini film romance pertama yang aku tonton." Virgo berbisik di telinga Libra ketika melihat adegan manis di depan sana.
"Kalau begitu nikmati saja." Film sudah berjalan selama setengah jam dan Libra menikmatinya sedangkan Virgo berusaha melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh Libra. Sayangnya dia tidak terlalu suka dengan film seperti ini, meskipun begitu Virgo tak juga riweh dengan mengajak Libra keluar dari sana sebelum film benar-benar selesai.
Film selesai dan orang-orang keluar dari gedung bioskop, pun dengan Virgo dan Libra. "Mau beli sesuatu?" Virgo menawarkan.
"Enggak." Jawab Libra pendek. "Kita udah selesai makan, artinya aku udah kenyang. Kita udah nonton, artinya kita udah memotong sedikit rasa lelah kita dengan hiburan tersebut. jadi, kita pulang aja." Libra berjalan santi di samping Virgo kedua tangannya dia masukkan ke dalam saku jaketnya.
"Kalau kamu membeli sesuatu, aku nggak keberatan untuk nemenin kamu." Lanjutnya lagi.
"Kita ke toko buku." Entah ide dari mana, Virgo mengajak gadis itu ke tempat tak pernah sekali dibayangkan oleh Libra. Bukannya aapa-apa, tapi jika di lihat, seorang Virgo tak akan pernah ke tempat keramat bernama toko buku. Dan sekarang? Sudahlah, sepertinya ada hal penting yang ingin lelaki itu beli. Ya, barangkali seperti itu.
Masuk ke dalam toko buku, Virgo tak langsung kalap dengan apa yang ada di sana. Sedangkan dia pun tak terlalu menyukai yang namanya buku. Apalagi novel dan sejenisnya. "Kamu suka novel." Virgo menatap Libra yang sedang mengamati buku-buku best seller yang di pajang di bagian depan.
"Suka, suka sekali malah. Apalagi kalau kisah romants." Gamblangnya jawaban Libra membuat Virgo paham.
"Kalau begitu carilah buku yang kamu suka." Perintahnya kepada Libra. Yang langsung di jawab dengan anggukan. Virgo juga melarikan pandangannya ke segala penjuru toko tersebut untuk melihat-lihat sekiranya dia menemukan bacaan yang mungkin menjadi seleranya.
"Biasanya jika para lelaki suka membaca komik, dia tidak. Dia jelas saja tak membeci buku, hanya tak ada niatan sama sekali untuk membeli buku dan menghabiskan waktunya untuk membaca. Kemudian sebuah peri tak kasat mata muncul di sisi kiri dan kanannya. Kiri mengatakan 'Olahraga lebih bermanfaat dari pada membaca buku' kemudian kanan menjawaba, 'Otak juga perlu sehat. Dan salah satunya dengan membaca. Sehat badanmu, kekar tubuhmu, kalau otakmu bodoh buat apa?'
'Halah, kalau badan sehat kan otomatis otak juga ikut sehat. Belajar bisa konsentrasi' dan perdebatan-perdebatan antara si baik dan si buruk hilang karena Virgo mendengus dan tangannya menyahut satu buku novel.
"Cinta." Bacanya. Membalikkamn buku tersebut dan membaca sinopsisnya.
'Cinta. Aku tak paham apa yang mereka rasakan tentang kata itu. Aku tak bisa mengartikan secara panjang lebar dari cinta. Dan ketika suatu saat aku ditanya apakah aku pernah jatuh cinta? Maka dengan mudah aku menjawab pernah.
Jadi kalau kamu tidak paham cinta kenapa kamu tahu kalau yang kamu rasakan itu adalah cinta? Maka aku hanya menjawab, 'Karena itu adalah keyakinan hatiku. Hatiku terasa berbeda ketika ada dekat dengan dirinya. Rindu itu selalu datang ketika aku jauh darinya. Mataku tak pernah ingin melepaskan pandangan dari dirinya, dan berkalipun aku bertanya pada hatiku, apakah dia menginginkannya? Hatiku selalu belang iya. Dan aku putuskan itu adalah cinta, dan aku akan mengejar cinta itu.'
Ketertarikan Virgo dengan novel yang diambil dari rak buku secara random itu membuatnya tertarik. 'Sinopsisnya menarik' begitu gumamnya dalam hati. Maka merasa tak perlu memikirkan ulang, dia membawanya dan mencari keberadaan Libra.
"Udah?" Libra sepertinya juga larut dalam kesenangan, ada dua buku yang di tumpuk di sampingnya dan membacanya. Jelas saja buku itu sudah terbuka untuk di jadikan sample.
"Udah." Jawaban Libra itu beserta menatap ke tangan Virgo. "Kamu beli itu?" Tanyanya. Kemudian membuka buku yang di tumpuk dan memperlihatkan kepada Virgo. "Aku juga mau beli itu." Wajah gadis itu menunjukkan kecengoan karena mereka memilih buku yang sama.
"Kalau begitu, ayo!" Ajak Virgo, "Kita balik." Kemudian Libra mengambil buku baru dan berjalan di belakang Virgo.
"Kasih aku sini." Virgo meminta buku Libra setelah mengantri di kasir. Awalnya Libra menolak karena dia akan membayar buku itu dengan uangnya sendiri, tapi Virgo berkata, "Kita akan lama lagi kalau bayar sendiri-sendiri. Jadi satu aja." Yang mau tidak mau dituruti oleh Libra.
*.*
Libra merasa jika ini adalah malam terberat bagi dirinya entah karena apa. Ada getaran di dalam jantungnya ketika motor Virgo hampir sampai di rumahnya. Dia tak ingin hari ini berakhir begitu saja, dia merasa ingin bersama Virgo. Sayangnya keinginan hanya sebatas keinginan. Karena hanya hitungan detik, mereka sampai di depan rumah dan Virgo langsung mematikan mesin motornya.
Tak ada kata terucap dari bibir keduanya. Mereka sama-sama memikirkan sesuatu entah apa. Libra memainkan ujung jaket miliknya sedangkan Virgo terpekur sambil memegangi stir motornya.
Virgo menarik napas, kemudian membuka suaranya. "Udah sampai." Tujuan dari Virgo mengatakan itu adalah agar Libra bisa segera turun dari motornya. Bukan maksudnya mengusir gadis itu, tapi dia pun tak tahu harus mengatakan itu untuk mengurai kecanggungan yang melingkupi keduanya.
Libra turun dengan pelan dan tak langsung masuk ke dalam pelataran rumahnya. "Buku kamu." Libra mengangsurkan buku yang dibeli oleh Virgo dan diterima oleh lelaki itu.
Virgo ikut turun dari motornya dan menatap Libra dalam. Sebuah pertanyaan muncul. "Kenapa kita jadi canggung seperti ini?" Kekehan Virgo keluar namun tak ada timbal balik dari Libra. Gadis itu tiba-tiba mengeluarkan air mata yang seketika membuat Virgo kebingungan.
"Kamu kenapa, Li?" Dengan reflek diusapnya air mata Libra dengan lembut. "Serius deh, kalau kamu menangis kaya gini nanti disangka orang yang lihat aku apa-apain kamu." Perumahan tempat tinggal Libra memang perumahan elit, tapi bukannya tak ada yang lewat kan?
"Aku nggak tahu kenapa tiba-tiba sedih," Dengan terbata Libra menjawab. "Aku sesak dan aku pengen nangis." Libra bahkan tanpa sungkan menyedot ingusnya, mengusap lelehan air matanya yang seakan tak mau berhenti, "Aku ini kenapa?" Virgo menarik Libra dan memeluk gadis itu dengan lembut.
"Aku nggak tahu jawabannya, Li." Jawab Virgo terang-terangan. Libra ikut memeluk dan semakin menenggelamkan wajahnya di dada Virgo. Kedua tangannya memeluk punggung Virgo dengan erat. Meskipun sesak itu tak juga hilang. Ada kenyamanan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya dan rasa itu terasa benar di hatinya.
"Sekarang masuklah," Virgo melepaskan pelukannya dan mengusap kembali air mata yang mengalir di pipi Libra. "Istirahat akan mengembalikan mood baik kamu." Sok tahu sekali bocah satu itu. Bukan tidur yang dibutuhkan oleh Libra sekarang, sebetulnya. Tapi kedua anak 'bodoh' itu tak tahu apa yang terjadi di dalam hati keduanya.
Memeluk dua buku baru yang tadi di belinya, Libra melangkah pelan untuk masuk ke dalam rumah. Dalam beberapa langkah, entah berapa kali dia memutar tubuhnya untuk melihat Virgo seolah bertanya apakah lelaki itu masih ada di sana atau tidak.
Ketika langkahnya sudah mencapai pagar rumahnya, air mata itu kembali keluar dan mengalir di pipinya. Namun dia cepat-ccepat mengusapnya. Berbalik untuk terakhir kalinya, dia memberi isyarat kepada Virgo untuk masuk ke dalam. Dan Virgo mengangguk sambil tersenyum. Menunggu Libra benar-benar masuk, kemudian barulah dia menunggangi motornya dan meninggalkan tempat itu.
*.*
Besoknya, ketika Libra sudah berada di sekolah dengan mata yang masih bengkak, dia dikejar pertanyaan oleh teman-temannya. "Lo habis digebukin siapa, Li? Mata lo_?" Tak bisa mengibaratkan dengan apapun, Riska bersuara.
"Gue lagi nggak mood, kalau mood gue udah bagus, gue akan cerita sama kalian." Dan ketika Libra mengatakan itu, tak akan dari mereka yang mendesaknya. Suasana hati Libra memang benar-benar sedang tak baik. Maka hal sekecil apapun akan menjadi masalah.
Seperti sekarang ini ketika Edzard menemuinya dia malas-malasan menemui lelaki itu. Tapi tentu dia masih bersedia mengobrol dengan lelaki itu.
"Kamu oke kan, Li?" Edzard pun sepertinya juga menyadari jika Libra hatinya sendang tidak baik.
"Ya." Jawabnya ringan. Gadis itu memeluk buku yang kemarin dibelinya yag Virgo pun memilikinya. Mengingat nama itu entah kenapa matanya mengembun. Dia tak tahu kenapa menjadi seperti ini.
Apakah ini yang orang-orang bilang dengan putus cinta? Tapi bahkan jadian saja belum bagaimana bisa ini dikatakan putus cinta. Begitulah pikirannya mencoba untuk menganalisa.
"Li!" Ah! Sepertinya dia sudah melupakan keberadaan Edzard di sampingnya.
"Ya?"
"Kayaknya kamu beneran punya masalah." Edzard menatap ke arah Libra dengan pandangan bertanya dan berharap meskipun sedikit Libra menceritakan masalahnya.
"Begitulah." Jawaban enteng Libra tentu tak akan membuat Edzard puas. Maka dari itu dia berusaha agar Libra mau menceritakan masalahnya kepada drinya.
"Kamu bisa menceritakannya ke aku, Li. Aku sama sekali nggak keberatan dan kalau memang aku bisa bantu, aku akan bantu."
"Terima kasih. Tapi aku baik-baik saja." Libra membuka bukunya dan mencoba untuk membolak-balik halaman per halaman. Padahal di dalam hati Libra sama sekali tak ingin membaca buku tersebut.
Keheningan memang terjadi diantara Libra dan Edzard kali ini, tapi Edzard masih bertahan di sana. Sedangkan Libra sendiri masih mencoba untuk menekuni bukunya.
'Aku awalnya nggak tahu kalau rasa meletup-letup di dalam hatiku kali ini adalah bernama, Cinta. Dia lelaki yang manis sikapnya dengan caranya sendiri, jadi bagaimana bisa aku nggak jatuh hati kepadanya.' Libra membaca sebuah curahan hati di dalam cerita tersebut. Entah kenapa dia merasa jika apa yang dibacanya kali ini seperti gambaran dirinya sendiri.
Jadi, apakah dia mencintai lelaki bernama Virgo itu? Matanya menerawang entah kemana dengan menatap ke depan. Memikirkan sambil bertanya kepada dirinya jika perasaannya itu bernama cinta. Bukan hanya sekedar suka-sukaan kemudian rasa suka itu hanya perasaan hambar dan hilang begitu saja.
Virgo benar, jika memang mereka harus 'berpisah' terlebih dahulu untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada diri mereka. Pertanyaan itu akan terjawab satu bulan lagi. Dia akan bersabar sembari benar-benar meyakinkan dirinya sendiri.
Wajahnya menoleh ke arah kirinya dan Edzard masih duduk di sana sambil menatap ke arahnya. "Aku tahu ini membingunkan kamu. Tapi aku bisa menjalani dan membereskan sendiri." Libra berdiri dan menatap Edzard agak menunduk. "Aku pergi dulu, terima kasih sudah mau menemani aku." Di akhir kalimat dia tersenyum kemudian pergi dari sana meninggalkna Edzard sendiri.
Libra masuk ke dalam kelas, masih dengan novel di tangannya. Ketiga temannya sudah berada di sana dan dia duduk di bangku miliknya tanpa basa-basi. Meletakkan novel yang di bawa itu ke atas meja, Llibra menghela napas. Ada sisi hatinya yang ingin menghentikan kekonyolan ini. Ya, sebetulnya tingkah laku Libra kali ini benar-benar konyol. Dia galau dengan sesuatu hal yang tidak pasti.
Maka dengan menata hatinya dia berusaha mengurai kegalauan ini. Setelahnya dia menceritakan semuanya kepada teman-temannya. Dan mendapatkan respon yang tentu baik dari mereka.
"Gue rasa kalian emang saling-saling cinta." Kemudian tanggapan awal dari Ule keluar. "Hanya saja sebuah kebodohan yang hadir dengan kurang ajarnya di waktu yang tidak tepat." Libra memutar bola matanya dengan malas namun dia juga menyadari jika apa yang dikatakan Ule adalah kebenaran.
"Kalau lo tahu jika lo itu cinta ama dia atau enggak, itu bukan masalah yang susah," Lanjutnya. Hanya sebuah informasi saja, jika Ule memang sudah 'pengalaman' masalah percintaan seperti ini. "Cemburu, kalau jauh atau nggak ketemu lo bakalan kangen banget sama dia, jantung lo rasanya berdegubnya keras banget kalau lagi sama dia, dan ada banyak hal yang sebenernya mudah untuk mendeteksi adanya cinta atau enggak diantara kalian." Kalimat panjang Ule memang benar-benar ampuh bagi Libra.
"Gue ngerasain itu. Gue nggak tahu kapan tepatnya rasa itu muncul, tapi ada sesuatu uforia ketika gue sama dia. Hati gue terasa pas dan gue nggak pernah ngerasain itu sebelumnya."
"Tepat sekali, karena itu yang gue rasain ketika sama dia." Riska berceletuk namun kemudian menutup bibirnya ketika menyadari apa yang dia katakana barusan. Ketiga temannya menatap kearahnya dan termasuk Libra.
"Maksud lo?" Ersya bertanya. "Lo sama Virgo__?" Tidak ada kalimat yang tepat untuk melanjutkan pertanyaan yang Ersya tanyakan karena gadis itu juga terlihat kebingungan.
"Bukan Virgo," Cicit Riska tak mau teman-temannya salah paham. "Sam." Memberi penjelasan. Dan hal itu membuat mereka yang tadinya tegang, merasa lega. Benar-benar si Riska ini.
"Lo sama Sam udah resmi belum?" Tiba-tiba bertanya.
Yang tadinya hanya Libra yang sedang curhat, sekarang Riska pun ikut melakukan itu. "Gue tahu dia perhatian banget sama gue, gue bisa ngerasain kalau dia sayang sama gue. Tapi dia belum pernah mengatakan apapun ke gue mengenai perasaannya. Dan akhirnya sekarang gue ngerasa agak takut kalau semua yang gue rasain ke dia itu hanyalah perasaan semu yang nggak ada timbal balik dari hati dia. Dan perhatiannya selama ini ke gue hanyalah basa-basi semata." Sepertinya kegalauan ini bukan hanya Libra yang merasakan, tapi Riska pun merasakannya.
Kedua gadis dibingungkan oleh dua lelaki berbeda dan sayangnya dalam satu pertemanan. Luar biasa.
*.*