
Virgo dan Libra berjalan beriringan sambil mengobrol ringan. Hari ini adalah hari pertama mereka memulai kuliah kembali di semester kedua. Virgo lebih dulu mengantar sang istri ke fakultasnya, barulah nanti dia menyebrang sedikit untuk ke fakultasnya sendiri.
Di depan fakultas sudah banyak mahasiswa yang duduk di sana sembari menunggu teman-teman mereka, atau bahkan menunggu kelas yang sebentar lagi akan dibuka. Entah kenapa Libra merasa jika ada yang berbeda dengan dirinya saat ini. Jantungnya berdetak kencang seolah dia baru saja melakukan kesalahan.
“Cari Shila dulu?” dari banyaknya mahasiswa di sana, tak ada batang hitung Shila terlihat. Virgo pun merasa jika dia tak mungkin meninggalkan istrinya di sana tanpa teman.
“Biar aku WA dulu .” Mereka sudah ada di depan fakultas dan Libra mengeluarkan ponselnya. Banyak perhatian yang didapatkan oleh pasangan tersebut. Virgo terlalu menonjol dan tak mungkin diabaikan begitu saja. Bisik-bisik juga terjadi seperti kumpulan tawon. Dan Libra berusaha untuk mengabaikan begitu saja.
“Sebentar lagi dia datang,” ucap Libra ketika dia sudah mendapatkan jawaban dari Shila. Perempuan itu merasa tak nyaman ketika lirikan mata dari banyak orang mengarah kepada dirinya. Maka dia berbisik kepada Virgo, “Nggak nyaman banget sih, Yang, dilirik terus.” Adunya kepada sang suami.
Virgo menatap Libra sebentar kemudian beralih menatap orang-orang di sana dengan wajah datar. Seketika mereka mengalihkan tatapan mereka ke arah lain.
“Nggak usah di urus.” Tangan Virgo gatal sepertinya jika tak memegang bagian tubuh Libra, bahkan ketika seperti ini saja, dia malah memainkan rambut Libra yang tergerai indah. Mengabaikan saja tatapan penasaran orang-orang yang dilayangkan kepada dirinya dan juga Libra.
“Li!” Shila datang bersama Zidan dan Rion, “Gue tadi nunggu lo di pintu samping.” Shila menawarkan roti bakar di genggamannya, “Mau?”
“Udah sarapan gue,” tolak Libra.
“Lo, Vir?”
“Thanks, gue masih kenyang.” Virgo menggenggam tangan Libra, “Aku ke fakultasku ya. Nanti aku jemput.” Pamitnya. Diletakkan tangannya di puncak kepala Libra, dan mengelusnya sebetar, kemudian barulah pergi dari sana.
Tak ada dari teman-temannya yang mengatakan tentang pernikahan Libra. Mereka benar-benar bisa tutup mulut tanpa menyinggung sedikitpun.
Virgo berjalan ke fakultasnya dengan santi dan tenang. Sudah menjadi hal yang biasa ketika dia menjadi pusat perhatian dari orang-orang di sana.
“Vir!” kakak tingkatnya yang dulu pernah menawarinya untuk bergabung di club basket waktu itu yang memanggil.
“Eh, Hai! Bang.” Virgo tak melanjutkan langkahnya karena sudah ‘dihadang’ duluan oleh kakak tingkatnya itu.
“Gue mau tanya masalah rencana lo yang mau masuk ke tim club basket. Kok belum ada kabar lagi?” Virgo tersenyum canggung ketika dia kembali ditagih oleh lelaki itu.
“Sorry, Bang. Gue waktu itu banyak hal yang harus gue urus. Jadinya nggak sempet mikirin masalah ini.” Virgo mencoba mencari kata yang pas untuk mengatakan keputusannya.
“Nggak papa. Makanya sekarang mumpung awal semester kan, makanya gue tanya lagi ke lo.” Virgo tak enak jika menolak, tapi keputusan itu juga harus segera diambil.
“Gue bisa ikut main sesekali, Bang. Tapi kalau masuk sepenuhnya ke club, gue belum bisa. Karena setelah gue pulang kuliah harus kerja.” Tak ada tanda jika Virgo ini kekurangan uang, maka lelaki itu menatap Virgo dengan kening mengernyit.
“Kerja?” tanyanya mungkin untuk sekedar bertanya.
“Iya, kebetulan ada yang ngajakin gue kerja. Lumayan kan sambil belajar dapat uang.” Katanya dengan santai.
“Sayang sih sebenarnya,” kekecewaan itu terlihat sekali di mata lelaki itu. Namun Virgo juga tak bisa melakukan apapun selain menolak penawaran tersebut. Dia sekarang sudah memiliki istri, tak baik jika harus menggunakan waktunya untuk melakukan hal yang tak menghasilkan apapun, “Ya udah kalau gitu.” Tak ada yang bisa dilakukan lelaki itu selain menerima keputusan dari Virgo.
Virgo kembali melangkahkan kakinya untuk naik ke lantai atas karena Edo sudah berada di sana. Kekasih Tere itu tadi mengatakannya lewan chat.
Sapaan-sapaan itu diterima oleh Virgo dari teman-temannya. Bahkan ada yang memujinya lebih tampan setelah lama tak bertemu. Virgo hanya tersenyum saja mendengar itu dari teman-teman perempuan yang memang sering mengatakan hal yang blak-blakan kepadanya.
Sampai di kelas, entah apa yang dilakukan oleh Edo dan juga Tere, karena gadis itu terlihat memanyunkan bibinya.
“Kenapa lo?” tanya Virgo kepada Tere. Kemudian duduk di depan dua orang itu.
“Sedih dia nggak ada Libra lagi di kos. Teman baiknya di gondol orang.” Edo menjawab dengan ringan tapi penuh sindiran.
Virgo terkekeh. Memutar tubuhnya agar bisa melihat Tere yang ceberut. “Mau tinggal sama kami?” tawarnya dengan nada menyebalkan. “Masih ada kamar kosong tu di rumah. Gratis lagi nggak pakai bayar.” Katanya dengan ringan.
“Males.” Jawab Tere dengan putaran bola mata, “Entar malam-malam aku denger suara serem nggak bisa tidur lagi.”
“Tenang aja, kamar kami kedap suara kok.” Virgo langsung mendapatkan lemparan pena dari Edo karena ucapannya.
“Lo beneran teman sekampret ya, Vir.” Katanya dengan melotot. Yang ditanggapi Virgo dengan kedikan bahu.
“Nanti kan aku temenin kamu, Yang. Nggak usah risau.” Edo memberi usul. Dan Tere hanya mengangguk saja. Bagaimanapun, sejak awal kuliah, Libra adalah teman kos Tere, ketika dia harus ditinggalkan pindah oleh Libra, maka tentu membuat Tere bersedih. Memang gadis itu ikut berbahagia karena akhirnya keinginannya yang dulu diharapkan Virgo dan Libra bersatu akhirnya benar-benar terwujud bahkan sampai mereka menikah.
*.*
Pulang kuliah, Virgo kembali ke fakultas Libra untuk menjeput istrinya itu. Duduk di lantai di depan fakultas sambil memainkan ponselnya, dia mengabaikan saja dengan pandangan orang-orang di sana.
“Yang!” Libra akhirnya datang setelah menunggu lima belas menit. Memang belum aktif proses belajar, tapi entah apa yang dikerjakan oleh Libra sampai dia telat untuk keluar kelas.
“Kok lama?”
“Udah dikasih materi aja sama dosennya.” Memang tak semua dosen melakukan hal yang sama. Ada diantara mereka yang hanya memberikan jadwal kuliah yang akan mereka pelajari selama satu semester ini dan buku apa yang akan dipakai, dan ada pula yang langsung memberikan materi.
“Pulang yuk, habis makan siang aku berangkat kerja.” Libra cemberut karena itu.
“Aku di rumah sendirian ngapain, Yang?” katanya dengan manja. Dia memang belum pernah tinggal di rumah barunya sendirian.
“Istirahat. Tidur. Nonton Tv. Baca buku. Kamu bisa melakukan apa saja di rumah.” Virgo menarik Libra agar perempuan itu berdiri karena mereka harus segera pulang.
Libra hanya mengikuti saja ajakan suaminya. “Yang!” sepertinya Libra sedang mengingat sesuatu, “Barang-barang aku yang ada di kos belum diambil kan?” masih ada banyak barang di kamar kos Libra karena ketika dia pulang waktu itu hanya membawa satu ransel saja.
“Kalau gitu, nanti pas kamu kerja, aku ke kos ya. Buat packing barang-barang.” Usulan itu sepertinya memang lebih baik dibandigkan harus menunggu Virgo pulang kerja tanpa melakukan apapun.
“Boleh. Nanti aku antar ke sana.”
“Biar aku berangkat sendiri aja.” Katanya menolak Virgo, “Aku bisa bawa mobil. Aku nggak mau kamu telat kerja padahal ini hari pertama kamu masuk kerja. Suami aku harus tepat waktu.” Lanjutannya sambil mengepalkan tangannya sebagai tanda menyemangati.
“Baiklah, istriku.” Kebahagian itu benar-benar terpancar dari pasangan muda tersebut. Keduanya sekarang ini hanya terfokus pada kehidupan mereka. Tak lagi ingin mempedulikan apa yang memang tak harus mereka fikirkan.
Menutup pintu mobil, Libra masuk ke dalam rumah kosnya. Panggilan dari belakang membuat perempuan itu berbalik dan mendapati Edo dan Tere di sana.
“Hai!” Libra tak jadi masuk ke dalam rumah dan memilih mendekati dua orang itu.
“Lo balik kapan, Re?” tanyanya kepada Tere.
“Semalem,” jawab Tere, “Nggak sama Virgo?”
“Dia udah mulai kerja. Gue ini mau beresin baran-barang gue. Sama mau bilang sama Bu Na kalau udah nggak kos di sini lagi.” Tere menghela nafas panjang mendengar itu. Terlihat sekali jika dia sedih mendengar itu.
“Kenapa lo?” Libra melihat Tere memang tak seceria sebelumnya.
“Gue sedih, harus ditinggal sama lo.” Katanya dengan wajah masam, “Gue kan selama ini sama lo terus.” Memang tak ada air mata yang keluar dari mata Tere, tapi terlihat sekali wajahnya begitu mendung.
Libra sebenarnya juga berat meninggalkan tempat itu, tapi mau bagaimana lagi, dia tak mungkin tinggal di sana kan? Toh dia sekarang sudah punya suami.
“Gue juga sedih sebenarnya, Re. Tapi mau bagaimana lagi, memang gue harus melakukan ini kan?”
“Gue ngerti kok, Li. Gue cuma sedih aja.” Tere memang tersenyum, tapi dia senyum itu menyimpan rasa sedih.
“Lo tenang aja, gue akan sering ke sini kok.” Entah itu kebenaran atau hanya untuk menghibur Tere.
Libra masuk ke kamar kosnya setelah mengobrol sebentar dengan Edo dan Tere. Pandangannya menyusuri setiap sudut kamarnya. Tempat ini adalah tempat berharga baginya. Tempat dia menangis, tertawa, dan merajut mimpi baru setelah dia kehilangan lelaki yang dicintainya.
Namun siapa yang menyangka, dalam waktu sekejap dia sudah menjadi nyonya Virgo sekarang. Astaga, kenapa dia menjadi senyum-senyum sendiri sekarang.
Tak ingin menunggu waktu lebih lama, dia membuka lemarinya terlebih dulu. Menurunkan koper di atas lemari, dan mengeluarkan pakaiannya dari dalam lemari. Ada perasaan yang hilang di dalam dirinya ketika melakukan itu.
Dia jadi mengingat ketika awal dia masuk ke kamar tersebut. Awal ketika dia akan masuk kuliah, dimana ayah dan ibunya yang mengantarkannya. Ayahnya yang memastikan jika rumah kos yang ditempati ini benar-benar aman.
Libra jadi merindukan lelaki keras kepala itu sekarang. Bagiamana caranya dia bisa meluluhkan hati Ardi agar mereka bisa kembali bersatu dan keluarga mereka bisa utuh kembali.
Perempuan itu termenung dalam diam ketika dia sekarang memikirkan banyak hal. Rasa sesak karena akan meninggalkan tempat ini. Bercampur dengan ingatannya akan ayahnya, semua itu menghancurkan moodnya.
Untungnya, selalu ada Virgo yang mengembalikan mood baiknya. Bagaimana tidak, kalau Virgo mengirimkan fotonya sedang berada di depan computer entah sedang melakukan apa. Di sampingnya ada Nino yang sedang tersenyum. Dua-duanya tersenyum seolah memberikan semangat kepada Libra untuk tak bersedih.
Suami – Aku emang suami yang baik, Yang. Makanya aku kerja keras sekarang.
Begitu isi tulisannya. Dan itu benar-benar membuat Libra tersenyum lebar. Wajah tampan Virgo benar-benar terlihat berbinar cerah. Ya, Virgo memang sekarang bekerja sebagai asisten Nino.
Libra – Suamiku yang tampan dan berwibawa, selamat bekerja. Demi rumah tangga kita yang sejahtera.
Balasan itu diberikan untuk Virgo. Dan tambahannya, ‘I Love U’ dengan emoticon kiss.
Ujian yang mereka dapatkan selama ini memang membuat dua orang itu lelah. Di usia mereka yang masih muda, yang harusnya masih bersenang-senang dan menikmati masa mudanya, tapi karena satu kejadian yang bisa terbilang tak cukup parah, harus menikah karena kekhawatiran orang tua.
Meskipun begitu, mereka akan menjadi lebih dewasa dalam menghadapi hidup. Banyak ujian dalam hidup, artinya banyak pengetahuan yang akan didapatkan dalam menyelesaikan ujiian tersebut. Dan itulah yang terjadi dengan Virgo dan Libra.
Libra sudah memasukkan pakaiannya ke dalam koper. Koper besar sudah terisi penuh dan Tere datang untuk membantu Libra berkemas. Gadis itu hanya menghela nafas berkali-kali karena merasa sesak.
“Barang lo terlalu banyak deh, Li.” Komentar Tere. Kamar itu tak sampai berantakan karena mereka Menyusun satu per satu ke tempatnya. Setelah di bagian pakaian, mereka beralih ke buku-buku, kemudian di sudut lainnya, jadi tak sampai barang itu berserakan kemana-mana.
“Gue emang butuh box besar sih.” Hanya ada kardus-kardus saja andalan Libra, “Nanti aja lagi deh, gue beli.” Sepertinya Libra memang sudah lelah membereskan barang-barangnya.
Karenanya kedua orang itu berbaring di atas kasur berdua. “Kita nggak akan bisa kaya gini lagi, Li.” Tere benar-benar bersedih sekali sepertinya, “Gue nggak bisa lagi tiap habis makan ke sini, terus gobrol sama lo, membahas hal yang ringan sampai yang berat. Nggak bisa sharing masalah sabun gue yang habis, nggak bisa tiap malam cari makan bareng sampai bingung mau makan menu apa,” air mata Tere menetes dan mengalir ketika mengatakan itu.
“Gue sedih sekali lho, Li.” Libra memejamkan matanya mendengarkan kalimat Tere. Dulu dia mengira, jika tempat ini akan menjadi tempat tinggalnya sampai lulus kuliah. Nyatanya tidak, Tuhan memiliki rencana lebih baik dari rencana yang dia buat.
“Gue juga sedih, Re. Gue lebih sedih.” Kata Libra, “Banyak sekali kenangan yang ada di kamar ini. Kalau gue bisa mengatakan, rasa sesak yang gue rasain ini benar-benar nggak bisa di deskripsikan. Sesak yang benar-benar sesak. Sampai rasanya berat sekali.” Keduanya sama-sama menangis dalam diam. Tak ada yang sanggup mengatakan apapun lagi selain lelehan air mata saja yang keluar.
“Lo tetap sahabat gue, Re. Lo sama seperti Riska, Ule, Ersya, dan Shila. Bahkan lo lebih berat dari mereka,” posisi mereka masih sama. Masih berbaring terlentang. “Lo adalah temen pertama gue di sini, lo yang buat gue semangat lagi menjalani hidup. Jadi sampai kapanpun, lo akan tetap jadi sahabat gue.” Itu adalah keyakinan dari Libra untuk Tere. Bukan hanya omongan saja, tapi benar-benar tuus dari dalam hati.
*.*
Jadi inget masa-masa kaya Tere dan Libra yang harus hidup di kos waktu mencari ilmu. Ngebayangin jadi sesek sendiri saya.
Ngono.
Happy reading!!!!!